
Dengan mengendarai mobil Porsche Panamera turbo berwarna merah, Ricard dan Candy memilih masuk tanpa menghiraukan resiko yang bisa saja menghilangkan nyawa mereka. Berbekal laptop, Ricard berhasil membobol pintu gerbang dan masuk tanpa hambatan yang berarti. Setelah mobil masuk kedalam, Ricard sengaja mengambil jalan berputar. Ia berusaha memahami setiap seluk beluk struktur bangunan, dan kemungkinan letak Angel disekap. Sayangnya Ricard dan Candy tidak menyadari bahwa mereka sedang diperhatikan dari luar gerbang, setelah puas berkeliling Ricard memarkirkan mobil dan berjalan menuju pintu depan tanpa ragu.
“Apa kau yakin?.” Candy berkata dengan nada rendah.
“Ya, tidak ada pilihan. Aku tak bisa membiarkan Rose menunggu.”
Setelah mengatur nafas Ricard menekan bel pintu.
Ting tong.....
Ting tong.....
Sretttttt.....
Suara pintu yang terbuka cukup membuat bulu kuduk Candy berdiri, sesosok pria bertubuh besar dan gemuk terlihat dari balik pintu.
“Siapa?.”
“Apa tuan Andreas ada?.”
“Siapa?.”
“Perkenalkan namaku Jhonny dan ini istriku Elizabeth.”
“Ternyata kalian, silahkan masuk.”
Wajah pria itu yang semula garang sedikit melunak, Ricard dan Candy berjalan masuk dan duduk di sofa yang berada diruang tamu.
“Kalian mau minum apa?.”
“Tidak perlu repot-repot, air putih sudah cukup.”
Tak lama dari kepergian pria tersebut Andreas turun dari lantai dua dan langsung menyambut mereka.
“Senang bertemu kalian, apa yang bisa saya bantu.”
Merekapun bersalaman, sebelum kembali duduk.
“Bukankah kita sudah berkomunikasi lewat telepon.”
“Oh, iya. Barangnya ada dilantai dua, mari ikut aku.”
Saat Candy ikut berdiri Ricard langsung menoleh dan memberikan aba-aba agar ia tidak ikut.
“Ini urusan pria, tetaplah disini dan jadilah anjing yang baik.”
“Kau ini, selalu saja memperlakukan istrimu dengan buruk. Biarkan ia melihat.” Andreas berusaha menengahi
“Tidak.”
Candy menunduk patuh seperti seekor poodle, Ricard dan Andreas berjalan menuju tangga meninggalkan Candy sendirian. Pria gemuk yang menawarkan minuman pun datang menghampiri, membawa dua buah gelas kosong dan satu teko air putih. Ia menaruhnya dengan rapi diatas meja sambil tersenyum sinis, Entah mengapa Candy menjadi gugup.
Drrtt..
Sebuah pesan singkat masuk.
‘Cari Angel sekarang.’
“Permisi, bolehkah saya pergi ke toilet?.”
“Ya nyonya, sebelah sini.”
Toiletnya berada dilantai satu, sementara menurut prediksi Ricard Angel mungkin disekap dilantai atas atau mungkin di ruangan bawah tanah. Saat ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dapur sepintas ia melihat seorang pria Asia tengah menyeret sesuatu dari kebun belakang menuju tempat sampah, sebuah kantong plastik hitam besar yang terlihat berat. Candy membuka pintu dan masuk, ia terlebih dahulu menguncinya. Setelah memastikan semua aman ia mengumpulkan tisu sebanyak mungkin dan dibuang kedalam lubang kloset, ia juga menekan tuasnya cukup kencang sehingga hampir patah, sesaat airnya turun kemudian naik lagi keatas.
Candy menarik nafas dan membuka pintu. “Mohon maaf tuan, apa ada toilet lain sepertinya toilet ini rusak.”
Pria gemuk yang berdiri di dekat kulkas pun berjalan mendekat, ia masuk kedalam toilet dan mengeceknya.
“Sepertinya tuasnya rusak, dan siapa yang membuang tisu sebanyak ini didalam kloset.”
__ADS_1
Pria tersebut masih didalam toilet, Candy memberanikan diri. Ia mengambil botol bir diatas meja, menghantamkan sekuat mungkin tepat dikepala bagian belakang pria tersebut yang membuat pria itu jatuh pingsan.
Sementara itu dilantai atas, Ricard tengah berdiskusi dengan Andreas. Andreas membuka koper berisi pil ekstasi, kokain dan beberapa jenis narkotika golongan I
“Ini, semua ini jenis narkotika golongan I, ah... Ini adalah yang terbaik diantara semuanya lysergic Avid diethylamide atau yang biasa disingkat LSD, sesuai dengan yang anda pesan.” Andreas menjatuhkan diri ke atas sofa.
Ricard melirik sekeliling dengan hati-hati. “Baiklah, bawa semuanya kemobil.”
