AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 68 : Makna Foto


__ADS_3

“Ini, namaku…?” Astan bergumam tak percaya.


Itu berarti, seragam di tangan ini merupakan miliknya. Dan tidak sampai di situ, Astan juga menemukan sebuah belati dan foto hitam putih yang sudah buram. Dengan teknologi semaju sekarang, seharusnya foto cuma bisa disimpan di memori tab, ponsel, atau sistem sendiri. Tapi, foto yang ia temukan sekarang merupakan foto hasil cetakan mesin berteknologi sederhana. Kemungkinan, foto ini berasal dari peradaban yang masih belum semaju sekarang.


Foto itu berisi barisan anak-anak muda berseragam sekolah khusus akademi militer. Walau buram, Astan bisa mengenali setidaknya dua orang pada foto tersebut. Di ujung paling kiri, ada seorang pemuda berambut terang dengan seragam yang berbeda dari barisan lainnya, berdiri di sana sambil menunjukan senyum ramah.


“Komandan Mavin?”


Karena warna fotonya hitam putih, Astan agak kesulitan mengetahui warna rambutnya. Namun, Astan yakin rambut pemuda itu berwarna pirang, dan bentuk wajah terutama senyumannya sangat mirip dengan Mavin. Hanya saja tampak beberapa tahun lebih muda.


Dan satunya lagi merupakan seorang pemuda berambut pendek yang nampak lebih muda, jongkok di barisan depan bersama para pemuda lain disertai senyum sumringah lebar.


“Ini… tidak mungkin, kan?”


Lagi-lagi Astan tidak percaya. Pemuda berjongkok itu sangat mirip dengan dirinya. Bagaimana bisa Astan berada satu foto dengan Mavin, di kejadian yang sama sekali tidak ia ingat pula?


“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Ash….”


“Apa kita pernah bertemu?”


“Kau tidak mengenaliku?”


“Memang kita pernah saling kenal?”


“Baiklah. Aku takkan memaksamu untuk mengakui bahwa kita pernah saling kenal.”


Astan mendengkus, teringat sekilas dengan percakapan saat ia dan Mavin pertama kali bertemu di kapal Guild. Mavin menyapa seakan-akan ia kenal baik dengan Astan, tapi kemudian berusaha menyangkal, bermaksud agar Astan tidak memaksakan diri untuk mengingat dirinya.


“Sialan, berarti dugaan Mavin ben—. Tunggu dulu!”


“Baiklah. Aku takkan memaksamu untuk mengakui bahwa kita pernah saling kenal.” Astan kembali berusaha mencerna makna dari ucapan Mavin.


Saat itu, Mavin nampak berusaha memaklumi kebingungan Astan yang sama sekali tidak mengenalinya. Sama sekali tidak ada keterkejutan, kebingungan, bahkan usaha untuk membuat Astan benar-benar mengenali Mavin.


Mavin berucap dan berbahasa tubuh demikian seakan-akan dia sudah siap dan pasrah akan respon Astan kemudian.


“Berarti, Mavin sudah tahu sejak awal kalau aku amnesia?!”


Semua pengakuan Mavin tentang dugaan itu salah. Sejak awal Mavin sudah tahu kalau Astan memang mengalami amnesia, dan sang komandan juga tahu bahwa Astan memang seorang anggota militer dulunya yang ditugaskan di Kapal Feron 072 ini.


“Ergh, si keparat itu…! Apa yang sebenarnya ia pikirkan?” Astan berusaha menahan emosi, tidak baik jika berpikir dalam keadaan emosi besar seperti itu.


“Jika benar kau merupakan Ash yang kami cari, mungkin saat ini kau sedang mengalami amnesia.”


Tidak. Menurut Astan, Mavin hanya pura-pura menduga pada saat itu. Dia sudah tahu Astan amnesia. Entah apa alasan sang pemimpin batalion itu pura-pura berlagak tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Yang jadi pertanyaannya adalah, dari mana Mavin tahu Astan mengidap amnesia? Astan sendiri sama sekali tidak menyadari kalau dia sampai hilang ingatan. Lalu kenapa Mavin tidak mengatakan sejak awal jika dia sudah tahu keadaan Astan dan malah membuat dugaan-dugaan tak penting?


“Astan?”


Sontak Astan terkejut, menoleh, mendapati sosok sang ketua datang menyusulnya ke kamar tersebut masih dengan membawa senjata.


“Kau baik-baik saja? Kedengarannya kau menggeram emosi. Hampir saja kukira kau kesurupan makhluk kosmik.”


Astan mendelik jengkel, “Di saat begini kau masih berusaha ngelawak? Garing! Aku lagi mikir keras ini...!”


“Mikir keras apanya?” Nada suara Edrick berubah serius. “Apa ada sesuatu yang kau temukan?”


Sejenak Astan celingukan, memastikan kalau hanya ada mereka berdua dan tidak ada satu rekan mereka mengikuti. Pasalnya, Astan ingin membahas perihal tentang jati dirinya. Kalau sampai rekannya tahu dia seorang pemburu, bisa gawat.


“Bery mana?”


“Lagi periksa kamar lain.”


“Aku menemukan dua barang ini.”


Astan memperlihatkan satu seragam dengan namanya dan foto cetak hitam putih ke Edrick. Edrick mencoba memegang seragam itu, membaca tanda pengenal di bagian dada seragam, dan juga memperhatikan lebih jelas foto hitam putih yang buram.


“Berarti sudah jelas, kau memang anggota militer yang kena amnesia,” ucap Edrick tenang. “Kau sempat ditugaskan ke kapal ini untuk bertugas. Dan kemungkinan besar kamar ini adalah kamarmu.”


