AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 70 : Profesor Arthanour Morphin


__ADS_3

Sebelum panggilan jarak jauh antara Wirma dan Edrick berlangsung, beberapa menit yang lalu kelompok Wirma baru saja selesai membasmi monster-monster yang sempat menghalangi jalan mereka menuju tempat tujuan, yaitu Dek Keamanan.


Beberapa monster tergeletak tak bernyawa di depan pintu sebuah ruangan setelah berhasil ditembak kelompok Wirma. Kelompok mereka kemudian berjalan mendekati pintu tersebut. Wirma mencoba membuka panel kunci menggunakan Kemampuan Hack.


“Fyuuuh….” Zered mengelus puncak helmnya. “Capek juga nembak-nembak monster sepanjang jalan.”


“Di sini lumayan banyak monster,” komentar Farhan, “untung kita bertiga bisa mengatasinya.”


“Susah juga sih buat cari jalan lain. Soalnya, ini jalan satu-satunya menuju Dek Keamanan. Jalan yang lain ketutupan sama runtuhan besi.”


“Udah, selesai.”


Pintu otomatis terbuka. Ketiganya segera memasuki ruangan tersebut, menutup dan menguncinya dari dalam agar aman dari serangan monster. Wirma juga menarik tuas pembangkit listrik di dekat pintu, membuat listrik di seluruh ruangan aktif, lampu-lampu dan semua monitor yang terhubung dengan beberapa kamera pengintai kapal menyala.


Ruangan yang mereka masuki sekarang adalah ruang pengawas. Tempat ini digunakan untuk mengawasi keadaan kapal lewat setiap kamera pengintai di seluruh kapal, dan tempat untuk memberi akses darurat ke beberapa fasilitas.


“Farhan, kau jaga-jaga dekat pintu saja,” pinta Wirma sambil berjalan ke depan monitor.


“Oke.”


Farhan hanya berjaga-jaga di dekat pintu seperti yang dipinta Wirma, sedangkan Zered mulai membantu Wirma melihat-lihat keadaan kapal lewat beberapa monitor kamera pengintai.


“Semuanya aktif?” tanya Wirma pada Zered.


Zered memperhatikan monitor sambil jarinya menekan-nekan tombol gulir. “Enggak semuanya. Banyak juga area yang tidak kena pengawasan kamera. Sepertinya kamera-kamera di sana ada yang rusak.”


“Pastilah rusak,” ucap Farhan, bersender di tembok. “Karena kelamaan tidak digunakan atau serangan dari para monster.”


Wirma berpikir sejenak. “Zered, bisa kau gunakan drone-mu untuk mengawasi area-area yang tidak kena pengawasan kamera pengintai? Mungkin ada sesuatu yang penting di sana.”


“Baik.”


Zered berjalan ke arah pintu. Setelah pintu dibuka, sebuah drone muncul dari penyimpanan sistem. Zered menerbangkan drone tersebut menjauh dari ruangan menuju lorong gelap di dekat mereka.


“Oke, sudah kuterbangkan. Jika ada yang mencurigakan, drone akan mengirimkan pertanda nanti,” kata Zered kembali masuk ke dalam ruangan.


“Bagus.” Wirma mengotak-atik panel kontrol di dekat monitor. “Kau coba mengawasi keadaan area kapal. Aku akan coba cari beberapa informasi lewat data-data yang disimpan di sini.”


Zered kembali mengawasi keadaan beberapa area kapal. Jarinya terus memencet tombol gulir, mengalihkan pengawasan dari satu kamera ke kamera lain sampai terhenti ketika menemukan ketiga rekan mereka berdiri merundingkan sesuatu di depan gerbang yang tidak bisa diakses.


“Wakil, kita menemukan ketua dan rekan-rekan kita. Sepertinya mereka dalam kesulitan.”


Wirma menghampiri Zered, memperhatikan monitor yang dimaksud. “Laporan?”


Zered mencoba menggali informasi perihal masalah akses yang terjadi di area tersebut lewat panel kontrol di dekatnya. “Gerbang F34, perbatasan antara Area Asrama dengan Pusat Kesehatan. Status Sistem : Offline.”


“Hmm….” Wirma mengelus dagu. “Sepertinya, mereka menemukan jalan tercepat menuju Dek Medis. Cuma kehalang gara-gara akses energi Inti Kapal tidak sampai ke sana.”


Wirma kembali beralih ke panel kontrol, mencoba mencari pengaturan akses ke generator cadangan. Generator cadangan sendiri berfungsi sebagai alat pembangkit energi darurat. Biasanya, generator jenis ini menyimpan energi dari Inti Kapal agar bisa digunakan dalam keadaan genting, seperti mati listrik atau energi tidak sampai tersebar ke fasilitas tertentu.


