AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 37 : Tiga Tahun yang Lalu


__ADS_3

“Ada apa ini, Kapten Murdi?”


Rupanya yang datang adalah sosok sang wakil ketua Guild, Noah. Pria itu nampak berdiri di samping Murdi, mulai bersedekap tangan di dada.


“Oh, Jura—.”


Noah hampir melempar tatapan tajam.


“Ma-maksudku, Wakil Ketua Noah.”


Noah pun angguk-angguk disertai senyuman. Iya, Noah yang senyum, Murdi hampir mati berdiri ditatap begitu.


“Ini…. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, dua orang Pengelana Hippie sudah tiba di sini,” lanjut Murdi.


“Pengelana Hippie?”


Noah memperhatikan penampilan Mavin dan Harnan. Sebenarnya, ia bingung dengan situasi sekarang. Tapi Murdi sempat memberi bahasa tubuh kalau dua orang ini merupakan komandan dan wakil komandan batalion dari Pasukan Orbit Ribelo.


Akhirnya, Noah mengangguk paham. Sontak ia tersenyum kecil, berusaha menahan tawa melihat penampilan konyol mereka.


Murdi berusaha mengenalkan, “Jadi, ini namaya Joko Cengir, dan temannya Kudiman Jasaja.”


“Bhua—huff….”


Hampir saja tawa Noah meledak kalau saja tidak ia tahan sambil memegangi perut ratanya yang mulai agak keram.


Mavin dan Harnan saling lempar tatapan jengkel, seakan-akan memberitahukan bahwa memang benar nama samaran mereka terdengar konyol. Tapi, tak apa. Setidaknya dengan nama sekonyol ini, orang-orang hangar jadi tidak mencurigai mereka lagi.


Tapi, hampir menertawakan mereka.


“Eee…. Kau tidak apa-apa, Wakil Ketua?” tanya Murdi.


Noah berusaha menegakan posisi berdiri, masih tersenyum menahan tawa. “Hehe… Tak apa. Tak apa. Lanjutkan.”


Murdi kembali melanjutkan, “Jadi, kedua orang ini kemari karena ingin menemui seseorang untuk diajak berkelana mencari ketenangan kosmik, katanya.”


Ekspresi Noah berubah menjadi lebih serius. Dia menatap keduanya, mulai mengerti maksud dari tujuan pura-pura itu.


“Baiklah. Sebelumnya, saya antarkan kalian ke ruangan saya. Kita bicarakan hal ini di sana.”


Mereka berempat berjalan pergi meninggalkan hangar, diantar oleh Noah dan Murdi.


Di saat kepergian mereka, sempat sosok Soni yang sedang membersihkan badan pesawatnya melihat interaksi sampai kepergian mereka dari hangar.


Kedatangan kedua orang asing itu cukup mencurigakan, pasalnya kapal mereka sangat jarang kedatangan tamu luar selain orang-orang kenalan dari kapal ini. Kalau mau berbisnis pun, mereka lebih memilih pertemuan di luar kapal.


“Hmm…. Mereka siapa, ya? Jarang banget Wakil Ketua menerima tamu dari luar, apa lagi tamu kagak jelas begitu,” gumam Soni sambil mengelap badan pesawat. “Ah, tapi bodo amat, lah. Urusan mereka juga. Aku ‘mah yang penting mempercakep tampilan Supri kesayanganku ini. Hehe…. Supri, Supri. Jadi cakep dikit, yee…. Biar kita kebanjiran pelanggan buat nyewa jasa ojek pesawat kita.”


Dan Soni pun terus membersihkan pesawatnya dengan penuh kasih sayang.


...~*~*~*~...


“Masuklah.”

__ADS_1


Noah mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang kerja ketua dan wakil ketua Guild yang berada di Deck Guild. Sama seperti ruang kerja lainnya, ruangan ini memiliki meja kerja tunggal, satu lagi meja kerja, rentetan lemari dokumen, dan terdapat sofa juga untuk menyambut para tamu seperti mereka.



Mereka semua masuk, kecuali Murdi yang masih di pintu ruangan.


