
Harnan sudah kembali duduk di kursi kerja, memperhatikan percakapan mereka bertiga dengan tangan menopang kepala dan satunya lagi mengetuk-ngetuk meja. Muka dan lehernya agak bonyok gara-gara dihajar Mavin, berekspresi masam, jengkel diperlakukan seperti tadi.
Ya, walau terkesan bercandaan ala sesama pria, tapi malu juga dilihat Edrick dan Astan yang memiliki posisi di bawah mereka. Jadi hilang wibawa pria berambut hitam ini.
“Jadi….”
Mavin nampak serius untuk membahas topik kali ini. Kedua mata hijaunya mulai menajam, memperhatikan Edrick dan Astan yang berada di hadapannya.
“Seperti rencana awal. Tim Aravan071 akan pergi ke bangkai Kapal Feron 072 untuk mencari sisa-sisa bukti keterlibatan BioEmerald dalam eksperimen ilegal, menduplikasi Sistem AutoTerra. Kalau menemukan informasi tambahan tentang Perusahaan Feron yang tak sempat ditemukan, itu merupakan suatu nilai tambahan.”
“Hanya saja, keterlibatan Astan dalam misi ini punya alasan tersendiri.” Mavin menghela nafas sesaat. “Astan diduga merupakan Wakil Ketua Ash dari Unit Leston09 yang dinyatakan gugur dalam insiden di kapal antariksa tersebut. Memang masih belum pasti 100%, tapi yang membuat kami yakin Astan ini adalah Ash karena Astan seringkali mengeluh mendapatkan mimpi atau halusinasi berupa kapal antariksa, pembantaian, dan bayangan disertai rintihan serta suara elektrik.”
“Semua mimpi dan halusinasi yang Astan dapatkan kemungkinan besar merupakan bagian dari ingatan masa lalunya, tapi tak begitu jelas karena Astan mengidap amnesia.”
“Amnesia?” ucap Edrick agak terkejut.
“Astaga….” Astan menyenderkan tubuhnya dengan kedua tangan menopang belakang kepala. “Aku masih belum yakin tentang semua itu, apalagi tentang keadaanku yang lupa ingatan.”
Mavin tersenyum simpul. “Nah, ini juga alasan mengapa aku ingin Astan ikut dalam misi ini. Yaitu, untuk mencari tahu kejelasan ilusi yang selama ini menggetayangi Astan.”
“Kau masih seyakin ini kalau mengikutsertakan Astan dalam misi ke Kapal Feron 072 merupakan pilihan yang tepat?” tanya Harnan, duduk santai dengan kedua kaki kembali dinaikan ke atas meja.
“Yep.” Mavin menjawab yakin, “Alasan kuatnya karena suara-suara rintihan yang lewat di kepala Astan selalu meminta Astan untuk kembali. Gambaran dari mimpi dan halusinasinya juga selalu menunjukan tentang sebuah tempat di kapal antariksa, serta banyaknya mayat-mayat berseragam.”
“Itu berarti, rintihan itu meminta Astan untuk kembali ke sebuah kapal antariksa yang ditunjukan mimpi tersebut. Dan tentu saja, kapal antariksa yang dimaksud adalah Kapal Feron 072 jika disangkutpautkan dengan identitas Astan sebenarnya, yaitu Wakil Ketua Ash dari Unit Leston09.”
“Aduh…. Penjelasanmu agak muter-muter, ya.” Harnan menggaruk-garuk kepalanya. “Intinya, keterlibatan Astan dalam misi ini sekalian untuk membantu Astan mencari tahu tentang fakta mimpi dan halusinasinya di Kapal Feron 072. Mungkin saja semua halusinasi itu berkaitan erat dengan ingatan Astan yang hilang. Jika benar Astan adalah Wakil Ketua Ash, maka dengan kembalinya ingatan Astan lewat misi ini akan makin memudahkan kita mengumpulkan lebih banyak data serta bukti kejahatan Perusahaan Feron dan Organisasi BioEmerald.”
“Ooo….” Edrick mengangguk. “Saya paham, walau saya akui penjelasan Komandan Mavin terlalu muter-muter.”
Mavin menunduk lesu karena penjelasan panjang lebarnya dianggap bertele-tele. Aura-aura suram imajiner muncul di kepalanya.
“Jadi, selama dalam misi, kami mempercayakan Astan padamu, Ketua Edrick,” kata Harnan lagi, “Jangan sampai personel lainnya tahu segala hal tentang Astan, mulai dari profesi asli Astan sebagai pemburu, sampai keterlibatannya karena masih diduga sebagai Wakil Ketua Ash yang kena amnesia. Bahkan wakilmu pun jangan sampai tahu.”
“Siap, Wakil Komandan!” Edrick memberi hormat dengan mantap.
__ADS_1
“Haaah….” Astan menghela nafas, memalingkan wajah sesaat. “Kalian sampai sebegininya ingin melibatkanku dalam misi militer.”
“Ini juga demi kebaikanmu dan pemerintah.” Mavin tersenyum simpul pada Astan. “Lagipula, kau juga penasaran dengan masa lalumu yang sebenarnya, bukan?”
Astan memikirkan apa yang dikatakan Mavin. Memang benar, Astan penasaran tentang masa lalunya sebelum berada di Kapal Thornic 035. Yang Astan ingat hanya tentang ingatan saat dia baru selesai mengumpulkan banyak uang bersama Suda, hasil kerja serabutan dengan alasan untuk memperbaiki hidup mereka di masa depan. Dan kejadian itu terjadi saat Astan baru menginjak usia awal remaja.
