
Sepanjang lorong Astan dan Arni berjalan sambil mengobrol ringan perihal berbagai hal. Sebenarnya, hal seperti ini tidak biasa terjadi. Astan memang sahabat Suda dan sangat akrab dengan abang dari gadis ini, tapi ia tak pernah sekali pun mengobrol seakrab ini sebelumnya dengan Arni.
Ketika Astan berkunjung ke kabin Suda dan Arni dulu, Astan hanya sesekali menyapa Arni, itu pun hanya dibalas dengan senyum tipis. Suda bilang kalau adiknya itu pemalu dan jarang berteman, jumlah temannya pun masih bisa dihitung jari saking sedikitnya.
“Ahaha…. Kau ini emang beda dari cowok lain.” Arni berusaha menahan tawa setelah mendengar berbagai celotehan Astan.
Dengan pedenya Astan menyugar rambutnya. “Dari segi mana, sih? Ganteng, yak?”
“Bukan.”
Muka Astan langsung datar.
“Hihi…. Biasanya kebanyakan cowok itu pengen terlihat keren, sok-sok’an bertatapan tajam, kalem,” kata Arni, “Kalau kau malah ceriwis banget kayak emak-emak.”
Astan mulai memberi sebuah pengakuan, “Jadi, Dek Arni. Dari sifatku yang agak miring 360 derajat ini, aku cuma pengen bilang kalau yang aku katakan pas menunggu trem tadi itu emang beneran.”
Arni mengernyitkan alis. “Yang mana?”
“Yang ghibah bareng emak-emak. Aku emang sering nongkrong sama emak-emak kafetaria, ngerumpi gitu,” jawab Astan dengan gerakan tangan melambai-lambai.
Kini muka Arni yang datar meresponnya.
“Bukan cuma sama emak-emak, kadang juga suka nongkrong sama bapak-bapak di kafetaria,” lanjut Astan, “Duduk santai dengan satu kaki dinaikan di atas kursi, nyeruput kopi terus bersendawah, kadang juga kami ngelawak pakai lawakan bapak-bapak. Aaaahahahaha…!”
Tiba-tiba Astan tertawa terbahak-bahak sambil membungkuk memegangi perut ratanya, dan sesekali memukuli pahanya sendiri ketika mengingat lawakan para bapak-bapak kafetaria. Arni yang melihatnya cuma nampak kebingungan dengan perilaku aneh Astan, mempertanyakan kesehatan mental pria itu.
Dari segi mananya yang lucu?!
“Eh, eh! Pernah enggak dengar lawakan bapak-bapak yang ini?” tanya Astan mendadak antusias.
Arni menggeleng dengan muka masam. “Enggak, dan enggak mau ta—.”
Astan langsung menyela tak peduli kalau Arni sama sekali tidak mau mendengar lawakannya.
“Agar tanaman di Dek Hidroponik subur….”
Arni diam seribu bahasa, perasaannya sudah terlalu masam untuk mendengar lanjutannya.
“Kita berak sama-sama! Nyahahahaha…!”
Lagi-lagi Astan tertawa keras, bahkan sekarang ia berlutut sambil memukul-mukul lantai hingga air mata kegirangan mengalir dari matanya.
Arni sama sekali tak ada respon, mematung di tempat. Dia bingung ketika melihat Astan seaneh ini. Dalam pikirannya terlintas pertanyaan begini saat mengenang senyum surgawi dari Suda,
‘Abangku itu mungut dari mana orang antik kayak begini…? Mungkin benar pikir orang, begini jadinya kalau centong sayur dikasih nyawa.’
Setelah selesai tertawa terbahak-bahak, Astan langsung berdiri tegap sambil menghapus air mata tawanya.
“Gimana? Gimana? Lucu, enggak?” tanya Astan dengan wajah ceria.
Arni tersenyum dibuat-buat. “Lucu, Bang. Tapi lucunya mental ke akhirat.”
Buru-buru Arni berjalan mendahului Astan tanpa peduli kalau pria itu tengah menatapnya dengan tatapan polos.
“Lho, dari segi mananya enggak lucu?” gumam Astan bingung. “Aku sama bapak-bapak di kafetaria aja sering ngakak kok kalau ada yang lempar lawakan kayak begitu.”
