B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh puluh Tiga


__ADS_3

San Fransisco, California.


(Markas Dark River.)


“Apa sudah ada kabar dari orang suruhan kita?” Nelson menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan.


“Sepertinya belum.” Jacob menjawab tanpa menoleh, ia hanya sibuk mengotak-atik laptop dihadapannya.


“Segera beritahu kalau ada kabar dari mereka, atau orang tuamu dalam bahaya.” Nelson mengancam, ia bangkit berdiri dan mengambil botol sampanye dan gelas yang tersimpan di dalam laci, lalu menuangnya untuk diri sendiri.


Ia berjalan menuju jendela, markas DarkRiver seperti gedung perkantoran pada umumnya. Sebuah gedung pencakar langit dengan dua puluh lantai, ruangan Arnold tempat Ricard sekarang berada di lantai dua puluh membuatnya dapat melihat sekeliling kota dengan cukup baik.


Sebuah ruangan dengan cat putih yang mendominasi setiap sudut dinding, terdapat sebuah lemari berisi aneka minuman keras yang disusun rapi berdasarkan jenisnya lengkap dengan gelas berukuran besar dan kecil. Juga terdapat lemari lain yang berisi koleksi senjata api hasil produksi pabrik mereka dengan ukuran dan bentuk yang beraneka ragam, terdapat sofa dengan meja di tengah. Juga terdapat meja kerja berserta kursi yang membelakangi jendela, jendelanya sendiri terbuat dari kaca dengan gorden yang bisa naik turun secara otomatis.


Di meja kerjanya sendiri terdapat peralatan khusus CEO pada umumnya, yaitu laptop dan sebagainya. Dengan sebuah foto Arnold dan empat temannya sedang berpose layaknya seorang pemain sepak bola.


Nelson menghirup aroma sampanye sebelum menyesapnya, sambil memandang ke luar.


“Kau tahu, terkadang balas dendam itu tidaklah buruk.”


Jacob tidak menggubris, ia masih sibuk dengan laptopnya.


Nelson tersenyum sendiri, sambil minum ia menatap kearah Jacob yang tak hentinya berkutat dengan laptopnya.


“Apa yang kau kerjakan? Santailah sejenak, dan minumlah bersamaku.”


Jacob tidak menolak dan tidak pula menyetujuinya.


“Tuan, aku mendapat laporan bahwa saat ini mereka sedang berada di salah satu mall tak jauh dari Sacramento.” Jacob mengalihkan pembicaraan.


“Bagus, aku yakin Abel pasti bisa menghabisi mereka dengan baik.” Nelson terlihat sangat percaya diri, sementara Jacob terus mengutuknya di dalam hati.


Ponsel Nelson berbunyi.

__ADS_1


“Halo.., apa? Segera tangkap, kali ini bawa mereka hidup-hidup atau, bawa salah satunya saja kita bisa menggunakan itu sebagai umpan.”


Jacob menangkap sinyal bahwa sesuatu telah terjadi, hanya saja ia tak punya keberanian untuk bertanya. Kini giliran Nelson yang menelepon.


“Siapa yang merekomendasikan Abel? Cepat beritahu dan bawa orangnya kemari.” Nada suara Nelson sedikit meninggi tatkala ia menelepon seseorang, yang bisa Jacob simpulkan bahwa yang sedang ia telepon adalah asistennya.


Tak lama berselang seorang pria bersetelan jas rapi masuk ke ruangan tersebut.


“Anda mencariku tuan?”


“Duduklah.”


“Kudengar kau yang mengusulkan agen Abel dan Faith dalam pengejaran kali ini.” Nelson menghisap rokok, saat ia menghembuskan nafas asapnya membumbung di udara.


“Ya Tuan.” Pria tersebut terlihat pucat, terlepas dari warna kulitnya yang memang putih bersih.


“Atas dasar apa? Apa kau tahu dengan baik bagaimana kinerja mereka?”


“Aku mendapat banyak informasi yang menyebutkan bahwa Abel adalah musuh terbesar Rose tuan, ditambah Abel sering mengungkit-ungkit Rose di hadapan kolega-koleganya.”


“Ya tuan.”


“Bodoh! Kau hanya mendengar dari celotehan mulut Abel. Abel dan Faith meskipun mereka berdua, tetap saja mereka tidak sebanding dengan Rose.”


Pria tersebut mulai berkeringat, Jacob meliriknya sekilas tubuh pria itu sedikit gemetar dan insting Jacob mengatakan bahwa pria ini akan dihabisi.


