
Tangan Angel gemetar tak terkendali dan ia sudah tidak bisa mengabaikan kejang otot di kakinya. Nyaris tidak bisa berfikir karena kepanikan yang menguasainya, penglihatannya mulai kabur saat itu dan ia bisa merasakan debar jantungnya yang berhenti, dan dimulai dengan irama cepat dan kembali melambat. Tubuhnya seperti berhenti berfungsi, sistem demi sistem yang dibutuhkan. Rasa takut memunculkan rasa logam di tenggorokannya. Lalu, secara ganjil, keinginan untuk tertawa nyaris mengendalikannya. Kemudian menangis tak terkendali, Angel tahu dirinya berada di ambang kehancuran. Air mata sirna secepat munculnya, kenangan demi kenangan pahit bermain liar dipikirkannya. Perasaan marah, kecewa, sedih dan penyesalan datang menghantui. Perasaan-perasaan itu mencekik lehernya dan ia merasa sesak nafas. Sesaat kemudian, sensasi itu lenyap.
Tidak digantikan oleh apapun.
“Arnold.” Bisik Angel.
Bayangan Arnold muncul ditengah penglihatannya yang menggelap tapi langsung ditelan oleh kerisauan emosi yang melanda benaknya dalam sekejap mata, udara dingin kian menusuk menghancurkan kemampuannya untuk berfikir. Kepedihan menghentikan fungsi sarafnya.
Untuk sesaat Angel tak dapat lagi merasakan kakinya, giginya terus bergemeretak, dan tangannya terus menerus memeluk sekedar menghibur diri. Bibirnya terus memanggil nama Arnold, seolah itu adalah manusia terakhir yang ingin ia temui. Suara gemeretak tak lagi terdengar dari gigi-gigi Angel, perlahan pelukannya mengendur dan matanya tertutup rapat.
Klik...,
“Ah..., Apa ini..., Siapa yang membuang mayat disini?.”
Seorang pria berumur sekitar empat puluh tahunan terperanjat, melihat seorang wanita setengah telanjang terbaring lemah dipintu belakang rumahnya. Pria lain muncul dari dalam rumah ikut terpana, ia mendekat dan mengangkat kepala Angel perlahan.
“Ah.., benar ini dia. Ternyata GPS nya tidak bermasalah, cepat bantu aku.”
“Ricard, kau mengenal gadis ini?.”
“Ya, dia sahabatku. Ayo Jeremy, cepat bantu aku.”
“Haruskah kutelepon ambulan?.”
“Tidak perlu, bukakan pintu depan dan mobil. Juga bawakan aku jaket serta beberapa selimut.”
Jeremy mengikuti perintah Ricard tanpa berpikir, ia hanya merasa syok melihat gadis tak berdaya dihadapannya. Ricard menggendong Angel dengan cepat membawanya menuju mobil, ia merasakan tubuh Angel yang sedingin es membuatnya merasa panik. Setelah membaringkan Angel dikursi belakang, ia memakaikan jaket serta membalut tubuh Angel dengan selimut secara berlapis-lapis.
“Kau tetaplah disini, kunci rumahmu jangan biarkan siapapun masuk kedalam. Dan berjanjilah, jangan ceritakan hal ini pada siapapun.” Ricard mengatakannya dengan tegas tanpa ragu, membuat Jeremy hanya mengangguk tanpa suara.
Ricard menyalakan mesin mobil, dan menginjak gas sedalam mungkin membuat mobil melaju kencang tanpa kendali. Jeremy yang berdiri didepan pintu segera masuk kedalam rumah dan mengikuti perintah Ricard.
“Apa yang terjadi Rose?, Apa yang membuatmu jadi seperti ini.”
Ricard terus mengomel sambil menekan gas lebih dalam dari sebelumnya, deru suara mesin kian memekakkan telinga. Tapi Ricard mengabaikannya, ia hanya memikirkan keselamatan Angel. Tiba-tiba lampu lalulintas berubah menjadi merah, Ricard kaget. Akan tetapi waktunya tidaklah banyak jadi ia menerobos begitu saja, beruntung tidak terjadi kecelakaan.