Ricard berjalan menuju jendela sambil melihat ponselnya.
“Kau mau kemana?, Kau tidak bisa mengambil semuanya. Kau harus membayar.”
“Ah, aku lupa.” Ricard melempar koper yang ia bawa keatas meja.
Ricard kembali melirik sekeliling.
‘Ada lima pria bersenjata, belum ditambah pengawal yang berjaga-jaga di depan pintu. Candy, apa ia berhasil?.’ Batin Ricard.
Prankkkk..
Suara pecah botol bir terdengar dari lantai bawah.
“Suara apa itu?. Kalian berdua cepat periksa.” Perintah Andreas, kemudian ia kembali fokus melihat koper berisi tumpukan dollar dihadapannya.
“ Semuanya lengkap.” Andreas berdiri dan menyalami Ricard.
“Senang berbisnis dengan anda tuan Jhonny.”
Candy membersihkan serpihan kaca dengan menendangnya menggunakan kaki, dan mengunci pria gemuk itu didalam toilet. Candy bersiap, ia mengeluarkan pistol dari dalam tasnya. Saat ia berjalan ke ruang depan dan hendak menaiki tangga, rupanya ada dua orang pria yang hendak turun. Refleks, Candy menarik pelatuk satu tembakan tepat didahi pria pertama dan dua peluru lainnya mendarat di jantung dan dahi pria kedua.
Dorrrrr....
Dorrrrr..
Dorrrrr...
Mendengar tiga suara tembakan, Ricard menarik tangan Andreas dan menahannya serta meletakkan pistol dibelakang tengkoraknya dan menjadikan ia tameng untuk berlindung. Semua penjaga didalam ruangan tersebut mengangkat senjata, namun menyadari bahwa tuan mereka sedang dijadikan tameng mereka menjadi ragu untuk menembak. Mendengar keributan dari dalam ruangan dua dari empat pria yang berjaga diluar pun masuk kedalam guna melihat situasi.
“Siapa yang kau maksud?.”
“Gadis yang kau culik dari rumah sakit, katakan.” Ricard menekankan pistolnya, membuat Andreas ketakutan.
“DiRuangan khusus tak jauh dari tempat ini.”
“Jangan berbohong, antar aku kesana. Dan katakan pada anak buahmu untuk menurunkan senjata mereka.”
Semua orang menurunkan senjata, hal itu membuat Ricard mengendurkan pengawasan dan seorang pria menembak kearah lengannya.
Dorrrr...
Beruntung tembakannya meleset, dan hanya meninggalkan luka gores. Ricard memegangi lengannya, Andreas berhasil meloloskan diri. Namun dengan sigap Ricard menangkapnya, rupanya anak buah Andreas langsung menghujani Ricard dengan tembakan. Ia langsung berlindung dibalik tubuh Andreas, yang membuat Andreas langsung tewas dengan tubuh penuh luka tembak.
“Tuan.” Salah satu anak buahnya berteriak.
Ricard memanfaatkan kesempatan, ia berbalik menyerang meski kondisinya lima berbanding satu. Ia mulai dengan menyerang satu orang menembak dan merebut senjatanya, berlari menuju sofa dan berlindung. Hantaman peluru ditembakkan berulang, membuat sofa tersebut hancur. Ricard mengeluarkan tembakan, dan mengarahkan tepat di bagian tervital dari tubuh lawan. Dua lawan sudah tewas, tersisa tiga orang yang berjalan mendekat dan mengepung Ricard.
Dari arah tangga Candy mendengar suara tembakan beruntun, membuatnya panik. Ia mengkhawatirkan keadaan Ricard, jadi ia berjalan dengan cepat. Dan menembak setiap orang yang dijumpainya tanpa ragu, saat Sampai didepan ruangan dua orang pria yang berjaga terkejut melihat kedatangan Candy dengan pistol ditangannya. Candy mengarahkan pistol dengan cepat di dahi salah seorang dari mereka, dan ketika hendak melepaskan tembakan ke dua pelurunya habis.
“Sial.”
Pria dihadapannya tersenyum penuh kemenangan, ia mengangkat pistol dan menembaki Candy. Beruntung Candy dapat menghindar dan bersembunyi di balik tiang, Tiga kali tembakan pria itu langsung berhenti.
Pluk...
“Wah, aku lupa mengisi ulang ternyata. Tunggu aku ya gadis bodoh.”
Saat pria tersebut hendak mengisi ulang peluru Candy mengeluarkan pisau kecil dari balik jaket dan langsung menyergapnya seperti seekor macan yang hendak memangsa rusa, pria itu kaget mereka langsung berguling. Candy menyayat leher pria tersebut hingga urat nadinya putus, darah segar menyembur keluar mengotori wajah dan tubuh Candy. Setelah memastikan pria itu tewas, Candy berdiri dan mengambil pistol yang tergeletak di lantai.
