
Dua Drone terbang di sekitar mesin raksasa Inti Kapal, di bagian kiri dan kanan. Kameranya dengan tuntas melihat-lihat setiap sudut dan bagian dari seluruh Area Pembangkit Energi, tanpa tertinggal.
Dua prajurit mengendalikan kedua Drone itu, sedang melihat tangkapan penglihatan dari sana lewat panel sistem, bersama dengan Wirma, Edrick, dan beberapa prajurit yang ikut melihat. Sedangkan sisanya lebih memilih mengawasi keadaan sekitar, termasuk Astan.
“Bagaimana, Lavisto, Zered?” tanya Edrick pada pengguna Drone tersebut.
Masih sambil mengawasi panel, Lavisto menjawab, “Di sebelah kiri, tepatnya di tembok jembatan menuju Bilik B, ada lubang misterius di sana.”
“Sedangkan di sebelah kanan, di antara jembatan Bilik D dan E, ada dua lubang yang sama. Lubang-lubang itu mirip dengan yang kita temukan di awal penelusuran dan saat diserang para Barkata,” lanjut Zered.
Astan yang tadi tengah mengawasi situasi di sekitar lewat kaca pengawas menoleh pada mereka. “Apa kira-kira di sekitar sini terdapat sarang Barkata?”
“Ada kemungkinan,” jawab Edrick, “Tapi, aku punya firasat kalau makhluk-makhluk yang bersembunyi di sekitar sini bukan hanya Barkata, mengingat kita sempat diserang Slime aneh tadi.”
“Berarti, kemungkinan ada jenis-jenis monster lain di sini?” tanya salah satu prajurit.
“Bisa jadi.” Edrick bertanya pada Wirma, “Radarmu dapat mendeteksi apa yang ada pada lubang-lubang di sana?”
Wirma kembali mencoba mengecek sesuatu di radar. “Tidak bisa. Area sini terlalu luas. Jarak jangkauannya jadi tidak sampai.”
“Drone kami bisa mengaktifkan radar pendeteksi,” saran Lavisto.
“Ya, sudah. Cobalah.”
Lavisto dan Zered segera memberi perintah pada sistem Drone.
“Aktifkan fitur radar pendeteksi.”
[Radar Pendeteksi : Aktif]
__ADS_1
[Melakukan Deteksi pada Area yang dapat Dijangkau]
Radar pada kedua Drone itu langsung diaktifkan. Masing-masing Drone diterbangkan lebih dekat ke arah lubang-lubang ditemukan. Mereka cukup kaget saat melihat hasil penangkapan radar menunjukan beberapa titik biru terdapat di balik setiap lubang.
“Beberapa objek biru ditemukan,” ucap Lavisto saat melihat hasil radar Drone.
“Aaah…. Aku agak kapok saat menemukan objek biru,” komentar Wirma tak nyaman, “Tadi juga, Barkata dan Slime awalnya terdeteksi sebagai objek biru.”
“Mungkin karena monster-monster itu dalam keadaan tenang, makanya radar kita mendeteksi mereka sebagai objek biru, objek yang tidak berbahaya,” tanggap Tenma pula, “Atau malah yang dianggap belum berbahaya sebelum akhirnya berubah menjadi merah saat mengetahui keberadaan kita.”
“Jumlahnya hanya segitu?”
Zered menjawab, “Kami hanya menemukan beberapa titik biru saja. Jumlah segini masih bisa kita atasi.”
Edrick menegakan posisi berdirinya. Dia agak ragu untuk percaya dengan jumlah objek biru yang dimaksud tidak begitu banyak. Otaknya pun mulai berpikir, berusaha menyusun rencana yang tepat agar bisa mengaktifkan keempat Generator Inti Kristal di dalam masing-masing bilik.
Setelah berpikir, Edrick menjawab setenang mungkin, “Masih dengan rencana awal. Kita hanya perlu mengirimkan empat prajurit dari sebelas yang tersisa. Sisanya akan fokus melindungi ruang kontrol. Karena ruang kontrol inilah pusat paling penting untuk bisa mengendalikan sepenuhnya mesin Inti Kapal. Selain itu, ruang kontrol juga sangat diperlukan untuk membuka akses setiap bilik generator agar bisa menyalurkan energi Inti Kristal ke mesin Inti Kapal.”
“Jadi, tempat ini jangan sampai kena serang monster apapun. Kerusakan pada ruang kontrol akan berakibat fatal pada pengaktifan generator dan Inti Kapal. Ruang kontrol rusak, tidak ada akses ke Inti Kapal, energi tak tersalurkan, akses ke seluruh kapal mati total secara permanen. Hasil akhir, misi gagal.”
Beberapa prajurit saling berbisik, tak menyangka jika ruang kontrol di dalam kapal ini sangat penting bagi mereka saat ini. Memang perlu lebih banyak prajurit untuk bisa melindungi ruang kontrol agar dipastikan masih tetap berfungsi.
