
Di sisi lain hutan tropis Darzia, seorang pria berjalan menelusuri lebatnya hutan. Dia merupakan pria berusia sekitar 20-an dengan fisik tubuh tinggi-besar, rambut pirang agak panjang, berjaket merah, dan juga memakai kacamata tuk melindungi mata beriris birunya.
Dia bingung harus kemana lagi. Ingin kembali ke kapal antariksa, tapi sepertinya mustahil karena terpisah dari Squad-nya sendiri. Mau kembali ke Squad, tapi dia tak berani karena masih merasa bersalah.
“Haaah…. Harus pergi kemana aku ini…?” Dia berjalan sambil menggaruk tengkuknya.
Sesaat mata biru itu memandang langit berbingkai dedaunan pohon. Sempat berpikir apakah ada gunanya ia hidup di alam semesta ini? Selama menjadi pemburu dan bergabung beberapa kali dalam Squad yang berbeda-beda, dia terus saja disalahkan dalam berbagai hal yang bahkan belum tentu semua itu salahnya.
“Apa ada untungnya aku hidup…?”
Angin berhembus agak kencang, meniup dramatis helaian rambut pirangnya. Perasaan seperti inilah yang bisa membuatnya tenang. Terkadang ia juga berpikir, mungkin sendirian seperti ini adalah pilihan yang tepat.
Dia kembali menghela nafas, berjalan lurus ke depan. Tidak tahu arah tujuan, yang penting ia tetap terus berjalan.
Di saat itu juga, ada seekor burung raksasa terbang membawa sebuah batu besar untuk dijadikan bahan membangun sarang. Karena tak kuat membawa batu itu, batu itu pun jatuh menuju sang pria.
“Nanti aku akan mencari cara untuk—.”
Langkahnya sontak terhenti saat dirasa ada sesuatu membentur kepalanya. Rupanya, batu yang dibawa burung tadilah yang jatuh membentur kepala sang pria.
Namun bukannya kepala pria itu pecah tertimpa batu sebesar itu, malah batunya yang belah jadi dua.
“Loh?”
Pria itu mengelus puncak kepalanya, terasa baik-baik saja, melihat ke atas sejenak, lalu beralih pada dua potong batu besar yang sudah terbelah olehnya.
“Tadi ketimpa batu jatuh, toh? Kok ada batu turun dari langit, ya?”
...~*~*~*~...
Setelah gagal melakukan serangan, Astan bersalto ke belakang, menjauh dari Alpha kodok mutan yang masih ditimpa pohon. Pohon yang menimpa Alpha itu pun malah belah jadi dua setelah dipukul keras menggunakan lidahnya.
“Bang Astan!”
Arni yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon mulai menghampiri Astan. Satu tangan Astan terangkat, memberi aba-aba peringatan pada Arni.
“A-apa…?”
Astan bicara dengan raut serius, “Ubah rencana. Kita takkan bisa membantumu naik level cepat kalau begini. Jumlah mereka terlalu banyak. Jadi, tembak saja yang mana yang bisa kau tembak.”
__ADS_1
“Aku mengerti. Tapi… kita takkan bisa menghabisi mereka semua kalau Alpha-nya masih hidup.”
“Aku akan mengincar sang Alpha. Kalau ada kesempatan, kau bantu juga tuk menembak dari jauh.”
Arni ingin mencegat. Rencana ini terbilang gila bagi Astan yang merupakan pemburu tipe pertahanan. Serangan dari senapan serbunya takkan cukup untuk menembus pertahan tebal dari Alpha Mutant Frog.
Sejenak Arni memperhatikan senapan runduk di tangannya. Andai saja dia pandai menembak dan punya jenis Sniper Rifle yang bagus, mungkin bisa lebih mudah untuk menumbangkan sang Alpha.
Arni menggeleng. Dia tidak perlu berandai-andai dalam situasi seperti ini. Mereka harus mengalahkan sang Alpha dengan kekuatan yang mereka punya sekarang.
Memang sangat memalukan jika mereka kalah dalam misi Tingkat D, tapi apa salahnya untuk berjuang. Jumlah musuh sebanyak ini diluar ekspetasi mereka.
Pertarungan ini malah terkesan melawan musuh dalam misi Tingkat C dan B.
