AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 16 : Hutan Rawa


__ADS_3

Akhirnya pesawat mereka sudah tiba di daratan luas, dan mendarat dengan mulus di hamparan tanah kosong dengan rerumputan liar tumbuh tak beraturan. Di sekeliling mereka, nampak jejeran hutan tropis yang begitu lebat dan masih asri.


Soni mulai membukan pintu pesawat serta menurunkan tangga otomatis untuk turun dari sana.


“Selamat datang di daerah hutan tropis tanpa nama!” sambut Soni riang.


“Tanpa nama?” tanya Arni.


Ketiganya mulai menuruni tangga pesawat dengan Soni mendahului mereka di depan.


“Yep! Tanpa nama. Satelit ini masih jarang dijamah oleh makhluk lain, termasuk manusia. Jadi, masih belum dilakukan semacam penjelajahan khusus yang dilakukan oleh pemerintah Serikat Galaksi. Yang pasti, satelit alam ini masuk dalam wilayah kekuasaan Tata Surya Abramo.”


Tata surya yang mereka tempati ini dinamai sebagai Abramo, dan dikuasai oleh salah satu cabang pemerintahan dari satuan Serikat Galaksi.


Tata Surya Abramo sendiri memiliki dua planet layak huni, yaitu Ribelo dan Anthous. Sedangkan Planet GT624 sedang dalam tahap teraformasi, dan beberapa belas tahun lagi akan dianggap sebagai planet layak huni dengan nama yang baru.


Satelit alam yang dapat dihuni juga, jumlahnya sekitar kurang dari lima, salah satunya Darzia. Tapi, pemerintah saat ini kurang mengurus satelit-satelit seperti ini. Jadi, semua satelit alam yang layak huni terbengkalai dan lebih sering dijadikan sebagai arena liar untuk para pemburu dari berbagai Guild berburu.


“Ya sudah, kalau begitu. Bagaimana kalau kita mulai berburu sekarang? Kita cuma dikasih waktu satu hari untuk menyelesaikan misi. Kalau waktu udah lewat, misi belum selesai, kita enggak bakal dapat apa-apa,” ajak Astan.


Arni mengagguk setuju. “Ya-ya sudah kalau begitu.”


“Jadi, kalian mau berangkat sekarang?” tanya Soni saat ketiganya sudah turun dari pesawat.


“Terus apa? Mengurusimu?”


“Ya kagak, Bang….”


Soni sempat masuk ke dalam pesawat untuk mengambil sesuatu, lalu keluar lewat pintu di bagian atasnya.


“Kalau kalian pergi, aku cuma tinggal tunggu kalian selesai berburu di sini sambil makan mie goreng cup kesukaanku ini.”


Soni mulai duduk santai di atas badan pesawat sambil menyantap mie cup merek ‘INI Mie Goreng, bukan Mie Kirinmantan’.


“Ya sudah, kalau begitu. Kami berangkat dulu. Kau tunggu kami di sini sampai— Bentar, bentar.”


Tiba-tiba Astan teringat akan suatu ide briliant ketika matanya memandang badan atas pesawat milik Soni, lalu beralih ke cahaya bintang induk di langit siang, ke pesawat, ke langit, ke pesawat, ke langit.


Hmm…. Langit lumayan terik, ya.


Buru-buru Astan mengecek tempat penyimpanan pada Sistem AutoTerra-nya. Beruntung ia membawa semua itu ke sini.


“Hoho….”


Ini kesempatan yang bagus!


“Eee…. Bung Astan?”

__ADS_1


Soni yang masih menyantap mienya rada-rada bingung ketika Astan memunculkan tali-tali dari penyimpanan sistem. Perasaan Soni jadi tak enak.


“Kau mau apa?”


Perlahan senyum Astan melebar ala-ala tokoh kartun antagonis kesukaannya.


“Ini kesempatan yang bagus untuk berhemat.”


….


“Pesawat Supri-ku!!! Kau apakan pesawat Supri Z Goceng, Badjingan?!”


Pesawat hitam itu nampak dipenuhi oleh gantungan-gantungan cucian di sepanjang badan pesawat. Rupanya, Astan memanfaatkan badan pesawat Soni sebagai tempat menjemur cucian yang tadi belum sempat dijemur Astan karena tarif di tempat Laundry makin mahal.


“Ya, elah…. Cuma dipakai buat numpang jemur semua cucianku,” jawab Astan tanpa dosa. “Di tempat Laundry, mengeringkan baju juga dikenakan biaya, malah biayanya sekarang makin ngelunjak gara-gara Inti Kristal buat bahan bakar kapal hampir habis.”


“Kau ‘kan pemburu?! Kenapa enggak ikutan masuk Dungeon aja buat nyari Inti Kristal?! Biar enggak usah sok-sok hemat kayak begini!” omel Soni tak terima.


“Aku ini Pangkat Besi! Pangkat Besi enggak bisa masuk Dungeon!”


“Tapi kau ‘kan dikenal kuat melebihi pangkatmu sendiri! Semua pangkat sebenarnya bisa masuk Dungeon, asal bisa pula keluar hidup-hidup!”


“Males, ah.”


