AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 79 : Tenma (?) VS Astan dan Edrick


__ADS_3

Reaksi yang terjadi pada Astan sungguh membuat dirinya mengalami kelelahan mendadak. Aura-aura di sekitarnya tadi mungkin saja sebagian dari kekuatan yang sulit ditahan oleh Sistem AutoTerra. Semua itu disebabkan karena paksaan dari Sistem Re:Set.


Kini faktanya, Astan memiliki dua sistem. Ini sangat menjengkelkan bagi orang yang tidak mau repot seperti Astan.


Melihat keadaan lelah yang dialami Astan saat ini, Tenma tidak menyianyiakan kesempatan. Segera ia menembak Astan menggunakan pistol mitraliur.


Menyadari ada serangan dadakan, reflek Astan menghindar. Ketika Tenma semakin menembak Astan, pria berambut jingga itu segera berlari cepat ke samping untuk menghindarinya.


Sambil terus menembak, Tenma menegaskan, “Kau tidak akan bisa lari, Astan! Aku hanya perlu melumpuhkanmu agar bisa membawamu pada masterku!”


“Dalam mimpimu!”


“IRN 3932 : Pasak Besi!”


Di bawah posisi Tenma, muncul belasan pasak besi hendak menusuknya. Beruntung Tenma sempat menghindar dengan salto jauh ke belakang. Ketika di posisi mendarat, Tenma mengangkat kepala, melihat sosok Edrick dari kejauhan dengan tangan bersirkuit sistem melapisinya. Rupanya, sang ketua berusaha menyerangnya menggunakan Program Kemampuan yang hanya bisa digunakan oleh pengguna sistem Pangkat Emas.


Sangat tidak beruntung posisi Tenma saat ini. Pangkat aslinya pada Sistem AutoTerra masih perak menengah, tidak sanggup untuk meretas Program Kemampuan Edrick walau mampu menggunakan Kemampuan Hack Tipe-5 sekalipun.


Kedua tangan Edrick menciptakan dua tombak besi, satunya ia lemparkan ke arah Astan hingga pria itu berhasil menangkapnya dengan mudah.


“Dia tidak bisa meretas Program Kemampuan punyaku. Jadi, aku bisa membantumu dengan menggunakan kekuatan ini,” jelas Edrick serius pada Astan. “Tapi, kita harus cepat membereskannya. Energi tubuhku cepat habis kalau menggunakan Program Kemampuan.”


Astan menyeringai di balik helm. “Kau tidak perlu menggunakan terlalu banyak energi untuk Program Kemampuan, Ketua.” Ia mengambil posisi siap bertarung menggunakan tombak besi. “Cukup serang dia dengan kekuatan fisik.”


Astan melesat cepat ke arah Tenma. Segera sang musuh menembaki Astan selagi melesat, tapi dengan sigap Astan menepis semua peluru-peluru itu dengan putaran tombak sambil melesat kencang.


Astan mencoba memukul Tenma menggunakan tombak besi, tapi bisa ditahan menggunakan pistol mitraliur. Bunyi pukulan tombak besi dengan badan pistol mitraliur yang menahannya menggema nyaring.


Tak sampai di situ, Astan berkali-kali memberi serangan pada Tenma dengan berbagai gerakan cepat, memukul, menusuk, bahkan memukul dengan gerakan memutar. Semua gerakan itu ia lakukan dengan sangat lincah, nampak seperti sudah sangat terbiasa bertarung dengan gaya begini.


Tenma juga beberapa kali menghindar, menembak lincah sambil melakukan beberapa gerakan akrobat. Sayangnya, semua tembakan itu banyak yang bisa ditepis tombak Astan.


Untuk kesekian kali, tombak Astan dan badan pistol Tenma kembali saling menahan, saling mendorong satu sama lain.


“Katakan! Siapa mastermu?! Siapa orang-orang yang memberi perintah padamu untuk membawaku dan sampel Sistem Re:Set?!” Astan semakin menekan badan tombaknya.


Tenma berusaha menahan, hendak balas mondorong pistolnya. “Kau… kau akan tahu jika ikut denganku.”


“Bedebah!”

__ADS_1


Dari belakang Tenma, sosok Edrick tiba-tiba muncul, memberi serangan pukulan di bagian kaki Tenma. Spontan Tenma injak tombak itu sebelum mengenai kakinya, ditahan keras agar Edrick tak bisa menariknya.


“Mencoba memukulku, Ketua?” ucap Tenma mengintimidasi.


Dari depan, Astan berusaha menombak Tenma, tapi penghianat itu bergeser ke samping, sehingga tombak tersebut hampir mengenai Edrick yang masih berada di belakang Tenma. Mungkin tinggal beberapa senti lagi bakal kena helm kalau saja tidak segera ditahan Astan.


“Ops. Maaf,” gumam Astan pada Edrick, sedikit tersentak.


Tenma menendang tombak Edrick yang diinjaknya hingga membuat sang ketua terhuyung ke belakang, dan menendang tombak Astan juga sampai mental ke atas, lalu melompat menjauhi mereka.


Setelah dirasa lepas dari kepungan keduanya, Tenma kembali menembak Astan dan Edrick. Dari kejauhan, Astan berusaha menghindar sambil kembali menangkap tombaknya, sedangkan Edrick langsung menyerang lagi.


Pertarungan antara Edrick dan Tenma pun terjadi. Edrick berusaha memukul berkali-kali menggunakan tombak. Tenma menangkis semua serangan sambil memutar-mutar pistolnya dan ditembakkan beberapa kali.


“Mati saja kau ke neraka, Bajingan!”