“Wakil Ketua, sepertinya saya harus kembali ke anjungan. Masih banyak yang perlu saya urus,” ucap Murdi.


Noah mengangguk. “Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, Kapten Murdi.”


Murdi pun berpamitan dengan sopan pada mereka, dan pergi menjauh dari ruang kerja tersebut, otomatis pintu di sana tertutup rapat.


“Silakan duduk.”


Noah juga mempersilakan mereka duduk. Namun, yang duduk di sofa berhadapan dengan Noah hanya Mavin. Harnan lebih memilih menarik salah satu kursi di depan meja kerja, menariknya ke dekat dinding, dan duduk di sana. Rasanya, Harnan enggan untuk duduk di dekat Mavin. Masih jengkel soal penyamaran konyol ini.


“Di sini tidak ada siapa-siapa selain kita, kan?” tanya Harnan ketika baru saja duduk di kursinya.


“Iya. Di sini aman," jawab Noah tenang.


“Baguslah.”


Harnan langsung melepas wig dan kumis gondrongnya. Dia sudah sangat risih harus berdandanan konyol seperti ini. Bagaimana coba kalau rekan-rekan mereka di Pasukan Orbit Ribelo tahu mereka menyamar dengan dandanan sekonyol ini.


Harnan sesekali menggaruk kepala dan pipinya yang gatal. “Akhirnya, bisa lepas juga dari dua benda menggelikan ini. Bikin gatal aja.”


Mengabaikan keluhan Harnan soal samaran yang ia kenakan, Mavin menelisik seluruh ruangan ini. Di sini memang ada dua meja kerja, satu lagi untuk ketua dan satunya untuk wakil ketua. Yang membuat Mavin heran, kenapa yang menyambut mereka cuma sang wakil, Noah? Kemana perginya ketua Guild?


“Maaf. Kalau boleh bertanya, ketua Guild ada dimana sekarang?” tanya Mavin. “Dari tadi yang menyambut kami hanya kau dan kapten kapal.”


“Sakit apa, ya?”


“…. Infeksi, dari seekor monster Tingkat Extreme saat kami berusaha menaklukan Dungeon.”


“Oh….” Mavin mengangguk mengerti. “Maaf jika aku—.”


“Tak apa. Pasti kesannya tidak sopan ketika Ketua Guild tidak ikut menyambut orang-orang penting.” Noah memberi senyum ramah.


Mavin menggeleng. Rasanya tak enak hati ketika menyinggung masalah sang ketua Guild yang saat ini sedang mengalami sakit parah.


“Jadi, saya sekarang berhadapan dengan komandan beserta wakil komandan?” Noah mulai mengalihkan topik sambil menyilangkan kakinya saat bersender di sofa.


“Benar.” Mavin melepas kacamata pelanginya. “Saya merupakan komandan dari Batalion Y13 Aturna, Mavin L. Vladiskov. Dan yang bersama saya adalah wakil komandan, Harnan Prakoso.”


“Yo,” sapa informal Harnan sambil duduk dengan posisi senderan kursi menghadap ke depan.


“Jadi…, Anda Komandan Mavin dan satunya Wakil Komandan Harnan, betul?”


Mavin tersenyum singkat. “Tidak usah terlalu formal begitu.”


“Baiklah, kalau itu mau An— Maksudku, kalau itu maumu.” Noah mulai bertanya ke intinya, “Jadi, ada apa gerangan kalian berdua ke kapal Guild kecil kami?”


“Begini….”

__ADS_1


Mavin meraih ponsel dari saku pakaiannya, mencari-cari data dan foto seseorang yang ingin ia tanyakan.


“Kami sempat menerima data-data penduduk Kapal Thornic 035 beserta anggota Guild-nya. Ada data identitas dari seseorang yang cukup menarik perhatian kami.”


Mavin memperlihatkan data beserta foto seorang pria berambut jingga berantakan, mata heterokrom, dan terdapat luka di bagian mata kiri.


“Apa kau mengenal orang ini?”