“Jacob.” Suara Nelson membuat Jacob menoleh. “Ceritakan pada pria ini bagaimana kinerja Abel dan Faith.”


“Abel dan Faith merupakan agen pembunuh terbaik, namun dalam beberapa kasus mereka sedikit ceroboh dan tak jarang menyerang korbannya di tengah keramaian. Abel dan Faith pernah ditugaskan untuk membunuh pimpinan salah satu perusahaan yang bermain curang dalam proyek saham milik Deathknell, dan kebetulan Rose juga mendapat tugas yang sama. Mereka sempat berkelahi untuk membuktikan siapa yang bisa membunuh lebih dulu, namun dalam waktu kurang dari sepuluh menit Abel dan Faith berhasil dikalahkan Rose. Dan Rose berhasil dalam misinya, yang membuat Abel selalu membandingkan mereka dengan Rose.”


Jacob menarik nafas. “Dan sepertinya, akhir-akhir ini Abel dan Faith menjadi buronan polisi sebagai tersangka utama dalam pembunuhan salah satu pemimpin perusahaan elektro di San Diego, tak hanya satu. Banyak kasus di mana mereka menjadi tersangka utama karena pembunuhan berencana, karena seperti yang dijelaskan pada awalnya. Mereka selalu menyerang korban di tempat keramaian.”


Nelson menyimak sambil menghisap rokoknya yang perlahan mulai habis, pria bersetelan jas tersebut terdiam tanpa suara.

__ADS_1


“Kau tahu, aku baru saja mendapat kabar bahwa rombongan Rose diserang di sebuah mall. Banyak rekaman yang menunjukkan hal tersebut dan membuatku harus menghilangkan semua bukti yang ada.” Nelson menghisap rokoknya untuk terakhir kali, sebelum melempar ke lantai dan menginjaknya.


“Kau tahu berapa banyak uang yang harus aku keluarkan karena kebodohanmu?”


Pria tersebut sangat ketakutan Jacob bisa ikut merasakan bahwa ia gemetaran.


“A...aku tidak tahu, aku mendapat email dan itu berisi catatan Abel. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa, dan dalam catatan itu tidak dijelaskan mengenai kegagalan ataupun perkelahiannya dengan Rose.”


Nelson berjalan santai mendekati pria tersebut dan memberikan aba-aba agar pria itu berdiri. “Ini, tolong pegang gelasku.”


Pria tersebut berdiri dan berusaha membela diri, Jacob merasa kasihan melihatnya namun apalah daya tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menolong pria tersebut. Nelson berjalan menuju lemari koleksi senjata milik Arnold, ia mengambil sebuah Revolver berkaliber 45 volt dengan tongkat hammer bertali dingin dan bingkai yang kokoh dan gemuk, mirip dengan senjata api yang biasa digunakan coboy dalam film western colt pada abad ke sembilan belas.


“Kau tahu, ini adalah jenis senjata yang paling aku sukai sejak pertama kali aku menggunakannya.”


Nelson menimang pistol tersebut dengan lembut seolah itu adalah barang paling berharga miliknya.


“Selain kuat, Revolver jenis ini sangat baik dan akurat untuk menembak sasaran tepat di otak mereka.”


Dorrrr......


Prankkk..


Suara tembakan pistol disertai dengan darah yang muncrat kemana-mana, pria bersetelan jas sudah terbaring dengan lubang menganga di dahinya. Jacob yang syok melihat kejadian tersebut hampir kehabisan nafas.


'Ya tuhan.’ Batin Jacob.


Melihat darah segar mengalir disertai bau amis khas membuatnya sedikit mual dan ingin muntah, Nelson melihatnya dan sedikit tertawa.


“Apa kau hemophobia?” Nelson terkekeh, ia berjalan keluar ruangan. terdapat dua orang pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi dan kekar berdiri di depan pintu


“Bawa mayat ini keluar dan lempar ia ke kandang buaya, oh ya. Jangan lupa cari orang untuk membereskan ke kacauan di dalam ruangan.”


Jacob kembali memandangi mayat yang terkapar tepat disamping-Nya sebelum dibawa oleh dua orang yang tadi diperintahkan oleh Nelson, Jacob menelan ludah sambil berdoa.

__ADS_1


“Ya Tuhan, semoga orang tua dan diriku selalu berada dalam lindunganmu, amin.”


__ADS_2