AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 39 : Bingung


__ADS_3

“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Ash….”


Astan menyipit curiga. Kalau orang ini cuma sekedar tahu namanya itu wajar karena dia sendiri yang mencarinya, pasti tahu nama lengkap Astan. Tapi kalau sampai tahu nama panggilan kecilnya, itu terasa mencurigakan.


Tentu Astan curiga, karena yang sering memanggilnya ‘Ash’ hanya Suda seorang, orang-orang seluruh kapal sering memanggil ‘Astan’ atau ‘Tan’ saja.


Ada apa ini? Apa orang ini spontan saja memanggil Astan dengan bagian depan namanya? Tapi, apa maksud dengan kalimat sapaan itu? Apakah orang ini pernah bertemu dengan Astan sebelumnya?


Astan yakin, dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang ini. Orang berambut pirang dengan mata hijau terang, tubuh tinggi-tegap serta nampak berwibawa.


“Maaf….” Astan memiringkan kepala bingung. “Apa kita pernah bertemu?”


Pria itu menaikan sebelah alis. “Kau tidak mengenaliku?”


Makin bingunglah Astan. “Memang kita pernah saling kenal?”


Orang itu memalingkan muka, menghela nafas sesaat. Wajahnya terlihat berusaha memaklumi keadaan.


Entah apa maksud dari bahasa tubuh itu, Astan sama sekali tak mengerti.


Orang itu mulai mengambil duduk berhadapan dengan Astan, saling menggenggam tangannya sendiri sambil menatap Astan dengan serius.


“Baiklah. Aku takkan memaksamu untuk mengakui bahwa kita pernah saling kenal.”


Apa maksud ucapannya itu kalau mereka sudah saling kenal? Sungguh, Astan sama sekali tidak kenal pria ini. Ini merupakan kali pertama mereka bertemu.


Ucapan itu terdengar cukup ambigu.


“Oleh karena itu, aku akan memperkenalkan diriku,” ucap Mavin tenang. “Namaku Mavin L. Vladiskov, pemimpin dari salah satu batalion di Pasukan Orbit Ribelo.”


“Pasukan Orbit Ribelo? Anggota militer, kah?”


Astan bersender dengan satu tangan dinaikan ke atas sandaran kursi. Lagi-lagi ia dibuat bingung oleh kehadiran orang ini. Bukannya haram hukumnya anggota militer menginjakan kaki ke Guild pemburu?


“Bagaimana ka—.”


“Aku dan rekanku menyamar,” jawab Mavin langsung disertai senyum yang malah membuat Astan bergidik ngeri.


“Menyamar, huh….?” Astan bersedekap. “Jadi, kau kemari dengan temanmu juga?”


“Wakilku. Dia sedang bersama Wakil Ketua Guild sekarang.”

__ADS_1


Astan mengangguk paham.


“Noah bilang, kau mencariku. Ada perlu apa?”


Dari cara bicaranya, Mavin bisa menebak kalau sosok Astan di hadapannya ini merupakan orang yang cukup tidak sopan. Ketika semua orang memanggil Noah dengan sebutan Wakil Ketua, dia malah langsung menyebut namanya. Dari gelagatnya yang acuh tak acuh, sepertinya Astan sama sekali tidak ada niatan untuk bicara sopan di hadapan seorang komandan batalion. Dia langsung berucap ‘aku-kau’ bukan ‘saya-Anda’.


“Sekali lagi kutanya,” lanjut Astan, “Kau bilang ‘kita bertemu lagi’, apa benar kita pernah bertemu sebelumnya? Kau mencurigakan saat memanggilku dengan nama kecilku. Bagaimana kau tahu?”


“Oh.” Dengan tenang Mavin menjawab, “Kalau aku tidak tahu, tentu aku tidak punya alasan apapun untuk bertemu denganmu sekarang.”


Baiklah. Ini jadi semakin membingungkan Astan.


Mavin nampak meraih ponselnya dari saku pakaian, mencoba mencari data yang hendak ia tunjukan pada Astan. Selama itu pula, Astan mencoba membaca data Sistem AutoTerra milik Mavin.


[Objek : Tidak terdeteksi Sistem]


Namun anehnya, Sistem AutoTerra Astan sama sekali tidak membaca adanya data sistem milik Mavin. Kalau benar dia anggota militer, seharusnya dia punya Sistem AutoTerra.


Sebelumnya, militer sendiri juga wajib memiliki Sistem AutoTerra. Setiap prajurit yang telah lulus Akademi Militer diwajibkan menggunakan sistem untuk membantu meningkatkan pengalaman bertarung mereka.


Jadi, Sistem AutoTerra khusus dipasangkan pada semua orang dari profesi tertentu yang mengharuskan mereka untuk ikut dalam suatu pertarungan, seperti pemburu dan prajurit militer.


Sekilas Mavin melirik, menaikan sebelah alis sambil menyunggingkan senyum kecil. “Kenapa? Tidak bisa mengintip? Data sistemku disamarkan agar para pemburu di sini tidak mudah mengetahui identitasku. Jadi, sistemmu akan mengagap kalau aku hanya orang biasa tanpa sistem.”