Arni pun menghilang dengan kemampuannya, mencari-cari tempat yang aman untuk membidik musuh. Sedangkan Astan kembali menyerang para Mutant Frog yang makin banyak menyerbunya.
Peluru-peluru Assault Rifle milik Astan terus ditembakan ke arah para Mutant Frog, sambil berlari menghindari kejaran dan lesatan lidah-lidah panjang mereka.
“Mamam, nih!”
Astan melemparkan satu lagi granat ke arah beberapa Mutant Frog di belakangnya, mengakibatkan tubuh-tubuh Mutant Frog meledak seketika.
[Score : 35]
[Score : 243]
[Score Bonus : 490]
“Sialan…! Gara-gara terus menyerang mereka tanpa pandang bulu, aku jadi mendapatkan banyak Score,” gumam Astan masih sambil berlari, “Padahal, aku tidak mau naik level cepat.”
Sekarang, Astan kembali berusaha mendekat ke arah Alpha. Astan melemparkan granat lagi pada Alpha itu, tapi efek ledakannya hanya bisa menghancurkan tubuh para Mutant Frog di sekitarnya. Sang Alpha tetap selamat dengan Shield setebal baja.
“Bagaimana bisa makhluk bersifat Masif dengan Tingkat Hard bisa sekeras ini?!”
Astan terpaksa kembali menembaki beberapa Mutant Frog yang hampir mendekatinya.
Di balik pohon, Arni menembak beberapa Mutant Frog di sekitar Astan, kadang juga ia menembak yang sudah sekarat.
Setelah mengisi senjata kembali dengan beberapa peluru dan mengokangnya. Lewat teleskop senapan, Arni melihat jumlah kodok-kodok mutan bermunculan lebih banyak dari rawa-rawa dan hutan. Semuanya fokus mengincar Astan seorang karena Arni masih bersembunyi dengan aman di balik pohon.
__ADS_1
“Jumlah para Mutant Frog dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Bang Astan dalam bahaya.”
Berniat untuk membatu, Arni mencoba membidik sang Alpha, dan menembaknya.
[Critical!]
Tak disangka, satu tembakan itu menimbulkan kerusakan kritis, menciptakan celah kecil dari Shield transparan kebiruan di sekitar Alpha.
Sontak sang Alpha melihat ke arah asal peluru yang mengenai tubuhnya, mencari keberadaan Arni. Namun beruntung Arni sempat mengaktifkan Invisible.
“Celah?”
Astan yang menyadari ada celah yang ditimbulkan pada tembakan Arni tak ingin membuang kesempatan. Ia mulai menembak secara beruntun tepat pada celah itu. Sayangnya, celah itu dengan cepat menutup kembali jadi Shield.
[Status Kesehatan : 98,3%]
“Hanya segitu?!”
Menyadari Astan yang menembak celahnya, sang Alpha menumbangkan satu pohon paling besar di sekitar hutan rawa menggunakan lidah panjangnya nan tebal. Melemparkan pohon itu tepat ke arah Astan.
“Sial—.”
Beruntung Astan bisa salto tinggi untuk menghindarinya. Namun, pohon itu terus melesat menumbangkan pohon-pohon lain yang lebih kecil, dan juga mengarah menuju Arni.
“Arni!”
Menyadari ada pohon besar melesat ke arahnya, reflek gadis itu meluncur ke bawah, sehingga ia berhasil menghindar.
Astan yang melihatnya pun menghela nafas lega, “Fyuh~ Syukurlah….”
Namun tidak sampai di situ. Pohon itu terus melesat cepat hingga mencapai seseorang yang lewat di dekat hutan rawa.
“AWAS!” teriak Astan dan Arni bersamaan.
“Huh?”
Orang itu bukannya menghindar, malah bengong di tempat. Alhasil, kepalanya langsung kena benturan pohon dengan sangat, sangat, sangat keras.
Arni melotot, Astan syok, sang Alpha Mutan Frog tetap dengan tatapan datar sambil bersuara ‘Glodok’ tanpa tahu dosa. Mereka kaget bukan karena orang itu bernasib na’as kena lemparan pohon sebesar itu.
__ADS_1
Tapi pohonnya yang belah jadi dua.
...~*~*~*~...