
Harris memandangi gadis yang tergolek lemah disampingnya.
“Dia nampaknya tidak dalam keadaan baik, ke rumah sakit mana kita akan membawanya tuan.”
“Tidak, dia tidak boleh dibawa kesana Kita harus menyembunyikan gadis ini.” Ujar Arnold sambil melihat spion.
Harris sangat terpukau, ingin rasanya ia menyentuh pipi Angel sekali saja. Saat ia hendak melakukannya Arnold melihat spion dan langsung menegur Harris.
“Jika kau berani menyentuh Rose kau akan membusuk didalam penjara.”
“Astaga, aku tidak bermaksud mesum.” Harris memanyunkan bibirnya.
“Dimana rumahmu?.”
“Apa kau gila?, Aku......”
“Katakan!!.”
Harris terdiam sesaat, dan membuka suara secara perlahan.
“Di persimpangan jalan Margaret dan jalan Wells apartemenku letaknya tak jauh dari sana, jaraknya sekitar dua kilometer dari sini.”
“Terlalu jauh, apa kau punya teman atau kenalan seorang dokter?.”
Harris berpikir keras, setelah hening beberapa saat barulah Harris ingat.
“Ada temanku, rumahnya tak jauh dari sini sekitar lima ratus meter.”
“Tunjukan jalannya.” Arnold mengemudi mengikuti arahan dari Harris.
“Sampai dipersimpangan belok kiri, masuk ke gang itu lalu belok kanan, gang ini hanya muat untuk satu mobil langsung masuk saja dan parkir kendaraan disana. Well, kita sampai.”
Arnold sedikit terkejut melihat apartemen yang terlihat kumuh tersembunyi di sebuah gang sempit, ia menoleh ke Harris dengan tatapan ragu.
“Tunggu apa lagi, ayo bawa gadismu.”
Harris turun dari mobil lebih dulu dan mengetuk pintu, Arnold menggendong Angel dan menyuruh Harris untuk menutup pintu mobil.
Tok..tok..tok...
Tok...tok..tok...
“Hey Watson, keluarlah ini aku.”
Dari lantai atas terlihat tirai yang disibakkan, rupanya Watson memperhatikan mereka dari balik jendela. Tak lama setelah Harris berteriak pintunya dibuka dari dalam, seorang pria berpakaian rapi dengan jas putih muncul dari balik pintu dan langsung menyapa dengan ramah. Sesaat mereka saling berpelukan yang langsung terhenti ketika Watson melihat gadis lemah tak berdaya dalam gendongan Arnold.
“Ya tuhan, cepat bawa dia masuk.”
Arnold sedikit kebingungan namun ia langsung masuk begitu disuruh, bagian dalam apartemen ternyata tak buruk bahkan sangat baik. Nuansa warna cokelat pastel membuat suasananya terasa hangat, desain interior nya juga tidak terlihat norak justru berkesan elegan dengan jam dinding besar dan beberapa foto orang hebat dunia.
“Sebelah sini.”
Watson mengarahkan Arnold untuk membawa Angel ke ruangan yang terlihat seperti ruang pasien dirumah sakit, sebuah ranjang sederhana dengan peralatan medis yang cukup memadai. Arnold membaringkan Angel dengan hati-hati, Watson langsung memeriksa keadaan Angel setelah gadis itu dibaringkan. Harris merasa bosan, ia memutuskan untuk mengambil laptopnya yang tertinggal dimobil.
“Mana kunci mobilmu tuan, aku ingin mengambil laptop.”
__ADS_1
Arnold melemparkan kunci mobil yang dengan sigap ditangkap oleh Harris.
“Bagaimana kondisinya?.” Tanya Arnold
“Sejauh ini baik, ia hanya terlalu banyak diberi obat bius. Beruntung tidak terjadi overdosis, kemungkinan besok ia sadarkan diri.”
“Tapi, sebelum ini ia dipakaikan selang infus dan oksigen. Bukankah artinya kondisinya kritis.”
“Apa kau meragukanku?, Disini aku dokternya. Percayalah.”
Meski merasa ragu Arnold tidak ingin berdebat lebih jauh, sekarang tidak ada pilihan lain. Angel harus secepatnya sadar, agar mereka bisa pergi jauh meninggalkan London. Harris sudah kembali dari mobil, ia merasa aneh melihat dua orang pria dihadapannya yang saling bertatapan dengan canggung. Menyadari kedatangan Harris mereka memilih untuk sibuk dengan urusan masing-masing.
“Hey Watson, apa kau menyimpan flashdisk yang kuberikan tempo hari. Kurasa aku membutuhkannya.” Ujar Harris
“Akan aku ambilkan.”
