
Kesibukan seperti biasa yang dijalani oleh seluruh personil militer di salah satu markas Pasukan Orbit Ribelo, Markas Grup-II yang berada di orbit Planet Ribelo. Mendapat laporan, memeriksa data-data, menangani kasus-kasus seputar luar angkasa, dan berbagai tim-unit dikerahkan untuk menjalankan macam-macam misi dari yang di dalam planet sampai ke seluruh tata surya.
Salah satu batalion dari Grup-II Ribelo, Batalion Y13 Aturna, masih saja dipusingkan dengan satu misi yang sampai sekarang belum bisa diselesaikan, sampai-sampai jenderalnya langsung yang menuntut untuk segera diselesaikan misi yang satu ini.
“Aaaaa….”
Di ruang kantor milik komandan Batalion Y13 Aturna, nampak sang komandan muda tengah tepar di atas sofa dengan kepala mendongak dan mulut menganga. Kalau saja ia berada di dunia kartun, mungkin mulutnya itu sudah mengeluarkan asap jiwa dari tubuhnya.
“Komandan.”
Sang wakil yang duduk di sofa seberang berusaha memanggilnya, tapi tetap tak ada respon.
“Komandan?”
Masih tidak ada respon.
“Komandan Mavin.”
Tetap tidak menyahut.
“Minyak angin, Komandan?”
Iseng-iseng ia menyerahkan minyak angin, tapi tetap saja tidak ada reaksi.
Sang wakil jadi waswas kalau Mavin sebentar lagi bakal dicabut nyawanya oleh malaikat maut. Namun tentu pemikiran konyol itu mustahil terjadi. Mavin begitu karena dia sudah lelah dengan tuntutan pekerjaan untuk menyelesaikan misi mengambil data-data Perusahaan Feron dan BioEmerald di Kapal Feron 072 yang sampai sekarang belum beres juga.
Yang dipikirkan Mavin soal misi ini, ia masih bingung harus menugaskan tim mana. Soalnya, hampir semua tim-unit di batalionnya sedang menjalankan misi masing-masing. Kurang dari tiga minggu, sidang untuk kasus BioEmerald bakal dijalankan. Kalau belum terkumpul bukti yang cukup, persidangan bisa gagal.
Lalu masalah tentang para personil dari tiga tim yang sempat dikirimkan ke kapal itu, pastinya mereka semua tidak selamat. Bertambah pula tanggung jawab Mavin dalam hal ini. Ini menyangkut puluhan nyawa melayang di bawah komandonya.
Terlebih lagi, misi ini mempertaruhkan jabatan dan pekerjaannya di instansi militer.
“Haaah….” Harnan menghela nafas, memijit keningnya sendiri. “Tiga tim dinyatakan gagal dalam misi, kemungkinan besar juga tak selamat di kapal tersebut. Itu… enggak bisa dikirim pakai santet buat kasih bala ke apa yang sudah meneror para personil di kapal sialan itu?”
“Ngaco kau, Harn.”
Akhirnya, Mavin buru-buru bangun, membetulkan posisi duduknya di sofa jadi lebih tegap.
“Nah, akhirnya sadar juga.”
Harnan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa, bersedekap, dan menyilangkan kakinya dengan santai.
“Kau masih bingung dengan tim mana yang musti dikirim?” tanya Harnan. “Kemarin ada dua tim dan satu unit yang baru saja balik dari misi mereka. Syukurlah, misi mereka sukses. Tapi, ya… ada sekitar belasan personil yang dipertaruhkan.”
__ADS_1
“Aaah….”
Mavin membanting tubuhnya bersender di sandaran sofa sambil memijit pelipisnya. Satu lagi tanggung jawab yang harus ia terima.
“Kau bisa menyerahkan soal upacara penghormatan atas para personil yang telah gugur pada masing-masing ketua tim-unit. Mereka pasti bakal mengerti kalau komandan batalion mereka sedang sibuk,” saran Harnan, tak enakan melihat Mavin makin sakit kepala.
“Aku tahu…. Cuma, enggak enak juga kalau aku tak hadir.”
“Haaah….” Harnan menghela nafas. “Mau bagaimana lagi? Kalau dipaksakan, kau bisa sakit.”
Mata hijau terang Mavin kembali melirik ke atas meja di hadapannya. Di sana terdapat beberapa tab yang berisikan berbagai informasi menyangkut misi di Kapal Feron 072, mulai dari berkas bukti-bukti persidangan Perusahaan Feron tiga tahun lalu, jumlah dana yang digelapkan, rincian eksperimen ilegal, sampai data orang-orang yang bekerja di Kapal Feron 072.
“Kau masih perlu memeriksa semua data-data itu?” tanya Harnan kembali saat mendapati mata Mavin melihat ke arah semua tab di atas meja.
Mavin kembali menegakan posisi tubuhnya, meraih dua tab, dan membaca beberapa informasi yang terangkum di sana.
“Hanya untuk memperjelas misi,” jawab Mavin datar, menaruh satu tab ke meja. “Aku masih penasaran obyek seperti apa yang sudah menewaskan banyak jiwa di kapal sana, termasuk para personil terlatih yang kita kirimkan.”
“Kurasa itu bakal menjadi misi yang sulit.”
Harnan berusaha melonggarkan dasinya. Memikirkan masalah tentang misi ini sungguh membuatnya gerah, walau AC sudah menyala cukup dingin.
Pandangan Mavin kini tertarik pada tab yang berisi data diri orang-orang yang bekerja di Kapal Feron 072. Dia ambil tab tersebut, menggulir satu-persatu data sambil membacanya pula.
