B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Dua Puluh Dua


__ADS_3

San Francisco, California.


Ricard menatap sejenak layar laptopnya, seorang pelayan datang bertanya mengenai pesanannya. Ricard memesan kopi espresso tanpa gula,tanpa menatap sang pelayan. Ia terus mempelajari setiap data yang ada di laptopnya, berharap menemukan titik terang mengenai pencurian data yang menyebabkan tertangkapnya anggota Blood saat sedang bertugas. Ricard terus tenggelam dalam sistem database yang tersedia.


“ Ricard, ada apa kau menyuruh ku kemari. “


Seorang wanita dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter, berambut pirang dengan mata berwarna kuning kecoklatan, berkulit putih, dan memiliki bentuk wajah lonjong dengan tulang pipi menonjol datang menghampiri.


“ Lois, senang kau datang. “ Ricard berhenti menatap layar laptop dan berpaling ke wajah gadis di depannya.


“ Jangan katakan kau ingin mengajak ku berkencan, menurutku tempat ini tidak terlalu buruk. meski aku lebih menyukai makan malam di bawah sinar bulan. “


“ Jangan berpikiran macam-macam, bukankah Tuan Blood sudah menjelaskan semuanya padamu?. “


“ Ah.., Kate dan Andreas. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi, mereka adalah agen terbaik yang pernah ku temui. “ Lois menarik kursi, memesan kopi Robusta kemudian duduk di hadapan Ricard.


“ Aku sudah menyelidikinya, seseorang berhasil menerobos keamanan software yang ku buat. Semuanya sangat rapi bahkan aku tidak bisa melacak keberadaan mereka, semua dokumen telah sirna kecuali Data mengenai Angel dan dua Agen lainnya. “


Seorang pelayan datang menaruh pesanan di meja, setelah itu pamit undur diri.


“ Lalu?. “ ujar Lois sambil menyesap kopi di hadapannya.


“ Aku menghapusnya. “ Lois tersedak begitu mendengar keputusan Ricard.


“ Kau gila?, jika semua data dihapus kita sendiri yang akan kewalahan. “


“ kau pikir aku pria bodoh yang langsung menghapus tanpa menyalin nya. “


“ Syukurlah kalau begitu, mana Filenya?. “


“ Semuanya aman tidak perlu khawatir, dan mengenai kencan. Hari ini aku yang traktir. “ Ricard tersenyum manis sambil melepaskan kaca mata anti radiasi dan menaruhnya di meja.


Lois tersipu malu, tidak pernah ia melihat pria yang selama ini begitu dingin dapat tersenyum semanis ini. Tanpa sadar wajah Lois mulai memerah karena malu.


“ Kenapa?, apa kau demam?. “


“ Tidak aku hanya..... “


Drtttttttt......


“ Halo, ya agen 504.......Apa?, kau bergurau........... Baiklah tetap selidiki, aku berharap banyak padamu. “


“ Ada apa Lois?. “


“ Charlie tertangkap di saat tengah liburan di Hawai, Jairo juga tertangkap saat berada di Tokyo, dan Angel, ia menghilang saat dalam menjalani misi di Las Vegas. “


“ What the....., sebaiknya aku melacak nya. GPS di smartphone miliknya terhubung pada jaringan yang ku buat. “Ricard begitu panik dan bergegas melacak Angel. “ Kita harus cepat, jangan sampai dia tertangkap.”


Lois berulang kali menelepon Angel, namun nomornya tidak aktif. Saat hendak mencoba untuk yang kesekian kali, Tiba-tiba handphone Lois kembali berdering.


“Apa?........,segera urus mereka, secepatnya bawa pulang menggunakan jet pribadi.”


Lois menutup telepon di iringi dengan Ricard yang menutup laptopnya dengan wajah kesal.


“ Ada apa?. “ tanya Lois.


“ Akses jaringannya hilang, aku tidak bisa melacak GPS nya. Tempat terakhir yang ia kunjungi adalah Hotel peninsula Las Vegas, Ngomong- ngomong siapa yang menelpon.”


“ Dari agen yang ditugaskan untuk mencari Kate dan Andreas, kabar buruk. Kate ditemukan tewas oleh anjing pemburu di Tuva, sementara Andreas di temukan sekarat di sebuah peternakan di Rio de Janeiro. “


“ Sebaiknya kita bergegas, sebelum sesuatu yang buruk menimpa Angel. Perintahkan Agen Mata- mata terbaik kita, pastikan Angel dalam keadaan aman.”


Ricard membawa laptopnya, membayar sejumlah tagihan lalu bergegas menaiki mobil. Lois hanya mengekor dari belakang dengan tatapan bingung sambil mengikuti Ricard masuk ke mobil.