Harris duduk di sofa sambil mengotak-atik laptop, sementara Arnold menarik kursi dan duduk disamping Angel sambil menggenggam tangannya. Tak lama berselang Watson datang dan memberikan flashdisk yang diminta Harris.
“Apa kalian lapar?, Aku bisa memasakkan spaghetti untuk kita.” Tanya Watson.
“Tidak perlu, kami hanya butuh istirahat. Pukul berapa sekarang?.”
“Hampir pukul dua, bagaimana denganmu Harris?.”
Harris hanya mengoyangkan tangan, memberi aba-aba bahwa ia tidak ingin diganggu. Watson pergi meninggalkan mereka dan naik kelantai atas untuk beristirahat, Arnold tertidur dalam keadaan duduk dan Harris masih sibuk dengan laptopnya. Hampir satu jam lamanya Harris berkutat dengan laptop hingga tanpa sadar ia mengeluarkan suara yang membuat Arnold terbangun.
“Ada apa Harris?.” Tanya Arnold.
“Lihat ini, aku sedang mengerjakan software hasil penemuanku tempo hari mengenai chip GPS yang bisa dipasang pada tubuh manusia. Tapi entah mengapa GPSnya terus mengarah kerumah ini, padahal aku meninggalkan chip-nya dirumah.”
“Bisa kau perbesar?.”
“Sebentar.”
Harris mengotak-atik kembali, setelah diperbesar tampak tubuh seseorang tengah berbaring diruangan yang sama dengan mereka. Harris kaget, ia memandangi Angel dengan mulut hampir ternganga.
“Ada yang sudah memakainya lebih dulu, padahal chip ini sangat mahal itu sebabnya aku membuat tiruannya.”
Arnold mendekat dan meraba tubuh Angel guna memastikan letak chip itu dipasang.
“Jangan merabanya begitu, sini biar aku yang mencarinya.”
Harris kembali berkutat dengan laptop, ketika ia menekan enter lengan kiri Angel mengeluarkan cahaya merah menyala. Refleks, Arnold menyobek lengan baju kiri Angel.
“Pintar sekali, bekas lukanya mereka tutupi dengan tato sehingga tidak ada yang menyadari bahwa ada chip yang ditanam didalam.” Jelas Harris.
“Itu artinya, mereka yang memasang chip ini dapat menemukan Angel dimanapun ia berada?.”
“Karena terkoneksi dengan jaringan satelit, kemungkinan besar iya. Itu juga artinya, kita akan tertangkap. Astaga!!!.” Setelah menyadari kebenaran Harris panik, ia dengan sigap mengotak-atik kembali laptop.
“Apa yang akan kau lakukan?.”
“Mengantisipasi, aku akan mengendalikan software yang terhubung dengan Angel dan mengacaukan GPS mereka. Setidaknya ini akan bertahan dua Minggu, kecuali jika mereka menyadari hal ini.”
Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara tombol keyboard yang ditekan dengan keras dan cepat. Hampir setengah jam Harris berkutat dengan laptop, hingga desahan nafas lega keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Selesai, huh.. menegangkan bukan.”
Arnold hanya diam, ia memandangi lekat lekat lengan kiri Angel sebuah tato mawar hitam yang terlihat indah namun penuh misteri.
“Bisakah kita mengeluarkan benda itu, beri tahu temanmu untuk segera melakukan operasi.”
“Kau gila, bukan hal yang mudah untuk mengeluarkan benda kecil itu. Butuh ketelitian luar biasa agar tidak melukai gadismu.”
“Bukankah kau bilang kalau temanmu ini seorang dokter?.”
Harris mulai terlihat ragu, ia menggigit bibir bawahnya sambil menggaruk tengkuknya. Arnold memperhatikan gerak-gerik Harris dengan tatapan penuh curiga, ia pun menarik kerah baju Harris yang membuat Harris terkejut bukan main.
“Akan kujelaskan, Watson bukan dokter sungguhan. Ia memang pernah belajar mengenai ilmu kedokteran tapi karena tak punya biaya ia berhenti, namun karena pengalamannya cukup memadai ditambah ada orang dari pihak rumah sakit yang bersedia menyiapkan peralatan medis serta obat-obatan untuknya ia membuka klinik ini. Para penjahat yang terluka akan datang kemari dan memberi bayaran yang cukup tinggi, karena resiko akan ketahuan sangatlah besar jika mereka datang kerumah sakit.”
“Jadi maksudmu, pria ini adalah dokter gadungan?. Bodoh!!!.”
Arnold melepaskan kerah baju Harris dan mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang gila.
“Percayalah padaku, dia sangat berpengalaman.” Harris berusaha menenangkan Arnold meski ia sendiri terguncang.