Didalam ruangan Ricard terkepung oleh tiga orang pria bersenjata, ia terus berdoa dalam hati agar tidak tewas mengerikan.
__ADS_1
Brukkk...
Dorrr....
Dorrr....
Dorrr....
Suara tembakan memekakkan telinga, tak lama berselang darah segar mengotori seisi ruangan.
“Apa kau baik-baik saja?.”
Ricard menarik nafas lega, ia tidak jadi bertemu sang pencipta. Tapi ia juga kaget melihat Candy datang bersimbah darah.
“K..k..kau.”
“Jangan kaget begitu, ayo cepat kita temukan gadismu sebelum yang lain datang.” Candy membantu Ricard berdiri.
“Argghh..”
“Kau terluka?.”
Ricard memberi aba-aba bahwa ia baik-baik saja, dan merekapun keluar ruangan. Mereka membuka satu persatu kamar dan semuanya kosong, hingga mereka tiba disebuah kamar yang didalamnya terdapat peralatan medis.
“Sepertinya Rose pernah berada di ruangan ini, lihat infusnya masih baru.” Candy menunjuk kearah botol cairan infus yang masih penuh.
“Mungkin mereka sudah tahu, aku sudah memeriksa tempat ini melalui satelit, dan data dari berbagai sumber beredar kabar bahwa terdapat ruangan bawah tanah.”
“Menurutmu Rose mungkin disekap disana?, Tunggu apa lagi ayo kita kesana.”
Saat mereka hendak menuruni tangga seorang pria keturunan Tionghoa memergoki mereka dengan tatapan takut dan terkejut, ia memandangi sekeliling dimana-mana bercak darah berserakan. Candy berlari turun dan hendak menangkap pria itu, namun pria tersebut menghilang lari entah kemana.
“Sial, dia berhasil lolos. Tapi Kemana perginya?.” Candy menatap sekeliling dengan kebingungan.
Kringggggg......
Terdengar suara alarm diiringi dengan lampu merah yang menyala-nyala.
“Astaga, cepat kemobil.” Ricard melihat kearah pintu belakang, beberapa orang berlari masuk kedalam.
Ricard berusaha untuk tidak terlihat, ia berlari sambil bersembunyi hingga tiba di mobil. Dengan cepat mereka masuk, Ricard menyalakan mesin, menginjak gas dengan kencang. Dari arah belakang beberapa orang mulai siap dengan senjata mereka.
“Buka laptop ku, cari gambar petir buka filenya. Tekan ctrl + F4, masukan kode 221213 kemudian enter.”
Candy mengikuti instruksi Ricard dengan baik. “Tidak bisa.” Candy mulai merasa panik karena kaca spion mobil yang pecah akibat terkena tembakan.
“Coba sekali lagi.” Teriak Ricard.
Pip........
Pintu gerbang pun terbuka, sementara Ricard terus berusaha untuk menghindari tembakan. Ia kian menaikkan laju mobil, terdengar suara kasar dari roda yang beradu dengan jalan ditambah suara dentingan peluru yang mengenai badan mobil, beruntung bagi mereka mobil itu sudah dilengkapi dengan kaca anti peluru.
“Sekarang enter sekali lagi.”
Candy melakukan dengan baik, pintu gerbang perlahan menutup dan mereka berhasil lolos dari maut.
Nafas Ricard dan Candy terengah-engah, mereka baru saja melalui masa-masa yang menegangkan. Ricard menaikkan laju mobil dan berkendara tanpa tujuan, sementara Candy mengambil tisu yang berada dilaci mobil dan membersihkan tubuh serta wajahnya dari noda darah.
Sementara itu, dirumah tempat Angel sempat disekap Smith berjalan memasuki ruangan yang letaknya diujung koridor lantai atas. Ia melihat Andreas dan beberapa bawahannya tewas mengenaskan, saat insiden terjadi Smith tengah berada diruang bawah tanah guna memastikan keadaan James dan memberikan sedikit siksaan untuknya. Hingga akhirnya Fang menekan tombol darurat yang membuatnya bergegas naik guna melihat keadaan, sayangnya Smith terlambat. Kondisinya sudah porak poranda, Angel menghilang dan para pelaku berhasil melarikan diri.
"Maaf tuan, aku sudah memeriksa kamera pengawas semua sistemnya telah diretas dan data-datanya juga hilang."
"Apa tidak ada jejak?."
"Sepertinya, tidak ada tuan."
"Kalau sepertinya, artinya ada kemungkinan mereka meninggalkan jejak. Cari dan temukan mereka, mereka pasti telah membawa Rose-ku."
"Baik tuan."
__ADS_1
Smith menyeringai, ia mengacak-acak rambutnya.
"Siapkan mobil, aku harus pergi ke suatu tempat. Dan pastikan kalian membereskan semuanya, termasuk mayat yang ada disini."