Noah meraih ponsel itu, memperhatikan data beserta foto dari orang tersebut, mencoba mengingat apakah memang ada orang ini di Guild-nya.


“Astan Pradipta Cornell, ya?” Sesaat Noah memandang Mavin. “Ya, dia memang berada di Guild kami sebagai pemburu Pangkat Besi.”


“Pangkat Besi?”


Satu lagi kejanggalan yang didapat Mavin dari informasi ini. Tapi, Mavin tidak berani berspekulasi macam-macam sampai ia benar-benar mendapatkan informasinya lebih lengkap.


“Ada perlu apa kalian mencari Astan? Apa dia punya masalah dengan pihak militer?”


“Tidak. Tidak sama sekali,” bantah Mavin tenang. “Kami mencarinya karena suatu kepentingan khusus. Sayangnya, kami tidak bisa memberitahukan kepentingan macam apa yang kami maksud sampai kami mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang Astan Pradipta Cornell.”


Dari perkataan Mavin saja, Noah tahu bahwa sang komandan menuntut jawaban pasti sebelum memberi tahu tujuan sebenarnya mencari Astan.


Noah menghela nafas, menaruh ponsel itu di atas meja. Sulit rasanya untuk mempercayai pihak militer ini. Mungkin saja Astan memang benar punya masalah yang serius sampai-sampai mereka tidak ingin memberitahukan tujuan sebenarnya mencari Astan.


Tapi kalau dilihat dari ekspresi Mavin, sang komandan nampak memiliki kesungguhan, kejujuran dalam setiap katanya.


Mungkin benar, ada suatu alasan penting yang membuat mereka harus mencari Astan. Bukan masalah pertikaian antara pemburu dan militer, tapi ada sesuatu yang lebih mendalam lagi.


“Jadi….” Kini giliran Mavin yang bertanya, “Sejak kapan dia berada di Kapal Thornic 035?”


Ada jeda beberapa saat sampai Noah menjawab dari apa yang ia ingat, “Tiga tahun yang lalu.”


Harnan maupun Mavin tercengang mendengarnya. Tiga tahun yang lalu, itu merupakan waktu yang bertepatan dengan insiden di Kapal Feron 072.


Noah menegakan posisi duduknya. “Selama ini, kapal kami menerima cukup banyak orang-orang tunawisma yang tidak punya tempat tinggal di suatu planet maupun diusir dari kapal koloni. Tapi, soal kasus Astan ini berbeda.”


Kedua mata abu-abu Noah menajam, semakin menekankan kata-katanya pada penjelasan lanjutan. Nampak sekali bahwa topik pembicaraan ini akan semakin dalam untuk dibahas.


“Tiga tahun yang lalu, kami menemukannya terombang-ambing di dalam sebuah Kapsul Lifepod dekat kapal kami.”


Satu lagi informasi penting yang membuat Mavin hampir syok ketika mengetahuinya.


...~*~*~*~...


"Siapa yang berani memanggilku Juragan Ikan?"



Noah Benjamin Carl


Sebenarnya, ini gambar lama, ya. Tapi karena mukanya sesuai ekspetasiku, jadi aku pakai saja muka ini sebagai karakter Jura-- Maksudku, Noah.


Kurang cakep, yee? Nanti kalau sempat aku coba redraw. Untuk saat ini, aku ga bisa ngegambar muka karakter lain dulu karena jari telunjukku suka keram (udah seminggu kayak gini mulu). Makanya, mungkin update juga bakal 1 chapie sehari atau absen sehari buat pemulihan.

__ADS_1


Aku pengen kasih tahu kalau alur cerita ini cukup... lambat. Makanya, terkesan jarang ada adegan geludnya.


Kalau merasa bosan dengan bagian cerita yang kek gini-gini mulu, bisa ditunda dulu bacanya sampai tiba di bagian yang menurut kalian menarik (walau risikonya kalian ga bakal ngerti poin-poin pentingnya karena di-skip). Kalau masih merasa ga tertarik juga, aku ga keberatan kalian meninggalkan cerita ini. Itu hak kalian sebagai pembaca.


__ADS_2