B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh Puluh satu


__ADS_3

Arnold memimpin jalan keluar dari pintu keluar lantai atas toko mainan itu, ke aula di lantai atas. Para penguinjung yang masih sedikit mematung di tempatnya masing-masing, tak ada yang beranjak kemana-mana, mereka hanya bertukar ekspresi panik.


"Apa yang baru saja kudengar itu suara pistol?” seorang wanita bertanya kepadanya saat ia sedang lewat terburu-buru.


“Ya.” Jawab Arnold.


“Ya tuhan.” Wanita tersebut panik sambil menggendong erat anaknya yang mungkin baru berusia empat tahunan.


"Ayo ikut aku, kalian akan aman."


Mereka baru melewati pintu depan saat selusin lebih tembakan terdengar dari lantai bawah dan membahana di sepenjuru mal.


“Ya tuhan.”


“Ya Tuhan.” Teriak seseorang, "Ini *******!!”


Kata '*******' menyebar seperti riak di kolam yang tenang, membuat keadaan lebih kacau dari sebelumnya. Orang-orang yang mematung kini mulai berlarian mencari jalan keluar.


Banyak mulut menganga membentuk huruf "O”. Musik mal berhenti dan sebuah suara mengumumkan dari pengeras suara bahwa keadaan gawat tengah berlangsung dan diharapkan bahwa semua pengunjung dan harus bergegas pergi ke pintu darurat terdekat.


Tidak diragukan lagi seseorang meneriakkan kata "Berengsek" tablo beku kebingungan berubah menjadi lautan staf toko keluar dari pintu depan toko masing-masing dan berkumpul di aula atas. Mendadak mall sepi itu berubah menjadi luar biasa sibuk.


Ricard terus berlari sebelum memutuskan untuk bergabung dengan kerumunan menuju eskalator di ujung yang akan membawa mereka turun ke pintu belakang mal dan keluar ke tempat parkir.


Arnold tak kuasa meninggalkan ibu dan anak tersebut, ia menemukan jalan yang berbeda untuk keluar dari toko mainan di lantai bawah, sebuah pintu bertulis KHUSUS KARYAWAN yang mengarah ke gudang dengan kardus dan plastik gelembung yang di tumpuk sampai tinggi. Dari situ mereka menemukan pintu di belakang yang memberi akses ke koridor belakang yang berupa dinding batako abu abu.


"Jalan mana sekarang?" tanya Wanita yang menggendong anak tersebut.


"Aku tidak tahu." Tebakan Arnold adalah ke kiri. Dia berpikir ke kiri akan membawa mereka ke arah jalan keluar tempat parkir khusus karyawan. Arnold memimpin ke arah sana, beberapa orang yang melihat mereka mengikuti dari arah belakang. Teredam oleh dua pintu yang tertutup, mereka mendengar letusan tembakan samar di belakang mereka.


"Ini gila," Wanita tersebut megap-megap.


"Siapa yang dalam nama Tuhan begitu menginginkan kematian orang tak berdosa?" Ujar Pengunjung lainnya.


"Entahlah!” bisik Arnold. "Andai aku tahu."


Bagi wanita dan beberapa pengunjung lainnya, rasanya mereka seperti melarikan diri tanpa henti selama berminggu-minggu. Padahal mereka sudah setengah jalan, Arnold merasa kasihan melihat wanita tersebut berlari sambil menggendong anaknya. Jadi, dia berinisiatif untuk menggendong gadis mungil tersebut.


“Kemarikan, ayo bergegaslah!! Sebentar lagi kita sampai.”


Di pintu darurat, Louis sendirian menyusuri anak tangga. Noda darah mengotori bajunya, bau amisnya membuat Louis ingin segera mandi dan mengganti baju.


Saat dia berhasil keluar gedung.


"Yo! Hei!"

__ADS_1


Dari arah belakang, ada seorang satpam mal berkulit gelap, “Berhenti disitu.” Dia menodongkan pistolnya pada mereka. "Angkat tanganmu!!! Astaga kau berlumuran darah.”


"Aku hanya berusaha----“


"DIAM!" Tangannya mencari-cari radio di ikat pinggang, matanya tetap terarah pada Louis . "Ini Kent. Aku menangkap salah satu dari mereka di sini. Akses Belakang 5b."


Radionya berkoak statis dan terdengar suara yang tidak jelas.


Satpam mal itu menjawab, "Asia. wanita, remaja akhir. Seseorang yang kita lihat di CCTV."


Statis dan suara tidak jelas lagi.


