AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 30 : Pamit


__ADS_3

“Argh…!”


Astan menggeram frustasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menolong keduanya.


[Mengaktifkan Sistem Pembaca Refleks Saraf]


[Shield Type-1 : Aktif]


Astan melesat ke arah Arni dan Grim, memeluk keduanya, melindungi mereka dari serangan tembakan ketiga pemburu menggunakan Kemampuan Shield yang diaktifkan secara otomatis oleh sistem.


Grim dan Arni tentu berhasil selamat, tapi tubuh Astan mengalami sedikit luka akibat kena tembakan. Shield milik Astan memang bisa melindunginya, tapi yang menyerang Astan ini merupakan pemburu berpangkat Perunggu, lebih tinggi di atas pangkatnya. Kalau saja yang menyerang cuma satu orang, mungkin Shield-nya masih bisa bertahan.


“Bang Astan, kau terluka?!”


“Ketua…?”


Keduanya panik saat menemukan luka-luka kecil di punggung telanjang Astan akibat serangan tembakan mereka bertiga. Syukurlah, Astan bisa berdiri tegap, nampak baik-baik saja.


“Sudahlah….” Astan mengibaskan tangan sesaat setelah melepas pelukannya. “Cuma luka-luka kecil doang akibat Shield ditembus sedikit.”


“Tapi, kau tadi juga—.”


“Gini, biar aku saja yang urus tiga biji orang itu. Kalian, diem.”


Astan memang mengatakan itu disertai senyum. Namun Arni dan Grim yakin senyum itu merupakan senyum mengancam disertai perasaan kesal yang berusaha ia tahan.


Mereka berdua hanya bisa diam sesuai perintah Astan. Seperti anak-anak kecil yang baru saja dinasihati bapaknya, kalau berani membantah langsung kena pecut sabuk celana.


“Jadi… begini, saudara-saudaraku.”


Astan berusaha bicara setenang mungkin. Sesekali ia saling memainkan jari-jemarinya sendiri.


“Kami, hanyalah Pangkat Besi. Sedangkan kalian, Pangkat Perunggu. Level kalian pun tentu jauh lebih tinggi dari kami. Oleh karena itu….” Astan mengangkat kedua tangannya santai. “Kami pamit undur diri saja, ya…. Pemburu lemah seperti kami mana bisa bersaing dengan pemburu kuat seperti kalian…?”


“Apa maksudmu?!” Miza tak terima. “Kalian mau kabur dari tanggung jawab? Kami masih menuntut ganti rugi atas kehilangan Score Bonus kami!”


“Kalau kalian mau masalah ini bisa diselesaikan, monggo, dilapor ke pihak Guild. Pasti pihak Guild mau menangani berbagai permasalahan yang dialami oleh para pemburu, bukan?”


Sesaat ketiga pemburu itu saling tukar pandang. Diam, mulai merasa bingung harus merespon apa ketika Astan memberi saran demikian.


Dengan muka tanpa dosa, Astan kembali melanjutkan, “Kalian tidak yakin? Bukankah kalian mengaku sebagai korban di sini? Oh, oh! Atau… kalian takut kami mengadu balik bahwa kalian hendak merampas buruan kami, begitu? Enggak…. Enggak bakal. Kan kalian ‘senior kami’.”


Ketiganya masih diam. Namun Miza nampak mengeratkan kepalan tangan keras hingga buku-buku tangannya terlihat.


Karena tidak ada yang berbicara, Astan pun sudah memutuskan untuk pergi sekarang bersama Arni dan Grim.


“Oke, kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kami pamit balik dulu. Kalau beneran ingin kami ganti rugi, laporkan saja dulu pada pihak Guild. Kami pasti akan menerima segala konsekuensi yang akan kami terima jika kami terbukti bersalah.”


Astan mendorong Grim dan Arni yang nampak kebingungan pergi menjauh dari sana.


Sebelum mereka benar-benar pergi jauh, rupanya Miza menembak Astan dari belakang. Spontan Astan berbalik cepat, menangkap peluru pistol milik Miza menggunakan gigitannya.


“Ap-apa…?”


