B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh puluh sembilan


__ADS_3

(Kediaman almarhum Martin Luther, dua jam setelah kedatangan Angel.)


Tok...tok...tok..


“Sebentar.”


Terdengar sayup suara pintu yang dibuka dari dalam.


“Ada yang bisa aku bantu?”


Sepasang polisi. Pria dan wanita, telah berdiri diambang pintu. Salah seorang polisi pria menunjukkan kartu identitas miliknya.


“Kami polisi, ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan pada anda nyonya Martin.”


“Baiklah, silahkan masuk.”


Mereka masuk dan duduk diruang tengah, tanpa basa-basi kedua polisi tersebut langsung melempar beberapa pertanyaan.


“Apa ada seorang gadis yang datang kemari? Bertubuh sedang dengan wajah khas Asia?” Tanya polisi wanita.


“Ya, kurang lebih beberapa jam yang lalu seorang gadis datang. Ia mencari surat wasiat mendiang ayahnya.”


Kedua polisi tersebut saling memandang dan memberi kode satu sama lain, kode yang hanya dapat dimengerti oleh mereka.


Tentu saja mereka bukan polisi sungguhan melainkan Abel dan Faith yang sedang menyamar.


“Bisa kau ceritakan secara detail?” ujar Abel.


Nyonya Martin menceritakan tentang kedatangan Angel, ia menceritakan semuanya dengan rinci tanpa celah.


“Jadi? Apa dia berhasil menemukan surat itu?”


“Aku tidak tahu pasti, anak gadisku yang membantunya mencari surat wasiat tersebut. Ngomong-ngomong, kenapa gadis itu menjadi buronan?”


“Sejujurnya kami bukan polisi, tugas kami lebih dari itu.” Faith mengatakannya dengan tegas dan lugas, Abel melotot ke arah Faith seolah berkata 'kau jangan ikut campur'.

__ADS_1


“Yang dikatakan oleh rekanku ini benar adanya, kami bukan polisi. Dan gadis itu adalah ******* yang mungkin saja telah membunuh suamimu.” Abel mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.


“Oh, ya tuhan.” Nyonya Martin tampak syok, matanya berkaca-kaca dan hampir menangis. “Tapi, bagaimana mungkin? Ia masih remaja.”


“mungkin ia terlihat seperti usia belasan tahun padahal umurnya jauh lebih tua dari itu.” Abel mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan memainkannya dengan hati-hati.


Grace mengintip dari atas tangga, ia diam dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.


“Di mana anakmu?” Tanya Abel


Nyonya Martin merasa tidak nyaman, ia berusaha untuk tetap tenang.


“Dia keluar untuk pergi bersama teman-temannya.”


“Syukurlah kalau begitu, satu pertanyaan terakhir. Apa dia menyebutkan nama ayahnya?”


“Robert, dia bilang nama ayahnya adalah Robert.”


Abel tersenyum sinis, Faith tak mengerti apa yang ada di pikiran Abel ia hanya menatap dengan wajah bingung. Dan...


“Astaga!!! Kau sudah gila!!” Faith berteriak sambil membersihkan noda darah di wajahnya.


“Kita harus meminimalisir adanya kontaminasi dari orang luar, akan sangat berbahaya jika ada yang tahu bahwa Angel adalah anak dari Robert.”


“Apa maksudmu?”


“Kita harus bergegas”


Abel keluar lebih dulu, Faith mengekor dengan wajah bingung.


Grace yang menyaksikan pembunuhan ibunya hanya bisa syok sambil menahan tangis, ia sebisa mungkin agar tidak berteriak. Setelah yakin bahwa kedua pembunuh itu pergi meninggalkan rumah, barulah ia bergegas turun sambil menangis histeris.


Di dalam mobil Abel dan Faith kembali berdebat.


“Hey, apa yang kau sembunyikan dariku?” Teriak Faith.

__ADS_1


“Robert, aku pernah mendengar nama itu. Dia adalah seorang mafia kelas kakap, bisa dibilang kekuatan kelompok mereka melebihi DarkRiver bahkan hampir setara dengan Yakuza. Meski Yakuza tetap menjadi yang terunggul.”


“Maksudmu, Snow Dancer?”


“Tepat sekali.”


“Jangan konyol, ada jutaan penduduk yang memiliki nama Robert.”


“Martin Luther, rumah yang kita kunjungi tadi adalah miliknya. Pria itu sudah menjadi bagian dari SnowDancer selama hampir dua puluh tahun, Robert sangat mempercayainya dalam hal keuangan dan politik. Meski banyak rumor yang beredar bahwa Martin Luther adalah mata-mata dari Deathknell.”


“Tapi itu tidak menjelaskan tindakan sembrono tadi.”


Abel hanya diam tanpa merespon.


Drttt.


Sebuah panggilan masuk dari orang yang tidak mereka kenal.


“Halo.... Apa?? Maafkan kami tuan... Baiklah kami akan segera ke sana.” Faith menutup telepon dan menatap tajam ke arah Abel yang sedang menyetir.


“Ada apa?”


“Bos bilang, Angel sudah tertangkap. Ia terlibat dalam kasus kekerasan dan ugal-ugalan di jalan, saat ini ia sedang berada di kantor polisi.”


“Apa? Baiklah kita akan ke sana.”


“Tidak perlu.”


Abel menginjak rem secara tiba-tiba membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan.


“Kenapa?”


“Bos meminta kita agar langsung pulang ke San Fransisco.”


“Sial!”

__ADS_1


__ADS_2