
“Serahkan Chip Sistem Re:Set padaku.”
Astan dan Edrick hampir dibuat tak percaya. Tenma rela membunuh teman-temannya sendiri hanya demi sebuah chip sistem kehidupan yang kinerja dan keterangannya pun masih abu-abu.
“Kau…” Astan menggeleng, hampir kehabisan kata-kata. “Kau membunuh semua rekanmu sendiri hanya demi sebuah sistem? Kukira kita bisa menjadi rekan baik. Kau sempat menyelamatkanku saat Bilik C runtuh.”
“Jangan salah paham dulu.” Tenma menarik kembali uluran tangannya. “Mereka bukan teman-temanku.”
“Apa maksud—.”
“Aku bukan Tenma yang asli.”
Satu lagi fakta mencengangkan mereka dapatkan. Di hadapan mereka saat ini bukanlah sosok Tenma yang asli. Tapi, itu aneh. Saat mereka berangkat dan belum mengenakan zirah, Astan yakin betul bahwa yang ikut bersama mereka adalah Tenma, bisa diketahui dari postur tubuh dan wajahnya.
Lalu, bagaimana bisa orang ini mengaku bahwa ia bukan Tenma? Masalah ini jadi semakin rumit.
“Biar kuperjelas. Aku menyusup ke tim kalian ketika hendak berangkat. Tenma yang asli sudah kuhabisi. Postur tubuhku kebetulan mirip dengannya. Dan soal wajah, masih bisa dimiripkan menggunakan topeng silikon.”
Tenma, atau lebih tepatnya orang yang menyamar sebagai Tenma, bersedekap tangan di dada. Nampak tenang dan sama sekali tidak merasa bersalah atas segala tindakan keji yang ia lakukan sejak di markas.
“Dan soal kejadian di Area Pembangkit Energi, aku tidak bermaksud untuk menyelamatkanmu, Astan. Jadi jangan salah sangka,” ucap Tenma tenang. “Selain Chip Sistem Re:Set, aku juga berniat untuk membawamu.”
“Membawaku?”
Alasan apa lagi yang dibuat Tenma palsu ini? Atas apa Astan musti dibawa bersamanya? Dan pada siapa ia akan dibawa? Edrick pun penasaran mengapa Astan juga diincar oleh Tenma.
“Astan Pradipta Cornell, kau memang tidak sadar, tapi nyatanya kau dulu memang seorang prajurit militer dari Satuan Pasukan Orbit Ribelo. Tugas terakhirmu yang membuat dirimu jatuh ke dalam sebuah jebakan.”
Astan bergeming, bingung dan heran dengan maksud Tenma, walau ada sedikit rasa marah yang muncul tanpa sebab.
“Aku tidak begitu tahu kejadian lengkapnya, tapi masterku sempat menjelaskan kalau kejadiannya dimulai dari eksperimen yang dibuat oleh Tim Profesor Arthanour Morphin. Dialah yang bertanggung jawab atas proyek pembuatan Sistem Re:Set dari yang versi awal sampai yang saat ini berada di tangan kalian.”
“Sistem Re:Set sudah beberapa kali diuji coba ke berbagai obyek, tepatnya manusia, tapi hasilnya selalu gagal karena ketidakcocokan. Dari semua orang yang berada di Kapal Ferron 072, ada dua kandidat yang memiliki kecocokan dari berbagai aspek dengan Sistem Re:Set. Salah satunya adalah kau, Astan.”
Tenma menunjuk Astan, berucap dengan nada suara dalam, “Ya, Astan…. Otakmu sudah ditanami oleh Sistem Re:Set.”
Bagai terkena ledakan, Astan dibuat syok di tempat, begitu juga dengan Edrick yang sudah memiliki prasangka tak enak sejak Astan menemukan chip sistem tersebut dan mengaku bahwa dia mengalami hal aneh di sana.
__ADS_1
Tak disangka jika dugaan Edrick benar. Amnesia yang dialami Astan, gangguan Sistem AutoTerra seperti yang diceritakan Mavin, dan hal aneh yang terjadi saat Astan menemukan chip tersebut, semuanya terjadi karena pengaruh Sistem Re:Set yang telah ditanamkan di otaknya.
Dugaan yang tidak diharapkan Edrick benar terjadi. Astan punya keterkaitan dengan Sistem Re:Set.
Akibat penjelasan Tenma, spontan satu tangan Astan memegang kepalanya yang masih terpasang helm, agak menunduk, berusaha tuk meyakinkan dirinya sendiri.
Kebenaran yang ia terima secara tiba-tiba cukup memukul mental Astan saat ini. Sesuatu yang menjijikan, tidak jelas, dan tidak diinginkan tertanam dalam otaknya, telah menyatu bersama jiwanya dan terus mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
“Jadi, semua kejadian buruk yang terjadi padaku akhir-akhir ini disebabkan oleh Sistem Re:Set… di otakku…?” tanya Astan dengan nada sedikit gemetar.
