
Montreux city, Swiss.
Seorang pria berjalan tegak, memakai mantel coklat berbahan nilon. Dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter, hidungnya terlihat seperti paruh burung kakaktua, matanya hitam nan sayu. Berbibir tebal dan pipi yang tirus.
Di tepi jalan dia menyulut rokok, berbelok ke kiri dan melintas di depan 12 bar cafe yang masih tutup, terus menyusuri Denmark place yang sempit, melewati etalase penuh gitar beraneka warna, dinding-dinding yang ditempeli berbagai selebaran, menjauh dari dentam bor yang tak habis-habisnya. Setelah mengitari tumpukan material jalan di ujung centre point, dia melewati patung besar Freddie Mercury yang berwarna keemasan dan berdiri menjulang di pintu masuk Dominion theatre di seberang jalan, kepalanya tertunduk tinjunya mengacung tinggi, bagai dewa kekacauan dari zaman lampau.
Bar Tottenham dengan tampak muka bergaya era Victoria yang rumit itu muncul dari balik tumpukan material proyek jalan. Pria itu memasuki bar, sesaat matanya tertuju pada sebuah foto besar wanita setengah bugil yang cantik jelita. Kemudian Ia duduk di sebuah kursi dekat dengan jendela, dan memesan tequela sunrise sejenis cocktail yang merupakan campuran antara Tequila, Creme de Cassia , air jeruk nipis dan air soda.
“ Ku kira kau tidak akan datang sobat.” Ujar seorang pria sambil menarik kursi dan mereka duduk berhadapan.
“ Ada apa?, Siapa kau?.”
“ David, apa kau melupakan sahabat terbaikmu ini?.”
Sesaat mata pria yang bernama David sedikit berbinar, ia merasa terharu sekaligus bingung dengan kehadiran pria dihadapannya.
“ Arnold, apa itu kau ? kemari sobat.”
Arnold tersenyum, kemudian mereka berpelukan. David menepuk pundak Arnold beberapa kali.
“ Arnold, kau tidak terlihat seperti....” David berhenti sejenak ketika pelayan mengantarkan minuman pesanannya “Apa kau sedang menyamar?.”
“ Ya..., Aku akan pergi ke London untuk suatu keperluan, dan aku harus menyamar agar kau tidak ikut terlibat dalam hal ini. Ngomong-ngomong, kau tidak memesankan satu untukku.”
“Oh.., aku lupa. Apa yang ingin kau pesan tuan?.”
“ Seperti biasa, jika kau masih ingat kebiasaanku.”
David tersenyum simpul, tentu saja ia masih mengingat dengan baik minuman kesukaan sahabatnya tersebut.
“ Pelayan, tolong bawakan wiskimu yang paling enak.”
“Kau mengingatnya dengan baik sobat.”
“off course, Jadi apa tujuanmu?.”
__ADS_1
“ Aku butuh bantuan sobat.”
Seorang pelayan datang membawakan sebotol wiski, dan menuangkan kedalam cangkir. “ Cukup, aku bisa melakukannya sendiri. Taruh saja botolnya.” Ujar Arnold.
Arnold mencium aroma wiski, kemudian menyesapnya secara perlahan.
“Cara minum yang aneh, kau memang tidak berubah. Kau tahu Arnold, aku sudah pensiun. Aku tidak ingin membahayakan nyawa keluarga hanya demi uang.”
“ Kau sudah mengatakannya hampir ribuan kali, aku tidak akan melibatkanmu itu sebabnya aku kemari dengan penyamaran. Aku hanya ingin menunjukkan padamu beberapa catatan dan gambar, ini mengenai kematian kakak kita Matthew.”
“ Kau masih ingin mencari pelakunya ya, tekadmu sungguh ku akui. Namun itu semua hanyalah sia-sia, semakin kau mengetahui yang sebenarnya maka semakin kau menyadari hal itu tidak berarti.”
“ Apa maksudmu, aku tidak suka nada bicaramu yang bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Sekarang bukan hanya Mattew yang tewas, tapi Martin juga. Seorang agen Blood membunuhnya.”
“ Apa?.” Mata David terbelalak, ia hampir menjatuhkan cangkir yang sedari tadi ia pegang. Tubuhnya mulai gemetaran.
“ Kau bohong, bagaimana bisa?. Tidak mustahil.”