Sesampainya dirumah sakit Ricard langsung turun dari mobil tanpa mematikan mesin, secepat mungkin ia membuka pintu belakang dan menggendong Angel menuju keruang gawat darurat. Seorang suster mendekatinya, memberi saran agar Angel dibaringkan keranjang.
“Kumohon selamatkan gadis ini.”
“Baiklah, sebaiknya anda tunggu diluar biarkan kami menolongnya.” Suara suster terdengar begitu tenang, namun tidak dapat meredam emosi Ricard.
Ricard keluar dari ruangan, ia berjalan mengelilingi koridor rumah sakit hingga ia tiba disebuah pojokan. Emosinya saat ini benar-benar tidak stabil, ia menendang kotak sampah dengan sangat keras sehingga menimbulkan bunyi berdentam yang kuat. Ia merogoh kantong dan mengambil ponselnya, secepat mungkin ia mengetik beberapa pesan yang langsung dibalas dengan sebuah telepon.
“Bagaimana keadaan Angel?.” Suara Lois dari balik telepon terdengar seperti sebuah teriakan yang kuat.
“Jangan berteriak, dia masih belum sadar..., Aku menemukannya membeku dibelakang rumah salah satu temanku........, bagaimana dengan ayahku apa dia......, Syukurlah..,”
Saat menerima telepon Ricard melihat seorang wanita mengawasinya dari kejauhan, awalnya Ricard berpura-pura mengabaikannya akan tetapi wanita tersebut tak berhenti menatap membuat Ricard merasa gerah.
“Sebentar Lou.. ada yang ingin aku urus.”
Ricard mematikan telepon dan langsung berlari mengejar wanita tersebut, ia melewati lorong rumah sakit dan menabrak beberapa suster, beberapa obat-obatan berhamburan dilantai. Namun Ricard mengabaikannya, ia terus berlari hingga tiba dipintu depan. Ia melihat sebuah mobil menyala, dan barulah ia sadar bahwa ia lupa memarkirkan kendaraannya dengan benar. Ricard tidak tahu harus mengejar wanita itu kemana, jadi ia masuk kedalam mobil dan sesegera mungkin mencari tempat parkir.
“Sialan..., Kemana perginya.”
__ADS_1
Ricard turun dari mobil, membanting pintu dengan keras, kemudian dia berjalan memasuki rumah sakit menuju ruang gawat darurat. Ia melihat seorang dokter keluar dari balik pintu ruangan tersebut, sambil berbicara dengan seorang suster.
“Permisi, bagaimana keadaannya?.” Ricard mendekati mereka.
“Apa kau keluarganya?.” Dokter tersebut menatap Ricard dengan heran.
“Ya, aku calon suaminya.” Ricard mengatakan kebohongannya tanpa ragu.
“Apa yang kau lakukan, aku mengerti masalah orang muda menjelang pernikahan, banyak masalah yang membuat kalian bertengkar, Tapi jangan pernah biarkan dia pergi keluyuran saat cuaca dingin, beruntung dia masih bisa bernafas saat ini.”
“Apa dia mengalami hipotermia?.”
“Lebih buruk dari itu, apa dia pernah menceritakan kondisinya padamu?.”
“Tidak.”
“Inilah yang menyebabkan tingkat perceraian di London meningkat, kalian pasangan muda kurang memahami satu sama lain. Begini, pacarmu ternyata mengidap anafilaksis, dia alergi terhadap suhu dingin. Tekanan darahnya menurun drastis bahkan jantungnya sempat berhenti bekerja, beruntung dia dapat segera ditangani terlambat satu menit saja mungkin sudah cukup untuk membuatnya kehilangan nyawa.” Sang dokter mendikte dengan jelas dan lugas, membuat Ricard terdiam beberapa saat.