Tenma menjawab tenang, “Jika yang kau maksud gangguan Sistem AutoTerra dan munculnya panel-panel sistem misterius di pikiranmu, maka itu benar.”
“Siapa mastermu?” tanya Astan lagi. “Jika mastermu memberitahumu tentang apa yang terjadi padaku, maka kau sudah tahu kalau sekarang aku seorang pemburu.”
“Aku memang sudah tahu sejak awal.” Ada jeda sebelum Tenma kembali menjawab, “…Tapi, aku tidak akan memberitahu siapa masterku.”
“Heh.”
Di balik helm, Astan menyeringai jengkel. Kepalanya kembali terangkat, menatap lurus ke arah Tenma berada, jauh di hadapannya. Tiba-tiba Astan berusaha menembak Tenma, tapi senjatanya langsung kehilangan fungsi.
Menyadari yang terjadi pada senjata Astan, Edrick pun juga merasa kalau senjata ia pegang pun juga kehilangan fungsinya. Bisa dilihat dari adanya sirkuit-sirkuit listrik aneh menyelimuti senjata mereka berdua, pertanda bahwa fungsi senjata sedang ditahan.
“Dia meretas senjata kita,” desis Edrick.
Dari kejauhan, Tenma sedikit terkekeh melihat reaksi mereka berdua. “Hal ini sudah kuantisipasi. Kalian pasti akan menembakku nanti. Jadi, kuretas saja sistem senjata kalian.”
Astan memperhatikan senapannya sendiri yang kena retas di tangan. Kalau sudah begini, tidak ada cara lain selain bertarung dengan gayanya sendiri. Segera Astan berlari kencang ke arah Tenma sambil membawa senapannya.
“Kau pikir aku cuma prajurit yang bisa mengandalkan tembakan?!”
Astan melempar senapannya kuat-kuat sampai melesat ke arah Tenma dengan kencang. Tenma tidak menghindar, justru lemparan Astan meleset di sampingnya.
Tenma meremehkan, “Kau terlalu terbawa emosi hingga lemparanmu meleset.”
“Perhatikan posisimu, Dungu!” teriak Astan masih berlari ke arahnya.
Tenma tidak mengerti maksud Astan sampai benturan keras mendorong kepalanya hingga tertunduk ke bawah. Rupanya, Astan sengaja melempar senapannya ke samping, sehingga senapan itu memantul mengenai tembok dan melesat kembali membentur kepala belakang Tenma.
__ADS_1
Kali ini, Astan sangat berterimakasih pada Mavin yang sengaja memberikannya senjata dengan bentuk dan bahan unik seperti ini.
Baru saja tertunduk kena benturan senapan, Tenma langsung kena serang dari depan. Kali ini, Astan membenturkan lututnya tepat di bagian perut zirah, membuat bagian keras zirah canggih tersebut retak dan menyebabkan getaran hebat pada seluruh zirah. Akibat getaran dari serangan Astan, Tenma langsung merasa mual.
Tadi Astan terpaksa bertarung dengan gayanya sendiri? Iya, gaya bertarung barbarnya.
Tenma terhuyung ke belakang, berusaha mempertahankan keseimbangannya akibat serangan keras Astan. Dalam pikirannya, Tenma tak mengira jika Astan bisa sekuat ini.
Mungkinkah itu reaksi dari Sistem Re:Set?
Di sisi Astan, pria itu lagi-lagi kehilangan fokus. Layar-layar glitch hologram berwarna abu-abu kembali muncul, memberikan notifikasi aneh yang sempat terjadi padanya sebelumnya. Namun kali ini, beberapa bagian tubuh Astan diselimuti aura-aura hitam tipis.
[Memulai proses sinkronisasi jiwa dan tubuh pengguna]
[Proses Sinkronisasi : 1%]
[5%]
[20%]
[34%]
“Ergh…! Aku tidak membutuhkanmu! Enyahlah kau dari pikiranku!!!”
Akibat teriakan keras Astan, ledakan kecil terjadi di sekitarnya. Aura-aura hitam itu meledak, menyebar ke segala arah sampai lenyap.
[….]
[Sinkronisasi : Gagal]
Nafas Astan terengah-engah, tertunduk akibat sebagian kekuatannya tiba-tiba keluar sendiri dari tubuhnya.
Sekarang, Astan mulai sedikit mengerti dengan keadaan serupa yang terjadi pada dirinya sembelumnya. Ingatan tentang suara-suara yang menentang sesuatu, ketakutan, dan penolakan yang kuat.
Semua itu terjadi karena kemungkinan jiwa Astan menolak bergabung dengan Sistem Re:Set.
...~*~*~*~...
__ADS_1