David memegangi kepalanya dengan kedua tangan, sambil sesekali mengacungkan tinjunya keudara.
“Sebenarnya, apa yang kalian lakukan?. Bagaimana bisa semua ini terjadi, bukankah aku sudah memperingatkan mu agar tidak mencari tahu rahasia kematian Matthew.” Tatapan mata David menerawang jauh, kalau saja waktu itu ia tidak berjanji kepada almarhum Matthew. mungkin semua ini tidak perlu terjadi, keegoisan Matthew lah penyebab kematiannya. Hanya itu yang ia ketahui.
“Lalu, catatan apa yang kau ingin aku periksa.”
“Ini, benda ini ditemukan di sebelah jasad Matthew, istrinya menyimpannya sebagai kenangan.”
Arnold mengeluarkan dua carik kertas dari balik mantel, setiap kertas berisi gambar yang berbeda. David mengamati dengan penuh perhatian, ia melihat setiap detail dari gambar tersebut. Setiap goresan terlihat berbelit-belit, dan terdapat noda darah pada ujung kertas. Yang dapat ia simpulkan bahwa itu adalah darah almarhum Matthew.
“ Ini adalah lambang dari organisasi Blood, banyak kematian orang penting yang meninggalkan jejak seperti ini. Dan sejauh ini aku sudah menyelidiki Blood, lambang ini adalah milik mereka.”
“ Tidak kau salah.” Arnold terkejut saat David mengutarakan pendapatnya.
“Mawar hitam dan lonceng tidak ada hubungan apapun dengan Blood, sejujurnya aku pernah bergabung dengan organisasi itu. Dan mereka tidak seperti yang selama ini kita ketahui, sungguh mereka semua orang baik. Kau harus mempercayaiku.”
Arnold meneguk wiski dengan cepat, ia menuangkan lagi dan meneguknya kembali. Arnold menatap mata David, tidak ada sorot kebohongan di sana. Arnold sangat memahami sahabatnya yang satu ini.
__ADS_1
“ Lalu lambang apa ini, akan ku beritahu dengan syarat. Kau harus merahasiakan hal ini, dari siapapun termasuk kakak perempuan mu. Oh ya ku dengar kau punya rekan baru siapa namanya.”
“ Nelson. Dia sepupu Matthew.”
David menatap lekat wajah Arnold, seolah memperingatkan bahwa bahaya sedang mengintain. Tatapan yang sama dengan Mike, saat terakhir kali Mike datang mengunjunginya.
“ Ada apa sobat?.”
“Tidak apa, terkadang kau tidak perlu mempercayai siapa pun. Termasuk aku jika kau mau, apa Mike sudah menemuimu sebelum ia menghilang?.”
“Ya.”
“ Apa yang dia katakan?.” David bertanya penuh penasaran.
“ Tidak ada hal penting.”
“ Ah, sudah kukira itu yang akan kau katakan. Well, akan ku ceritakan siapa pemilik lambang itu.”
Arnold melirik jam tangannya, ia merasa kurang puas dengan informasi dari sahabatnya ini. Setelah membayar tagihan mereka keluar dari bar, David menawarkan diri untuk mengantarkan Arnold ke bandara. Namun pria itu menolak dengan halus, wajah Arnold yang semula ramah menjadi serius. Ekspresi yang sangat cocok dengan peran yang saat ini dia lakoni, tidak ada satupun yang akan mengenalinya. Kecuali David pria yang berjalan beriringan disampingnya.
“Well, kita berpisah disini saja. Kau naiklah taksi, aku memilih jalan kaki saja.”
“Sampai jumpa lagi David, salam untuk istri dan anakmu. Lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu.” Arnold merangkul sahabatnya, sebuah taksi sudah berhenti.
Arnold membuka pintu dan masuk ke kursi belakang, dan David berteriak dari kejauhan.
“ Jika kau ingin mampir ajak serta istrimu ya.”
Arnold kaget, beruntung taksi sudah berjalan cukup jauh. Jika tidak ingin rasanya ia memukul kepala David.
“Heh..., Dasar kekanakan.” Arnold menghadap kedepan. “ pak antar aku ke bandara, aku ingin cepat. Karena sebentar lagi pesawatku berangkat.”
Sopir taksi menuruti perintah Arnold, dengan cepat ia tancap gas. Melewati beberapa jalanan yang masih dalam perbaikan.
‘London, aku datang.’ Batin Arnold
__ADS_1