B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh puluh Lima


__ADS_3

Nelson telah tiba lebih dulu, dia meminta Selena untuk menemuinya di sebuah hotel yang berada di North Point Street. Berjarak sekitar enam belas menit bila berjalan kaki dari cafe yang Selena kunjungi tadi.


Hotel Fairmont heritage place merupakan hotel yang menawarkan jenis kamar suite yang mewah dan elegan, sebuah suite kelas atas dengan pemandangan Teluk San Francisco ini juga berjarak enam setengah kilometer dari Jembatan Golden Gate.


Nelson memesan sebuah Suite mewah dengan satu kamar tidur dilengkapi dengan Wi-Fi gratis, TV layar datar, dan iPad, serta dapur, ruang makan, dan ruang keluarga. Di hotel ini Juga disediakan perapian, linen desainer, dan pencuci / pengering, yang membuatnya lebih mirip sebuah apartemen ketimbang kamar hotel Kamar yang ia pesan memiliki teras dengan pemandangan yang menghadap ke teluk, dan memiliki akses ke lounge pribadi.


Nelson berdiri di teras hotel sambil memandangi keindahan teluk San Fransisco, sesekali ia melirik jam tangannya sambil bergumam dalam hati.


‘Sudah hampir dua puluh menit, ke mana perginya wanita itu.’


Kini tubuhnya terasa penat karena terlalu lama berdiri, ia pun memilih untuk berbaring di kasur sambil menonton TV. Ia mengecek ponselnya dan menelepon Selena.


“Kau dimana?... Baiklah akan aku bukakan pintunya.”


Nelson beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Viola, Selena sudah berdiri di sana lengkap dengan sekotak peralatan make-up. Nelson memberi aba-aba agar ia masuk, dan Selena menurutinya.


“Aku ingin terlihat lebih tua, dan pastikan agar tidak ada yang mengenaliku bahkan anak buahku sendiri.”


“Baik tuan.”


Nelson berbaring, dan Selena mulai mendandani Nelson. Bak seorang pelukis yang mahir dalam menggoreskan kuasnya ke atas kanvas putih, tangan Selena dengan lincahnya membuat kerutan pada area tertentu. Tak lupa pula ia memakai daging palsu tambahan untuk membuat kesan bergelambir pada area wajah tertentu, Selena terus bergumam dalam hati. Ia merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Nelson di Boston, terlebih Angel dan Arnold sedang berada di sana. Sempat terpikir olehnya untuk bertanya, namun ia tidak ingin Nelson curiga padanya.


Hampir setengah jam lamanya Selena mempermak wajah Nelson.


“Apa kau sudah selesai?”


“Hampir, aku sarankan agar tuan tidak banyak bergerak. Itu akan mempengaruhi hasilnya.”


Dan sepuluh menit kemudian Nelson sudah berubah menjadi orang lain yang tak dikenal.


“Lama sekali? Haruskah selama ini hanya untuk membuatku tampak lebih tua?”


“Maafkan aku tuan, tapi seni tidak bisa dilakukan dengan sembarang. Aku harus melakukan dengan teliti dan penuh kesabaran.”

__ADS_1


Bohong.


Tentu saja Selena berbohong. Selena mampu merias wajah Nelson hanya dalam kurun waktu dua puluh menit, akan tetapi ia ingin mengulur waktu agar Nelson tiba setelah Angel dan yang lainnya pulang ke San Fransisco.


“Kalau saja kau bukan ahlinya aku pasti sudah membunuhmu.” Nelson berganti pakaian dan bergegas pergi meninggalkan Selena sendirian di dalam kamar. “Aku sudah menyewa tempat ini untuk satu Minggu, kau boleh memakainya.”


Nelson melemparkan kunci kamar hotel ke Selena. “Anggap saja ini hadiah dari hasil karyamu hari ini.” Dan Nelson pun pergi.


Selena membereskan peralatan make-up nya, dia memandang ke sekeliling kamar. “Sayang sekali jika kamar ini ditinggalkan begitu saja, baiklah aku rasa beberapa hari menetap tidaklah buruk.”


