AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 62 : Serbuan Monster 3


__ADS_3

“Daren!!!”


Sadin berlari menuju pinggir jembatan. Matanya ngeri melihat sosok Daren sudah lenyap, jatuh ke dasar mesin Inti Kapal yang bersinar kejinggaan akibat pemanasan mesin sudah diaktifkan. Dirinya tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada tubuh Daren di sana.


Mati jatuh ke dasar mesin panas dengan kumpulan lintah terus menempel menggerogoti tubuh seseorang. Siapapun enggan mati dengan cara semengenaskan itu.


“Ma-maaf, Daren….” Sadin menunduk, kedua tangan terkepal erat hingga bergetar sendiri. “Semoga kau tenang di sisi Tuhan.”


Pandangan Sadin beralih ke rombongan Barkata, nampak makin banyak bermunculan dari setiap lubang tembok. Di belakangnya juga ada beberapa monster Leechesta berusaha berjalan hendak menggapai Sadin.


Berusaha menahan emosi dan rasa sedihnya, Sadin berlari ke depan, mengambil Inti Kristal milik Daren yang tergeletak di lantai.


“Salahku sendiri gegabah bertindak,” desis Sadin pada dirinya sendiri. “Invisible!”


[Invisible Type-3 : Aktif]


Seluruh tubuh Sadin langsung hilang. Para Barkata pun kebingungan karena tak merasakan tanda-tanda kehadiran Sadin lagi.


Andai saja Sadin hanya mengaktifkan Invisible Tipe-1, monster sejenis Barkata masih bisa merasakan kehadirannya lewat getaran dan suhu, tingkat Kemampuan Invisible itu hanya bisa menghilangkan tubuh pengguna dari pandangan makhluk lain, tapi keberadaannya masih bisa dirasakan dan disentuh.


Namun dengan tingkat lanjutan ketiga, Sadin bisa menghilangkan seluruh tubuhnya, keberadaannya takkan bisa diketahui lewat jenis indra apa pun, bahkan tubuhnya mampu menembus objek lain seperti hantu.


Sejak tadi, Zered terus berusaha melindungi Sadin dan Daren dari serangan Barkata. Namun soal Leechesta, dia tak berani menembak karena berisiko menyemburkan banyak lintah kemana-mana.


Zered turut bersedih atas gugurnya Daren dalam misi mereka. Kalau saja dia atau pun prajurit lainnya bisa memberi peringatan lebih dini pada Daren untuk tidak menembak Leechesta, pasti Daren tidak akan berakhir seperti ini. Apalah daya, semua prajurit kerepotan dengan tugas mereka masing-masing, sampai-sampai hampir tak memperhatikan rekan mereka yang kesulitan.


Dengan berat hati, Zered menyampaikan kabar lewat komunikasi pada helm, “Maaf. Daren telah gugur.”


Semua prajurit tersentak mendengar kabar duka itu, bahkan Astan yang masih menembak bersama Tenma di tengah jembatan juga ikut terkejut. Hanya saja, ekspresi Astan kembali datar dan fokus menembak rombongan Barkata lagi.


Astan tahu ini merupakan kabar duka. Tapi, bukan saatnya untuk berlarut dalam kesedihan.


Kedua tangan Edrick makin erat memegang senapannya saat sempat berusaha membantu rekan-rekannya menembak monster-monster Barkata.


Lagi-lagi satu prajurit telah gugur. Kalau situasinya seberat ini, tidak heran jika banyak personel tim militer terdahulu tewas di kapal ini.


“Daren tewas…?” Bery yang mendengar kabar itu mulai berekspresi tak nyaman. “Lalu, bagaimana dengan Sadin? Dia sendirian di jembatan kiri!”


“Sa—.”


“Aku baik-baik. Jangan pikirkan nasibku.”


Ucapan Edrick terpotong saat mendengar suara Sadin dari komunikasi dalam helm. Dia lega Sadin baik-baik saja.


Di jalur jembatan kiri, Sadin berusaha menerobos kawanan Barkata dan beberapa Leechesta dengan Kemampuan Invisible. Monster mana pun sama sekali tidak merasakan keberadaannya, mereka fokus berlari menuju ruang kontrol.


“Lalu, dimana kau? Aku tidak melihatmu di jembatan kiri?” tanya Zered pada komunikasi helm saat matanya berusaha mencari keberadaan Sadin lewat teleskop senapan.


Masih sambil berlari menerobos para monster, Sadin menjawab, “Aku menggunakan Kemampuan Invisible. Jadi, tidak usah memikirkan nasibku. Aku akan segera memasang Inti Kristal ke Bilik B, dan seterusnya ke Bilik C.”


“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?” tanya Edrick. “Satu prajurit akan datang membantumu.”


“Jangan khawatir. Justru sangat tidak memungkinkan untuk mengirimkan prajurit ke jalur sini. Jembatannya makin dipadati berbagai monster, dan mereka semua sekarang fokus menyerbu ruang kontrol. Kalian perlu makin berhati-hati.”