“Aku bakal coba meretas generator cadangan dekat lokasi mereka.”

__ADS_1


Satu program generator cadangan pada lokasi yang dilacak berhasil ditemukan. Dengan Kemampuan Hack pada Sistem AutoTerra, Wirma jauh lebih mudah meretas akases generator tersebut.


“Oke, selesai. Tinggal coba hubungi ketua.”


...~*~*~*~...


“Jadi, butuh bantuan, Ketua?”


Lewat panggilan holografik itu, Edrick menjawab, “Sepertinya begitu. Kelompokmu sudah tiba di area tujuan?”


“Heh.” Wirma nyengir. “Kalau belum sampai, pasti aku takkan sempat memberi tawaran bantuan pada ketua sendiri. Kami sudah tiba beberapa menit lalu di ruang keamanan, dan sekarang kami sedang mengawasi keadaan sekitar sambil mencari data-data penting. Saat kami mengecek kamera pengintai, rupanya ada kalian sudah berdiri di depan gerbang.”


“Yaaa…. Kami sedang dalam kendala.”


Edrick, Astan, dan Bery kembali memperhatikan gerbang yang membatasi kedua area itu. Gerbangnya cukup besar, keras, dan kokoh. Yang pasti dengan senjata atau kemampuan sistem yang dimiliki Edrick takkan bisa menembusnya. Benar-benar harus dibuka lewat jalur akses resmi ataupun diretas.


“Energi Inti Kapal tidak berhasil tersalurkan sampai ke sini, sehingga sistem gerbang mati total. Kalau saja menyala, pasti masih bisa kuretas,” ucap Edrick.


“Kebetulan di dekat sana ada generator cadangan. Aku bisa menyalakannya lewat sini sekaligus meretas sistem gerbangnya. Jadi, kalian tinggal menunggu dan langsung masuk saja.”


“Baiklah. Lakukan apa yang kau bisa, Wakil.”


“Siap, Ketua.”


Ketiga prajurit itu menunggu Wirma yang sedang berusaha menyalakan generator cadangan dan meretas akses sistem gerbang.


[Sistem Gerbang F34 : Online]


Butuh beberapa menit proses tersebut berlangsung sampai generator cadangan berhasil memberikan energi ke gerbang, sehingga gerbang besar tersebut menyala dan mulai terbuka.


“Ya, setidaknya kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sini.” Lalu Edrick bertanya pada Bery, “Benar, kan?”


Bery buru-buru melacak hal-hal mencurigakan lewat radar yang sempat dibagikan Edrick sebelumnya. Yang dilihat kosong, tidak menemukan titik-titik mencurigakan di dalam sana.


Bery mengangguk. “Benar, Ketua. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sini. Seluruh area ini aman.”


“Kita langsung masuk saja?” tanya Astan memastikan.


“Tentu.” Edrick kembali bicara pada holografik Wirma. “Terima kasih atas bantuannya, Wirma. Kau dan dua rekanmu bisa kembali bertugas. Pastikan mengumpulkan bukti-bukti penting terkait kejadian di kapal ini.”


“Siap, Ketua.”


Panggilan holografik pun berakhir. Edrick memberi aba-aba pada Bery dan Astan untuk segera bergerak masuk ke area tersebut. Sambil memegang senjata masing-masing, ketiganya masuk dan mulai mencari apa saja hal penting yang bisa mereka dapatkan.


...~*~*~*~...


Salah satu ruangan di Dek Publik berhasil dimasuki oleh Tenma, Lavisto, dan Irawan. Ruangan tersebut merupakan ruang penyimpanan dokumen. Ada banyak bilik komputer berjejer dan rak-rak berisi berbagai jenis tab tersusun rapi di sana, menandakan bahwa ruangan ini sama sekali belum tersentuh oleh monster atau semacamnya. Dan di ujung ruangan juga terdapat satu monitor raksasa.


“Ruangan ini benar-benar aman,” ucap Lavisto sambil berjalan menyusul Tenma dan Irawan yang sudah masuk mendahuluinya. “Sepertinya sama sekali belum tersentuh sejak tiga tahun yang lalu?”


“Iyaaa…. Ini ruangan pertama yang kita temukan masih dalam keadaan rapi,” komentar Irawan. “Kira-kira, akses energinya menyala sampai sini?”

__ADS_1


Tenma mendekati bagian panel kontrol di depan monitor raksasa tersebut, mencoba menyalakannya. Sistemnya bisa dinyalakan, tapi monitor raksasa dan beberapa komputer sama sekali tidak merespon, kemungkinan sudah mengalami kerusakan.


