
Pesawat perlahan diterbangkan semakin mendekati bangkai Kapal Feron 072. Mereka mengawasi setiap sudut kapal yang bisa dilihat. Keadaannya memang cukup parah, terdapat beberapa kerusakan di setiap badan kapal, tapi masih tetap nampak kokoh.
Selain itu, mereka juga melihat ada satu pesawat seukuran pesawat mereka melayang agak jauh dari kapal. Dari lambang yang ditemukan di badan pesawat, mereka yakin jika pesawat itu merupakan kiriman dari batalion yang sama.
“Mereka benar-benar bernasib nahas,” gumam Edrick saat melihat bangkai pesawat tersebut. Lalu ia bertanya pada sang pilot, “Kira-kira bagian mana pesawat ini bisa mendarat?”
“Di atas anjungan. Biasanya terdapat jalur Airlock darurat untuk keluar-masuk kapal,” jawab sang pilot masih fokus pada kendalinya.
“Oke. Arahkan saja ke sana.”
“Siap, Ketua.”
Pesawat pun diterbangkan menuju bagian atas anjungan, salah satu area depan yang digunakan untuk kendali penuh terhadap kapal.
“Baiklah, semuanya. Sebentar lagi, kita akan mendarat di Kapal Feron 072. Siapkan diri kalian, pasang zirah kalian, pastikan pasokan oksigen pada zirah terpenuhi, dan bersiap dengan senjata masing-masing. Kita akan mulai melakukan penelusuran!”
“Siap, Ketua!”
Semua anggota melepas sabuk pengaman di kursi mereka, mengeluarkan semacam ransel metal pada masing-masing penyimpanan sistem. Astan juga mengeluarkan ransel itu.
Ransel metal tersebut merupakan bentuk portabel dari zirah yang akan mereka kenakan. Di balik ransel terdapat fitur pemindai saraf. Dari fitur itu pula, zirah akan otomatis terpasang sesuai perintah pada saraf tubuh pengguna.
Zirah canggih ini selain berfungsi sebagai pelindung, juga berfungsi sebagai baju astronot tak bercelah yang memiliki penampung oksigen serta alat bantu nafas agar bisa dipakai di tempat hampa udara dan kaya akan radiasi. Dilengkapi dengan penglihatan gelap, dan fitur pendengaran khusus agar bisa mendengar suara-suara yang biasanya tidak bisa di dengar di tempat hampa seperti luar angkasa.
Astan baru saja memasang ransel itu. Dia sempat melihat para anggota lainnya sudah siap dengan zirah lengkap terpasang otomatis di tubuh masing-masing. Mata heterokromnya juga melihat sosok Edrick hendak memasang zirah tersebut di pojokan pesawat, nampak membelakangi mereka sambil berusaha melepas topi dan masker yang selalu menutupi wajahnya.
Entah apa alasan Edrick menyembunyikan wajahnya seketat itu. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada wajah sang ketua.
Astan menggelengkan kepala, menyingkirkan rasa penasarannya soal wajah Edrick. Lewat perintah pada pikirannya, otomatis ransel tersebut bertransformasi menjadi zirah militer canggih. Zirah yang tebal, keras, dan tak bercelah.
Pesawat mulai mendarat di atas anjungan. Pintu di bagian bawah badan pesawat tercipta, terhubung dengan jalur Airlock yang ada pada bagian atas anjungan. Sayangnya, Airlock di sini tidak berfungsi. Udara yang masih tersisa di kapal juga dipastikan tidak aman, jadi mereka tetap harus memakai zirah selama penulusuran untuk membantu pernafasan juga.
“Oke, semuanya sudah dipastikan siap?” tanya Edrick memastikan.
“Siap, Ketua!”
“Bagus. Sekarang, kita mulai bergerak!”