“Oi, Arni! Tunggu!”
Astan pun buru-buru mengejar Arni yang sebentar lagi bakal sampai di depan sebuah gerbang.
__ADS_1
….
“Selamat datang di lapangan latihan Dek Kru.”
Kedua robot yang berjaga di depan sebuah gerbang besar mempersilakan Astan dan Arni untuk memasuki tempat.
Arni nampak terpukau dengan tempat tersebut. Tempat itulah yang merupakan lapangan latihan untuk para pemburu pemula berlatih, menaikan pangkat ke Pangkat Kayu. Lapangan indoor ini berupa sebuah ruangan luas yang didominasi warna putih gading dengan aksen biru dan metal.
Area ini sekarang nampak kelihatan sangat sepi, membosankan. Hanya ada seorang pemburu pemula seperti Arni tengah menembak tiga boneka kayu hidup yang memang biasanya digunakan untuk latihan.
“Wah…! Inikah lapangan latihan khusus pemburu pemula?” tanya Arni antusias, tapi kemudian mulai merasa heran. “Tapi kok sepi?”
“Ya, wajar sepi.” Mata Astan melihat ke penjuru lapangan. “Guild kita ini termasuk Guild paling tidak populer di galaksi ini. Hanya sedikit orang yang mau bergabung ke dalam Guild kita, itu pun merupakan para penghuni yang tinggal di sini.”
Sesekali Astan melangkah pelan dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana, masih di dekat-dekat Arni.
“Guild Thornic, siapa yang kenal? Guild kita ini terlalu pasif, jarang seaktif Guild lain dalam kegiatan berburu,” jelas Astan santai. “Tidak memiliki ambisi untuk menjadi Guild Pemburu terbaik. Melakukan misi berburu hanya sekedar untuk mencari uang, bertahan hidup. Guild beserta kapal ini hanya dijadikan sebagai tempat penampungan para tunawisma, tempat berlindung, tempat bertahan hidup.”
Astan berhenti melangkah, menoleh pada Arni. “Jadi, kita sebagai pemburu di Guild Thornic tidak bisa berharap lebih. Ketua Guild hanya menginginkan anggota Guild dan seluruh penghuni Kapal Thornic 035 aman, dia tidak ingin kita terlibat dalam persaingan dengan Guild lain. Dan aku nyaman dengan keadaan Guild seperti ini.”
Memang benar. Selama ini Guild Thornic tak pernah terlihat aktif bersaing dengan Guild lain seperti Guild-Guild pemburu pada umumnya. Yang dilakukan para pemburu di sini hanya menjalankan misi berburu atau melindungi anggota Guild dan penghuni sesama Kapal Thornic 035.
Tidak ada salahnya memutuskan untuk tidak menimbulkan persaingan dengan Guild lain atas alasan keamanan. Tapi entah mengapa, Arni berpikir bahwa kepasifan dari Guild ini malah tidak akan membuahkan kemajuan apapun.
Seharusnya, jika mereka bisa ikut lebih aktif berburu, bisa bersaing dengan Guild lain, maka akan banyak keuntungan yang bisa mereka dapatkan. Contohnya uang, item, hingga barang-barang untuk perlengkapan kapal dan kebutuhan para penghuni.
Namun, mau bagaimana lagi? Pendapat seperti itu hanya bisa dipendam Arni seorang. Dia tak mampu berpendapat karena sadar posisinya sekarang masih pemburu baru. Astan yang sudah enam bulan bergabung di Guild saja tidak berkomentar macam-macam, malah dia bersyukur dengan situasi Guild sekarang.
“Kenapa bengong aja? Latihan enggak, nih?”
Arni sontak kaget, sadar dari lamunannya ketika Astan mengingatkan untuk latihan. Gadis berambut hitam itu menggelengkan kepala sesaat, berusaha membuyarkan pikirannya tentang Guild tadi.
Saat keduanya mulai melangkah ke tengah lapangan, iseng-iseng Astan menyapa satu-satunya pemburu yang latihan di sini.
Iseng-iseng Arni mengecek data dari pemburu tersebut lewat sistemnya.