Tombak Astan dilesatkan ke arah Tenma. Tentu Tenma mampu menghindar, membuat tombak itu malah menancap di lantai.


Astan melesat cepat ke posisi Tenma dan Edrick bertarung, menarik tombaknya kembali dari lantai, lalu ikut bergabung melawan Tenma.


Keduanya terus melawan Tenma menggunakan tombak, Tenma sendiri berusaha menghindar sambil balas menyerang dengan berbagai tembakan. Semua pertarungan itu dilakukan dengan kelincahan gerakan tidak manusiawi. Ketiganya sama-sama kuat.


“Kau ingin selamat?” remeh Edrick.


“Nyawa dibayar nyawa, Bung!” tegas Astan.


Edrick dan Astan membenturkan tombak mereka bersamaan menyerupai jepitan gunting agar bisa menjepit kepala Tenma. Segera Tenma berjongkok menghindarinya. Kemudian, Tenma jungkir balik ke depan, memukul lipatan belakang lutut Astan menggunakan badan pistol sampai Astan kehilangan keseimbangan, lalu melambungkan keras pistolnya ke udara sehingga berhasil mengenai dagu helm Edrick.


Ketika pistol itu ditangkap, Tenma menodongkannya ke arah Edrick, menarik pelatuknya kembali. Sayangnya, cuma terdengar bunyi ‘cklek-cklek’ beberapa kali, pertanda pelurunya habis, amunisi pun kosong di penyimpanan sistem.


“Meh.” Tenma memperhatikan pistolnya sejenak. “Tidak berguna.”


Baru saja Astan berusaha bangkit setelah hilang keseimbangan, dirinya hampir oleng kembali gara-gara Tenma melemparkan pistol kosongnya mengenai bahu Astan dengan cukup keras.


“Sini kau, penghianat!”


Edrick kembali menyerang Tenma. Sebelum Edrick mendekat, Tenma mengeluarkan shotgun dari penyimpanan sistem, langsung menembak Edrick saat itu juga. Reflek Edrick menghindar dan semakin mundur menghindari tembakan shotgun.


Peluru-peluru dari pistol seperti tadi mungkin masih bisa ditangkis, tapi tidak dengan shotgun yang memiliki daya ledak kuat.

__ADS_1


“Kali ini, kalian tidak akan bisa menyentuhku,” ucap Tenma sambil mengokang shotgun.


Tenma mulai menembak dengan mengambil jarak agak dekat pada Edrick maupun Astan. Keduanya hanya bisa memencar, mundur, dan menghindari setiap serangan sambil memikirkan tindakan apa yang harus mereka lakukan untuk melumpuhkan Tenma palsu.


Untuk tembakan kesekian kalinya, Tenma fokus memberi serangan pada Edrick. Selama menghindari setiap serangan shotgun, Edrick berusaha mencari celah agar bisa balas menyerangnya.


Ketika celah itu ditemukan, yaitu saat Tenma mengisi ulang shotgun-nya tanpa waspada, Edrick langsung menusuk senjata tembak itu hingga tertancap di ujung tombak.


“Kau—.”


Edrick tidak memberi kesempatan tuk Tenma berucap. Dengan bongkahan shotgun masih menancap ditombak, sang ketua berhasil memukul-mukul tubuh Tenma. Kini pria penghianat itu tak bisa berkutik lagi. Semua senjatanya sudah tidak ada, bahkan dia sama sekali tidak punya senjata jarak dekat seperti belati atau semacamnya.


Sayang sekali, Tenma palsu tidak beruntung.


“Ergh!”


Dari serangan kesekian kali, Edrick menusuk kaki kanan Tenma sampai menempel di lantai. Jauh di belakang Edrick, Astan mengambil kesempatan tuk ikut melancarkan serangan.


“Kau tidak akan semudah itu lolos,” gumam Astan, lalu memberi peringatan pada Edrick. “Minggir, Ketua!”


Astan mengambil ancang-ancang, segera ia lesatkan tombak besinya sekeras mungkin ke arah Tenma. Edrick menghindar ke samping, membuat lesatan tombak itu berhasil mengenai pergelangan tangan kanan Tenma.


“Argh!”


Astan melesat kencang melewati Edrick, menendang dada Tenma menggunakan kedua kakinya sekaligus. Tenma pun berhasil tumbang, terbaring di lantai ruang komando itu. Agar semakin tidak bisa bergerak, Astan menahan tangan kiri Tenma dengan menginjaknya keras.


Sekarang, Tenma benar-benar terpojok. Sekalipun ia meronta berusaha melepaskan diri, hal itu tidak akan berhasil membuatnya bebas. Bahkan untuk kembali bertarung pun sepertinya tidak bisa.


Tak disangka jika dua orang di hadapannya ini cukup kuat. Dia kira dengan apa yang selama ini diberikan oleh orang-orang dari sang master akan membuat dirinya bisa lebih kuat dari pangkat aslinya sekarang.


“Astan!”


Di belakang Astan, Edrick melemparkan senapan serbu yang sempat dilemparkan Astan untuk menyerang kepala Tenma tadi. Dengan santai Astan menangkap senjata tersebut, masih di posisi berdiri menginjak tangan Tenma.


“Efek Kemampuan Hack-nya sudah hilang. Sekarang, kita sudah bisa menggunakan senjata dari sistem.”


Astan mengangguk sebagai balasan. Kini sang pemburu menodongkan moncong senapannya tepat ke hadapan Tenma. Matanya menatap tajam sang musuh. Amarah masih bergejolak, tapi berusaha Astan tahan agar bisa fokus mengintimidasinya.


“Katakan, siapa mastermu?”

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2