__ADS_1
Para anggota Tim Aravan071 turun dari pesawat menuju anjungan kapal secara bergantian, dimulai dari Edrick, Wirma, dan anggota lainnya. Astan sendiri baru turun di giliran urutan agak tengah. Dia dan anggota tim lainnya langsung mengambil posisi waspada, siap dengan senjata masing-masing, memperhatikan keadaan seluruh anjungan lewat penglihatan gelap dan senter yang tersedia pada zirah.
Saat mendarat di lantai, Astan agak bingung menyadari dirinya masih bisa berdiri tegap. Seharusnya, jika memang semua mesin yang ada di kapal ini mati, maka mesin penyimbang gravitasi atau yang sejenisnya tidak akan berfungsi. Tentunya akan membuat mereka semua melayang-layang di dalam kapal.
“Kok masih bisa berdiri tegap, ya?” tanya pelan Astan.
Wirma yang sempat mendengarnya menjawab, “Kapal antariksa sejenis ini setiap lantainya terbuat dari meterial berbahan khusus yang diciptakan memiliki gravitasi sendiri. Jadi, biarpun tanpa semacam mesin penyeimbang gravitasi, kita masih bisa berdiri, berjalan, hingga berlari dengan baik seperti saat berada di dalam planet.”
“Ooo….” Astan mengangguk paham.
Dia baru dengar kalau ada bahan pembentuk gravitasi semacam itu. Seingatnya, kapal Guild mereka masih menggunakan mesin penyeimbang gravitasi. Jadi, jika generator Inti Kristal habis, ya semua fungsi kapal mati, termasuk penyeimbang gravitasi.
Pasti material berbahan khusus itu terbilang mahal untuk dibeli.
Ketika melihat keadaan anjungan, semuanya terlihat kacau. Peralatan kontrol, navigasi dan kemudi kapal sudah rusak parah, kaca-kaca jendela hampir retak, perkakas juga berserakan, dan lantai anjungan juga ada yang hancur. Selain itu, terdapat bercak-bercak darah di setiap tembok dan lantai. Ruang anjungan ini terlihat begitu mengenaskan.
“Laporan, Wakil Ketua,” pinta Edrick sambil memperhatikan keadaan sekitar dengan posisi senapan serbu siap membidik.
Wirma menurunkan senapan, memperhatikan radar yang ia bawa. “Tidak terdeteksi objek mencurigakan di sekitar sini. Semuanya aman.”
Sang wakil ketua juga mengecek suhu, kelembapan, dan udara yang masih ada di kapal menggunakan alat pendeteksi khusus. “Suhu di sini masih stabil. Udara juga masih ada. Namun, alat ini tidak dapat membaca komposisi dan kestabilan udara. Kemungkinan, udara di sini terkontaminasi oleh unsur misterius. Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita tetap memakai zirah sampai misi selesai.”
Semua anggota mulai menurunkan sikap kewaspadaan, kembali memperhatikan keadaan seluruh anjungan.
“Di sini masih ada udara?” tanya Astan lagi pada Wirma. “Padahal pas lagi melihat di luar tadi, keadaan kapal ini kayak mengalami kerusakan parah. Kukira bakal terjadi kebocoran udara.”
Wirma melenyapkan alat pendeteksinya ke dalam penyimpanan sistem. “Struktur kapal ini sangat kuat untuk bisa bertahan di luar angkasa selama bertahun-tahun, jadi udara masih bisa terperangkap rapat selagi tidak ada kerusakan yang sangat fatal dari titik-titik terpenting kapal.”
“Mungkin beberapa bagian kapal sudah ada yang rusak dan mengalami kebocoran udara.” Wirma menggeleng sendiri. “Kita pun tak tahu. Yang pasti, kita tetap perlu menggunakan zirah selama berada di kapal ini untuk berjaga-jaga. Soalnya, komposisi udara di sini tidak jelas. Kemungkinan besar, komposisinya bercampur dengan unsur misterius yang tak dapat dideteksi oleh alat pendeteksiku. ”
Astan hanya mengangguk paham sebagai balasan. Hal-hal seperti ini sama sekali tidak dimengerti olehnya. Yang jelas, dia hanya perlu mengikuti perintah untuk tetap memakai zirah selama menjalankan misi di kapal antariksa ini.
