
Selena berjalan dengan sedikit tergesa-gesa melewati trotoar jalan, dan tepat di tikungan ia berbelok dan mampir di sebuah restoran sederhana yang bertemakan alam. Dengan dinding batu bata yang disusun rapi, meja bartender yang langsung terlihat begitu memasuki pintu utama, terdapat delapan meja persegi berukuran kecil berjejer rapi menjadi dua bagian dengan dua buah kursi pada masing-masing meja yang ditaruh berhadapan.
Suasana yang alami kian terasa dengan beberapa pot yang menggantung pada beberapa bagian dinding, juga terdapat pot berisi tanaman palem, dan Agapanthus yang disusun rapi pada pembatas batu yang memisahkan antara baris pertama dan kedua. Bunga Agapanthus yang bergerombol dan tampil anggun dengan gradasi warna biru keunguan menimbulkan kesan elegan dan sedap dipandang.
Seorang pria dengan mantel tebal dan topi baret duduk sambil menyesap kopi secara perlahan, Selena yang melihatnya bergegas mendekati pria tersebut.
“Maaf aku terlambat, mengapa anda harus repot-repot kemari? Seharusnya biar aku saja yang mengunjungi mu.”
“Duduklah terlebih dahulu, aku akan memesankan kopi untukmu. Kalau aku boleh menyarankan, latte adalah pilihan terbaik. Karena tempat ini terkenal dengan latte-nya dan desain interiornya yang sangat alami.”
Selena duduk, ia hanya mengangguk setuju saat pria di hadapannya memesankan secangkir latte.
“Kenapa anda kemari? Bukankah ini terlalu berbahaya?”
“Ayolah, apakah San Fransisco seburuk itu? Aku rasa semua orang punya hak untuk mengunjungi tanah kelahiran mereka.”
“Bukan begitu tapi Deathknell---“
“Stt.., jangan membahasnya lebih lanjut. Kita mulai dari yang sederhana dulu, misalnya apa kau sudah bertemu Angel? Atau, kapan kau mengajaknya bertemu denganku?”
“Masalah itu, aku hanya bertemu sejenak sebelum akhirnya Angel menjadi buronan dan melarikan diri.”
“Buronan??”
Seorang pelayan cafe datang sambil membawa minuman dan sepotong kue Red Velvet.
“Pesanan anda nyonya.”
Lalu pelayan tersebut pergi smbil tersenyum menatap Selena, Selena membalas dengan ikut tersenyum.
“Red Velvet?”
“Oh, aku biasa menghabiskan waktu luang disini. Pelayan di sini mengenalku dengan baik, mereka tahu persis apa yang selalu aku pesan.”
Pria tersebut mengangguk. “Lalu bagaimana dengan Angel? Kenapa ia menjadi buronan? Apa ia buronan polisi atau semacamnya?”
__ADS_1
“Bukan polisi, tapi DarkRiver. Ia dan temannya dituduh menjadi penghianat dengan menculik pimpinan DarkRiver.” Selena menyesap kopinya perlahan. “Tapi.” Sambungnya.
“Itu hanyalah sebuah tuduhan.” Pria tersebut langsung menyela.
“Tepat sekali, aku mendapat informasi dari salah satu rekanku di DarkRiver. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan dan aku diminta untuk menyiapkan tempat persembunyian untuk mereka ketika mereka kembali ke San Fransisco.”
“Siapa temanmu?”
“William, dia memang sedikit bodoh dan ceroboh. Tapi, dia memiliki tingkat loyalitas yang tinggi kepada Arnold majikannya. Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana dia berkorban dan hampir mati karena di tugaskan oleh Arnold untuk mengelabuhi orang-orang yang mencari mereka.”
“Apa dia memberi tahu ke mana tujuan mereka?”
“Tidak, sayangnya William tidak ingin memberikan informasi dan akan terlihat sangat mencurigakan jika aku memaksanya untuk memberitahu. Lagi pula aku sepertinya sudah tahu kemana arah tujuan mereka, kini Nelson menjadi pimpinan pengganti. Dan aku bisa mencuri informasi darinya dengan mudah.”
“Nelson? Pria yang memintamu untuk menjadi bagian dari anak buah Arnold?”
“Ya, kurasa dia punya tujuan yang buruk. Terlebih, saat aku sudah bergabung aku harus membuat penyamaran untuknya. Bukankah ini aneh?”
“Kau benar, kau harus waspada.”