Gerakan jari Mavin terhenti pada data seorang pria paruh baya bertubuh kurus, memakai jas lab, dan berkepala plontos di depan dengan rambut putih tipis-tipis.
“Hm, penampilan yang sangat klise,” komentar blak-blakan Harnan saat ikut melihat data di tab tersebut. “Dia Profesor Karion Milvesta, diduga sebagai otak utama dari eksperimen ilegal menduplikasi Sistem AutoTerra. Dia juga hilang kabar sejak tiga tahun lalu. Jadi, kemungkinan besar dia tewas di kapal tersebut bersama yang lainnya.”
“Sebenarnya, eksperimen macam apa yang ia ciptakan hingga membuat seisi kapal jadi kacau balau?” tanya Mavin sambil berpikir. “Lalu, apa yang membuat pemerintah menduga BioEmerald ikut terlibat juga?”
“Lembaga intelejen khusus di Negara Republik Kilira menemukan sekilas data-data keterlibatan BioEmerald dengan Feron di salah satu kantor cabang BioEmerald di negara tersebut. Data-data itu hanya berupa bukti transaksi modal hasil penggelapan dana teraformasi planet yang dikirimkan ke Feron, tepatnya ke Kapal Feron 072,” jelas Harnan.
“Dari situ, ada dugaan BioEmerald juga terlibat dalam penggelapan dana sekaligus tindak eksperimen ilegal. Tapi, bukti yang ditemukan hanya sekedar data transaksi itu saja. Jadi, belum cukup kuat untuk menjatuhi hukuman sidang pada organisasi teknologi biologis itu. Makanya, kita yang dipercayakan untuk membuka misi Feron 072 kembali dan mengambil data-data yang cukup untuk bahan bukti di sidang.”
“Sampai saat ini pun masih belum jelas apa keterlibatan BioEmerald. Apakah mereka cuma sekedar ngikut korupsi dan menyumbangkan dana untuk eksperimen ilegal Feron, atau lebih dari itu. Semisalnya… ngasih peralatan teknologi untuk membantu eksperimen, keterlibatan para stafnya, atau yang lainnya, gitu?” lanjut Harnan menjelaskan panjang lebar.
Mavin hanya mengangguk untuk setiap penjelasan yang diberikan Harnan. Ia masih bingung harus mengambil tindakan seperti apa lebih dulu sebelum menjalankan misi agar tidak terulang kegagalan yang sama.
Mavin kembali menggulir data diri di tab sampai ia menemukan salah satu data di bagian data diri personil militer yang terlibat dalam pengawasan keamanan di Kapal Feron 072.
Di situ, Mavin melihat foto formal seorang pria berseragam militer antariksa, memiliki rambut jingga pendek, dan sepasang iris mata kuning terang. Dari foto itu, nampak kebahagian tersirat dari wajah mudanya yang naif.
Sekilas Mavin tersenyum ketika mengingat sosok pria digambar tersebut.
__ADS_1
Iseng-iseng Harnan mengikuti arah pandang sang komandan. “Salah satu unit dari Grup-I Ribelo yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Kapal Feron 072. Soalnya, dulu Perusahaan Feron menjamin produksi obat-obatan yang bakal di kirim ke Planet GT624. Dia dan rekan-rekannya juga pasti….”
“Ya….” Mavin mengangguk lesu, menaruh kembali tab itu. “Aku tahu.”
Harnan mengerti perasaan Mavin saat ini. Sosok di gambar itu merupakan seseorang yang cukup berpengaruh dalam hidup seorang Mavin L. Vladiskov. Kalau saja bukan karena sosok itu, Mavin takkan pernah bisa berada setinggi sekarang posisinya.
“Permisi, Komandan Mavin.”
Mavin dan Harnan menoleh pada staf wanita yang baru tiba di sana sambil membawa satu tab.
“Oh. Silakan masuk.”
Staf tersebut memasuki ruang kantor, dengan sopan memberikan tab itu pada Mavin.
“Apa ini?”
“Itu data-data hasil ekspedisi Unit Magelan09 di Darzia. Mereka juga menyerahkan beberapa data tentang Guild Thornic serta penduduk di Kapal Thornic 035 yang mengorbit di sana. Kata mereka, Kapal Guild tersebut butuh perpanjangan masa izin untuk mengorbit di sana.”
Mavin mengangguk mengerti. “Oke. Nanti data ini bakal diserahkan ke Pemerintah Tata Surya Abramo.”
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Sang staf wanita itupun pergi keluar dari kantor setelah pamit dengan sopan.
“Data Guild pemburu?” tanya Harnan santai. “Kenapa enggak dikasih ke Asosiasi Pemburu antar Galaksi saja?”
“Guild Thornic cuma didatakan sebagai Guild biasa yang menampung banyak tunawisma, aktivitas berburu mereka terlalu kecil, jadi didatakan ke Pemerintah Abramo sebagai pendataan kependudukan.”
Jari Mavin menggulir data-data penduduk Kapal Thornic 035. Ia juga membaca sekilas data diri dari anggota Guild. Tiba-tiba jarinya mendadak kaku saat menemukan satu data diri yang membuatnya hampir syok.
Data diri seorang pria berambut jingga berantakan, mata heterokrom kuning-perak, dan terdapat luka tiga cabang di kulit mata kirinya. Ekspresi pria itu nampak begitu datar, tak terlihat tertarik pada kehidupan.
“I-ini….”
“Ada apa, Komandan?”
Harnan ikut terbelalak saat melihat wajah yang cukup familiar pada data anggota Guild itu. Mereka berdua sama-sama tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka juga mencoba membandingkan data pemburu ini dengan data salah satu personil militer yang baru dilihat Mavin.
“Ash…?”
Sangat-mirip.
...~*~*~*~...
__ADS_1