Selena menuju kamar mandi, ia mengatur agar air pancuran terasa hangat. Dan menikmati setiap tetes air yang membasahi tubuhnya, ia teringat akan kesusahannya selama ini. Perjuangan yang membuatnya hampir mati berkali-kali, jika saja malaikat maut tidak menaruh belas kasih padanya pastilah ia tidak akan pernah bisa menikmati kemewahan hotel seperti sekarang.


Hari sudah menjelang sore, Selena merasa bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Ghirardelii square.


“Mungkin sudah waktunya untuk makan malam.” Gumam Selena


Ia memutuskan untuk pergi ke Ghirardelii chocolate market place, Bangunan 3 lantai bekas pabrik cokelat di dekat Fisherman's Wharf yang kini dipenuhi beragam toko & restoran. Seperti namanya tempat ini adalah surga bagi pencinta coklat.


Selena berdecak kagum melihat banyaknya varian dan olahan cokelat di tempat itu, untuk sesaat mengingatkannya kepada Angel.


Selena tersenyum geli mengingat Angel yang menghabiskan satu kotak coklat dalam waktu singkat, tak hanya itu ia juga pernah mendapati Angel tengah menikmati sereal Coco pops rasa coklat dan menghirup susunya langsung dari mangkok.


Selena mengantre di salah satu restoran dan melihat dengan baik setiap menu yang ada.


“Sial, tidak ada red Velvet disini.” Gerutunya.


“Selamat datang di Ghirardelii cafe, boleh kutulis pesananmu?” ujar selah satu pelayan cafe yang bertugas sebagai kasir.


“Yah, aku mau pesan satu banana split, coklat kocok, dan air putih.”


Pelayan tersebut menyebutkan ulang pesanan Selena. “Totalnya jadi tiga puluh dolar delapan puluh lima sen.”


Selena menyerahkan pecahan seratus dolar kepada sang pelayan.

__ADS_1


“Ini kembaliannya, harap tunggu sebentar.”


Selena bergeser dan menunggu di samping kasir, butuh waktu sepuluh menit untuk pelayan menyiapkan pesanannya. Beruntung saat itu kondisinya sudah tidak terlalu ramai, karena memang sebentar lagi cafenya akan ditutup untuk umum.


“Ini pesananmu nyonya.” Ujar Seorang pelayan dengan ramah dan Selena membalas dengan cara tersenyum.


Selena duduk, ia mulai menikmati setiap sendok es yang masuk ke dalam mulutnya. Es krim yang meleleh dengan lembut begitu tersentuh oleh lidah, coklat kocoknya tak kalah nikmat karena terbuat dari coklat terbaik di daerah itu. Meskipun sebenarnya itu bukanlah makan malam yang baik untuk kesehatan, Selena tetap menikmatinya.


Ia memperhatikan setiap, begitu damai dan tenang. Orang-orang yang berkeliling bersama keluarga maupun pasangan mereka, mencicipi setiap menu yang ada sambil bersenda gurau. Seolah tidak ada hal buruk yang bisa menimpa mereka, membuat Selena merasa cemburu karena ia juga menginginkan kedamaian. Ia ingin bekerja sebagai penata rias artis ternama, menikah dan memiliki keluarga dengan dua orang anak yang lucu. Sayang, kini itu hanyalah sebuah mimpi. Ia sudah terlampau jatuh ke dalam jurang tanpa dasar, di mana jika ia berusaha keluar justru kematian yang akan mendatanginya kelak.


Selena begitu terbawa suasana hingga mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berdering.


“Halo, ada apa?”


“Selena, kumohon tolong aku!!” Suara rintihan terdengar memilukan dari ujung telepon.


“Ada apa Jack? Kau terkena masalah?”


“Temui aku di tempat biasa.”


Tut... Tut... Tut....


Suara panggilan terputus, Selena berpikir keras menerka-nerka apa yang terjadi dengan Jacob.


Mengapa suaranya terdengar begitu memilukan?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Apakah ini ada hubungannya dengan Nelson?


Arnold?


Angel?

__ADS_1


atau yang lebih buruk lagi?


Jangan- jangan William!!


__ADS_2