“ kau kemari tidak membawa mobil kan Lois.? “


“ Tidak. “

__ADS_1


“ Bagus, ada baiknya kau ikut denganku. “


Ricard menyalakan mesin, menginjak pedal, mengoper gigi dan segera meninggalkan Jane kafe dengan kecepatan penuh. Lois memandangi Ricard dengan heran, ia belum pernah melihat Ricard begitu mengkhawatirkan hal lain selain organisasi Blood. Lois ingin bertanya, namun kecepatan mobil yang kian tinggi membuat Lois memilih diam.


(Di Ruang rahasia bawah tanah Ricard.)


Pintu terbuka otomatis, Ricard segera berlari masuk ke dalam dan mengaktifkan beberapa panel listrik.


“ Ricard, mengapa kau begitu terburu-buru.? “


“ Tidak ada waktu ayah, kita harus bergegas atau nyawa kita taruhannya. “


Lois memandangi pria tua yang duduk di dekat aquarium, suara yang sebelumnya pernah ia dengar. Pria itu pun berbalik dan tersenyum kepada Lois.


“ Tuan Blood, jadi anda ayahnya. “ ujar Lois dengan sedikit terbata.


“ Bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu, ini adalah hal gawat yang pernah kita takuti dulu. Ayah, Angel. dia tertangkap. “


Mr. Blood menatap langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang.


“ Sudah kuduga, hal ini akan terjadi. Segera aktifkan GPS yang sudah ditanamkan di dalam tubuh Angel. “ ujar Mr. Blood nada tenang namun sedikit khawatir.


Ricard mengangguk, kemudian kembali tenggelam ke layar virtual yang berada di hadapannya.


“ Tuan, aku tidak bermaksud lancang. Tapi bagaimana dengan Charlie dan Jairo, mereka juga dalam masalah. Maksudku Kate di temukan meninggal sementara Andreas ditemukan sekarat. Bukankah artinya Charlie dan Jairo akan mengalami hal yang sama?. “


“ mereka bisa menunggu tetapi Angel tidak, Malaikat itu bisa berubah menjadi Malaikat maut kita nantinya. “


“ Apa maksud anda tuan?, apakah artinya Charlie dan Jairo tidak penting. “


“ bukan begitu, mereka kau bisa membantuku mengurusnya bukan. Sedangkan Angel dia berbeda, dia bukan Gadis sembarangan. Kurasa kau sudah paham akan hal ini. “


Lois mengerutkan dahi, ia merasa perlakuan Mr. Blood dan Ricard kepada Angel sangat berlebihan. Tidak bukan begitu, sejujurnya Lois cemburu, Ia tidak suka Ricard terlalu memperhatikan Angel. Lois mendesah panjang, ia kembali berusaha menelepon agen yang bertugas di bawahnya agar segera mencari tahu keberadaan Charlie dan Jairo.


“ Ayah, maafkan anakmu. GPS ditubuh Angel tidak bisa diaktifkan secara paksa, butuh waktu paling cepat dua hari untuk menyinkronkan data. Aku akan berusaha sebisanya. “


“ Bukankah itu menyalahi kontrak?, ayah kita sudah membuat kesepakatan untuk membiarkan Angel berada di bawah pengawasan DarkRiver. “


“ maafkan aku Ricard, jika boleh aku menyela. Jika memang Angel sepenting itu bagi organisasi ini tak ada salahnya bertanya, bukankah tidak tertulis di dalam Perjanjian bahwa kita tidak boleh bertanya kondisi agen kita. “


“ Lois benar, temui Arnold. Pastikan kau bertemu dengannya, jangan bagikan informasi ini pada siapa pun. Terutama Nelson, aku sungguh tidak menyukai pemuda itu. Ini berlaku juga untukmu nona Lois. “


Lois mengangguk, Ricard hanya terdiam. Bukannya tidak setuju, tetapi ia tidak menyukai DarkRiver. Karena mereka tidak pernah tahu cara menghargai orang lain.


( di salah satu gedung perkantoran di daerah pecinan.)


Tap. . . Tap... Tap......


Tok... Tok.. Tok...


“ Permisi tuan. “


“ silahkan masuk, taruh saja di sana. “


Seorang wanita yang merupakan asisten pria tersebut, berusia dua puluh tahunan memasuki ruangan berbau tembakau yang penuh dengan koleksi senjata api, dan beberapa foto kasus pembunuhan juga target pembunuhan itu sendiri yang disusun menyerupai sebuah diorama di dinding. Ia menaruh secangkir kopi dan sebuah sandwich di atas meja.


