
“Apa yang—.”
Seekor Barkata melompat dari belakang Astan, hendak menerkamnya.
“Haaargh!”
Reflek Astan tumbuk dada Barkata itu menggunakan popor senapan hingga terpental, lalu ditembak mati.
Di sekitarnya pun makin banyak bermunculan Barkata hendak menerkam Astan. Segera Astan menembak beberapa di antaranya, ada yang berhasil tewas, ada yang masih hidup dan hanya mengalami luka-luka.
Saat ini, jumlah monster terlalu banyak. Sulit bagi mereka untuk menghabisi semua Barkata dengan cepat, jalur jembatan menuju bilik pun benar-benar tertutup oleh gerombolan monster berkepala mulut ini.
“Astan, jumlah mereka terlalu banyak!” kata Tenma sambil menembak beberapa Barkata menggunakan pistol mitraliur, lalu mengganti magazine-nya.
“It—.”
Belum sempat Astan lanjut menyahut, satu Barkata hampir mencakar kepalanya. Beruntung Astan segera menunduk dan menembak hancur kepala monster itu.
Di balik tembok besi buatan sebelah kiri, Bery berusaha mempertahankan perisai hologram sambil menembak para Barkata yang sudah bermunculan banyak menyerbu menuju ruang kontrol. Lavisto dan satu sentry yang dipasang Irawan juga ikut membantu menembak.
“Drone-mu bagaimana?” tanya Bery, masih fokus menembak.
Lavisto mengganti magazine senapannya dengan yang baru. “Aku mengaktifkan autopilot, jadi tidak masalah tidak dikendalikan lagi. Yang penting sekarang, lindungi ruang kontrol! Jangan sampai para monster itu mencapai ruangan ini seujung kuku pun!”
Sedangkan di tembok sebelah kanan, Farhan dan Irawan juga menembak rombongan Barkata yang ikut menyerbu di sana. Keduanya cukup kewalahan walau sudah dibantu oleh sentry dan drone. Jumlah monster-monster itu tidak ada habisnya. Nampak seperti rombongan semut yang sibuk membentuk koloni sarang.
“Ini mengerikan.” Farhan mendesis, “….Kalau seperti ini terus, kemungkinan besar semua Barkata bakal bisa menembus pertahanan kita.”
“Jangan sampai itu terjadi. Ruang kontrol merupakan satu-satunya harapan kita agar bisa mengakses seluruh area kapal. Jika ruang kontrol ini berhasil diserang, misi kita bakal gagal.” Irawan masih terus berusaha menembak.
Farhan jengkel dengan jumlah Barkata, bukannya berkurang malah makin bertambah. Sang prajurit mulai meminta izin pada ketua tim lewat komunikasi pada helm.
“Ketua, jumlah monster-monster ini sama sekali tidak berkurang. Jalan menuju bilik generator pun tertutup total. Kami minta izin untuk menggunakan granat dengan daya ledakan sedang. Setidaknya, itu akan cukup membantu menghambisi mereka dan membuka jalan.”
Di ruang kontrol, Edrick mendapat permintaan izin dari Farhan untuk menggunakan granat. Mata biru terangnya memperhatikan keadaan di setiap jalur jembatan, benar-benar ditutupi oleh rombongan monster Barkata tanpa memberi celah sedikit pun.
Awalnya agak berisiko untuk meledakan bom, granat, atau semacamnya di dalam jalur jembatan sekitar mesin Inti Kapal. Ada kemungkinan struktur dari jembatan sini mulai rapuh, tidak sekuat dan setebal gerbang kapal. Namun kalau sudah seperti ini keadaannya, terpaksa Edrick mengizinkan jika itu hanya granat dengan daya ledak sedang.
“Diizinkan. Tapi, jangan terlalu sering menggunakannya. Akan terlalu berisiko jika digunakan di jembatan dekat mesin Inti Kapal. Usahakan menggunakan granat di saat genting saja, seperti hendak membuka jalan menuju bilik generator.”