Mereka semua terkejut melihat Astan dengan mudah menangkap peluru pistol secepat itu menggunakan gigitan. Itu merupakan kemampuan di luar dugaan yang bahkan belum tentu dimiliki oleh pemburu di peringkat manapun.

__ADS_1


Itu… terlalu gereget.


Karena sudah tak tahan dengan semua ini, Astan meludah peluru itu ke arah depan kaki Miza hingga tertanam ke tanah dan menimbulkan asap tipis.


“Ayak! Ayak!” latah Rizu masih di posisinya.


“Hissh…. Itu mulut apa moncong senjata…? Tajem bener ngeludahnya,” komen Panka dengan mata melotot sambil masih menahan sakit pada luka-lukanya.


Astan menggosok mulutnya yang agak panas akibat nekat menggigit peluru. “Kan udah dibilang kami mau balik. Kalian juga mending balik aja. Teman kalian itu luka, dan kalian juga pasti udah cape setelah berburu. Ya, sudah ya. Kami pergi dulu. Dah…!”


Astan pun berjalan sambil menyeret Grim dan Arni pergi menjauhi Miza dan kawan-kawan, tak peduli dengan pandangan Grim dan Arni yang masih nampak tercengang dengan aksi Astan tadi.


Setelah Astan dan rekan-rekannya pergi, kini tinggal Miza, Rizu, dan Panka yang masih di tengah hutan sana.


“Ish! Kenapa malah dibiarin pergi?!” tanya Rizu tak terima. “Si pirang setan itu belum mengganti Score-Score kita yang ia curi. Dan aku masih perlu berurusan dengan gadis tak tahu sopan santun itu.”


“Sebaiknya kau diam, Rizu!” perintah Miza. “Kau tidak lihat apa, Panka lagi terluka?”


“Dia ‘kan baru saja minum pil penyembuh.”


Memang benar, Panka baru saja meminum pil penyembuh, sehingga luka sayat yang disebabkan Grim tadi sudah tertutup. Panka pun nampak berjalan santai menghampiri Miza.


“Memang aku minum pil penyembuh, tapi aku masih perlu memeriksakan diri ke Dek Medis karena sayatan dari Grim itu tidak main-main.” Panka bersedekap. “Dia menyerangku dengan Bug Martial yang masih aktif. Makanya, aku masih perlu penanganan yang lebih serius. Kalau dibiarkan saja, bisa jadi pendarahan.”


“Apa boleh buat? Kita balik saja juga,” saran Miza.


Rizu nampak masih heran ketika mengingat apa yang dilakukan Astan tadi.


“Kalian melihat ‘kan si Astan itu menggigit peluru yang kau tembakan, Miza?” tanya Rizu pada Miza. “Aneh enggak sih Pangkat Besi bisa sekuat itu? Si cewek juga bisa mukul aku sekeras tadi sampai mental. Agak-agak… mencurigakan mereka itu.”


“Tapi….” Miza sempat berpikir. “Kalau Astan tadi… aku sempat memeriksa datanya. Sistemku tak dapat membaca data program milik sistem Astan karena statistiknya tidak stabil.”


“Tidak stabil?” tanya Rizu heran. “Maksudnya, sistemnya kena Bug juga, sama kayak Grim?”


“Entahlah…. Awalnya sistemku masih bisa membaca data statistiknya yang masih wajar sebagai pemburu Pangkat Besi. Tapi, pas nangkep peluru tadi yang jadi tidak normal.” Miza menoleh ke Panka. “Menurutmu gimana, Pan?”


Entah mengapa tiba-tiba saja bulu kuduk Panka merinding. Ia berusaha menenangkan diri dengan mengelus-elus tengkuknya. Wajahnya juga nampak kebingungan.


“Itu….” Kemudian Panka berbisik, “Program bagian Kemampuan Hack-ku sempat kasih notifikasi tersembunyi. Katanya, ada yang berusaha meretas Sistem AutoTerra milik Astan. Dan itu… terasa mengerikan bagiku yang bisa membaca sedikit program tersembunyi lewat Hack.”


Miza terkejut mendengarnya. Selama 500 tahun manusia menggunakan Sistem AutoTerra, tak pernah ada kasus dimana sistem yang dapat ditanamkan ke dalam pikiran makhluk hidup itu mampu diretas.


