AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 56 : Masih Melewati Jalur


__ADS_3

Semua monster Barkata telah dipastikan lenyap di seluruh ruangan luas ini, dan celah-celah masuk kawanan Barkata baru telah ditutup oleh tembok besi. Para prajurit yang memiliki Kemampuan Summon juga menarik kembali sentry-sentry mereka. Semuanya nampak memperhatikan tubuh-tubuh monster berkepala mulut itu, tergeletak tak bernyawa dengan beberapa bagian tubuh hancur tertembak.


“Semuanya dipastikan selamat?” tanya Edrick memastikan.


Ia mencoba menghitung jumlah anggota timnya, lengkap 13 orang. Syukurlah, kejadian ini tidak memakan korban. Tapi, serangan seperti ini masih baru permulaan. Kemungkinan besar, akan ada banyak objek aneh lainnya yang akan menyerang mereka seperti ini lagi.


“Semuanya selamat?”


“Syukurlah….”


“Kalau serangannya kayak begini aja, kok bisa tim-tim terdahulu bisa mati di sini?”


“Ish, kau jangan meremehkan situasi. Mungkin ini baru permulaan. Kita masih belum tahu bahaya apalagi yang mengincar kita.”


“Dia benar. Tetap waspada, dan jangan lengah.”


Tak peduli pembicaraan antar anggota, Edrick sempat melihat keadaan sekitar ruangan, nampak makin berantakan, kotor dipenuhi oleh cipratan darah kuning-kehijauan dari para Barkata. Kalau tidak terbiasa melihat hal-hal seperti ini, bisa muntah berdiri dia.


“Jalur mana yang perlu kita lewati untuk sampai ke Area Pembangkit Energi?” tanya Edrick pada Wirma saat matanya melihat ke setiap besi-besi yang menutupi berbagai celah. “Semuanya kena tutup oleh besi-besiku.”


Wirma memperhatikan denah kapal antariksa pada panel sistemnya, lalu berganti ke radar yang ia pegang.


“Lurus, sebelah sana.”


Sang wakil menunjuk tepat ke jalan lurus di depan mereka. Nampak bentuk gerbang lebar sudah terbuka, tapi ditutup kembali oleh tembok besi Edrick gara-gara banyak kawanan Barkata datang dari sana juga.


“Satu-satunya jalur menuju Area Pembangkit Energi cuma di sana. Harus dibuka walau masih banyak monster mulut di balik sana.”


Edrick menepuk-nepuk helmnya. Kalau seperti ini, tidak ada pilihan lagi selain membuka tembok besi. Mereka harus bersiap-siap menghabisi kembali para Barkata yang tersisa.


“Jumlahnya banyak?”


Wirma kembali mengecek radar. “Tidak juga. Masih bisa dihabisi oleh beberapa prajurit.”


Edrick mengangguk paham. Langsung memberi perintah pada yang lain, “Beberapa di antaranya, bersiap menembak dengan senjata masing-masing. Tak perlu pasang sentry. Cukup membidik lurus, tembak ke sana ketika tembok besinya kubuka.”


“Siap, Ketua.”


“Baik, Ketua.”


“Siap…?” Edrick mulai memberi aba-aba.


Beberapa anggota bersiap membidik, sisanya mulai waspada. Satu tangan Edrick terulur ke depan, bersiap menggeser tembok besi tersebut lewat kendalinya.


“Satu.”


Jemari mereka siap menarik pelatuk masing-masing.

__ADS_1


“Dua.”


“Satu orang yang punya Kemampuan Martial Tipe-4, tolong diaktifkan,” bisik Wirma.


[Martial Type-4 : Aktif]


Sesuai perintah, satu prajurit mengaktifkan Kemampuan Martial, tercipta butiran-butiran hologram merah di sekitar mereka, memberikan efek peningkatan serangan untuk seluruh anggota yang berada dalam jarak radiusnya.


“Tiga. Buka! Tembak!”


Edrick menggerakan jarinya menurun, membuka tembok besi yang menutupi gerbang. Mereka langsung menembak para Barkata tanpa memberi kesempatan untuk menyerang. Semuanya ditembak habis, hancur tak berbentuk. Sangat menjijikan ketika dalam setiap tembusan peluru merobek daging-daging tubuh mereka hingga menyemburkan banyak cairan kekuningan kental.


[Peringatan! Serangan Barkata tak Menentu]


[Serangan Barkata Peledak]


“Apa?”


Tak disangka-sangka, ada satu Barkata yang berlari menerobos Barkata lain. Kepala mulutnya yang besar makin membesar, melebar disertai kemunculan cahaya kuning di dalamnya.


“Pelindung!”


[Shield Type-3 : Aktif]


Karena panik, tak tanggung-tanggung dua prajurit pengguna Kemampuan Shield langsung menciptakan dua perisai hologram mereka yang lebar. Tepat setelahnya, kepala Barkata tadi meledak, menimbulkan daya ledakan standar yang cukup untuk mementalkan beberapa barang sekitar tapi tidak sampai menghancurkannya. Akibat ledakan itu, darah kekuningannya menyembur banyak sampai lumer di tembok perisai hologram.