“Akan kutunggu sampai besok pagi, jika keadaan Rose memburuk kau dan temanmu akan mati.”
Harris menelan ludah, ia ketakutan Arnold adalah mafia yang cukup terkenal akan kebrutalannya dan ancaman darinya pasti akan terjadi tidak lama lagi.
Sementara itu dilain tempat, Ricard masih berkendara sejauh mungkin dari lokasi kejadian hingga ia melihat sebuah gang sempit dan memakirkan mobil disana.
“Kita turun disini, kita akan berjalan kaki menuju bar yang ada disebelah sana.” Ricard menunjuk Bar yang berada cukup jauh dari tempat mereka berhenti.
“Kenapa tidak langsung pergi kesana, dengan begitu kita tidak perlu jalan kaki.” Bantah Candy.
“Bodoh, kita akan ketahuan.”
Ricard turun dari mobil dan Candy mengikutinya, Ricard membuka bagasi mengambil tas berisi pakaian dan beberapa senjata. Ia menutup bagasi, melempar kunci mobil kejalanan dan berjalan menuju bar yang ia maksud. Candy hanya mengekor dari belakang, malam itu cuacanya tidak terlalu dingin karena sudah memasuki musim semi. Baru sampai didepan pintu masuk aroma semerbak alkohol dan rokok tercium dengan jelas ditambah dengan dentaman musik DJ yang mengelegar, Candy merasa tidak nyaman begitu mereka masuk kedalam.
Bagaimana tidak, banyak pasangan saling bercumbu tanpa malu. Beberapa perkelahian antar pengunjung, banyak pula para wanita yang tengah mengira pria yang datang dengan pakaian mereka yang nyaris telanjang.Namun tempat itu menjadi tempat yang bagus untuk berganti kostum, mengingat semua pengunjung hanya sibuk dengan musik dan aktivitas mereka masing-masing.
“Kau duluan, aku menunggu dan berjaga disini jika selesai jangan temui aku, letakkan tasnya dimeja sebelah sana dan kirim pesan singkat padaku.” Ujar Ricard sambil memberikan tas kepada Candy.
Candy mengangguk dan bergegas pergi ke toilet, sementara Ricard duduk dimeja konter. Beberapa wanita mulai mendekat dan menggoda Ricard tapi ia menolaknya dengan halus, bartender mulai mendekat dan menanyakan pesanannya.
“Satu Cocktail saja tolong, dan boleh aku minta rokok?.”
Bartender memberikan rokok berserta korek api. “Tunggu sebentar.”
Saat bartender sibuk membuatkan pesanan Ricard, ia memandangi sekeliling dengan teliti dan memastikan tidak ada yang curiga.
“Minuman anda tuan.” Bartender menaruh minuman disamping Ricard.
Ricard menyesap minumannya secara perlahan sambil melirik kearah toilet wanita, ia melihat Candy telah melepaskan penyamaran dan keluar dari toilet. Candy menaruh tasnya diatas meja sesuai dengan perintah Ricard, Ricard menaruh uang pembayaran minumannya diatas meja, ia segera mendekat dan menyambar tas begitu Candy menjauh. Kali ini gilirannya untuk membuka penyamaran, Ricard masuk kedalam toilet dan mengisi bilik yang kosong. Beruntung baginya tidak ada siapapun yang berada didalam toilet, Ricard menurunkan penutup kloset dan duduk sambil menghela nafas.
Perlahan ia menarik kulit wajah sebelah kanan, sedikit sakit memang, ia dapat merasakan kulit sintetis itu melekat dengan cukup kuat membuatnya merasa seolah sedang menarik kulitnya sendiri. Ricard melempar kulit sintetisnya kedalam tempat sampah dan mengulangi sisi yang satunya, ia juga menarik hidung palsu serta melepas wignya. Setelah selesai ia keluar dari balik bilik toilet berjalan menuju wastafel guna mencuci wajah, sekarang giliran lensa kontak yang perlahan ia lepaskan. Ricard belum pernah memakai lensa kontak sebelumnya, dan itu membuat matanya terasa tidak nyaman, kali ini ia mencuci wajahnya sekali lagi sebelum akhirnya Menganti pakaian, sepatu dan jaket.
Ricard menatap bayangannya dicermin, ia menarik nafas kemudian Mengganti tas yang ia bawa dengan cepat sebelum akhirnya meninggalkan toilet. Ricard melihat Candy tengah duduk sendirian dan seorang pria dalam keadaan mabuk mendekat dan hendak menggodanya, Ricard tak tinggal diam ia berjalan mendekat dengan gaya sok jagoan.
“Ayo sayang kita pergi.” Ujar Ricard sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Candy menyambut tangan Ricard, ia berdiri dan berlalu pergi sambil menggandeng tangan Ricard.