AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 67 : Tanda Pengenal


__ADS_3

Nampak jelas bagian-bagian mesin raksasa Inti Kapal bergerak, sebagian sisi mesinnya menyala menyalurkan energi Inti Kristal dari empat generator ke seluruh kapal. Sayangnya, energi tidak tersalurkan secara merata akibat satu bilik generator hancur.


Edrick sempat menoleh dari kaca ruang kontrol, memperhatikan jalannya mesin Inti Kapal. Dia sedikit kecewa dengan hancurnya Bilik C dan gugurnya dua prajurit. Biarpun kurang satu generator, setidaknya Inti Kapal masih bisa berfungsi walau tidak begitu maksimal.


“Tidak masalah jika Bilik C hancur. Hanya saja, mungkin ada beberapa bagian kapal yang sulit kita akses karena energi dari Inti Kapal tidak tersebar secara merata,” ucap Edrick.


“Kita hanya bisa berharap energi Inti Kapal bisa sampai ke area-area yang ditargetkan.”


Edrick mengangguk setuju dengan harapan Wirma. “Oke, kita akan mulai menyusun rencana selanjutnya.”


Semua prajurit tim berbaris rapi, bersiap mendengarkan setiap penjelasan sang pemimpin dengan seksama. Astan juga ikut berbaris tegap dengan kedua tangan di tempatkan ke belakang badan.


“Prajurit kita tinggal beranggotakan sembilan orang. Untuk bagian misi selanjutnya, kita akan berpencar, membagi tim kita menjadi tiga kelompok agar masing-masing kelompok pergi ke tiga area utama yang telah ditargetkan, yaitu Dek Publik, Dek Medis, dan Dek Keamanan.”


Kali ini harus berpencar menjadi tiga kelompok. Astan yakin, misi ini bakal semakin sulit. Mereka akan menyebar ke beberapa bagian kapal agar sampai di tujuan, pastinya lebih banyak variasi monster yang akan mereka temui nanti.


Edrick kembali menjelaskan, “Sesuai perundingan, masing-masing kelompok beranggotakan tiga anggota. Wirma, Zered, dan Farhan pergi ke Dek Keamanan. Di sana mereka akan membantu mengawasi keadaan sekitar, memberi akses ke tempat-tempat yang dikunci oleh sistem keamanan tertentu, dan mencari tahu rekaman berbagai kamera pengawas yang merekam kejadian tiga tahun lalu. Dari rekaman-rekaman tersebut, kita bisa mengetahui apa sebab kapal ini hilang kontak dan jadi kacau, itu juga bisa menjadi bukti tambahan untuk di persidangan BioEmerald.”


“Tenma, Lavisto, dan Irawan akan pergi ke Dek Publik, mencari data-data tambahan. Data-data tersebut berupa bukti keterlibatan BioEmerald dengan Perusahaan Feron, data transaksi penggelapan dana, berbagai informasi ilegal, sampai staf mana saja yang terlibat.”


“Sisanya aku, Astan, dan Bery akan pergi ke Dek Medis. Kami akan mencari bukti-bukti hasil eksperimen ilegal dan informasi tentang sebab mengapa monster-monster di kapal ini bisa tercipta. Pasti penyebabnya bisa dicari tahu di area laboratorium.”


Astan bisa memaklumi keputusan Edrick untuk satu tim dengannya. Tentu saja karena Edrick bertanggung jawab mengawasi Astan selama ikut menjalankan misi. Tujuan Astan sejak awal ialah mencari tahu apakah dia memang punya masalah dengan ingatannya, dan dengan cara pergi kemari mungkin bisa membuat Astan ingat kembali.


Namun, sampai sekarang Astan sama sekali tidak mengingat apa pun. Justru dia malah mengalami hal yang sama seperti yang dia alami saat menjalankan misi Guild bersama Arni dan Grim.


Sesuatu tidak beres yang syukurnya malah membuat Astan terbebas dari jerat ilusi Illusionist-E.

__ADS_1


“Hehe.”


“Akh?”


Spontan Astan menoleh, melihat keluar ruang kontrol lewat pintu yang masih terbuka. Entah cuma perasaan Astan atau memang yang ia lihat sekilas sungguh sosok yang nyata? Astan seperti baru saja melihat bayangan aneh menyelinap ke sela-sela tembok area pembangkit energi, lenyap begitu saja. Sekilas Astan juga mendengar suara tawa seseorang yang anehnya mirip dengan suaranya.


Sebenarnya, apa yang Astan rasakan? Suara siapa lagi yang ia dengar dalam pikirannya? Dan sosok macam apa yang baru saja ia lihat?