Edrick berpindah dari sisi area ruang kontrol kanan ke sebelah kiri, terdapat Bery dan Lavisto kewalahan menembak gerombolan monster, bahkan Bery sudah mulai kelelahan mengaktifkan Shield di depan tembok besi.


Sadin benar. Jumlah monster di sebelah kiri terlihat semakin banyak karena tidak ada yang menahan. Daren sudah mati, Sadin menggunakan kemampuan menghilangnya agar tidak diketahui para monster dan fokus pada pemasangan Inti Kristal. Sedangkan di sebelah kanan jumlahnya tidak sebanyak di sebelah kiri karena ada Astan dan Tenma masih tertahan di tengah jembatan.


Edrick pun menuruni tangga ruang kontrol, membantu Bery dan Lavisto menembak monster-monster dari balik tembok besi.


“Ketua…?” ucap Bery terdengar agak lesu saat melihat keberadaan Edrick.

__ADS_1


“Kau beristirahatlah sejenak, buka saja perisainya.”


“A-apa? Tapi, Ketua—.”


“Kau sudah bekerja keras, biarkan aku menggantikanmu sampai prajurit lain memberi kabar atas izin akses generator ke mesin Inti Kapal. Aku juga akan menggunakan Program Kemampuan untuk mengahabisi mereka.”


Ini tidak bisa dibiarkan. Bery tidak ingin sang ketua banyak menghabiskan energinya untuk membantu mereka dan menggunakan Program Kemampuan lagi. Setahunya, Program Kemampuan jauh lebih banyak memakan energi sistem ketimbang Kemampuan Umum.


Bery akan kembali membantu. Oleh sebab itu, lewat perintah pikirannya muncul sebuah jarum suntik di dalam zirah, menyuntikan cairan pemulih energi pada pergelangan tangannya. Kini Bery sudah kembali bugar dan siap membantu berperang.


“Ketua, saya—.”


“Tidak! Biarpun kau menggunakan pemulih energi, kau tetap perlu istirahat betul-betul.”


Percuma membantah, keputusan ketua sudah mutlak. Apa boleh buat? Terpaksa Bery mengistirahatkan dirinya sejenak di balik tembok walau tak nyaman rasanya ketika melihat rekan-rekan tim berjuang.


Mungkin istirahat beberapa menit tidak jadi masalah.


“Bagaimana perkembanganmu di sana, Sadin?” tanya Edrick lewat komunikasi sambil terus menembaki monster.


Sosok Sadin sudah semakin mendekat ke Bilik B. Dia berlari menaiki tangga, memasuki bilik tak berdaun pintu itu. Di tengah-tengah bilik, terlihat satu mesin berbentuk hampir menyerupai meja metal, sama seperti yang ada di tengah ruang kontrol. Itu adalah mesin generator, tempat untuk mengaktifkan energi Inti Kristal.


“Aku sudah sampai.”


Sadin mendekati meja itu, berusaha menarik pengait pegangan untuk menarik tabung Inti Kristal dari dalam mesin. Tapi percuma, tarikannya macet.


“Aku kesulitan menarik keluar tabungnya.”


Edrick menjawab, “Beberapa komponen mesinnya rusak. Kau bisa memperbaikinya?”


Sadin berjongkok, membuka pintu kecil pada mesin generator. Seperti yang dikatakan sang ketua, ada beberapa komponen mesin yang rusak. Tapi semua kerusakan itu tidak begitu parah, hanya rusak karena lama tidak digunakan. Setidaknya, masih bisa diperbaiki dengan mudah.


“Tentu,” jawab Sadin singkat, mulai memperbaiki mesin itu.


….


“Ergh…. Jumlah mereka benar-benar makin banyak,” desis Edrick saat terus menembak bersama Lavisto. “Terpaksa aku harus menggunakannya lagi.”


“IRN 3932 : Pasak Besi!”


Seketika muncul belasan pasak besi berukuran besar dari dalam lantai, menusuk tubuh monster-monster yang hendak mendekat. Walau tidak bisa membunuh semua monster, setidaknya bisa menahan mereka untuk tidak mendekati ruang kontrol.


“Itu jauh lebih mending ketimbang meledakan granat,” ucap Lavisto kagum dengan kemampuan hebat sang ketua.


Biarpun sudah memasang banyak pasak besi, monster-monster masih tetap berusaha menerobos pertahanan mereka, berusaha mencabut dan menghancurkannya. Jenis Barkata lain juga ada yang sengaja meledakan kepalanya agar bisa menghancurkan pasak-pasak besi itu.


“Setidaknya, itu cukup untuk menahan mereka.” Edrick bertanya pada Irawan dan Farhan yang berjaga di bagian kanan lewat komunikasi helm. “Bagaimana di sebelah sana? Apa aku perlu membantu menggunakan Program Kemampuan?”


“Tidak perlu, Ketua. Kami masih bisa mengatasinya,” jawab Farhan. “Hanya saja, Astan dan Tenma masih tertahan di tengah jalan.”


