AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 76 : Mayat Di Markas


__ADS_3

Ruang kantor milik sang komandan Batalion Y13 Aturna terasa sepi, sengaja dibuat minim penerangan. Sosok Mavin sedang duduk di kursi kerjanya sambil memperhatikan data-data dokumen pada monitor hologram komputer di hadapannya. Ekspresinya yang selalu tenang kini nampak serius, antara seksama membaca data-data itu atau kepikiran hal lain.


Memang benar, Saat ini Mavin sedang dipusingkan dengan pikiran salah satu timnya yang tengah menjalankan misi. Sudah beberapa jam setelah Mavin menghubungi tim yang dipimpin oleh Ketua Edrick, sampai sekarang mereka masih belum ada kabar.


“Firasatku jadi tidak enak,” gumamnya dengan keringat dingin sedikit membasahi pelipisnya.


Sempat pria berparas kaukasia itu memperhatikan sebuah foto jadul berbingkai yang tergeletak di samping komputer. Ia ambil foto tersebut, memperhatikan sambil menyenderkan punggungnya yang mulai terasa pegal.


Sebuah foto hitam-putih yang memperlihatkan barisan remaja berseragam militer, barisan belakang berdiri sedangkan barisan depan berjongkok. Mereka semua memberi senyuman khas masing-masing, terlihat begitu senang dengan momen kebersamaan mereka saat itu.


Mata hijau Mavin fokus pada satu remaja yang tengah berjongkok di barisan depan tengah, nampak memberi senyum lebar secerah bintang kejora, menampakan semangat menggebu sebagai seorang calon prajurit yang masih mengemban pendidikan di sebuah Akademi Militer tingkat antar planet.


Mavin mendesah pasrah, “…. Sampai kapan ia lupa?”


Ingatan Mavin sempat muncul, mengingatkan ia pada kejadian awal mula mereka bisa saling kenal.


...~*~*~*~...


Pada saat itu, Mavin yang masih remaja berusia 16 tahun sedang mengemban pendidikan di sebuah akademi militer, yaitu Akademi Militer Ribelo Barat. Akademi tersebut terkenal sebagai sekolah tingkat antar planet. Mereka yang lulus di akademi ini akan dipastikan bekerja di satuan militer ternama, dari yang setingkat antar kota sampai antar planet. Bahkan di antaranya ada yang berhasil menjadi prajurit unggulan di Serikat Galaksi.


Tentu suatu kebanggaan bagi para calon prajurit bisa bergabung dalam satuan militer bergengsi, tapi tidak bagi Mavin.


Menjadi seorang prajurit bukanlah keinginan Mavin. Dia dipaksa menjadi prajurit atas keinginan orang tuanya yang menginginkan satu keluarga mereka bekerja di instansi militer. Ayahnya seorang jendral militer negara, ibunya inspektur polisi, dan saudara tertuanya merupakan ketua satuan unit pasukan orbit. Hanya adiknya yang belum jadi apa-apa karena masih kecil.


Karena itulah, keluarganya terobsesi akan kedudukan di militer, menginginkan seluruh keluarga menjadi prajurit. Dan itu malah membuat Mavin merasa terkekang.


Dalam ingatannya itu, Mavin muda sedang duduk memeluk lutut di bawah rindangnya pohon. Dari kejauhan, ia bisa melihat bangunan megah bergaya futuristik berdiri kokoh di sana, bangunan akademi mereka.


Setiap jam istirahat atau jam kosong, Mavin selalu pergi ke tempat ini untuk menyendiri. Duduk di bawah pohon sambil merenungi nasibnya, menyesal bersekolah di akademi militer.


“Aku tidak ingin menjadi prajurit,” gumamnya sambil semakin menenggelamkan wajahnya ke lutut.


Saat sibuk melamun sendiri, matanya tak sengaja melihat seorang anak tengah kebingungan dari kejauhan. Anak itu celingukan seakan-akan mencari sesuatu sambil membawa sebuah tab. Mavin pikir anak itu merupakan salah satu junior mereka yang sibuk mengerjakan tugas, jadi dia tidak mau peduli.


“Hei, kau! Senior?!”


Anak itu berteriak memanggil seseorang. Mavin kira anak tersebut memanggil orang lain, rupanya dia berusaha berlari menghampiri Mavin.

__ADS_1


“Senior! Kau senio—.”


Mavin meringis melihat anak laki-laki itu jatuh di jalan saat berlari menghampirinya. Namun secepat mungkin ia bangkit, lanjut berlari mendekatinya. Terlihat dari raut wajah anak muda itu, ia sangat antusias ketika mendapati keberadaan Mavin muda di sana.


“Kau— Haaah…. Haaah….”


Anak muda itu berdiri agak membungkuk di depan Mavin, ngos-ngosan setelah berlari secepat mungkin mendekatinya. Tentu Mavin bingung dengan anak ini. Apa tujuannya ia mendekati Mavin? Mavin sendiri sama sekali tidak mengenalnya.


“Kau… angkatan semester ke atas atau menengah?” tanya anak itu berusaha mengatur nafas.


Masih keheranan, Mavin menjawab seadanya, “Menengah.”


Si anak bernafas lega. Rasa lelahnya langsung tergantikan dengan senyum lebar dan tatapan kedua mata kuning bersemangat. Kulitnya yang agak tan sedikit mengkilap di bawah sinar mentari, dan helaian rambut jingganya bergerak-gerak diterpa angin siang.