“Aku sama sekali tidak ingat kalau aku pernah tidur di sini.”


“Terus apa?”


Edrick ingin menjawab, tapi ucapannya ia alihkan karena sudah kepalang bete. “Aaaam…. Bodo amat. Males aku ngelawak. Dah terlanjur bete aku dikata garing.”


“Siapa juga yang nyuruh kau ngelawak?” balas Astan tak kalah bete. “Aku cuma pengen kasih tahu ini. Dan sekalian mau nanya juga soal foto itu. Anak di barisan paling ujung kiri itu mirip Komandan Mavin, enggak?”


“Hmm….”


Edrick kembali memperhatikan dengan seksama. Di lihat ke bawah, ke atas, ke pojok, diterangi pakai senter, sampai mencoba mendeteksinya lewat pemindaian Sistem AutoTerra. Edrick berpikir, mencoba mengingat-ingat wajah berwibawa sang komandan dan membandingkannya dengan wajah pemuda di foto ini.


“Dari foto, seragam yang dikenakan anak-anak militer ini merupakan seragam dari Akademi Militer Ribelo Barat.”


“Akademi Militer Ribelo Barat?” ucap Astan bingung.


“Iya….” Edrick mengelus-elus dagu helmnya. “Aku enggak berani asal menduga kalau pemuda yang kau maksud itu Komandan Mavin. Pasalnya, aku lulusan dari Akademi Militer Ribelo Timur. Mungkin saat Komandan Mavin sudah lulus, aku baru masuk akademi.”


“Jadi, kau tidak tahu apa-apa siapa pemuda ini?”


“Meh~ Biar satu akademi pun, aku juga enggak bakal kenal semua murid di akademi. Cuma kuakui, mukanya emang mirip banget sama Komandan Mavin. Kayaknya emang Komandan Mavin, deh.” Edrick kembali memperhatikan foto tersebut. “Eh, terus satu bocah ini mirip mukanya denganmu. Tapi senyumnya lebih cerah, enggak kayak kau, suram.”

__ADS_1


Muka Astan makin bete di balik helm. Ini ketua kayaknya susah diajak serius membahas soal dirinya, atau udah hampir gila gara-gara kelamaan di kapal terkutuk ini?


“Dikata mukaku macam masa depanmu, suram?”


Edrick diam seribu bahasa, berhasil dibungkam oleh ledekan Astan yang mampu menusuk sampai ke dasar jiwa.


“Hush! Enggak boleh ngomong kayak gitu. Entar jadi doa.”


“Kaulah yang mancing, bekicot sungai!”


“Udah, udah. Katanya mau bahas soal penemuan dua barang ini?”


Astan kembali diam melihat Edrick masih berusaha berpikir tentang seragam dan foto yang ia lihat. Bukan saatnya mereka adu ledek, mereka harus tetap fokus menjalankan misi, apalagi yang dibahas ini soal misteri tentang masa lalu Astan.


“Jadi, ini beneran kau?” tanya Edrick meyakinkan.


“Udah jelas itu mukaku, namanya pun sama dengan namaku.”


“Tapi, kok, kau bisa foto bareng sama Komandan Mavin?” Edrick menyadari perbedaan seragam antara dua orang yang diduga Astan dan Mavin. “Dari perbedaan seragam yang kalian kenakan, kau masih seorang siswa resmi, sedangkan Komandan Mavin di sini sepertinya sudah magang.”


“Magang?” Astan bersedekap tangan.


Edrick mengangguk. “Iya. Setiap siswa Akademi Militer yang akan lulus bakal melakukan praktek magang. Tujuannya, ya tentu untuk mempersiapkan calon prajurit bekerja di bidang kemiliteran atau keamanan. Kalau dari standar pendidikan Akademi Militer Ribelo, para siswa di semester akhir diwajibkan untuk melakukan bimbingan kegiatan patroli pada para siswa semester awal dan tengah untuk dijadikan laporan buat nambah-nambah nilai kelulusan.”


Edrick melanjutkan, “Jika berdasarkan dari foto ini, kemungkinan Komandan Mavin saat itu sedang melakukan bimbingan patroli pada kelompoknya, dan kau merupakan salah satu anggota dari kelompok tersebut. Itu berarti, Komandan Mavin itu seniormu.”


Astan bingung sekaligus terkejut ketika mendengar spekulasi dari sang ketua tentang makna dari foto tersebut.


“Seniorku?”


...~*~*~*~...


Jadi, emm.... Telat ye aku ngasih tahu ini :v


Mau kasih tau kalau novel ini bakal rilis versi cetak, hasil ngepet pake uler kadut *digampar Astan* Maksudnya, menang event kemaren. Padahal kemaren iseng-iseng doang, tau-tau malah beruntung, ye.


Untuk open BO *digampar Astan part 2* maksudnya PO atau pemesanan masih belom dibuka, nanti bakal dikabarin. Dikata mau open BO.... Emang siapa di sini yang open BO? Astan?


Astan : "Lu ya, Thur. Bikin malu gue aja sebagai MC di sini."


Author : "Ya maaf, Tan. Namanya juga otak mumet sama kegiatan di RL. Jangan digampar mulu Author-nya! Dikira samsak pakai foto mantan musti digampar mulu."


Nanti bakal dikabarin, deh. Yang di sini tetep lanjut kok sampai tamat. Salam jempol kaki kutilan Astan :v


Astan : "AAAAAARRRRGGGHHH!!!" *gampar Author part 3*

__ADS_1


(pesan ini akan dihapus jika ada kabar terkini)


__ADS_2