AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 69 : Belati Grade-S


__ADS_3

“Seniorku?”


Astan tak menyangka akan hal ini. Makna dari foto tersebut menunjukan bahwa Mavin dan Astan memang saling kenal sebagai senior dan junior di Akademi Militer. Satu memori yang sama sekali tidak diingat Astan muncul, semakin memperkuat bukti bahwa memang Astan dulunya merupakan seorang prajurit dan pernah belajar di salah satu Akademi Militer.


“Sepertinya, kalian memang sudah kenal akrab sejak lama,” tebak Edrick, menyerahkan kembali foto itu pada Astan. “Mungkin itu sebabnya dia nekat memasukanmu ke dalam tim kami untuk ikut melakukan misi. Dia berharap, kau bisa mengingat sesuatu atau mendapatkan beberapa petunjuk yang berhubungan dengan masa lalumu.”


Astan melihat foto itu kembali. “Kalau itu alasannya, kenapa dia tidak jujur jika sejak awal dia tahu aku mengidap amnesia?”


“Dia tahu?” Edrick agak kaget.


“Dari ucapan dan gelagatnya, sepertinya dia tahu. Tapi, aku baru menyadarinya.” Astan mendesis, “Dia tahu dari siapa? Dan kenapa dia tidak jujur sejak awal?”


Sebenarnya, Edrick tidak ingin ikut campur masalah hubungan antara sang komandan dengan Astan. Keterlibatannya hanya sebatas memastikan keadaan Astan selama ikut mengemban misi di sini.


Namun selama menjalankan misi, Astan sering kali diam, terlihat seakan-akan bingung dengan keadaan di kapal ini. Beberapa kali Edrick memergoki Astan melamun, hampir tak fokus.


Edrick pikir, mungkin otak Astan berusaha mencari memori dari Kapal Feron 072 ini, mengumpulkan beberapa kenangan masa lalu yang sempat hilang akibat kejadian yang masih misterius.


Edrick menepuk pundak Astan. “Aku memang tidak tahu hubunganmu dengan Komandan Mavin. Cuma aku ngerasa, Komandan Mavin punya alasan tersendiri mengapa dia tidak jujur. Mungkin dia tidak ingin langsung bilang kau amnesia karena belum tentu juga kau percaya dia.”


Edrick benar. Andai saja Mavin langsung bilang kalau Astan amnesia, mana mungkin Astan percaya. Mungkin Astan akan memilih untuk langsung pergi, enggan berurusan dengan Mavin dan menganggapnya ngelantur.


Astan pikir, Mavin enggan jujur saat itu juga karena tidak ingin memaksa Astan untuk benar-benar ingat dirinya. Seseorang yang mengidap amnesia tidak bisa semerta-merta dituntut agar mengingat apa yang ia lupakan, risiko gangguan kesehatannya cukup fatal.


“Baiklah. Aku takkan memaksamu untuk mengakui bahwa kita pernah saling kenal.”


Ya, sepertinya memang itu alasannya. Mavin ingin Astan mengingat pelan memori yang ia lupakan, dan cara terbaik mengingatnya adalah ikut pergi ke Kapal Feron 072 ini. Buktinya, Astan berhasil mendapatkan benda-benda yang berhubungan dengan masa lalunya. Sayangnya, dia sama sekali tidak ingat akan hal-hal yang berhubungan dengan benda-benda itu.


Semuanya terasa hampa di pikiran Astan, seperti ada yang menghapus ingatannya tanpa sisa.


“Aku kenal betul Komandan Mavin. Dia pribadi yang bijaksana. Tidak mungkin dia punya niat terselubung untuk mempermainkanmu,” lanjut Edrick tenang, “dari foto ini saja, kita tahu Komandan Mavin mengenal baik dirimu di masa lalu. Dia pasti punya niat baik untuk menolongmu, Astan.”


Astan hanya mengangguk pelan sebagai balasan. Apapun alasan di balik ketidakjujuran Mavin, niatnya tetaplah untuk membantu Astan mengingat memori masa lalu. Entah itu karena tulus atau ada alasan lain di baliknya. Hasilnya tetap sama, tidak ada yang merasa dirugikan di sini.

__ADS_1


“Psst. Pssst.” Sosok Bery baru muncul mengintip di sisi pintu. “Dari tadi aku cari’in, rupanya pada dimari. Enggak lagi pacaran ‘kan kalian?”