Memang ada baiknya untuk menyamarkan data sistem dalam situasi seperti yang dihadapi Mavin saat ini. Pasalnya, Sistem AutoTerra manapun bakal otomatis mendeteksi data milik musuh baru atau orang lain kalau notifikasinya tidak dimatikan oleh pengguna.


“Astaga….” Astan menopang dagu. “Aku jadi minder berhadapan dengan salah satu orang penting di instansi militer.”


Mavin terkekeh, “Hehe…. Jangan begitu. Santai saja kalau di hadapanku. Aku takkan melakukan kekerasan apapun padamu, hanya sekedar bertanya.”


“Sungguh?”


“Ya.” Mavin masih mencari data di ponsel canggihnya. “Tapi kalau kau macam-macam, minimal kujedotin kepalamu sampai nyangkut ke tembok itu.”


“Hahaha….”


Keduanya saling tertawa. Walau suasana di ruang remang-remang ini tidak secanggung yang dibayangkan, tetap saja Astan tak boleh menurunkan kewaspadaannya di hadapan anggota militer yang mencurigakan ini.


“Baiklah. Langsung ke intinya saja,” kata Mavin mulai serius. “Alasanku mencarimu karena ini.”


Mavin menggeser ponselnya ke tengah meja, mengaktifkan mode layar hologram di hadapan Astan. Dari layar itu, Mavin memperlihatkan perbandingan dua data diri dari sumber yang berbeda.

__ADS_1


Astan membelalak terkejut melihatnya. Di sana ada data dirinya sebagai pemburu ;


Astan Pradipta Cornell, pemburu Pangkat Besi level 9, dan jarang melakukan aktivitas berburu.


Namun bukan data dirinya ini yang membuat Astan terkejut, melainkan data sebelahnya yang memiliki foto wajah hampir sama dengan dirinya. Hanya saja, tampilannya berbeda karena yang ini memakai seragam militer antariksa, rambut jingga potongan rapi, mata kuning bulat, disertai senyum dan tidak memiliki luka apapun di wajah.


Astan Pradipta Cornell, prajurit Pangkat Emas level 67. Wakil Ketua Unit Liston03. Dan di sana tertera jejeran keaktifan dan keterlibatannya dalam banyak misi di instansi militer.


“Apa yang—.”


Astan hampir kehabisan kata-kata. Ia sama sekali tak percaya jika data orang dari militer ini mirip sekali dengan wajahnya, apalagi orang tersebut memiliki nama yang sama persis dengan namanya.


“Heh….”


Astan memalingkan muka, terkekeh sesaat antara lucu, ironis, dan bingung.


“Apa maksudmu, ‘Komandan’…?” tekan Astan. “Kau membanding-bandingkan dataku dengan data orang ini hanya karena rupa dan nama kami mirip?”


Hanya?


Kata itu malah membuat Mavin memijit pelipisnya. Mavin gemas sekali menanyai pria bermata heterokrom ini.


Apa Astan sama sekali tidak sadar bahwa data di samping itu adalah data dirinya?! Itulah yang dipikirkan Mavin sekarang.


Oke, mungkin Mavin masih terlalu yakin bahwa Astan adalah orang yang sama dengan Ash, sosok pada data diri versi militer. Oleh karena itu, Mavin masih harus mencari tahu kebenarannya dengan cara menginterogasi Astan.


“Apa itu alasanmu mencariku?” tebak Astan.


Sebelumnya, Mavin menarik nafas dulu sebelum ia menjawab dengan tegas.


“Benar. Kemarin, pihak Guild menyerahkan data-data seluruh penghuni kapal serta Guild untuk nanti diserahkan kepada Pemerintah Abramo. Saat itu pula, aku tak sengaja melihat data dirimu dan mencoba membandingkannya dengan data diri salah satu anggota militer yang dinyatakan hilang dalam insiden kecelakaan di Kapal Feron 072.”


“Karena aku mengira orang ini adalah kau, maka aku dan rekanku segera pergi kemari untuk bertemu denganmu, memastikan apakah benar kau adalah anggota militer yang hilang ini. Aku takkan bersikeras memaksamu untuk mengakui kalau kau merupakan orang ini jika menurutmu kalian orang yang berbeda. Aku hanya sempat berpikir, mungkin saja kau saudara atau kerabatnya yang—.”


“Itu tidak mu— Tunggu.”


Ada perasaan tak enak mulai menyelimuti pikiran Astan. Awalnya, Astan tak terima kalau dirinya dicari hanya karena kemiripannya dengan sosok yang sama sekali tidak Astan kenal. Tapi ketika mendengar jawaban Mavin, Astan jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada sosok ini, sebab mengapa orang yang mirip dengannya hilang.


“Orang yang mirip denganku ini kau bilang hilang di sebuah kapal? Kapal antariksa, kah?”


Mavin berpikir sejenak, sepertinya Astan mulai tertarik untuk mengetahui topik ini.

__ADS_1


Haruskah ia cerita?


...~*~*~*~...


__ADS_2