
Masih di Laboratorium Biologi bagian Genetika, Astan berjalan menelusuri lorong gelap. Seperti sebelumnya, terdapat banyak bercak di sepanjang lorong dan tulang-belulang bekas mayat-mayat, entah itu mayat manusia atau monster.
“Tempat ini pernah mengalami kekacauan.”
Astan terus berjalan tanpa ia sadari sesuatu mengikutinya. Sebuah bayangan merayap pelan di tembok, mengikutinya dalam senyap tanpa ketahuan. Sesekali sepasang mata kuningnya muncul, mengawasi pergerakan Astan dengan seksama.
“Walaupun dia menemukan apa yang kau harapkan, dia belum tentu mengerti situasinya.”
Lagi-lagi pergolakan batin terjadi pada bayangan tersebut, antara si suara halus dengan suara berat.
“Ingatannya tidak stabil. Tapi aku yakin, tanpa bantuanku pun dia bisa mengingat sesuatu.”
“Sesuatu…?”
“Iya…. Sesuatu yang ini bukanlah hal yang sulit untuk dilupakan.”
Kedua mata bayangan menyipit, menenggelamkan dirinya dalam tembok, tapi masih mengikuti di balik kegelapan lorong.
Astan terus berjalan sambil membawa senapannya hingga ia menemukan sebuah ruangan yang menurutnya cukup mencurigakan. Syukurlah pintu tersebut tidak terkunci oleh sistem keamanan, jadi Astan bisa dengan mudah masuk.
“Kelihatannya ruangan ini penting. Mungkin sebelumnya tidak sempat mereka kunci karena situasi genting atau semacamnya,” komentar Astan saat matanya menelusuri setiap sudut ruangan.
Ketika semakin masuk, Astan melihat ruangan ini juga minim pencahayaan walau energi Inti Kapal sudah dinyalakan. Ruangan ini cukup luas, ada beberapa ranjang berjejer, di pisah oleh sekat kaca. Setiap ranjang memiliki perangkat mesin di sampingnya, dan di belakangnya terdapat tembok kaca berisi cairan hijau menyala.
Selain itu, saat Astan semakin dalam masuk, ia menemukan satu tabung kaca kecil di tengah-tengah ruangan, terpasang di atas seperangkat mesin rumit. Karena penasaran, ia pun mendekati tabung itu.
Di dalam tabung tersebut terlihat jelas sebuah benda kecil mirip seperti lempengan chip memori. Namun anehnya, sebagian dari chip itu diselimuti oleh daging dan urat yang berdetak pelan seperti jantung.
Karena hal yang didapat Astan sangat aneh, ia pun menghubungi Edrick lewat komunikasi helm zirah.
“Ketua, bisa kau kemari? Aku berada di posisi berlawanan dengan arah kau pergi tadi. Lokasinya masih di sekitar area Lab Genetika. Oke.”
Setelah panggilan terputus, Astan kembali memperhatikan chip tersebut. Tangannya mencoba menyentuh permukaan kaca, membuat gerakan seakan-akan hendak menyentuh benda itu. Namun, tiba-tiba otaknya merasakan sengatan aneh yang membuat Astan meringis kesakitan.
“Argh…!”
Sesuatu kembali terlintas dalam pikirannya. Sebuah kejadian dimana seseorang dengan wajah tak begitu jelas akibat tertutup bayangan mendorongnya keras ke sebuah ranjang. Dia berusaha meronta, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya diikat oleh besi-besi ranjang.
“Kau adalah bagian yang sangat cocok….” Suara itu tak begitu terdengar jelas.
Sosok misterius itu mengambil sesuatu menggunakan capit kecil. Tak nampak jelas benda apa yang diperlihatkan padanya, pastinya benda itu merupakan benda yang sangat buruk.
“Jiwamu akan cocok menggunakan ini. Pikirkan, seberapa hebatnya kau jika benda ini berhasil menyatu denganmu. Kau bahkan bisa menjadi dewa sesungguhnya!”
__ADS_1
Sosok itu semakin mendekatkan benda tersebut ke hadapannya. Perlahan mendekat, semakin dekat, dan lebih dekat lagi.
“Tidak! Hentikan!”
“Aku tidak butuh benda itu!”
“Aku tidak mau menjadi kuat atau apapun yang berhubungan dengan dewa dan kekuasaan!”
“Jika itu harus mengorbankan banyak nyawa dan jiwaku sendiri, aku lebih baik lemah seumur hidup!”
“Aku tidak butuh kekuatan yang hanya akan membuat manusia serakah!”
Kedua tangan Astan memegangi kepalanya yang masih tertutup helm. Rasa pusing ini jadi semakin gila. Bukan hanya sebuah kejadian, panel glitch dan suara-suara aneh muncul kembali.
[Memulai proses sinkronisasi jiwa dan tubuh pengguna]
[Proses Sinkronisasi : 1%]
[5%]
[20%]
[34%]
[….]
“Argh!!!”
Panel misterius dan suara tadi lenyap, bayangan akan suatu kejadian juga sudah hilang total dari pikirannya. Astan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha membuyarkan pikiran macam-macam dan menjaga keseimbangannya kembali. Setelah dirasa tenang, Astan kembali memperhatikan chip di dalam tabung kaca itu.
