B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Lima puluh empat


__ADS_3

Setelah berhasil lolos dari penguntit Ricard dan Louis memutuskan untuk mencari hotel terdekat, guna beristirahat seraya membuka file yang dirahasiakan oleh ayahnya Ricard alias Tuan Blood. Ricard mengendarai mobilnya dengan santai melewati jalan Ellis ke arah timur belok kanan menuju jalan Gough, begitu sampai di pertigaan jalan Ricard memutuskan untuk belok ke kiri menuju jalan Eddy, setelah lima menit perjalanan tampak sebuah hotel megah di samping kiri mereka.


“Bagaimana kalau di sini saja?.” Tanya Ricard.


“Terserah padamu.” Jawab Louis.


“Turun dan pesanlah kamar, aku akan mencari tempat parkir.”


“Baiklah.” Louis pun turun dan masuk lebih dulu.


Ketika memasuki lobi hotel tampak beberapa kerumunan orang-orang yang berlibur dengan masing-masing koper mereka, terdapat beberapa pria dan wanita mengenakan pakaian hitam putih yang dapat disimpulkan bahwa mereka adalah karyawan hotel. Lantainya terbuat dari granit bermotif lantai kayu, dengan dinding berwarna putih serta beberapa lampu besar setengah lingkaran yang menempel pada langit-langit. Desain interior nya tidak terlalu menonjol, sama seperti hotel pada umumnya. Louis pun berjalan menuju meja resepsionis dan mengantri untuk beberapa saat.


“Selamat datang di hotel holiday ada yang bisa kami bantu.” Seorang wanita dibalik meja resepsionis menyapa dengan ramah.


“Tolong, satu kamar untuk dua orang yang menghadap ke teluk.”


“Baiklah tunggu sebentar ya nyonya, kalau boleh tau atas nama siapa?.”


“Candy.” Louis tidak dapat memikirkan nama lain selain nama itu.


“Boleh pinjam kartu nama anda.”


Louis sedikit bingung beruntung Ricard datang tepat pada waktunya, ia pun menyodorkan beberapa dollar yang ia selipkan dibalik tangannya. Sang resepsionis tersenyum, mereka pun berjabat tangan atau lebih tepatnya memindahkan uang dari tangan Ricard ke tangan resepsionis.


“Baiklah, ini kunci nya. Kamar nomor 2456 di sebelah Utara.”


Ricard tersenyum, ia pun merangkul Louis dengan mesra sambil sesekali mengelus rambut nya. Louis tersipu, ia tidak mengetahui bahwa itu hanyalah akal-akalan Ricard saja. Mereka diantar langsung oleh salah satu pelayan dengan menaiki lift hingga sampai ke lantai 35, dengan cepat mereka mengambil arah utara dan Sampai di depan pintu hotel. Sang pelayan membuka pintu mempersilahkan mereka masuk, Ricard tersenyum. Setelah ia memberikan beberapa dolar sebagai uang tip barulah sang pelayan pergi.


Kamar tersebut cukup luas dengan kasur berukuran king, berada di paling pojok kamar tersebut menyajikan pemandangan teluk dan Fransisco. Sebuah meja panjang yang menyatu dengan meja kerja dengan sebuah TV kabel di atasnya terpajang tepat di depan kasur, dinding yang terdiri dari enam buah kaca tembus pandang membuat mata tertegun dengan pemandangan yang disuguhkan.


Ricard mengunci kamar dan menutup tirai jendela, ia mengeluarkan laptop dari tasnya dan mulai berselancar ria membuka satu demi satu file yang tersembunyi.


“Butuh scan retina untuk membukanya, menarik.” Ujar Ricard.


“Lalu? Haruskah kita menggali kuburan ayahmu?.” Ketus Louis.


“Kurasa tidak perlu.” Ricard mendekatkan wajahnya dan kamera mulai mendeteksi pola pada retinanya.

__ADS_1


“Berhasil, ayahmu hebat ia menggunakan retinamu juga untuk mengakses laptop ini.”


“Tentu saja, aku belajar banyak darinya.” Ujar Ricard.


“Isinya mengenai data anggota terdahulu, jauh sebelum aku dan kau bergabung di organisasi ini.”


Mereka membuka satu demi satu file, sejauh itu belum ada satu pun data yang sesuai dengan apa yang terjadi sekarang. Setengah putus asa, Ricard kembali ke tampilan utama folder di situlah letak keanehannya terdapat sebuah folder kosong hanya terdiri beberapa deret pola dan angka.


“Aneh, file ini kosong. Apa maksudnya?.” Ricard keluar dari folder dan kembali ke tampilan awal.


“Ricard lihat, ada gambar aneh disini setahuku itu bukan aplikasi windows atau semacamnya.” Louis menunjuk ke layar pada bagian pojok kiri di mana terdapat sebuah ikon berbentuk bunga mawar.


“Terkunci menggunakan angka dan pola, tunggu sebentar.”