Edrick tersentak, dia baru ingat kalau ada Tenma dan Astan masih berjuang di tengah jembatan kanan. Kalau saja Edrick bisa membantu menggunakan Program Kemampuan. Tapi sayang, jarak atau radius dari Program Kemampuan Pangkat Emas cukup terbatas. Dengan jarak dari ruang kontrol ke tempat kedua prajurit itu berada, mustahil Edrick bisa membantu.


“Semoga mereka baik-baik saja di sana,” gumamnya terus lanjut menembak.


….


Astan dan Tenma makin kesal dengan jumlah Barkata yang makin banyak mengepung mereka, menutup jalan menuju Bilik E. Mereka hanya bisa terus menembak, berharap jumlahnya makin berkurang.


“Kalau seperti ini, kita tidak akan bisa mencapai bilik generator.” Tenma mengisi amunisinya selagi Astan menembak di samping.


“Begini saja, Tenma. Kau pergilah duluan ke Bilik E. Aku akan berusaha menahan mereka.”

__ADS_1


“Kau yakin? Jalannya ketutup rombongan monster.”


“Kudengar dari Ketua, kita masih bisa menggunakan granat, tapi jangan terlalu sering. Aku akan melemparkan granat untuk membuka jalan agar kau bisa lewat,” saran Astan.


“Woalah…! Kenapa kagak bilang dari tadi. Ketahan lama kita di sini,” omel Tenma jengkel.


Astan sedikit mencibir, “Ya, maaf…. Saya ‘mah lebih ngandelin otot dari pada otak. Keseringan ngandelin otak bikin kita puyeng. Entar cepat pikun, pulak.”


Dari balik helm, Tenma memasang wajah datar. Kalau saja tidak di tengah pertempuran dan bukan rekan satu tim, pasti sudah Tenma jatuhkan Astan ke dasar mesin Inti Kapal.


Biar dibakar sekalian sama otaknya yang enggak guna itu.


Setelah mengganti magazine, Astan mengeluarkan granat dari penyimpanan sistem, menekan tombol pemicu, lalu melemparkannya ke rombongan Barkata, membuat sebagian jalan di jembatan itu mulai lenggang sampai ada Barkata lain berdatangan dari kejauhan.


“Sekarang saatnya, Tenma! Cepat pergi ke Bilik E! Entar jalannya ketutupan Barkata lage!” teriak Astan heboh sambil menembak beberapa Barkata yang tersisa.


“A-anu, Astan…”


“Heh?”


Tenma menunjuk ke arah sebaliknya, “Yang digranat di sebelah sini, bukan di sebelah situ. Di situ jalan ke ruang kontrol, lho.”


Astan melihat ke arah tunjuk Tenma, di sana memang arah menuju Bilik E, sedangkan arah ia melempar granat adalah jalan balik menuju ruang kontrol.


“Woalah! Aku plin-plan?!”


“Makanya! Itu otak disekolahin! Kau itu lulusan Akmil jalur beasiswa orang dalem atau gimana, seh?!” omel Tenma udah emosi sampai keubun-ubun.


Gini-gini amat nasib Tenma punya patner. Heran aja, kenapa manusia satu ini bisa panjang umur sampai sekarang dengan kebodohan tak terhingga itu.


“Ya, sudah. Enggak apa-apa kelempar satu granat lagi?”


Astan kembali melemparkan granat lain, kini lemparannya sudah ke arah yang benar.


“Cepat pergi! Aku bakal menyusul.”


Tenma mengangguk, “Baik.”


Tenma mengganti senjata pistol mitraliurnya dengan senjata kedua, yaitu Shotgun. Prajurit itu segera berlari ketika jalur yang digranat sudah lenggang dari rombongan Barkata, menembak beberapa yang tersisa sambil terus berlari menuju Bilik E.


“Bagus,” ucap Astan ketika sempat melihat Tenma pergi.


Astan juga berusaha menyusul di saat jalur jembatan masih lenggang. Tapi seperti yang telah diperkirakan, jalur itu mulai menyempit ketika banyak Barkata kembali mengepungnya.


“Sudah kuduga, mereka akan— Argh! Apa yang….”


Astan kesulitan mengendalikan tubuhnya. Tubuhnya mulai kaku, keras, dan sulit digerakan. Kepalanya juga terasa sangat pusing ketika tak sengaja matanya melihat satu mata dari objek di tengah-tengah rombongan Barkata.


Objek itu merupakan sosok berpakaian putih dengan rambut panjang menutupi hampir seluruh wajah. Namun cukup nampak sebuah bola mata besar bergerak-gerak dari dalam mulut makhluk itu, menghipnotis pikiran siapa pun yang melihatnya.


[Julukan : Illusionist-E]


[Jenis : Monster]


[Sifat : Pasif]


[Status : Danger]


[Peringatan : Mampu melukai korban lewat tatapan mata. Sekali terkena akan membuat korban mengalami luka dalam yang sangat parah]


“Si-sialan….”

__ADS_1


Astan benci situasi seperti ini.


...~*~*~*~...


__ADS_2