“Semuanya, mereka masih banyak di depan!” teriak Astan, bersiap membantu rekan-rekannya.


“Pertahankan perisai tuk berjaga-jaga!” perintah tegas Edrick pula.


“Siap!”


Kini semua personel menembak para Barkata tanpa henti. Beberapa di antaranya ada yang hampir lolos, menggapai perisai, tapi masih bisa ditembak mati. Satu Barkata ada yang melesat ke atas, lolos dari arah menembak mereka.


“Hem! Berani mendekat, kupukul gigi tonggosmu sampai pecah!”


Karena tak sempat mengisi amunisi, Astan berani keluar memukul keras Barkata itu menggunakan senapan sebelum mencapai perisai. Sang Barkata terpental membentur tembok, langsung ditembak hancur sebelum kembali bangkit menyerang mereka.


Kini suasana kembali senyap. Tak ada serangan mosnter, tak ada ribuan tembakan dari berbagai jenis peluru senapan. Mereka benar-benar bisa bernafas lega kali ini.


“Fyuh…!” Astan bernafas lega. “Untung enggak kenapa-napa.”


Satu prajurit menghampiri Astan. “Kau ini barbar ‘kali jadi prajurit. Tadi kulihat kau sering memukul, meninju, menendang monster-monster itu ketika yang lain fokus nembak. Terus malah keluar mukul monster tadi pula, padahal perisai masih ada.”


“Eh?”


Astan baru sadar, cuma dia yang kelihatan sering menyerang musuh dengan cara sebarbar itu. Dia melakukan serangan dekat karena tak sempat mengisi amunisi saat monster makin mendekat.

__ADS_1


Padahal, masih ada rekan-rekannya yang bakal bantu nembak kalau Astan mau isi peluru, tinggal mundur saja sedikit. Dan tadi, seharusnya Astan masih bisa berlindung di balik perisai seperti rekan-rekannya, bukan malah agak keluar dari perisai terus memukul Barkata sampai mental.


Emang Astan ini punya jiwa-jiwa anak tawuran, sepertinya.


“Emm….” Astan mau garuk kepala, tapi enggak jadi, baru sadar masih pakai helm. “Udah kebiasaan lama, mungkin.”


Sang prajurit menatap Astan heran.


Kalau saja tak terhalang helm, pasti kelihatan senyum bodoh nan lebar di wajah Astan.


“Semuanya, berkumpul.”


Astan dan prajurit itu saling memutus pandangan, ikut berjalan menghampiri Edrick bersama anggota Tim Aravan071 yang lain.


“Jalur sudah dipastikan aman?” tanya Edrick kembali pada Wirma sambil memanggul senapan di bahu.


Wirma mengacungkan jempol setelah mengecek radar. “Aman, Ketua.”


“Oke….” Edrick menurunkan senapannya. “Setelah melewati jalur ini, kita akan sampai di Area Pembangkit Energi. Tetaplah waspada.”


Para prajurit mengangguk mengerti.


Mereka semua mulai berjalan melewati gerbang tadi menuju koridor panjang. Masih perlu melakukan perjalanan singkat sampai tiba di pusat Inti Kapal di Area Pembangkit Energi.


...~*~*~*~...


Langkah-langkah kaki mereka melangkah melewati koridor. Koridor kali ini cukup panjang dan gelap, perlu bantuan fitur penglihatan gelap dan senter dari masing-masing zirah canggih mereka. Senjata masih siap di tangan, menelisik waspada ke sekitar koridor jikalau ada monster-monster aneh yang datang menyergap kembali.


“Kapan kita akan sampai?” tanya salah satu prajurit.


Sadin sempat mengecek denah kapal dari panel sistemnya. “Tinggal sedikit lagi, kok.”


Benar saja. Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di depan gerbang lain yang masih tertutup rapat.


“Buka manual lagi…?” desis Edrick agak jengkel. “Tepat di balik sana Area Pembangkit Energi, kan?”


Wirma fokus pada radarnya. “Yep. Dan di sana aman dari objek-objek misterius.”


“Oke. Kalau begitu, tiga orang bantu aku menarik dan memutar tuasnya.”


Edrick menarik sisi tuas putar satunya, sedangkan tiga prajurit menarik sisi lain. Sesuai aba-aba, mereka berusaha menarik tuas yang tertanam di tengah gerbang. Kali ini, tuas tersebut terasa makin susah tuk ditarik. Bagian-bagian tuas ada yang berkarat, dan macet-macet saat ditarik begitu.


Dalam usaha mereka membuka manual gerbang, sesosok makhluk tak jelas wujudnya berkeliaran di atas mereka. Merambat di plafon, menatap dengan satu mata membelalak intens memperhatikan pergerakan mereka.


Sangat intens seakan-akan begitu tertarik untuk menerkam mereka.


“GAAAH!”

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2