"Uh... yeah, dia berlumuran darah. Sepertinya dia lari dari arah tembakan.”


Statis dan suara.


"Dimengerti!" Dia menggantungkan radionya kembali ke ikat pinggangnya. "Kau ******* biadab, dasar wanita murahan.”


Satpam tersebut memandang jijik Louis.


"Kau akan membusuk di penjara."


"Aku bukan *******!" kata Louis.


"Bastardo!!” Louis mengutuk "Aku bukan *******"


"DIAM!" Dia menyentakkan pistolnya ke kepala Louis.


“Sekarang cepat menghadap ke dinding!!”


Louis menggeleng sambil menunjuk ke balik bahunya. "Orang jahat ada di sana. Mereka punya senjata dan..”


“Letakkan tangan sialanmu di dinding, Miss, atau aku bersama akan meletakkan peluru di dalam tubuhmu sekarang.”


Louis bisa melihat buku jarinya yang melingkar di pelatuk yang menonjol, tangannya pucat tertarik otot dan tulang. Sudah ada beberapa pon tekanan di pelatuk itu


“O- oke.” Louis meletakkan telapak tangannya di atas tembok yang kasar lalu saat ia melebarkan kaki dan tangan yang menempel di dinding si satpam mulai menggeledah Louis.


"Dengar, kumohon Aku benar-benar bukan *******.”


“Aku kehilangan seorang sepupu akibat apa yang kalian lakukan. Dia pria yang baik. Bekerja di restoran di bagian atas Menara utara, Menjaga orang tuanya, bekerja sangat keras."


Satpam itu mendorong kepala Louis kuat-kuat ke dinding. “Aku yakin kau berasal dari daerah Padang pasir atau asal kalian sama dengan ******* yang pernah menyerang hotel di Mumbai?”


Louis baru ingat, ia sedang menyamar menjadi salah satu remaja asal India. Wajar saja jika satpam itu salah menilai dirinya.

__ADS_1


“Kau salah, Ayahku orang Eropa asli.”


“Astaga! Kalian lama sekali!" Satpam mal itu berteriak, lega melihat lima orang polisi berlari menuju ke arahnya.


"Ini pelaku yang kau laporkan?" tanya salah satunya. Seorang sersan polisi. Dia dan yang lainnya membawa senapan tangan. "Ya. Ini dia."


"Dia tidak sesuai dengan deskripsi yang dilaporkan teman kami.” Kata sersan polisi sambil mengokang senapannya.


"Pria dan wanita bersenjata. keduanya orang dewasa, satu berkulit hitam dan satu lagi berkulit putih." Dia memandang Louis. "Dia jelas bukan salah satu dari mereka."


"Tapi"


"Tom, bawa gadis ini keluar!"


"Baik, Pak," jawab salah satu polisi


“Kau berikan keterangan padanya." kata sersan polisi pada Louis.


"Kami akan membutuhkan keterangan saksi mata darimu nanti, dan tolong minta orang tuamu untuk segera menjemput."


"Baik." jawab Louis. “Terima kasih."


Sersan itu menggosok-gosok dagunya, berpikir keras, radionya berbunyi. Ada lebih banyak polisi yang sedang mengarah ke sini. Satuan respons bersenjata ada di antara mereka.


"Ada beberapa polisi yang tertembak di sini, Sir."


"Aku tahu itu!" bentak si sersan polisi. "Aku tahu itu. Biar kupikir. Biar kupikir."


Saat itulah mereka mendengar gema pintu yang dibuka paksa, dan langkah kaki. Louis tidak bisa melihat apa-apa. Suara itu datang menuruni anak tangga.


"Siapa itu?" salah satu polisi berbisik. Langkah kaki itu bergema, dan terdengar suara pistol yang di kokang.


"Mungkin, Itu salah satu dari mereka!" seru Louis.


"Mereka? Siapa?" Sersan mengokang senapannya. "Salah satu dari penembak?"


Louis mengangguk.


"POLISI!" teriaknya cepat. "KAMI POLISI BERSENJATA." Suaranya menggema diiringi dengan langkah kaki menaiki tangga dan akhirnya tidak terdengar.


Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga mendadak berhenti.


"POLISI!" teriaknya lagi. "SEBAIKNYA KAU MENDEKAT DENGAN TANGAN TERANGKAT!" Tidak ada jawaban. Hanya ada suara magasin peluru yang dikeluarkan dan berkelontang di lantai. Lalu klik-klak magasin baru yang dimasukkan ke tempatnya.


"Kedengarannya tidak baik," kata si satpam mal.

__ADS_1


__ADS_2