B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh puluh delapan


__ADS_3

Arnold berbelok arah dan menghentikan mobilnya disalah satu gang sempit, membuat mobilnya tersentak dan hampir terbalik.


“Kau!!!”


Arnold mencekik leher Angel, Angel yang berada diposisi yang kurang menguntungkan berusaha melawan sebaik mungkin. Tangannya mencoba menggapai pistol yang ia sembunyikan di bawah laci.


Louis dan Ricard panik, mereka berusaha melerai keduanya. Kekuatan Arnold luar biasa, ditambah dengan emosinya yang memuncak membuat Ricard dan Louis kesulitan melepaskan tangan Arnold dari leher Angel.


“Hentikan!! Arnold sadarlah!!! Dia temanmu!!” Louis berteriak dan perlahan Arnold melepasnya.


Wajah Angel memerah dengan nafas tersengal-sengal, demi menghindari serangan lebih lanjut Angel mengambil pistol dan keluar dari mobil. Dengan rasa sakit disekitar leher, ia berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya. Kini, Angel berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi dan menodongkan pistolnya ke kepala Arnold.


“Turun!!!”


Arnold sudah lebih tenang dari sebelumnya, ia menyadari kesalahannya dan menuruti perintah Angel. “Menghadap ke mobil dan lekatan tanganmu diatas-Nya.”


Angel melirik ke kursi belakang


“Kalian juga turun dari mobil!!”


Ricard dan Louis ikut turun, beberapa pejalan kaki yang tak sengaja melintas terlihat syok. Ada pula yang berteriak ketika melihat Angel menodongkan pistolnya.


“Kalian berdua, pegangi dia!!”


Ricard dan Louis hanya melakukan perintah Angel tanpa membantah.


“Borgol dia!!” Angel mengeluarkan borgol dari saku Ricard dan menyuruh Ricard untuk memborgol Arnold.


Arnold hanya diam tanpa suara, sementara Angel jauh lebih waspada dari sebelumnya.


“Lou, kau masuklah lebih dulu.” Louis kembali masuk dan duduk di kursi belakang. “Sekarang giliranmu!”


Disusul Arnold kemudian Ricard.


“Kalian awasi dia, kali ini aku yang akan menyetir.”


Seorang pria bertubuh gemuk dan bertato berusaha mendekati Angel, entah karena ia bodoh, atau hanya ingin menjadi pahlawan kesiangan tanpa perhitungan yang matang.


Tak sempat ia menyentuh Angel, pria itu langsung diserang olehnya. Hanya dengan satu gerakan pria tersebut tersungkur ke trotoar.


Dorr.....


Sebuah tembakan peringatan dilepaskan oleh Angel ke udara.


“Jangan ada yang ikut campur! Apa lagi sampai menelepon polisi!!”


Angel berjalan mendekati pria yang tadi ia lempar jatuh, mengangkat kepalanya dan menaruh pistol ke bawah dagunya.


“Jika tidak nyawa kalian taruhannya!!”


Angel melepaskan pria itu dan berjalan santai memasuki mobil, tiba-tiba saja ada sebuah peluru yang hampir mengenai bahunya.


“Jangan bergerak!!”


Tiga orang polisi bersenjata Mengepung Angel dari luar gang.


“Menyerahlah, dan jatuhkan senjatamu.”

__ADS_1


Angel melihat ke depan, tidak ada jalan untuk kabur. Satu-satunya jalan keluar adalah menabrak para petugas tersebut.


“Baiklah, jika kalian memaksa.”


Dorrr..


Dorrr...


Dua tembakan mengenai bahu salah satu polisi, membuat perhatian mereka sedikit teralihkan. Dengan sigap Angel masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas, terdengar suara mesin yang mulai menggerutu. Dan Angel mulai melaju tanpa ragu, menabrak mobil polisi dan beberapa mobil yang terparkir di sana. Di luar dugaan ia jalan mundur dan kembali menghantam mobil polisi hingga bentuknya jadi tak karuan, kini mobil yang ia bawa dalam keadaan rusak parah. Beruntung mereka tidak mengalami luka-luka.


“Kau gila!!” Teriak Ricard.


“Memang, sejak dulu aku sudah gila.”


Angel tak menampakkan ekspresi apapun, ia hanya fokus menatap jalanan dan menghindari rombongan mobil polisi yang mulai mengejar. Ricard menoleh ke belakang, ia menjadi panik dan pucat pasi.


“Astaga, tidak ku duga akan berakhir seperti ini. Hey Lou, kenapa kau bisa setenang ini.”


“Aku sudah terbiasa dengan hal-hal tak terduga, bahkan jika itu berkaitan dengan nyawa.”


“Ya tuhan! Tak ku sangka pekerjaan ini begitu buruk.”


