
Bar Gong memiliki pemandangan yang indah dan Susana yang santai. Desain interior nya begitu berkelas dan elegan, kursi tinggi berwarna merah disusun rapi berhadapan dengan meja bar tender, beberapa kursi empuk juga disusun didekat jendela. Alunan musik klasik yang lembut beriringan dengan suara riuh pengunjung bar, ada yang berdansa, ada yang asyik bercerita, ada yang terus menerus menuangkan anggur, dan ada pula yang hanya duduk santai di dekat jendela sekedar menikmati pemandangan jembatan dan menara London.
Seorang staf mendekat, dan membungkuk memberi hormat.
“Mohon maaf tuan dan nyonya, bisa kulihat undangan kalian?.”
Angel menoleh kearah James, James dengan cepat mengeluarkan kartu undangan mereka dari balik mantel.
“Sebelah sini, tuan dan nyonya Edward.”
Angel dan James melepas mantel, mengantungnya di tempat yang disediakan sebelum mengikuti arahan staf tersebut. Mereka duduk di sebuah kursi didekat toilet, tak terlihat pemandangan apapun dari sana membuat Angel sedikit mengerutkan dahi.
“Apa kau melihat target kita?.” James bertanya pada Angel.
“Ya, arah jam dua belas. Ia sedang menikmati sebotol minuman, pria yang murahan. Sepertinya aku akan menggodanya, kau awasi sekitar.”
Angel melirik kearah pria yang berusia sekitar empat puluh tahunan, dengan rambut sedikit beruban. Dan wajah yang hampir berkeriput, memakai tuxedo berwarna hitam dan jam tangan Montblanc silver yang mewah.
“Hey, bukankah harusnya aku yang...”
“Sttt...,” Angel mengarahkan jarinya kebibir James, yang membuatnya diam seribu bahasa. “Aku yang bertugas menghabisi, tugasmu hanya mengawasi. Jadi sebaiknya, kau ikuti arahan dariku.”
Angel berdiri, James baru menyadari betapa cantik dan anggunnya Angel malam ini. Kulit berwarna madu terlihat selaras dengan dress hitam tanggung berlengan panjang berbahan brukat, rambut hitam bergelombang yang dibiarkan terurai senada dengan mata hitam pekat. James mengangguk setuju, memandangi Angel dari belakang yang berjalan menuju kursi merah di meja bartender.
“Permisi, boleh aku minta segelas long island iced tea mocktail.”
“Tentu, nona.”
Seorang pria menoleh begitu mendengar suara lembut dari seorang gadis disampingnya, ia cukup terpesona dengan kecantikan Angel.
“Hallo nona, apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?.”
“Mungkin saja.”
“Kalau boleh saya tau, siapa nama anda?.”
__ADS_1
Angel terdiam sejenak dan mulai memikirkan nama secara acak.
“Sally Edward, tapi anda boleh memanggilku Sally tuan...”
“Jackson Wilshere, kau bisa memanggilku Jack nona.”
“Nice to meet you Mister Jack, boleh aku bergabung.”
“Dengan senang hati, ngomong-ngomong kau kemari sendirian atau...”
“Oh, aku kemari bersama suamiku Mr.Edward, kau pasti mengenalnya.”
Angel menoleh kearah James yang sedang asyik bercanda dengan seorang staf wanita, sambil minum beberapa botol anggur. Jack ikut melirik, dan merasa prihatin terhadap Angel.
“Pria yang baik, malam ini tempat ini disewa oleh salah satu temanku. Hanya orang terpandang yang boleh datang, dan beberapa gadis untuk menghibur kami.” Jack menuangkan minuman ke cangkirnya yang kosong.
“Boleh aku bantu tuan.”
“Dengan senang hati.”
“Sedari tadi kau tidak minum, kau boleh minum punyaku lebih dulu.”
“Oh tidak tuan, aku tidak suka anggur.”
“Ini bukan anggur, ini adalah Wiski sayang.”
“Tidak, tidak. Aku benci alkohol, aku minum mocktail saja. Ah.. itu dia.”
Pesanan Angel sudah selesai, Secangkir mocktail yang merupakan campuran antara teh, cola, dan sari buah-buahan. Angel menyesapnya perlahan, sambil mengangkat cangkirnya dengan anggun. Jack menuang lagi wiski kecangkir, dan ikut mengangkatnya keudara. Malam mulai larut, James sudah mulai mabuk dipojokkan. Sementara Angel masih sibuk menuangkan wiski untuk Jack.
“Ini sudah hampir botol ketiga anda tuan Jackson, kau memang sangat kuat.”