“Baik, Ketua!”
Atas izin Edrick, Farhan pun mulai melemparkan granat ke arah rombongan Barkata. Akibat ledakan itu, terdapat sedikit celah lenggang bagi mereka untuk menembak Barkata kembali.
Di atas atap ruang kontrol, Zered dan Wirma membantu keempat prajurit di jalur jembatan dengan menembakan peluru-peluru Sniper Rifle ke setiap Barkata sambil mengawasi keadaan di sana.
Benar-benar mengerikan, Wirma saja ngeri melihat yang terjadi di jembatan sana dalam jarak sejauh ini, apalagi rekan-rekannya yang berhadapan langsung dalam situasi seintens itu.
__ADS_1
Saat Zered membantu Wirma menembak Barkata di jalur jembatan sebelah kiri, tiba-tiba panel sistemnya muncul sendiri memberikan notifikasi disertai tangkapan radar Drone terkini. Zered terkejut ketika mengetahui sesuatu yang mencurigakan terdeteksi oleh drone-nya.
“Hati-hati! Monster yang muncul bukan Barkata saja!”
Lavisto yang mendapat notifikasi sama juga ikut memberi peringatan, “Jumlah mereka tidak kalah banyak, sedang menuju ke sini dari berbagai tempat.”
Ini mengerikan. Lagi-lagi mereka harus dihadapkan dengan situasi yang jauh lebih buruk lagi. Edrick pusing memikirkannya. Belum sempat keempat prajuritnya menyalakan generator, sudah banyak monster berdatangan menyerbu mereka.
Edrick memunculkan senapan serbunya dari penyimpanan sistem. Setidaknya, dia perlu membantu rekan-rekan yang berjaga di sekitar ruang kontrol sambil menunggu kabar dari keempat prajurit untuk meminta akses dari setiap bilik generator ke mesin Inti Kapal.
“Semuanya! Fokus pada rencana awal dan tetap bertahan!”
“Siap, Ketua!”
Pada jalur jembatan sebelah kiri, Sadin berusaha menembak para Barkata menggunakan pistol mitraliur. Biarpun sudah banyak Barkata mati tertembak, jumlah mereka yang sebanyak ini sama sekali tak nampak mengalami kekurangan. Jalur menuju Bilik B pun benar-benar tertutup oleh rombongan Barkata.
Sadin terpaksa mengisi amunisinya di tengah pertarungan. “Yang benar saja…? Jumlah mereka tidak ada habi— Akh!”
Sadin hampir saja diterkam Barkata dari samping kalau saja tidak ada perisai dari Kemampuan Shield Tipe-2 yang melindunginya. Rupanya, Daren yang menggunakan Kemampuan Shield untuk melindungi Sadin dari serangan Barkata tadi.
“Terima kasih, Daren.”
Daren mengacungkan jempol. “Sama-sama, Kawan.”
Keduanya kembali menembak menggunakan senjata masing-masing, tak bisa bergerak maju sedikit saja demi bisa mencapai Bilik B karena para Barkata terus menyerang.
Rombongan Barkata masih belum habis dikalahkan, muncul lagi beberapa makhluk aneh lainnya. Makhluk yang ini memiliki bentuk tubuh tak karuan, tapi seluruh tubuhnya ditutupi oleh gumpalan lintah agresif.
[Jenis : Parasit]
[Sifat : Pasif]
[Status : Danger]
[Peringatan : Kumpulan lintah pada tubuh objek akan sangat mudah menghisap habis darah dan energi korban. Jika rombongan lintah menempel pada tubuh korban, maka sang korban akan berada dalam kendalinya dan dijadikan sebagai tubuh baru]
Sosok Leechesta berjalan lambat, menyeret tubuh penuh lintah itu mendekat ke Daren. Menyadari makhluk baru itu hendak menyerangnya, segera Daren menembak Leechesta. Bentuk tubuh Leechesta sebagian hancur, tapi rombongan lintah dari tubuh tersebut langsung melompat ke tubuh Daren.