[Nama : Gardin Ananta]
[Jenis Kelamin : Pria]
[Usia : 18 tahun]
[Profesi : Pemburu]
[Pangkat : None]
[Level : 4]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Senjata Utama : Pistol Basic (Grade-D)]
[Senjata Tambahan : -]
[Senjata Pendukung : -]
[Kemampuan Umum : Summon Type-1]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[-Strength : 7]
__ADS_1
[-Agility : 8]
[-Vitality : 6]
[-Intelligence : 12]
[-Dexterity : 7]
[-Luck : 5]
Sang pemburu bernama Gardin itu berhenti menembak boneka kayu, tersenyum pada Astan.
“Nguli, Bang. Ya, lagi latihan…. Kan lihat sendiri, ini,” sahut Gardin.
Kedua mata Gardin membelalak menyadari sosok Astan. “Kau si pemburu Pangkat Besi level 3 itu, kan? Sedang apa ya di sini? Latihan juga?”
“Yeee…. Mana ada pemburu Pangkat Besi latihan dimari lagi?” Astan menunjuk Arni di sampingnya. “Ini…. lagi nemenin temen. Dia baru saja mendaftar jadi pemburu.”
Arni pun melambaikan tangan disertai senyum ramah pada Gardin. “Hai, Mas.”
“Ooo…. Pemburu baru? Cakep bener anaknya.” Gardin mulai tanya-tanya, “Siapa namanya, Neng? Kenalkan, aku Gardin. Aku juga baru mendaftar jadi pemburu.”
“Hilih~ Pake PDKT segala nih kulit bengkoang,” ledek Astan. “Ei, dia ini adik seorang teknisi mesin. Sampai abangnya tahu kau apa-apain adeknya, dijadi’in petromax, enggak bakal jadi orang lagi kau nanti.”
Arni terkekeh mendengar perkataan Astan yang seperti biasa selalu ceriwis.
Iseng-iseng Arni menepuk lengan Astan. “Hihi…. Bang, dia cuma mau kenalan aja. Enggak salah, kok.” Arni mulai memperkenalkan dirinya pada Gardin. “Aku Arni. Salam kenal, ya.”
“Salam kenal juga.” Gardin tersenyum sumringah. “Kalau nanti ‘dah sampai Pangkat Kayu, gimana kalau kita jadi satu Squad?”
“Dia sudah satu Squad sama aku,” sela Astan agak sewot.
Gardin agak tercengang mendengarnya. “Heh…? Masa iya Arni yang manis ini mau satu Squad sama gigi kuda?”
“Hiiih! Mau ajak gelud kau, yak?!” Astan siap-siap ambil ancang-ancang untuk adu jotos. “Perbedaan level kita masih jauh. Mau aku jadikan kau manusia kayang?!”
“Waduh?”
Spontan Gardin memegang pinggangnya sendiri. Ngeri juga dibayangin kalau dirinya mendadak jadi manusia kayang seperti di film-film horror.
“I-iya maaf…. Aku ‘kan cuma— Ayak! Ayak! Ayak!”
Gardin latah gara-gara satu boneka kayu bergerak menyerangnya. Beruntung pemuda itu langsung menembak menggunakan pistol.
Astan yang melihat kejadian itu kembali berceletuk, “Makanya, fokus!”
“Kau yang ganggu dari tadi!”
“Aku ‘kan tadi cuma nyapa!”
“Tapi kau sejak tadi ngeledek aku!”
“Udah, udah!” Arni menengahi. “Ini kalau kalian berdua ribut, kapan aku latihannya?”
“Ya, udah. Ikut sini.”
Astan menyeret Arni menuju ujung lapangan. Saat berjalan menjauh begitu, iseng-iseng Gardin mencoba membidik Astan dengan pistolnya, tapi keburu kepergok Astan sendiri.
“Tembak aja! Aku pakai Shield! Ketahuan nembak aku, kujadikan perkedel kau!”
Buru-buru Gardin menurunkan senjatanya dengan panik. “Si-siapa yang mau nembak situ? Aku ‘kan mau nembak boneka-boneka kayu ini!”
__ADS_1
Gardin berusaha ngeles, padahal boneka kayunya udah pada kalah.
...~*~*~*~...