“Lalu, bagaimana dengan empat prajurit yang dikirimkan untuk menyalakan generator di setiap bilik?” tanya prajurit lainnya. “Pemasangan Inti Kristal juga terlalu berisiko, apalagi ketika kita menemukan beberapa lubang yang kemungkinan besar berisi monster-monster berbahaya. Perlu dukungan dari beberapa prajurit lain selain mereka berempat.”
Wirma pun berpendapat, “Jumlah anggota kita sekarang tinggal sebelas. Kalau misalnya mengirim empat prajurit lagi untuk menemani, setidaknya dua prajurit melakukan pemasangan Inti Kristal di satu bilik, hanya tinggal tersisa tiga prajurit yang menjaga ruang kontrol. Sedangkan ruang kontrol sendiri perlu lebih banyak prajurit untuk melindunginya.”
“Menurutku, lebih mending jika kita hanya perlu mengirimkan empat prajurit untuk pergi ke empat bilik, masing-masing pergi ke satu bilik. Jika dilihat ada yang berada dalam kendala, kita bisa mengirimkan setidaknya satu atau dua prajurit lagi yang berjaga di sekitar ruang kontrol untuk membantu. Atau prajurit yang sudah selesai mengaktifkan generator bisa membantu prajurit lainnya ke bilik lain,” lanjut Wirma pula.
Edrick berpikir kalau yang disarankan Wirma mungkin ada benarnya. Memang agak berisiko jika hanya mengirimkan empat prajurit ke masing-masing bilik, sedangkan mereka sendiri tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam di balik lubang-lubang yang mereka temukan di setiap tembok area.
__ADS_1
Sang ketua mulai menyusun rencana berdasarkan hasil pengamatan Drone, situasi area, dan saran dari Wirma sendiri.
“Aku punya rencana begini. Aku masih akan berada di ruang kontrol. Di sini tugasku untuk mengubah akses seluruh mesin Inti Kapal menggunakan Kemampuan Hack, karena pastinya akses energi membutuhkan akses resmi dari data Perusahaan Feron. Jadi, wajib diretas.”
“Dari ruang kontrol ini, ada dua jalur jembatan menuju Bilik B dan Bilik E. Di kanan dan kiri jalur menuju jembatan ke kedua bilik itu, aku akan membuat tembok besi setinggi bawah dada untuk berjaga-jaga, lalu di depannya dipasangi Shield. Rencananya, dua prajurit bertugas menjaga di kiri-kanan, dan di atas masing-masing tembok besi akan dipasangi Sentry sebagai senjata pendukung untuk melindungi ruang kontrol.”
“Dua Drone sendiri digunakan untuk mengawasi pergerakan keempat prajurit, sekaligus membantu menjaga mereka dari kemungkinan serangan berbahaya. Dua prajurit yang memiliki senjata Sniper Rifle akan mengambil posisi di atas ruang kontrol, ikut melindungi para prajurit dari kejauhan.”
Wirma pun mencoba mencerna setiap rencana yang dijelaskan Edrick sambil melihat-lihat data para anggota tim di panel sistem.
“Kalau dilihat dari data Kemampuan Umum yang dimiliki setiap anggota, rencana ini bisa terlaksana.” Wirma mulai menunjuk beberapa prajurit. “Bery, Farhan sebagai pengguna Shield Tipe-3 bakal berjaga di kanan-kiri jalur sekitar ruang kontrol. Irawan yang punya Kemampuan Summon Tipe-2 nanti tolong pasang kedua Sentry di tembok besi milik Ketua Edrick.”
“Aku dan Zered yang punya senjata Sniper Rifle akan berjaga di posisi atas, sambil Zered tetap berusaha mengendalikan Drone. Lavisto juga tetap kendalikan Drone, tapi bantu juga dua prajurit yang berjaga di sekitar ruang kontrol. Ketua Edrick juga bakal bantu sambil menunggu konfirmasi dari keempat prajurit untuk membuka jalur akses ke Inti Kapal. Jika keempat prajurit butuh bantuan, salah satu prajurit yang berjaga di ruang kontrol akan datang membantu.”
“Sayang sekali, dua prajurit pengguna Martial sudah tewas di koridor tadi. Jadi, kita tidak bisa meningkatkan kemampuan serang anggota lain.” Wirma menoleh ke Edrick. “Bagaimana menurutmu, Ketua?”
Setelah dipikir-pikir lagi, Edrick mengangguk setuju. “Sangat sesuai rencana. Itu berarti, sisanya yang akan dikirimkan ke empat bilik untuk mengaktifkan Generator Inti Kristal, yaitu Daren, Tenma, Sadin, dan Astan.”
Edrick sedikit tersentak menyadari Astan merupakan salah satu prajurit yang akan ditugaskan untuk pergi ke salah satu bilik generator.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, agak berisiko mengirimkan prajurit untuk pergi ke masing-masing bilik ketika ada kemungkinan besar para monster kembali menyerang. Sedangkan Edrick sendiri dipercaya Mavin dan Harnan untuk mengawasi Astan dengan baik.
“Jadi, selama dalam misi, kami mempercayakan Astan padamu, Ketua Edrick.”
Di balik helmnya, Edrick menghela nafas berat.
Kalau sudah begini, apa boleh buat?
...~*~*~*~...
__ADS_1