Ini aneh. Ketika Astan menyentuh tabung dan semakin memperhatikan chip itu, pikirannya mendadak mendapatkan informasi misterius. Seperti sebuah ingatan, tapi Astan tidak tahu kalau itu ingatannya atau ingatan orang lain.
“Sialan….” Astan mendesis kesal. “Siapa di dalam pikiranku tadi?”
“Astan?”
Astan menoleh, melihat sosok Edrick sudah tiba. Sang ketua segera menghampiri, merasa khawatir dengan keadaan Astan yang nampak kelihatan lemas.
“Apa yang terjadi padamu?” Edrick memegang kedua bahu Astan. “Apa ada monster yang menyerang?”
Astan menggeleng lemas. “Ti-tidak. Hanya saja, aku menemukan sesuatu.”
Edrick mengikuti arah pandang Astan ke tabung kaca di atas mesin tadi. Butuh beberapa saat Edrick memperhatikan tabung itu hingga ia menyadari sesuatu yang baru ia ingat.
__ADS_1
“Ah, apa jangan-jangan ini….” Edrick menyentuh permukaan tabung itu.
“Kau tahu sesuatu?” tanya Astan penasaran.
Edrick pun menjawab serius, “Sebelum menjalankan misi, aku dan Wirma sempat diberikan sampel informasi tentang barang bukti yang ditemukan dan digunakan dalam persidangan Perusahaan Feron terdahulu. Informasi itu hanya berupa data, tapi tak kusangka kita bisa menemukan informasi tersebut dalam bentuk nyata seperti yang diharapkan Komandan.”
“Apa maksudmu, Edrick?” Astan semakin tak mengerti. “Informasi apa yang kau maksud?”
“Ini….” Edrick menunjuk chip mengerikan itu. “Adalah Sistem Re:Set.”
...~*~*~*~...
“Astan…?”
Wirma menyipitkan kedua matanya tak percaya. Sosok yang dia lihat di rekaman kamera pengintai itu sangat mirip dengan Astan. Yang membedakan hanya warna mata luka pada wajah. Dalam rekaman, pria itu memiliki dua mata kuning sempurna tanpa luka wajah, sedangkan Astan yang mereka kenal memiliki mata heterokrom berwarna kuning di kanan dan perak di kiri dengan luka di bagian mata kiri.
“Astan? Maksudmu, pria itu mirip Astan rekan kita?” tanya Zered tak percaya. “Mana mungkin ada sosok Astan saat kejadian di kapal ini tiga tahun yang lalu? Mungkin saja orang itu kebetulan mirip Astan.”
Wirma percaya akan ucapan Zered. Tidak mustahil jika ada manusia yang mirip dengan manusia lain. Toh keduanya masih punya perbedaan walau sangat tipis.
“Unduh saja rekaman itu. Siapa tahu berguna sebagai barang bukti tambahan.”
“Baik, Wakil.”
Zered segera mengunduh data rekaman tersebut menggunakan flashdisk yang ia keluarkan dari sistem.
Selama mereka mencari rekaman-rekaman lama sambil mengawasi keadaan sekitar lewat kamera-kamera pengintai yang masih berfungsi, Wirma merasa ada yang aneh. Mereka sempat berkomunikasi dengan Kelompok Ketua Edrick dan sudah tahu keadaan terkini mereka, sedangkan Kelompok Tenma sama sekali belum ada kabar.
“Aneh. Kelompok Tenma sama sekali tidak menghubungi kita,” ucap Wirma curiga.
“Apa tadi mereka tidak terlihat di kamera pengintai?” tanya Farhan masih bersender di dekat pintu.
Zered yang kembali mengawasi monitor menjawab, “Terakhir pergerakan mereka terlihat di Dek Publik, sekitar Area Kantor Administrasi. Ketika mereka jalan terus, kamera-kamera di area selanjutnya sama sekali tidak berfungsi. Jadi, kita sama sekali tidak tahu keadaan mereka. Drone-ku sempat kuterbangkan ke arah sana untuk berjaga-jaga. Tapi sampai saat ini masih tidak menemukan apa-apa.”
“Coba aku hubungi mereka.”
Wirma berusaha menghubungi lewat panggilan helm. Panggilan berhasil masuk, tapi tidak ada jawaban.
“Di sini Wakil Ketua Wirma! Siapa saja, tolong jawab! Prajurit Tenma?! Prajurit Lavisto?! Prajurit Irawan?!” panggil Wirma panik karena tidak ada siapapun yang menjawab.
...~*~*~*~...
“Lavisto? Tenma? Irawan? Siapapun, tolong jawab! Bagaimana keadaan kalian di sana?”
__ADS_1
Panggilan Wirma di seberang sana terdengar jelas lewat audio helm yang bocor. Tidak ada jawaban dari siapapun. Yang ada hanya tangan bersimbah darah tergeletak dengan beberapa bagian badan tertutup oleh gelapnya bayangan ruangan.
...~*~*~*~...