Itu berarti, ada program atau sistem lain yang mampu melemahkan Sistem AutoTerra hingga membuat data-datanya tidak stabil.


Tapi, apa?


Sebenarnya, siapa atau apa Astan itu…?


...~*~*~*~...


Astan, Arni, dan Grim akhirnya sudah berjalan jauh dari ketiga pemburu tadi. Saat ini, mereka masih berada di hutan dan rencananya bakal kembali ke pesawat milik Soni untuk pulang ke Kapal Thornic 035.


Saat di perjalanan menuju pesawat, Arni sempat memulai pembicaraan.


“Bang, tadi itu kok bisa kau—Agh! Aaakh!”

__ADS_1


“Aish…. Ah! Ketua—.”


Tiba-tiba Astan menjewer telinga keduanya karena sudah makin jengkel akan tindakan mereka yang sembarangan terhadap ketiga pemburu tadi.


“Kalian ini kenapa, sih? Makin cari masalah sama mereka.”


Astan melepas jewerannya, sehingga Arni dan Grim mengelusi telinga mereka masing-masing yang sudah terasa panas serta mulai membengkak.


“Arni, kau seharusnya tidak sembarangan serang orang! Aku tahu kau jengkel soal seseorang yang menyinggung fantasi mereka buat punya Harem, tapi cobalah tahan dirimu! Dan kau, kepala pirang! Bug-mu itu aktif tak menentu. Kalau sampai itu sayatan berakibat fatal, bisa bunuh orang, tahu?!” omel Astan pada keduanya.


Arni dan Grim hanya bisa menunduk sambil terus mengelusi telinga mereka ketika mendengar Astan mengomel. Memang benar kata Astan, tidak seharusnya mereka sembarangan menyerang orang.


“Aku bilang kayak begini ke kalian karena aku enggak mau nyari-nyari perkara sama pemburu lain!” lanjut Astan. “Sudah cukup Grim yang kena masalah! Kalau sampai di antara kalian berdua masih berurusan dengan mereka, kunikahkan kalian berdua ke altar!” Lalu Astan berjalan mendahului mereka.


Tentu keduanya melotot terkejut dengan ancaman Astan. Arni pastinya gelagapan, masih belum siap untuk dinikahkan di usia yang masih sangat muda itu. Tapi kalau Grim, mukanya sudah merona.


Sesaat mata biru di balik kacamata itu sempat curi-curi lirik ke Arni. Biarpun agak cerewet, Arni anaknya baik, cakep, manis lagi.


Hmm…. Sepertinya ancaman Astan bukanlah ide yang buruk.


“Lah, Bang Astan! Jangan gitu! Aku masih belum mau nikah!” teriak Arni sambil berlari kecil menyusul Astan.


“Kalau begitu, jadilah anak yang baik. Jangan sampai bikin aku dan abangmu itu repot!”


Awalnya Astan ingin lanjut jalan, tapi ia terhenti saat sadar Grim mendadak melamun di tengah hutan. Pandangannya kosong, tapi wajah putihnya merona.


Pengen Astan tempeleng muka ngeselin Grim itu.


“Woi, Pirang!”


Grim tidak menyahut.


“Grim!”


Grim masih melamun saja.


“Grim…?!”


Grim tetap diam tidak merespon.


“GRIM SALEP!!!”


“Eh, eh?! Iya, Ketua…? Iya?”


Akhirnya Grim sadar dari lamunannya sambil memposisikan kacamatanya yang hampir melorot.


“Mau ikut balik bareng kami, kagak?” tanya Astan jengkel. “Atau balik bareng tiga orang budukan itu tadi?!”


“I-iya, iya. Aku balik bareng kalian saja.”


Grim berlari menyusul Arni dan Astan. Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan keluar dari hutan menuju pesawat angkutan milik Soni.


...~*~*~*~...


Satu chapie sehari dulu, ya. Jariku lagi keram ini. Sekalian riset pula buat ide untuk arc baru. Biasanya juga 2-4 chapie sehari, hajar. Mau kejar target, bukan dari MT/NT, tapi dari keinginanku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2