Selena memotong kue di hadapannya menjadi beberapa potongan untuk sekali gigit dan menyantapnya.
“Sebelumnya aku mendapat informasi bahwa mereka akan pergi ke Nevada, tapi mereka melakukan kesalahan dengan menggunakan kartu kredit saat berada di Sacramento, juga di sebuah mall tak jauh dari Sacramento.”
“Kau benar bisa jadi mereka benar-benar pergi ke Nevada, tapi Sacramento juga memiliki jalur yang berbeda menuju Boston. Apa menurutmu?”
“Tepat sekali tuanku, prediksiku mereka pergi ke Boston. Karena mall yang mereka kunjungi, satu arah menuju Boston. Karena jika ingin pergi ke Nevada, itu bukanlah rute yang tepat.”
“Apa Nelson mengetahui hal ini?”
“Aku juga kurang yakin, kuharap dia belum mengetahuinya. Tuanku, apa kau mengetahui alasan mereka pergi ke Boston?”
Pria dihadapan Selena tersenyum simpul. “Ya, dia ingin menemui seseorang. Kurasa, dia ingin menemui pengacara Robert.”
“Martin Luther? Bukankah dia seorang penghianat? Lagi pula pria itu sudah tewas ditangan Angel berbulan-bulan yang lalu.”
__ADS_1
“Aku yakin ada sesuatu yang menuntun ia menuju arah yang salah.” Pria itu menyesap kopinya. “Aku merasa beruntung saat kau menyadari bahwa akulah yang akan menjadi target Angel selanjutnya, kau mengambil resiko dengan menukar chip yang asli dengan yang palsu hanya untuk menyelamatkan nyawaku.”
Selena tersenyum. “Sejujurnya, aku membenci Tuan Robert dan organisasinya. Namun, pria itu justru menjadi penyelamat bagi keluargaku. Jadi aku berhutang nyawa padanya.”
“Kau benar, pria berengsek itu memiliki hati yang murni. Walau kadang aku merasa, itu dilakukannya untuk kepentingan pribadi.”
“Kau benar, Lalu apa rencanamu tuan?”
“Biarkan saja, toh. Angel yang akan menemuiku, jadi aku hanya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum bertemu dengan penerus SnowDancer.”
Selena menghela nafas, untuk sejenak ia merasa tenang. Sudah terlalu banyak resiko yang dia ambil hanya agar SnowDancer tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Selama menatap ke arah bunga Agapanthus yang bermekaran.
“Apa kau tahu tanaman apa itu?”
“Sejenis anggrek?” Selena menebak.
“Bukan, itu adalah Agapanthus. Agapanthus berasal dari kata Yunani yaitu “agape” yang berarti cinta dan “anthos” yang berarti bunga. Jadi, Agapanthus berarti bunga cinta. Dikenal juga sebagai Lily of the Nile, Blue Lily, atau African Lily.”
“Bunga cinta? Menarik.”
Pria di hadapan Selena tersenyum, Sementara Selena melamun. Cinta, satu kata yang membuat jantungnya tiba-tiba terhenti. Mengingatkannya kepada seorang pria yang menciumnya tiba-tiba saat mereka berdua sedang dikejar-kejar oleh orang suruhan Deathknell, ciuman singkat dan panas yang tidak hanya terjadi satu kali melainkan dua kali. Bukannya tidak pernah merasakan, akan tetapi ciuman secara spontan adalah hal yang paling membekas di ingatan Selena.
‘Sial!!! Kenapa aku tiba-tiba saja ingat orang itu.’
Ponsel Selena berdering, ia menaruh ponselnya diatas meja membuat pria di hadapannya bisa melihat siapa yang menelepon.
“Nelson menelepon, sebaiknya kau mengangkat teleponnya.”
Selena tersadar dari lamunan dan langsung mengangkat teleponnya.
“Halo tuan Nelson...., Ah baik. Baik aku akan segera ke sana.” Dengan raut muka khawatir Selena mematikan telepon.
“Ada apa?”
“Tuan, Nelson ingin aku menyiapkan penyamaran untuknya, dia bilang dia ingin pergi ke Boston.”
__ADS_1
Selena mengambil tasnya, mengeluarkan beberapa dolar dan menaruhnya di atas meja lalu pergi dengan terburu-buru meninggalkan pria yang bersamanya dengan tatapan gelisah dan khawatir.
“Celaka!!!”