Arnold tersenyum melihat ekspresi Ricard. “Tenanglah, bukankah kau sekarang adalah ketua Blood?”


“Tenang? Astaga kalian semua aneh!! Terutama kau Angel.”


Angel tersenyum simpul, dia melirik ke spion. Ada sekitar tiga buah mobil dan dua motor yang kini mengejar mereka.


“Lou, kurasa kau tahu harus bagaimana? Ada senapan di bawah kursi kau bisa memakainya.”


“Dengan senang hati, mari kita mulai pertunjukannya.” Louis tersenyum riang, ia mengambil senapan yang Angel simpan di bawah kursi.


“Tapi, ukurannya cukup besar.” Ketus Ricard.


“Meski namanya senjata mini, namun itu adalah senapan mesin dengan ukuran 7,62x51 mm NATO mampu menembakkan 2000 sampai 6000 peluru per menit. Ini lah yang menjadikannya sebagai salah satu senjata infanteri paling mematikan.” Angel menjelaskannya dengan sangat ringkas dan cepat.


“Benarkah? Apa kau bisa menggunakannya?” Ricard menatap tajam kearah Louis.


“Tentu, buka atap mobil aku akan menembak dari atas.”


Angel menutup kaca dan membuka atap mobil.


“Ricard bantu aku menaikkan benda ini.”


Ricard ternyata tak cukup kuat untuk mengangkat senapan tersebut.


“Astaga, berat sekali.” Setelah membantu menaikkan senapan Ricard pun duduk dengan nafas sedikit terengah.


“Lou, apa kau sudah siap??”


“Sudah!”


“Baiklah aku akan melambat laju mobil, kau bersiaplah.”


“Ikuti aba-aba ku.”


Angel mulai melambat, dan ketika jarak antara mobil mereka dan mobil polisi sekitar lima ratus meter Louis memberikan aba-aba.

__ADS_1


“Sekarang!!.”


Dor..dor..dor..dor


Louis menembak mesin dan tangki mobil, setelah berhasil Angel menaikkan laju kendaraannya. Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan dari arah belakang membuat mobil lain yang mengejar berhenti.


Louis masuk kembali ke mobil dan menurunkan senjatanya. “Huh, kurasa tembakanku masih akurat.”


“Kau luar biasa.” Puji Arnold.


Ricard melongo melihat Louis, kini ia baru mengakui kehebatan rekannya tersebut. “Baiklah, kau menang.”


“Kita akan kemana?” tanya Louis.


“Kita akan masuk kehutan, lalu turun untuk jalan kaki.”


“Setelah itu kita pergi kemana?”


“Pulang, ke San Fransisco.”


“Kau sudah mendapatkan suratnya?”


“Belum, tapi instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang menungguku di San Fransisco.”


“Kau gila!!! Para pembunuh itu, maksudku mafia kejam itu pasti menunggu kita.”


“Itulah sebabnya, aku ingin mencari siapa yang ingin membunuhku. Jadi, cara terbaiknya adalah masuk ke dalam perangkap.”


“Maksudmu Abel dan Faith?”


“Bukan mereka, tapi dalangnya.”


Angel mengemudi hingga masuk jauh ke dalam hutan, dan berhenti di tengah-tengah hutan.


“Kurasa, ini akan jadi tempat parkir yang paling bagus.”


Angel menghadap ke belakang dan tersenyum.


“Aku minta maaf atas kematian Martin, melihat dari ekspresi dan kemarahanmu sepertinya kau sudah tahu dari awal. Akan tetapi, kau merasa kesal saat aku mengatakan kebenarannya. Kau berharap, aku tidak pernah mengakui hal itu. Maafkan aku, tuan Arnold.”


“Seharusnya kalian memberitahu nama orang yang kita cari dari awal, dengan begitu kita tidak perlu jauh-jauh datang kemari.”


“Ini salahku, aku yang meminta mereka merahasiakannya darimu. Jujur saja, aku masih belum bisa mempercayaimu.”


Suasana menjadi hening, dan kini Angel dan Arnold saling menatap lalu tersenyum.


“Kurasa, kalian pergilah ke San Fransisco tanpa aku. Ada yang harus kulakukan di sini.”


“Apa maksudmu?” Ricard kaget bukan main.


“Kalian turunlah.”


Angel menatap Louis lalu mengedipkan sebelah matanya.


“Kau?? Jangan bilang kau ingin melakukan hal itu, itu konyol!!”


“Aku harus masuk perangkap.” Angel tersenyum simpul.

__ADS_1


“Tidak, kurasa kau yang akan membuat perangkap.” Ketus Louis, Angel tersenyum dan mengangguk, Louis mengajak yang lainnya turun. Dan setelah mereka turun Angel menginjak penuh pedal gas dan pergi keluar dari hutan menuju jalan raya.


__ADS_2