Dari ingatan tersebut, Astan sempat merasa yakin bahwa setelah itu mereka sama-sama tinggal di Kapal Thornic 035.
Tapi, masa sesingkat itu kejadiannya?
Kalau dipikir-pikir lagi, memang ada kejanggalan di memori Astan. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya berlalu, sedangkan ia sendiri baru tinggal bersama Suda tiga tahun lamanya.
Ini aneh….
Apa benar seperti dugaan Mavin kalau Astan mengidap amnesia?
Lagi-lagi pertanyaan yang serupa selalu terlintas di pikiran Astan, masih belum meyakini 100% bahwa dia pernah bekerja di instansi militer.
Sempat Edrick memperhatikan jam tangannya. “Sudah waktunya untuk bertemu dengan para personel tim lainnya, Pak.”
“Nah, ini!”
Belum sempat Astan berdiri, wajahnya sudah dilempari setelan seragam oleh Harnan.
“Seragam militer?” Astan memperhatikan seragam tersebut.
“Tentu saja kau harus pakai seragam militer selama ada di sini. Kau kira dibiarin aja pakai pakaian bebas kayak begitu? Yang ada orang-orang pada makin curiga.”
Ketika memperhatikan dirinya sendiri, Astan baru ingat kalau dia masih memakai setelan jaket kulit hitam.
“Iye, iye…. Tapi, kagak usah pakai dilempar juga. Dikasih baek-baek, gitu,” cibir Astan tak suka dengan sikap Harnan.
“Sudahlah, jangan bertengkar lagi.” Mavin menengahi. “Kau ganti baju aja dulu, Astan. Kami akan menunggu di luar.”
Saat mereka keluar dari ruang kantor tersebut, meninggalkan Astan sendiri untuk berganti pakaian, Astan menggelengkan kepalanya, mencibir kembali sikap menyebalkan Harnan yang kelihatannya udah makin jengkel dengan dirinya.
__ADS_1
...~*~*~*~...
Sektor Militer adalah sektor paling besar di seluruh markas Grup Ribelo-II, ibarat jantung utama bagi struktur markas ini. Merupakan sektor terpenting dimana berbagai kegiatan militer dilakukan, pelatihan, olahraga, persiapan, serta tempat tinggal bagi personel militer.
Sektor Militer terdiri dari area asrama para anggota militer, berbagai lapangan indoor sebagai tempat pelatihan, ruang kantor bagi setiap unit dan tim, kafetaria khusus, dan masih banyak lagi fasilitas yang disediakan di sektor ini.
Mavin dan Harnan kini sedang mengabsen para personil Tim Aravan071 di salah satu lapangan indoor, Sektor Militer. Di samping Mavin, ada seorang pria muda yang merupakan wakil dari tim ini. Sedangkan di samping Harnan, nampak sosok Edrick masih dengan topi dan masker hitam yang senantiasa menutupi wajahnya.
Semua anggota terlihat berbaris dengan rapi dalam posisi berdiri istirahat, Astan pun juga ikut berdiri paling ujung, sempat beberapa kali diberi teguran isyarat oleh Edrick agar berdiri lebih tegap lagi selayaknya seorang tentara.
Maklum, selama menjadi pemburu, Astan tak tahu tentang sikap tertib ala militer. Baris-berbaris seperti yang mereka lakukan sebelum perundingan pun hasil pengalamannya saat masih SD.
“…. Irawan Yunus, Lavisto Ordalez, dan….”
Mata cokelat Harnan sempat memperhatikan barisan Astan yang nampak berusaha berdiri setegap mungkin seperti yang diisyaratkan Edrick.
“….Astanu Hernawan.” Harnan menurunkan tabnya setelah selesai mengabsen.
“Baiklah.” Mavin berdiri dengan kedua tangan di belakang. “Seperti yang direncanakan sebelumnya. 13 personel, termasuk ketua dan wakil ketua tim, akan menjalankan misi ke Kapal Feron 072. Tujuannya, untuk mengumpulkan lebih banyak bukti lagi tentang keterlibatan BioEmerald dengan Perusahaan Feron atas eksperimen ilegal. Kalau ada bukti lainnya yang bisa kalian kumpulkan terkait data Feron pun, itu merupakan nilai tambahan bagi misi ini.”
“Misi ini sudah dijalankan oleh beberapa tim, tapi semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil.” Mavin menghela nafas, berusaha meringankan rasa gelisahnya. “Oleh karena itu, saya harap, misi ini bisa dijalankan dengan mulus oleh tim baru ini. Saya juga sangat berharap agar semua personel bisa kembali dengan selamat.”
Nampak sebagian dari mereka agak menunduk lesu. Astan yakin, mereka mulai merasa cemas mengingat akan kesulitan misi ini, dan beberapa tim militer tidak ada yang selamat di sana.
Ini… pasti membuat mereka tertekan. Tapi karena tuntutan pekerjaan, jaminan masa depan yang cemerlang sebagai seorang abdi pemerintah antariksa, sudah kewajiban mereka untuk menjalankan misi seberat dan sesulit apapun misi tersebut.
Mavin melanjutkan, “Karena kita dikejar waktu, misi akan segera dilaksanakan lusa. Jadi, persiapkan diri kalian matang-matang. Jangan sampai lengah dalam menjalankan misi, dan tetap waspada. Mengerti?!”
“Siap! Dimengerti, Komandan!” ucap barisan personel serempak.
Mavin mengangguk. “Bagus. Sekarang, kalian boleh kembali.”
Mavin memberi isyarat pada Harnan agar segera membubarkan barisan.
...~*~*~*~...
__ADS_1