Astan pun berbalik, membawa Arni pergi bersamanya.


“Astaga, Supri! Supri, Supri! Gini-gini amat nasibmu jadi pesawat, Supri…!”


“Astan! Astan…! Astan setan!!!”


Astan pergi dengan santai bersama Arni memasuki hutan, tak menggubris segala macam teriakan sumpah-serapah dari pilot bersurai biru itu.


Sesaat Arni menoleh ke belakang, melihat Soni meratapi nasib pesawatnya yang dijadikan sebagai tempat jemur pakaian dadakan.


“Bang Astan, apa enggak apa-apa itu pesawat Mas Soni?”


Astan membuka bungkus permen karet. “Enggak apa-apa. Santai aja, kali.” Permen itu dilempar lalu ditangkap oleh mulutnya. “Itu pesawat enggak bakal hancur cuma gara-gara dipakai buat jemur pakaian.”


“Terus, kalau jemurannya beneran dibongkar Mas Soni, gimana? Entar cuciannya jadi kotor lagi.”


“Enggak bakal berani dia, mah….”


Arni berhenti melangkah, membiarkan Astan berjalan mendahuluinya. Gadis itu sempat menunduk sambil memijit batang hidungnya, merasa heran sendiri dengan interaksi kedua lelaki itu.


Apakah para pria selalu berdebat akan hal-hal konyol begini?


...~*~*~*~...

__ADS_1



Hutan tropis di Darzia begitu rindang. Bahkan saking rindangnya pohon-pohon di sini, cahaya bintang induk di siang ini hampir tak bisa menembus celah-celah dedaunannya. Udaranya pun jauh lebih sejuk dari udara di kapal antariksa.


Arni menghirup dalam-dalam udara segar hutan ini, dan menghembuskannya dengan lega. Ia belum pernah merasakan oksigen senikmat ini sebelumnya.


Begitu menikmati setiap oksigen yang dihasilkan secara alami oleh alam, sampai ia mendengar suara gemuruh aneh dari Astan.


Astan yang menyadarinya cuma menoleh ke Arni dengan gelembung permen karet di mulutnya. Gelembung permen karet itu pun dimasukkan kembali ke dalam mulut.


“Maaf, kentut.” Lalu Astan berjalan kembali seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


“Hueeek…!”


Sejenak Arni mual di tempat dengan polusi dadakan ini.


Keduanya kembali berjalan melewati hutan sampai mereka tiba di wilayah hutan rawa. Di sana nampak sekali aliran luas air tawar yang dihiasin oleh berbagai vegetasi tanaman-tanaman liar yang hampir menutupi tampilan dari air itu sendiri.


Di tengah-tengah air rawa juga terdapat banyak pohon dengan berbagai macam bentuk yang cukup aneh dan abstrak di mata Arni yang baru pertama kali kemari.


Walau nampak asing, Arni merasa kagum dengan keindahan rawa di sini. Biasanya ia hanya melihat penampakan hutan di televisi atau video-video di internet. Tempat tinggalnya dulu bersama Suda sebelum pindah ke kapal pun hanya berupa dataran gersang.


“Woah…! Jadi, begini hutan yang sebenarnya?” ucap Arni kagum sambil melihat ke atas-atas pohon.


“Kenapa sih dari kemarin kau itu cuma ‘Wah, weh, wah, weh,’? Kagak bisa apa itu mulut digembok aja?” ledek Astan masih berjalan di depan Arni.


Arni berceletuk di belakangnya, “Kan aku menganggumi setiap apa yang kulihat. Kalau mulutku digembok, nanti bakal sepi Squad kecil kita ini.”


“Hilih~ Dah biasa aku pergi berburu sendirian tanpa ada siapa-siapa yang ngajak ngobrol.” Astan mematahkan beberapa ranting pohon yang menghalangi.


“Ngenes amat hidupmu, Bang….”


“Biarin.”


Arni hanya tersenyum sekilas dengan tanggapan Astan. Gadis berjaket hijau itu hanya berusaha untuk menggodanya saja selama di perjalanan.


“Jadi, ini kapan kita berburunya?” tanya Arni. “Dari tadi kita cuma lewatin area berair ini mulu.”


“Ini namanya rawa, Sayang…,” ucap Astan sambil menyingkirkan beberapa ranting lagi. “Sebentar lagi juga kita bakal ketemu sama kodok-kodok budukan. Jadi, musti hati-hati dan mulai waspada. Kadang mereka bisa tiba-tiba nongol aja dari dalam air.”


“Begitukah…?”


Arni menatap ngeri pada hamparan air rawa di dekatnya. Seram juga bayangin dia sedang berdiri sedekat ini di air rawa, terus tiba-tiba ada monster Mutant Frog langsung ‘Ciluk Ba’ menelannya bulat-bulat.


“Hiiih….” Arni merinding jijik membayangkannya.


Mereka terus saja berjalan di pinggiran rawa, kadang-kadang Arni mengajak Astan mengobrol tuk menghilangkan rasa jenuh.

__ADS_1


“Terus, Bang. Itu kalau di rawa ini selain Mutant Frog ada apa la— Uwaaah!!!”


...~*~*~*~...


__ADS_2