“Ya tuhan, aku bahkan baru mengetahuinya. Dan sekarang apa dia baik-baik saja?.”
“Belum, dia masih dalam proses pemulihan. Mungkin butuh waktu sekitar seminggu, lain kali rawat dia baik-baik. Saya permisi dulu.”
Ricard berdiri seperti orang bodoh, dia memang tidak terlalu memperhatikan Angel. Amarahnya berkecamuk, rasa kecewa terhadap diri sendiri membuat ia kehilangan akal sehat. Ricard sangat menyukai cara kerja Angel yang cepat dan rapi, aroma tubuhnya yang khas, tatapan matanya yang dingin, juga suaranya yang lembut, tidak bukan suka melainkan cinta. Dan kini Ricard baru menyadari perasaannya yang sebenarnya, ia mencintai Angel. Selama bertahun-tahun lamanya ia menutupi perasaannya, tapi kali ini rasa pilu melihat wanita yang ia cintai hampir kehilangan nyawa membuat Ricard meneteskan air mata.
“Siapapun pelakunya, dia pantas mati. Ayah, Angel. Aku akan menangkap penghianat yang membuat kalian celaka, meski nyawaku taruhannya.”
Setelah memastikan semuanya aman Ricard keluar dari rumah sakit, ia berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya. Dan lagi ia melihat seorang wanita tengah mengendap-endap berjalan keluar dari tempat parkir, sepertinya wanita itu tidak menyadari keberadaan Ricard membuat Ricard ikut berjalan perlahan mengikuti wanita itu dari belakang. Wanita tersebut menghentikan langkahnya saat tiba disebuah lorong sepi wanita itu menghembuskan nafas lega, namun alangkah terkejutnya ia begitu melihat sesosok pria bertubuh kekar berada dibelakangnya. Wanita itu hampir berteriak, namun dengan sigap Ricard menutup mulutnya.
“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?, Kenapa kau mengendap-endap?.”
Wanita itu terus meronta, Ricard berusaha memeluknya sekuat tenaga agar wanita tersebut tidak melarikan diri. Ricard mulai khawatir, ia mendengar langkah kaki beberapa orang berjalan kearah mereka. Panik, Ricard melepaskan tangannya yang membekap mulut wanita itu dan menggantinya dengan mulutnya sendiri untuk membungkam, mendesakkan lidah ke antara bibir itu untuk meredam jeritan dan wanita itu meleleh. Pinggulnya yang semula tegang perlahan mulai melemas, seluruh tubuh wanita itu melunak didalam pelukan Ricard, perlawanannya sirna.
“Maafkan aku.” Wanita tersebut bergumam lirih.
“Ah tidak, aku yang minta maaf. Sebaiknya ikut aku kemobil, banyak hal yang ingin kubicarakan.” Ricard berusaha untuk tenang dan melupakan yang barusan terjadi.
“Bicara saja disini, aku tidak punya banyak waktu. Aku takut mereka menemukanku.”
“Mereka. Siapa?.”
Terdengar suara gaduh dari kejauhan, seperti beberapa orang yang sedang terlibat perkelahian.
“Ah, itu mereka. Kumohon sembunyikan aku.”
“What?.” Ricard melirik kearah tempat sampah besar yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. “Ah itu dia, kemarilah.”
Ricard mengangkat tubuh wanita tersebut dan memasukannya kedalam tempat sampah.
“Kau gila?.”
“Tidak ada waktu untuk berpikir, ayo cepat minggir.” Dan secepatnya Ricard melompat kedalam tempat sampah.
Ricard hanya mengandalkan Indra pendengarannya, ia tidak berani untuk mengintip keadaan sekitar.
“Busuk, Hoek...”
__ADS_1
“Tahan dulu nafasmu jika ingin selamat.”