“Tentu saja Sally, aku sudah terbiasa dengan wiski. Ah, sedari tadi kau hanya menuang wiski untukku tidakkah kau merasa bosan sayang. Cicipilah sedikit, sedikit wiski tidak akan membunuhmu.” Jack mulai menyodorkan secangkir wiski untuk Angel, Angel menolak dan malah mengajaknya untuk berdansa.
“Kita Dansa saja bagaimana?.”
__ADS_1
“Sure madam.” Jack mulai membungkuk memberi hormat, Angel memegang tangan Jack dan ikut memberi hormat dengan menyilangkan kaki sambil sedikit mengangkat rok.
‘Sial, aku baru ingat kalau aku belum pernah berdansa sebelumnya.’ Batin Angel.
Jack merangkul pinggang Angel, Angel mengalungkan tangannya dileher Jack dan mereka mulai bergerak maju mundur secara perlahan. Mata mereka saling bertatapan, wajah Angel memerah karena malu. Belum pernah ia merasa begitu dekat dan nyaman saat bersama seorang pria, mata pria itu mengingatkan Angel pada Arnold. Ia membayangkan bahwa Arnold yang sedang berdansa dengannya, Angel mulai merasa gelisah dan memilih untuk menyudahi Dansa mereka.
“Oh.., aku haus sekali.” Angel mengambil cangkir dan meminumnya dengan cepat. “Sial, apa ini rasanya aneh. Ini bukan milikku.”
“Sayang kau meminum wiskiku, apa kau menyukainya.” Jack tersenyum menggoda.
“Uh..., Rasanya buruk. Tapi menarik, boleh aku mencobanya lagi.”
“Sure.” Jack menuangkan wiski, Angel meneguknya perlahan. Baru tiga cangkir yang Angel minum, namun wajahnya sudah merah padam.
“Bena- benar nikmat, hey jekkie tambah lagi ayo.” Angel mulai merancau, alkohol sudah merusak pikirannya.
“Sally, kau mabuk. Astaga, kau ternyata tidak kuat terhadap alkohol. Mari kuantar kau ke kamarmu.” Jack hendak menyentuh Angel, tapi Angel langsung menepisnya. Angel tertunduk lemas di meja, Jack mengencangkan tubuhnya namun hasilnya nihil.
Jack berjalan mendekati James, namun keadaan James jauh lebih buruk karena sudah menghabiskan berbotol botol Vodka. Tidak ada pilihan lain selain memapah gadis itu menuju kamarnya, Angel berjalan sempoyongan sambil sesekali merancau. Jack menyesal telah membiarkan gadis itu meminum alkohol, seharusnya ia melarangnya. Jack tiba di kamar 4509, ia membuka kunci dengan kewalahan. Setelah masuk Jack langsung membaringkan Angel ke kasur dan mengunci pintu, kamarnya salah sebuah kamar berukuran deluxe king dengan pemandangan menghadap barat daya kota. Menampilkan keindahan jalan Tate modern, jembatan Paul's millenium, Westminster, London Eye, istana Buckingham dan menara Big Ben, serta pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan.
Jack memandangi tubuh Angel, sangat indah dan menarik. Jack mencoba mendekat, ia melihat rok Angel tersingkap. Paha yang mulus, membuat adik kecilnya terbangun. Saat Jack menyentuh paha Angel, Angel meloncat dari kasur membuat Jack kaget setengah mati. Sebuah pistol diacungkan kearahnya, Jack belum siap dengan keadaan itu hanya tersenyum simpul.
“Ternyata kau hanya berpura-pura Rose.” Mata Angel terbelalak melihat pria dihadapannya.
“Ah, itu benar kau. Ternyata kau sangat cantik sayangku.”
“Mundur, atau kau ku tembak.” Angel berusaha untuk tidak gugup, ia memang penasaran dengan pria dihadapannya. Nada suaranya yang lembut menggoda, sangat mirip dengan seseorang.
“Siapa kau?.”
“Rose, kau tak mampu mengenaliku dengan baik rupanya. Ternyata alkohol tidak baik untukmu sayang.” Jack berjalan maju tanpa menghiraukan pistol yang digenggam Angel.
Angel mulai merasa pusing, efek dari alkohol yang ia minum. Tubuhnya hampir jatuh terhempas, dengan sigap Jack menangkapnya dan kembali membaringkan tubuhnya keatas kasur.
“Hampir saja, Rose. Aku berjanji tidak akan membuatmu minum alkohol lagi.” Gumam Jack.
__ADS_1
Angel tertidur pulas, Jack melepaskan hels yang dikenakan Angel. Jack merasa lelah, ia menjatuhkan diri ke atas sofa. Dan tertidur dalam posisi duduk hingga pagi.