
“Pengangguran bangun!”
“Pengangguran bangun!”
“Pengangguran bangun!”
“Pengangguran bangun!”
“Pengangguran ba—.”
Alarm jam digital langsung berhenti setelah dibogem hancur oleh kepalan tangan seorang pria yang baru saja bangun tidur.
Pagi di luar angkasa ini mukanya suntuk, kurang bersemangat untuk menjalani hari. Astan menguap selebar yang ia bisa, mengecap mulutnya beberapa kali lalu menyeka iler dengan mata sedikit sipit karena masih mengantuk.
Sesaat mata heterokrom kuning-peraknya memandang tanpa dosa potongan-potongan jam digital di nakas yang telah hancur oleh ulahnya sendiri.
“Alarmnya ganggu.”
….
Bangun tidur Astan mandi.
Tidak lupa menggosok gigi.
Habis mandi mau nolong siapa? Andai saja tetangga-tetangga kabinnya gadis-gadis cakep, sudah secepat cahaya dia nolongin. Di kabin ini, Astan hanya tinggal sendirian.
Rencananya hari ini Astan bakal ambil misi bersama Arni untuk membantu gadis itu naik level. Tapi, kegiatannya masih dua jam lagi. Jadi, masih ada waktu luang bagi Astan.
Kebetulan sekali, cucian sudah numpuk.
...~*~*~*~...
“Ini baju bekas bantu Suda memperbaiki mesin reaktor kemarin, kalau yang ini bekas kena darah tokek bantet, ini kagak sengaja nyebur ke selokan kapal. Bah…! Banyak bener baju yang musti dicuci.”
Sambil membawa sekeranjang cucian penuh, Astan berjalan melewati koridor kabin menuju tempat Laundry yang masih berada di Dek Hunian.
Sesampainya di sana, tempat khusus mencuci umum itu nampak tidak begitu ramai. Kebanyakan yang terlihat hanya ibu-ibu paruh baya yang sedang mencuci di masing-masing mesin cuci, di antaranya ada juga yang membawa anak-anak.
Astan berjalan menuju salah satu mesin cuci. Awalnya ia hendak memasukan pakaiannya ke dalam mesin cuci, tapi ia urungkan saat melihat daftar tarif mencucinya. Kedua matanya menyipit saat membaca daftar tarif-tarif tersebut.
“Cuci setrika 15 Dt, cuci kilat sehari 20 Dt, cuci kering tanpa setrika 13 Dt. Lah, kok mahal-mahal amat, yak?”
Karena bingung dengan tarif mencuci melonjak, Astan mulai bertanya pada salah satu robot yang kebetulan berjaga.
“Oi, Cuy!”
Sang robot menoleh.
“Ini harga mencuci di sini kok pada mahal, sih? Biasanya enggak sampai segini, deh,” tanya Astan heran.
__ADS_1
“Ooo…. Itu harga naik karena Inti Kristal di kapal ini mau habis. Sampai sekarang masih belum ada pemburu dari Pangkat Perunggu ke atas yang pergi menuju Dungeon untuk mengambil Inti Kristal. Katanya, Dungeon-Dungeon sekarang udah makin susah, sedangkan jumlah pemburu di Guild ini makin sedikit karena banyak yang mati saat ke Dungeon.”
Benar yang dikatakan robot itu. Dungeon merupakan tempat misterius dimana semua makhluk dari berbagai jenis yang berbahaya berada. Biasanya di dalam Dungeon bakal ditemukan banyak Inti Kristal yang hanya bisa di dapat di sana. Inti-inti kristal inilah yang biasa digunakan sebagai bahan bakar kapal antariksa selain panel surya dan reaktor nuklir.
Selain berisi banyak Inti Kristal, Dungeon juga memiliki banyak Item bagus. Selama ratusan tahun kemunculan Portal Dungeon di alam semesta, sampai sekarang masih belum ada yang tahu sebab kemunculannya. Para ilmuan dan yang ahli dalam hal ini masih perlu menyelidikinya lebih lanjut.