“Tapi..”
secepat kilat Ricard membekap mulut dan hidung wanita tersebut, suara-suara beberapa orang mulai terdengar mendekat bahkan terasa sangat dekat. Ricard berusaha mengingat suara mereka dengan baik, barangkali salah satu dari mereka ada yang ia kenali. Suara tersebut kian menjauh, diiringi dengan nada kesal dan kecewa. Wanita tersebut memukul tangan Ricard beberapa kali agar Ricard melepaskan tangannya, Ricard mulai menyadari bahwa wanita tersebut kesulitan untuk bernafas dan segera melepaskan tangannya.
“Kita tunggu sebentar lagi, barangkali mereka masih disekitar sini.”
Wanita tersebut mengabaikan perkataan Ricard, ia hanya sibuk menarik nafas dalam-dalam bahkan aroma sampah yang busuk sekalipun bagaikan bunga kasturi baginya.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Ricard membuka tutup tempat sampah dan melompat keluar dari sana. Ia juga membantu wanita tersebut untuk keluar, beberapa kali wanita itu mengibaskan baju dan rambutnya dan memastikan bahwa tidak ada satupun sampah yang masih menempel.
“Sial...., Apa kau tidak bisa mencari tempat lain untuk bersembunyi.” Wanita tersebut bergumam kesal.
“Berhenti menggerutu, ayo ikut denganku.”
“Kemana?”
“Mobil, kau bisa kerumahku untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu kau harus menjelaskan semuanya padaku.”
“Aku punya hak untuk menolak.”
“Aku baru saja membantumu lolos dari Kematian, berarti aku punya hak atas hidupmu. Cepat.”
Ricard menarik tangan wanita itu dan bergegas mengajaknya menuju mobil, dia membukakan pintu untuk wanita itu dan memastikan pintunya terkunci rapat agar wanita tersebut tidak melarikan diri. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan kesunyian, merasa bosan. Wanita tersebut memulai percakapan.
“Siapa namamu?.”
“Kau menginginkan ku untuk jujur atau tidak?.”
“Tentu saja jujur, katakan.”
“Berarti kau juga harus menjawab dengan jujur.”
“Baiklah.”
“Namaku Ricard, siapa namamu?, Dari mana asalmu?. Apa tujuanmu?. Dan mengapa mereka mengejarmu?.”
“Banyak sekali, tapi baiklah. Namaku Candy. Untuk pertanyaan lainnya dapatkah aku menjawabnya setelah mandi, aku benar-benar tidak tahan dengan bau busuk ini.”
Mereka tiba disebuah apartemen di dekat sungai Thames, saat tiba dikamar dengan cepat Candy berlari menuju kamar mandi tanpa permisi. Bahkan terdengar suara menjijikkan beberapa kali, pertanda bahwa ia sedang muntah. Ricard juga mulai risih dengan aroma tubuhnya, ia melepas mantel dan melemparnya kelantai, Melepas sepatu, dasi dan beberapa kancing kemeja.
“Candy, cepat sedikit. Aku juga ingin membersihkan diri.”
Setelah berteriak cukup kencang, Ricard menjatuhkan diri keatas sofa. Ia memijit-mijiti dahinya yang mulai terasa pusing, sambil sesekali merancau.
“Hey Ricard, apa kau punya pakaian untukku. Pakaianku semuanya sudah kotor dan bau.”
“Astaga...., Sebentar.” Ricard berjalan menuju lemari, ia mencari kaus dan celana ukuran kecil untuk Candy.
“Ini, pakai dulu bajuku. Besok aku akan menemanimu membeli pakaian baru.”
“Baiklah.”
Ricard memberikan pakaian bersih melalui pintu dengan mata terpejam. Candy telah menyelesaikan mandi, dan sekarang giliran Ricard. Hanya perlu waktu lima menit untuk Ricard mandi dan berganti pakaian, membuat Candy sedikit terkagum.
__ADS_1
“Baiklah, sekarang jelaskan semuanya.” Ricard memulai tanpa basa-basi.
“Asalku tidaklah penting, tapi tujuanku sama denganmu. Aku mencari gadis itu, gadis yang kau bawa kerumah sakit. Rose, aku mencarinya sejak lama.”