“Tempat ini benar-benar kacau, seperti habis terkena tabrakan,” gumam Astan saat melihat sekitar plafon anjungan.
“Mesin-mesin kontrolnya juga sudah rusak total,” komentar Sadin ketika menyentuh salah satu mesin rusak. “Tidak akan berfungsi lagi walau kita mampu menghidupkan Inti Kapal kembali.”
Beberapa anggota sibuk dengan pendapat dan komentar mereka masing-masing ketika baru menelusuri anjungan, sampai Edrick kembali bersuara.
__ADS_1
“Oke. Jadi, seperti rencana awal, kita akan pergi ke Area Pembangkit Energi lebih dulu agar bisa membuka akses ke beberapa tempat yang kita targetkan. Fokus ke rencana ini dulu. Setelah itu, tunggu perintah selanjutnya.”
Beberapa di antara mereka hanya mengangguk paham.
Ketika menelusuri seluruh anjungan, Wirma menemukan gerbang keluar anjungan sudah terbuka sepenuhnya.
“Ketua, gerbangnya sudah terbuka.” Wirma menyentuh pinggiran gerbang itu. “Kalau dilihat-lihat, sepertinya gerbang ini sudah terbuka cukup lama.”
“Mungkin gerbangnya sudah dibuka oleh tim sebelum— Eh, ayam, ayam bunting.”
Edrick tak sengaja latah gara-gara kakinya menginjak potongan mesin rusak. Beberapa anggota hampir saja menertawakannya, tapi berusaha mereka tahan.
Situasi seperti ini tidak cocok untuk melucu.
Wirma menepuk bahu Edrick. “Kau ini…. Enggak bisa ngilangin kebiasaan ngelatah. Malu dilihat anggota lain.”
“Ya, maaf. Aku bakal berusaha fokus.”
Memang benar, Edrick dikenal sebagai orang yang suka latah di situasi tertentu. Tapi kalau sudah dalam situasi serius begini, dia akan berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruknya walau agak susah.
Edrick mulai memberi perintah, “Baiklah, kita mulai jalan. Untuk pilot dan kopilot, tetap berjaga-jaga di dalam pesawat sampai ada perintah selanjutnya. Yang lain, tetap waspada, jangan sampai lengah.”
13 personel Tim Aravan071 segera bergerak keluar dari anjungan menuju koridor yang terhubung dengan area lain, sedangkan sang pilot dan kopilot tetap berjaga di dalam pesawat.
….
Sepanjang koridor yang gelap, mencekam, dan terdapat beberapa percikan listrik dari kabel-kabel yang terkena bercak darah kering. Di sepanjang jalan, tak pernah luput pandangan mereka dari bekas genangan darah yang sudah sepenuhnya mengering, daging-daging kering juga tergeletak sembarang di setiap sudut, keadaannya sudah sangat lama dan tak terhitung jumlahnya.
Astan masih diam, enggan berisik. Situasi setegang ini membuatnya merasa tak nyaman untuk bicara sedikit. Saat ini, mereka berada dalam misi yang sangat serius. Astan tidak berani berbasa-basi seperti saat dirinya berada di Guild.
Selama melewati beberapa koridor dan area, mereka beruntung menemukan gerbang-gerbang menuju Area Pembangkit Energi sudah terbuka sejak lama. Kemungkinan gerbang-gerbang itu sudah dibuka secara manual oleh tim-tim yang dulu pernah dikirimkan ke kapal antariksa ini.
Pada akhirnya, mereka tiba di ujung koridor dimana terdapat satu gerbang yang masih tertutup rapat. Hanya saja, tuas pembuka yang biasanya digunakan untuk membuka manual gerbang terlihat sudah diputar sepertiganya.
“Kita sudah sampai di penghujung koridor area sini,” ucap Wirma.
“Kurasa perjalanan tim militer terdahulu cuma sampai di sin— Astaga!”
__ADS_1
...~*~*~*~...