“ Apa pemuda itu sudah datang?. “ suara pria itu begitu tegas namun lembut.


“ belum tuan. “


“ Jika dia sudah datang suruh kemari. “


“ Baik. “


Wanita tersebut pergi, dan tak lama berselang seorang pemuda berkaca mata, dengan usia tak lebih dari dua puluh lima tahun masuk ke dalam ruangan.


“ Akhirnya kau datang, bagaimana apa semuanya berjalan lancar. “

__ADS_1


“ sesuai dengan prediksi, hanya saja ada beberapa data yang gagal ku dapat kan. Sepertinya Blood sudah tahu mengenai hal ini, dan Data misi Angel, aku sudah mengubahnya sesuai dengan perintah anda. Dan kita sudah berhasil menangkap empat orang Agen terhebat di BLOOD. “


“ Tersisa dua orang ternyata. Ternyata Agen mereka tak sehebat yang mereka katakan. “


“ maaf tuan, bukannya tersisa tiga?. “


“ tidak nak, tersisa dua. Yang satu justru akan berpihak kepada kita, Angel. Aku sudah membawanya ke tempat yang aman. Apa kau sudah menghapus data di smartphone nya?. “


“ sudah, aku sudah menghapusnya. Tidak ada yang bisa melacak nya. “


“ Kerja bagus anak ku, dengan begini kau bisa membayar hutang orang tuamu. “


Pemuda itu bergenyit melihat Pria di hadapannya tertawa, sejujurnya ia merasa jijik melihat pria ini. Namun orang tuanya dalam bahaya, dan itu tidak bisa di biarkan. Ia tidak mau orang tuanya mati menderita di bawah pimpinan pria tersebut.


Tok... Tok.. Tok..


Asisten wanita tersebut kembali mengetuk pintu.


“ permisi tuan, gadis tempo hari. Dia kemari. “


“ Suruh dia untuk duduk di ruang tunggu, akan ku telepon begitu urusan kami selesai. “


Wanita tersebut kembali menghilang di balik pintu.


“ Siapa dia tuan?. “


“ Malaikat, sebaiknya kau segera pergi. Aku tidak ingin merusak rencana dengan membiarkan dia melihat mu sebagai penghianat. “


Pemuda itu beranjak dari kursi dan menuruti perintah Tuannya, namun barulah ia hendak membuka pintu pria tersebut kembali memanggil.


“ Jangan melewati pintu itu, lewat lah pintu di sebelah sana. “


Pemuda tersebut heran melihat Tuannya menunjuk ke arah Rak buku.


“ Kau hanya pintar urusan komputer ternyata, tarik tuasnya. Ada pintu di sana, sebaiknya ku cepat. Malaikat tak bisa menunggu. “


Pria tersebut mengikuti saran tuannya, dan dalam hitungan detik ia menghilang ke balik lemari buku tua. Pria tersebut menelepon asisten nya meminta gadis yang sedang menunggu untuk masuk ke ruangan.


“ Selamat datang My Angel, atau bisa ku panggil Rose. “


Angel tersenyum sinis menatap pria di depannya.


‘ Lagi-lagi aku harus berurusan dengan bajingan. ‘ batin Angel.


“ Bagaimana tawaran ku tempo hari?, apa kau bersedia ikut. “


“ Sebenarnya apa maumu?. “


“ Balas dendam, sama seperti mu. “


“ Kita berbeda, tidak sama. Aku tak punya dendam pada siapa pun. “


“ Kurasa kau harus pergi ke London Untuk memastikan nya. “


“ Kita sudahi saja, aku masih punya urusan lain. “ Angel hendak berdiri dan meninggalkan tempat itu, namun Pria tersebut menahannya.


“ Minumlah dulu, aku sudah menyiapkan Wiski yang enak untukmu. “


“ Aku tidak minum Alkohol, izinkan aku pergi. “


“ Tunggu, bagaimana dengan susu coklat. Kau pasti menyukainya. “ Pria itu menatap dengan mata biru yang memohon.


“ Terakhir aku makan cokelat dan ada obat tidur di dalamnya. “


“ Obat tidur tidak akan bereaksi bila kau campurkan ke dalam susu. “


Angel muak dengan basa-basi pria tersebut, ia tetap ingin pergi. Meski berjuta pertanyaan memenuhi otaknya, ia lebih memilih untuk menghiraukannya. Angel hanya tidak mau terlibat dalam masalah. Ketika sampai di pintu tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas, ternyata pria itu menembakkan obat bius tepat di leher Angel. Dan dalam hitungan detik Angel tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2