Ricard kembali membuka folder kosong, menghafal setiap angka dan pola Lalu kembali ke ikon yang tadi. Dan terlihat beberapa file mengenai organisasi SnowDancer, serta data mengenai Aqila mulai dari surat kabar hingga data kepolisian. Louis dan Ricard membacanya dengan teliti, tanpa melewatkan satu baris pun.


“Gadis yang malang, apakah ia masih hidup?.” Ujar Louis


Ricard hanya diam dan meneliti setiap teks yang tersedia, perlahan ia mulai mengerti polanya. Entah mengapa, ia merasa keadaan mulai memperlihatkan titik terang nya.


“Ku rasa ayahku ingin agar kita menemukan gadis ini lebih dulu, lihat ini.”


“Nama yang tertera adalah orang-orang yang berusaha menjatuhkan Robert, dan Aqila adalah satu-satunya anak angkat Robert. Ayahku mendapat informasi bahwa satu-satunya pewaris sah SnowDancer adalah Aqila, yang artinya gadis ini dalam bahaya, ia juga meninggalkan pesan bahwa kita harus menemukannya sebelum Jonathan.”


“Aku masih belum memahaminya.”


“Sayangnya tidak ada foto Aqila, hanya data mengenai ciri-ciri gadis itu.”


“Lalu bagaimana kita akan menemukannya?.”


Ricard mendengus, ia membuka file catatan yang dibuat ayahnya berisi penjelasan mengenai kematian Robert.


“Apa ini? Judulnya adalah bagaimana Robert tewas, tapi hanya berisi nama dan lagi-lagi angka.” Louis terlihat sedikit kesal.


‘Pojok kiri 212B Sir Arthur Conan Doyle.’


“Aku paham, ini semacam kode rahasia. Aku dan ayah sering memainkannya sewaktu aku kecil, ayahku adalah penggemar novel detektif dan dia sangat menyukai karya Sir Arthur Conan Doyle.”

__ADS_1


“Aku makin bingung.” Louis mulai menggaruk tengkuknya.


“Ayahku gemar membaca, ia punya sebuah ruang baca di markas dengan koleksi dari beragam penulis terkenal salah satunya sir Arthur Conan Doyle. 212B adalah alamat rumah Sherlock Holmes, sama dengan nomor rak yang ia berikan untuk novel Sherlock.”


“Artinya, Tuan Blood menyimpan filenya di antara buku tersebut begitulah?.”


“Tepat sekali.”


“Bagaimana kau bisa kesana? Ah, bagaimana kalau kita menelpon Angel minta agar ia mampir terlebih dahulu ke ruang baca.”


“Ide bagus.” Ujar Ricard tanpa menoleh sedikit pun.


Louis mengambil smartphone miliknya, setelah menekan beberapa tombol terdengar nada panjang pertanda bahwa teleponnya mulai tersambung.


“Halo Agen 107, apakah kau masih di markas? Bisakah kami memintamu untuk mengambil sesuatu diruang baca.......................... Ya tuhan, Kalau begitu berhati-hatilah kami akan menemuimu.”


Tut..Tut...Tut..


Saluran terputus, Louis sedikit khawatir dengan keadaan Angel.


“Akhirnya selesai juga.” Ricard menoleh dan melihat wajah Louis yang kebingungan. “Ada apa?.”


“Seseorang menyemprotkan gas karbon saat Angel tengah mencari data di komputer nya, saat ini dia sedang menunggu jemputan salah satu anggota setia DarkRiver.”


“Bagaimana bisa?.” Ricard terkejut. “Tidak ada yang bisa masuk ke ruangan Angel selain dirinya sendiri.”


“Ada seseorang yang berhasil mengakses kamarnya, pasti dia bukan orang sembarangan.” Ujar Louis.


“Apa pun itu, kita harus cepat bergerak sebelum masalah ini semakin rumit.”


“Sudah hampir gelap, biar aku yang ke markas. Lagi pula, hanya aku yang punya akses keluar masuk tanpa dicurigai. Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya satu hal?.”


“Apa?.”


“Mengapa ayahmu sangat mengkhawatirkan kondisi Angel melebihi Anggota lain? Ah.. aku tidak bermaksud apa pun, hanya saja aku mulai merasa janggal dengan sikap ayahmu itu.”


“Waktu kecil Ayahku sering bilang, bahwa suatu hari akan ada gadis yang menjadi seorang mafia hebat. Dan sebisa mungkin kita menjaganya, karena gadis ini masih lugu dan ia belum terlalu mengenal dunia. Saat pertama kali ayahku bertemu Angel ia langsung berteriak, inilah gadis yang aku maksud hanya itu.”

__ADS_1


“Hanya itu, baiklah aku akan bergegas menuju markas dengan naik taksi. Kau tunggu di sini, beri aku waktu hingga tengah malam. Jika aku belum kembali, maka kau harus meninggalkan tempat ini.” Louis pun pergi dengan angkuh.


“Dasar wanita, bisa-bisanya ia memerintah ku, apa dia lupa bahwa saat ini akulah bos nya.” Gumam Ricard.


__ADS_2