“Arrgh…!”
[Mengaktifkan Sistem Pembaca Refleks Saraf]
[Shield Type-1 : Aktif]
Beruntung Kemampuan Shield Daren aktif melindungi seluruh tubuhnya dari gigitan banyak lintah. Namun sayang, bukan hanya satu Leechesta saja, tapi beberapa Leechesta makin mendekati Daren, membuat banyak lintah pada tubuh monster itu semakin menyerbu seluruh tubuh sang prajurit.
“Apa-apaan ini?!”
__ADS_1
Daren berusaha menembak kembali para Leechesta. Tapi semakin ditembak, maka semakin banyak lintah menyembur ke arahnya.
[Peringatan! Akses Sistem AutoTerra dengan tubuh pengguna terganggu]
[Pengguna mengalami kehabisan energi]
[Tidak dapat mengakses fungsi Kemampuan Umum]
[Akses Kemampuan Umum Shield : Gagal]
“Ap—.”
Kini hampir seluruh tubuh Daren ditutupi oleh lintah. Para lintah itu benar-benar menghisap energi sistemnya dan mencoba menerobos zirah yang ia kenakan.
“Daren!”
Sadin ingin menolong, tapi dirinya sendiri kewalahan menembak beberapa Barkata yang tak henti mencoba menyerangnya kembali.
Daren masih memiliki keinginan untuk hidup. Namun menyadari situasi yang ia hadapi sekarang, sepertinya mustahil untuk ia berjuang bersama rekan-rekannya lagi.
Ini mungkin menyedihkan, tapi dia harus terima jika ini merupakan takdir dari Tuhan.
“Sadin, jangan mendekat!”
Daren tahu pemuda itu hendak mencoba menolongnya di saat masih sibuk mempertahankan dirinya sendiri dari berbagai serangan.
Pada menit-menit terakhir, Daren mengeluarkan Inti Kristal yang diberikan Edrick di tangannya. Ia lempar asal kristal merah muda itu hingga jatuh tepat di dekat kaki Sadin. Sadin heran, mengapa Inti Kristal itu diberikan padanya? Bukankah kristal itu akan Daren gunakan untuk mengaktifkan generator di bilik satunya?
“Daren, apa maksu—.” Sadin hampir tak mampu berucap, dia masih perlu menembak beberapa Barkata yang mendekatinya.
“Sadin, dengar….”
Daren melangkah mundur, menjauh dari Sadin dan mencoba memancing para Leechesta agar tidak menyerang pemuda itu. Beberapa detik para lintah mengerumbungi tubuh Daren, makin menghisap energi sistem dan sebagian sudah hampir menggerogoti zirahnya. Kesadarannya pun sudah mulai pudar. Sedikit lagi, maka seluruh tubuh Daren akan benar-benar dilahap dan diambil alih oleh para lintah.
Daren berusaha bernafas, rasa sesak di rongga pernafasan mulai mengganggu. “….Aku… tidak bisa melanjutkan tugasku…. Tolong, gantikan aku untuk terakhir kalinya.”
Satu tembakan dari Sadin dilesatkan ke Barkata terakhir. Walau masih banyak Barkata berdatangan, tapi setidaknya ada celah lenggang bagi Sadin untuk saat ini. Matanya membelalak tak percaya, dia tak terima jika Daren berkata demikian.
Tidak. Daren tidak bermaksud untuk pasrah mengakhiri hidupnya, bukan…?
“Daren, apa yang—.”
Di balik helm itu, senyum terakhir terukir di wajah Daren.
“Senang bisa mengenal kalian semua…. Dan…. Selamat tinggal….”
Tubuh Daren makin terasa berat, tak tahan menampung jumlah lintah yang makin banyak. Daren terhuyung keluar dari jalur jembatan, jatuh ke dasar mesin Inti Kapal bersama gumpalan lintah yang masih menempel di tubuhnya.
__ADS_1
“Tidak. Daren!!!”
...~*~*~*~...