Walau Dungeon masih menyimpan banyak misteri, tetap saja banyak pemburu yang ke sana untuk berusaha menaklukannya. Hasil yang didapat setelah menyelesaikan Dungeon hanya dua, yaitu hidup dengan membawa banyak Inti Kristal dan Item berharga, atau mati sia-sia tinggal nama.
Kalau sampai Inti Kristal habis, maka berbagai energi yang berada di kapal antariksa ini, seperti listrik, air, hingga penghasil oksigen akan mati.
Memang masih ada panel surya sebagai sumber energi alternatif, tapi ada saat energi yang dihasilkan kurang maksimal. Kadang juga posisi orbit kalau sudah berada di belakang Satelit Alam Darzia, maka tidak akan bisa mendapatkan energi cahaya dari bintang induk. Reaktor nuklir pun tidak digunakan secara umum, karena terlalu berisiko tinggi terkena efek radiasi parah.
“Aduh… Bisa gawat ini…,” gumam Astan.
“Makanya, harus hemat-hemat dulu sampai Inti Kristal sudah dapat,” timpal sang robot, “Kalau belum ada pemburu yang berhasil mendapatkan Inti Kristal dari Dungeon, kemungkinan pihak Guild ini akan membeli Inti Kristal di Guild lain yang dekat-dekat sini juga.”
Kalau musti beli ke Guild lain, pasti akan dikenakan biaya yang jauh lebih mahal, sedangkan Guild ini sendiri kadang masih kesulitan dalam hal ekonomi.
Uang yang didapatkan dari Guild Thornic biasanya berasal dari penjualan daging dan sayur-buah, persenjataan sederhana, hingga mesin-mesin sederhana pula. Biasanya dijual ke Guild lain yang membutuhkan, atau ke beberapa planet di tata surya sini. Kadang juga mereka mengirimkan dagangan mereka pada orang-orang yang bekerja dalam proyek teraformasi Planet GT624 atau pada kapal-kapal koloni yang melintas.
“Waduh! Kalau mencuci di mesin cuci aja udah naik harganya, berarti listrik dan lainnya juga….”
Buru-buru Astan menghitung jumlah pengeluaran untuk biaya saat ini yang naik di ponselnya. Bukan main…. Astan harus berpikir ekstra untuk melakukan penghematan mulai sekarang.
“Pemburu kambing…! Kenapa pada kagak ada yang pergi ke Dungeon, sih. Energi kapal pada menipis, nih!”
Astan terus mengomel sendiri, panel wajah dari robot tadi nampak heran melihatnya.
Terus, dia bakal ngomel juga, ‘Kalau saja aku Pangkat Perunggu ke atas, aku pasti bakal ke Dungeon.’ Padahal nyatanya malas ke Dungeon sampai ke ubun-ubun.
“Haaah….”
Astan menghela nafas, menatap bingung pada nasib nelangsa sekeranjang cuciannya.
Kalau enggak dicuci sekarang, terus besok-besok mau pakai baju apa? Enggak mungkin ‘kan Astan jalan-jalan keliling kapal dengan belalai menjuntai indah. Bisa-bisa ia digebukin emak-emak pakai panci legendaris mereka.
Iyaaa…. Walau ukurannya lumayan, tetap saja Astan enggak mau pamer. Entar para pejantan lainnya pada minder.
Dalam kebingungan akan nasib cuciannya, Astan menemukan bilik yang biasanya digunakan untuk tempat mandi para kru kapal sebelum Guild di kapal ini terbentuk.
“Hei, Bot.”
“Saya robot, bukan botol, Pak.”
“I-iya, aku tahu!” Astan menunjuk bilik tersebut. “Itu tempat kalau enggak salah bekas tempat mandi kru kapal ini sebelum Guild terbentuk, kan?”
“Iya.”
“Boleh nyuci di sana, kagak?”
Sejenak sang robot berpikir dulu. “Boleh. Tapi enggak gratis, sih.”
“Lah, kok enggak gratis?” Astan tak terima. “Nyuci manual lho, Bot…. Pakai tangan. Emang bayar berapa, sih?”
__ADS_1
Sang robot menengadahkan satu tangan. “Cuma 1 Dt buat bayar air.”