“Sistemnya menyala,” ucap Tenma, “kita bisa mencari data-data yang diperlukan mulai dari sini.”


Lavisto mencoba mengecek data beberapa komputer yang masih bisa menyala, sedangkan Irawan sibuk mencari sesuatu yang menurutnya penting untuk mereka kumpulkan di setiap sudut ruagan.


Tenma sendiri mulai mengecek data-data penting lewat panel kontrol. Saat ia hendak membuka sebuah program, matanya teralihkan pada ruangan gelap agak jauh di sampingnya. Tenma jadi penasaran, ruangan itu terlalu mencurigakan baginya. Mungkin saja ada sesuatu yang penting di sana. Harus ia cek sendiri.


“Irawan, bisa kau cek bagian sini. Aku akan mengecek ke ruangan tersebut,” perintah Tenma sambil menunjuk ke ruangan yang dimaksud.


“Baik, Tenma.”


Setelah Tenma meninggalkan mereka berdua di sana, Irawan mulai mengecek data panel kontrol. Butuh waktu beberapa menit hingga Irawan berhasil menemukan banyak dokumen penting dalam sebuah program. Beruntung sistem keamanannya bisa lebih dulu diretas Tenma yang juga merupakan seorang pengguna Kemampuan Hack, jadi Irawan bisa mengaksesnya lebih mudah.


“Hei, Lavisto! Aku menemukan data-data yang kita cari!”


“Sungguh?”


Lavisto segera meninggalkan komputer yang ia periksa, menghampiri Irawan dan berdiri di sampingnya. Matanya ikut melihat data-data yang ditemukan Irawan pada monitor panel kontrol.


Sesuai harapan mereka, data yang ditemukan merupakan data yang mereka cari, yaitu bukti transaksi penggelapan dana sampai dokumen-dokumen staf yang terlibat dalam kasus antara BioEmerald dengan Perusahaan Feron.


“Tak kusangka mereka bakal menyimpannya dalam satu tempat,” komentar Lavisto.


“Mungkin ini dokumen cadangan. Kalau dokumen utama biasanya disimpan di kantor-kantor berbeda sesuai divisi,” balas komentar Irawan. “Baiklah. Kita coba pastikan apakah semua data ini benar yang kita cari.”


Mereka berdua membaca dokumen-dokumen tersebut. Karena sudah dipastikan semua itu merupakan dokumen asli, Irawan mencoba mengunduhnya ke flashdisk yang sudah disiapkan. Data yang diunduh cukup banyak, jadi perlu waktu agak lama untuk proses pengunduhan.


Sambil menunggu proses selesai, Irawan membuka salah satu dokumen yang berhasil diunduh. Dokumen tersebut merupakan biodata dari salah seorang staf terpenting kapal. Nampak pada foto wajah seorang pria paruh baya dengan seluruh bagian rambutnya memutih dan wajah keriput.


“Profesor Arthanour Morphin, ahli dalam bidang Bioteknologi dan Farmasi. Posisi sebagai kepala Divisi Bioteknologi dan merupakan orang terpenting dalam berbagai proyek…” Irawan membaca dokumen tersebut. “Banyak bener proyeknya, ya? Sampai males aku bacanya.”


“Coba cek data lain aja. Kayaknya yang itu enggak terlalu penting, deh,” saran Lavisto mulai bete.


“Enggak penting apanya? Dia ini kepala divisi, seorang ilmuan profesional. Pasti juga ikut terlibat dalam kasus BioEmerald dan Perusahaan Feron.”


“Entahlah. Aku males lihat datanya. Prestasi dan proyek yang dikerjakan banyak, mukanya pun sangar macam tokoh kartun antagonis.”


“Yeee, itu ‘mah karena kau iri. Selama kau sekolah di akademi ‘kan nilai yang kau dapat selalu anjlok,” ledek Irawan sambil membaca data tersebut.


Selama mereka berbincang-bincang, tanpa mereka sadari ada sesuatu berusaha mendekati mereka dari belakang. Sesosok aneh mendekat pelan, senyap tak bersuara.


“Kalau soal muka ‘mah, biasa,” komentar Irawan kembali. “Orang yang sering kebanyakan mikir biasanya bakal bermuka serem.”


“Ah, masa?” tanya Lavisto tak percaya.


Sosok tersebut semakin mendekat di belakang mereka, terhalang oleh bayangan ruangan, bersiap untuk melakukan tindakan agresif.


“Baiklah. Kita lihat salah satu pencapaian orang ini.” Irawan kembali membaca dokumen itu. “Profesor Arthanour juga memimpin sebuah proyek—.”


“Irawan, awas!”

__ADS_1


“Ap— Argh!!!”


...~*~*~*~...


__ADS_2