“Senang bisa bertemu denganmu, Senior. Maaf kalau aku lancang, tapi bisa kau membantuku? Aku ingin mendaftarkan diri di akademi ini, tapi masih bingung sama tesnya bagaimana. Aku tidak boleh sampai gagal. Menjadi prajurit militer adalah impianku.”


Sejak pertemuan Mavin dengan anak muda itu, ia akhirnya sadar bahwa menjadi seorang prajurit bukanlah hal yang buruk.


...~*~*~*~...


“Astan mengalami amnesia.”


Awalnya Mavin terkejut mendengarnya dan mendengarkan segala cerita dari orang tersebut sampai akhirnya ia menerima kenyataan tentang keadaan Astan. Dan mulai saat itu pula Mavin membuat rencana untuk melibatkan Astan ke dalam misi militer mereka agar Astan bisa mengingat memori yang telah hilang.


Mavin terpaksa berbohong kalau dia hanya menduga-duga amnesia Astan, sedangkan dia sendiri sudah tahu sejak awal sebelum pertemuan dengan Astan. Itu semua dilakukan agar bisa mendapat kepercayaan dari sang pemburu, tidak membuat Astan merasa terlalu mencurigainya atau malah justru enggan berurusan dengannya.


Memikirkan semua itu membuat Mavin memijit pelipisnya sendiri. Masalah ini sungguh membuatnya pusing.


“Komandan Mavin!”


Mavin terkejut saat melihat sosok Harnan tiba-tiba masuk ke ruangan kantornya tanpa izin lebih dulu. Tidak biasanya Harnan seperti ini. Apakah ada sesuatu yang tidak beres terjadi?


“Ada apa? Tidak biasanya kau main nyelonong masuk begini?” tanya Mavin heran.


Nafas Harnan nampak naik-turun, merasa tegang untuk menyampaikan sesuatu yang baru saja ditemukan. “Kau mungkin tidak percaya dengan apa yang kami temukan.”


...~*~*~*~...

__ADS_1


Sektor Militer, tepatnya di dekat hangar bagian timur terdapat beberapa gudang. Biasa gudang-gudang ini digunakan untuk menyimpan barang-barang tertentu seperti persenjataan, suku cadang teknologi, hingga barang-barang bekas.


Di dekat salah satu gudang tersebut, nampak banyak orang berkumpul di sana, seperti baru saja melihat sesuatu yang tak lazim terjadi. Mavin dan Harnan yang baru sampai di area tersebut buru-buru menerobos gerombolan tersebut, berusaha masuk ke dalam gudang.


Di dalam gudang sudah terlihat para petugas keamanan markas baru saja hendak memasang garis pembatas, dan ada juga beberapa membantu mengamankan lokasi. Ketika melihat kedatangan Mavin dan Harnan, segera mereka semua memberi hormat.


“Hormat kami pada Komandan Mavin dan Wakil Komandan Harnan!”


“Salam semua,” balas Mavin santai. “Apa yang terjadi di sini?”


Beberapa prajurit yang kena tanyai sempat menunduk, bingung harus menjawab apa. Karena tidak ada jawaban, Mavin melangkah maju menuju tempat yang diamankan. Ia agak terkejut melihat ada mayat seorang prajurit tergeletak di lantai gudang, bersimbah darah. Dari keadaan mayat tersebut, sepertinya sang prajurit baru beberapa jam meninggal di sini.


Salah satu prajurit bicara, “Maaf, Komandan. Kami baru saja menyadari kalau di tempat ini telah terjadi pembunuhan.”


Dari hasil luka-luka parah yang ada di tubuh sang mayat, bisa mudah ditebak kalau ia mati dibunuh oleh seseorang.


“Kami masih belum mengetahui siapa yang telah membunuh prajurit ini. Kami baru saja akan memulai pemeriksaan.”


“Bisa aku lihat sebentar?”


Sang prajurit mengangguk, “Silakan, Komandan.”


Mereka mempersilakan Mavin mendekati mayat itu. Ia berjongkok, mulai memperhatikan keadaan sang mayat. Mayat itu merupakan mayat prajurit pria, wajahnya rusak akibat kena sabetan atau semacam cakaran yang membuat ia sulit dikenali, hampir seluruh bagian torso ditusuk dan ditebas sampai merembes banyak darah. Pakaian yang dikenakan mayat itu merupakan pakaian serba hitam sederhana, biasa digunakan sebagai dalaman sebuah zirah.


Seragam dalaman sebuah zirah? Perasaan Mavin jadi makin tak enak.


Segera Mavin mengecek plat nama di bagian dada seragam. Plat itu sempat kotor oleh darah, tapi bisa ia hapus dalam sekali gosok.


Seketika kedua mata Mavin membelalak tak percaya. Jika benar dugaan Mavin tentang mayat ini, maka ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


Sesuatu yang berhubungan erat dengan mayat ini.


“Wakil Komandan Harnan, kita harus pergi ke ruang komando!” perintah Mavin, langsung beranjak pergi dari gudang itu.


Semua orang di sana terkejut dengan sikap Mavin yang berubah panik, terutama Harnan. Tidak biasanya Mavin jadi sepanik itu.


Sebelum ia menyusul sang ketua, Harnan sempat melihat plat nama mayat tersebut. Kedua matanya juga ikut terbelalak kaget.

__ADS_1


Pantas saja Mavin panik. Ini merupakan masalah yang sangat besar.


...~*~*~*~...


__ADS_2