“Pacaran apanya?” tanya Edrick sedikit jengkel.


“Itu….” Bery menunjuk. “Tangannya enggak dikondisikan.”


Edrick dan Astan mengikuti arah tunjuk Bery. Rupanya yang dimaksud tangan Edrick berada di pundak Astan.


Cuma gitu doang dikira pacaran, emang keterlaluan prajurit satu ini.


“Ish! Apalah sentuh-sentuh?!” Astan menepis tangan Edrick dari pundaknya. “Aku masih demen yang berlubang, bukan yang berbatang…!”


“Kanapa pula kau kira aku homo?!” omel Edrick. “Aku tadi cuma usaha nenangin. Galau mulu dari tadi kutengok kayak jamet senja.”


“Ah, sudahlah. Bukan waktunya ini buat becanda,” kata Bery mengibaskan tangannya.


“Kau yang tadi mulai mancing.” Edrick pun bertanya, “Emang kenapa tadi nyari’in? Nemu sesuatu?”


“Oh, ya sudah. Kita ke sana aja sekarang. Lebih cepat, lebih baik.”


Edrick dan Bery lebih dulu pergi meninggalkan kamar tersebut. Astan hendak menyusul, tapi dia kembali memperhatikan sebuah belati yang tadi sempat ia temukan bersama foto dan seragam dalam loker tersebut.


Astan mengambil belati itu, memperhatikan modelnya. Terlihat seperti belati kuno bermotif tradisional dengan gabungan warna merah dan jingga, eksotis dan memukau, nyaman pula dipegang di tangan.


[Senjata : Belati Dimensi Tipe-FR551]


[Grade : S]


[Warna : Merah-Jingga]


[Aksesoris : -]


[Kemampuan : Meningkatkan daya serang senjata sebesar 5%, teleportasi ke tempat belati berada]

__ADS_1


“Maksudnya?” gumam Astan saat membaca kemampuan belati ini lewat panel sistem. “Oh. Mungkin kayak gini maksudnya.” Astan menghapus panel.


Ia lemparkan belati itu ke depan sampai menancap di lantai, seketika tubuhnya berpindah ke tempat belati tersebut berada. Sayangnya, saat kemampuan teleportasinya aktif, tubuh Astan sedikit merasakan glitch. Kalau dipaksakan memakai kemampuan dari belati ini, akan berakibat buruk bagi kesehatan fisiknya.


Tangannya mengambil belati itu dari lantai, memperhatikannya kembali. “Tidak salah jika senjata ini ada di Grade-S. Cuma kayaknya ada beberapa kerusakan yang bikin kemampuannya jadi agak cacat. Masih bisa diperbaiki. Kupungut sajalah.”


Astan menyimpan belati ke penyimpanan sistem. Lumayan dia dapat senjata Grade-S gratisan walau dalam keadaan rusak, setidaknya masih sanggup ia perbaiki nanti. Toh dia juga belum punya Senjata Pendukung semenjak belatinya rusak akibat perburuan kemarin.


….


Sekarang Astan sudah menyusul Edrick dan Bery tiba di depan sebuah gerbang metal besar. Gerbang tersebut merupakan jalan tercepat menuju Dek Medis. Beruntung Bery sempat menemukannya.


“Gimana?” tanya Astan baru saja tiba menghampiri kedua rekannya.


Edrick nampak berpikir. “Aku tadi coba mengaktifkan panel kuncinya, nih.” Iseng-iseng tangannya memencet-mencet tombol panel kunci di samping gerbang. “Tapi enggak bisa nyala.”


“Jadi, enggak bisa diretas, tuh?”


“Boro-boro diretas. Listriknya mati di sini.”


Bery ikut bicara, “Mungkin karena satu bilik generator hancur, makanya ada beberapa bagian kapal yang enggak kebagian energi.”


“Terus, gimana ini?” tanya Astan. “Apa kita perlu muter?”


“Kalau muter dari sini, bakal lama. Soalnya musti lewatin Dek Publik du— Eh?”


Ada panggilan masuk dari komunikasi jarak jauh. Segera Edrick aktifkan panggilan holografik dari zirahnya, menampilkan sosok Wirma di sana.


“Jadi, butuh bantuan, Ketua?”


Edrick mengerti ucapan Wirma. Dia tahu kalau sang wakil ketua bakal bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2