“Jadi, sudah jelas penjelasannya? Apa ada yang perlu ditanyakan?”


Lamunan Astan buyar saat mendengar suara Edrick. Dia kembali fokus memperhatikan penjelasan sang pemimpin. Untuk sekarang, Astan harus tetap fokus menjalankan misi. Lambat laun Astan pasti akan menemukan misteri tentang dirinya sendiri.


Astan sungguh ingin tahu, memori seperti apa yang sempat hilang tentang dirinya di masa lalu.


….


Di sela-sela tembok itu, suatu bayangan bergerak merayap semakin dalam. Sepasang mata kuning terang melengkung ke atas, pertanda ia senang ketika melihat sosok Astan dalam keadaan baik-baik saja.


“Kau yang berani memutuskan untuk menyelamatkan makhluk hina itu menggunakan kekuatanku!”


Walau di dalam satu wujud yang sama, bayangan itu memiliki dua suara dari kepribadian berbeda, satunya terdengar lebih halus, sedangkan satunya lagi terdengar berat dan penuh amarah.


“Kekuatan kita…. Kau tidak sadar bahwa kau juga bagian dari diriku?! Kau tercipta dari sebuah kesalahan!”


“Lancang sekali kau bicara demikian! …Ergh! Andai saja kita tidak terjebak dalam satu tubuh, sudah kucincang dirimu sampai hancur!”


Walau kedua kepribadian itu tetap ribut, wujud bayangannya masih tenang merambat jauh ke dalam jalur ventilasi kapal.

__ADS_1


“Heh, aku tak yakin kau berani melakukan itu. Cepat atau lambat, Astan akan mengetahui kebenarannya.”


Suara berat itu tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya mengerang menahan kekesalannya tidak bisa melakukan apa-apa. Terjebak di wujud yang sama dengan kepribadian menjengkelkan sungguh membuatnya menderita.


Jika tujuan si suara berat bisa tercapai, dia takkan lagi terjebak dengan si suara halus ini dan pasti akan menghabisinya.


Bahkan menghabisi Astan juga.


...~*~*~*~...


Seluruh tim sudah sepakat berpencar menjadi tiga kelompok, setiap kelompok kini sudah beranjak pergi dari Area Pembangkit Energi ke tujuan masing-masing.


Waktu sudah sekitar 15 menit berlalu. Sejauh ini, kelompok Edrick sama sekali tidak mengalami hambatan, entah itu oleh serangan monster atau kesulitan akses ke jalur-jalur tertentu. Kali ini, mereka harus melewati Area Asrama dulu agar bisa sampai ke Dek Medis.


Di Area Asrama, mereka memasuki sebuah koridor. Ketiganya memutuskan untuk mencoba mengecek setiap ruangan yang ada di sana, siapa tahu ada sesuatu yang berharga dan dapat dijadikan sebagai bahan barang bukti juga.


Astan memasuki salah satu kamar yang pintunya sudah hancur. Kamar itu minim pencahayaan, lampunya pun kedap-kedip akibat energi Inti Kapal tidak disalurkan secara maksimal gara-gara satu bilik generator kacau. Dan isinya pun berantakan.


Setiap langkahnya, kaki Astan tanpa sadar menginjak kain-kain sobek berserakan. Lewat penglihatan malam, ia melihat kamar di sini berisi empat ranjang dan di seberang berjejer loker yang sebagiannya sudah hancur.


Astan penasaran, mencoba mengecek isi dari loker-loker itu. Tidak ada yang mencurigakan di sana, hanya berisi pakaian, seragam, dan perlengkapan lainnya. Namun, pandangannya tertarik pada satu loker tanpa pintu.


Saat dicek, Astan menemukan sebuah seragam militer yang masih tertata rapi. Dia keluarkan seragam itu, menggosok batangan kecil tanda pengenal di bagian dada seragam. Tertulis jelas sebuah nama yang membuat Astan sempat terkejut membacanya.


Sangat jelas di sana tertulis nama ‘Astan Pradipta Cornell’ dengan kedudukan sebagai wakil ketua sebuah unit militer.


“Ini, namaku…?”

__ADS_1


...~*~*~*~...


Maaf kalau diksi dan lainnya kacau sehingga bikin pembaca gagal paham. Lagi fokus buat namatin satu season ini di kala sibuk, jadi kurang memperhatikan kepenulisannya. (saya mah yang penting tulisannya enak dilihat mata dah cukup, gaperlu yang wahwehwoh, gitu :v )


__ADS_2