Astan menatap datar sang robot.
….
Di bilik bekas kamar mandi itulah Astan mencuci sendirian. Bilik itu cukup luas, hanya dipisah oleh sekat-sekat putih.
Tangan besarnya dengan lihai mengucek, mencelup, membanting cuciannya sendiri, dan dikucek kembali dengan penuh semangat ala pria jantan.
“Masak pakai Elpiji…. Makannya lauk tempe…. Nyuci baju begini…. Tidur ama guling….” Nyanyi Astan sambil mencuci.
“Adoooh…! Gini-gini amat nasib bujang, eey!”omel Astan sambil membanting dan mengucek cucian. “Apa-apa dilakuin sendiri. Ekonomi juga kere, tampang pas-pasan dengan codet di muka sendiri. Gimana ada yang mau ama saya?!”
Setelah Astan membanting cucian, kemudian ia injak-injak pula tumpukan kain itu.
“Zaman sekarang, nyari cewek yang mau perhatian sama kita itu susah. Apa-apa yang dilihat itu duit dulu. Bodo amat muka jamet, perut selebar hangar. Kalau banyak duit, cewek secakep Neng Jubaedah dari SitKom Engkong Sutris juga bakal jadi budak dadakan. Ish! Ish! Ish…!!!”
Saat sedang mencuci penuh amarah begitu, dua pemuda remaja yang sempat lewat di balik bilik melihatnya. Mereka saling berbisik, meledek kelakuan aneh Astan sambil berlalu.
“Cowok itu kenapa, sih? Gila, ya?”
“Enggak kenal sama Astan? Dia itu pemburu Pangkat Besi yang dianggap aneh itu lho sama satu Guild.”
“Oooh…. Jadi, dia ya badut Guild Thornic.”
Pemuda remaja itu menyugar rambut hitamnya. “Bisa dibilang gitu. Hehe…. Lucu juga dengar dia protes soal nasib jomblonya. Salah sendiri pangkat masih mentok aja di besi selama enam bulan. Coba kalau dia rajin berburu, pasti bakal naik pangkat lebih tinggi, dan bakal dapetin banyak cewek.”
“Ooo…. Jadi, itu alasanmu gabung di Guild juga sebagai pemburu?”
Dengan pedenya pemuda itu menjawab, “Iya, dung. Aku udah menyelesaikan beberapa misi Tingkat D. Udah masuk Pangkat Besi Level 13 pula. Enggak kaya badut Guild itu, aku bakal lebih rajin naik level. Dan jika pangkat dan level-ku tinggi, aku bisa menjadi yang terkuat, bisa mengharumkan nama Guild kita, dan dapat membangun Harem sendiri.”
“Woaaah…! Ngoleksi cewek-cewek nih ceritanya.”
Pemuda itu berdehem, “Ehek! Jelas…! Kan cewek-cewek pemburu pada suka cowok yang kuat dengan pangkat dan level tinggi, enggak sekedar lihat harta doang. Aku akan mengoleksi banyak cewek-cewek pemburu di dalam Squad-ku, yang hebat dan cakep-cakep. Ada yang imut, ada yang bahenol berdada besar….”
Rekannya geleng-geleng kepala. “Aduh…. Bayanginnya aja udah bikin ngelir. Kalau tahu gitu, aku juga pengen gabung jadi pemburu, dah.”
“Gabung, lah! Kita akan membangun Harem kita sendiri, dipenuhi oleh cewek-cewek hebat dan—.”
“Wah…! Asik banget, nih. Lagi ngobrolin apa?”
Tiba-tiba kedua pemuda itu tak sengaja bertemu dengan Arni yang hendak masuk ke dalam tempat Laundry. Gadis itu nampak tersenyum ramah, tapi mereka membalas dengan muka datar.
“Memang kenapa nanya? Bukan urusanmu juga.”
“Bukan-urusanku, hmm…?”
Arni nampak memberi senyum yang lebih misterius lagi pada kedua pemuda itu.
Hmm…. Ada bau-bau ikan tercium di sini.
...~*~*~*~...
__ADS_1