B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Arnold dan Angel tiba di markas Blood, entah mengapa Angel merasa auranya sangat berbeda dari sebelumnya. Markas Blood tidak pernah setegang ini, seolah mengerti perasaan Angel Arnold pun memutuskan untuk bertanya.


“Ada apa?.”


Angel hanya menggelengkan kepalanya, perlahan mereka berjalan menuju lantai atas tempat Angel tinggal.


“Tunggu dulu, kita akan kemana?.” Arnold berhenti sejenak.


Angel berjalan mendekat dan berbisik. “Apartemenku, kita bisa mengakses lewat komputer yang tersedia khusus untukku.”


“Astaga kau seharusnya menyamar sayang.”


“Untuk apa aku menyamar di rumahku sendiri?, Markas ini adalah tempat tinggalku meski..” Angel berhenti dan menghela nafas.


“Meski apa?.”


Angel melihat ke belakang Arnold, entah apa yang ia lihat. Ia langsung bergegas menarik Arnold menuju lift.


“Ada apa?.” Arnold sedikit keheranan melihat tingkah Angel yang aneh.


“kita harus bergegas, waktu kita hanya sedikit.”


Lift berhenti dilantai dua belas, Angel berjalan setengah berlari menuju pintu di sebelah kanan tak jauh dari lift berada, Angel menempelkan jempolnya ke bagian bawah pintu. Ajaib, Pintu langsung terbuka dengan sendirinya.


“Cepat masuk.”


Arnold menuruti perintah Angel, dan setelah mereka masuk pintu menutup sendiri secara otomatis menimbulkan suara klik yang lembut.


“Tolong naikkan suhunya lima derajat.”


“Menaikkan suhu lima derajat.” Suara komputer terdengar datar seperti biasa, dan suhu ruangan mulai menjadi sedikit hangat.


“Waw... Ruangan ini sangat fantastis, kau yang mendekorasinya Rose?.”


“Simpan decak kagummu untuk lain waktu, ada hal yang lebih penting yang harus kita kerjakan.” Angel berkata datar sambil mengotak-atik komputer yang berada di samping tempat tidur.


'cih.., dasar makhluk tak berperasaan.’ Batin Arnold.


Arnold berjalan mendekat dan duduk di pinggir kasur tepat di samping Angel, sementara Angel tetap fokus mencari data yang ia inginkan.


“Apa yang ingin kau cari?, Bukankah kita kemari untuk mencari seorang penghianat?.” Arnold terus menghujani Angel dengan pertanyaan dasar, membuat Angel geram dan mulai bergumam.


“Bodoh.” Suaranya halus namun dengan penekanan yang tinggi.


“Apa?.” Arnold yang mulai geram melihat tingkah Angel berdiri dan berjalan menuju dapur.


Sementara itu dilain tempat, Ricard dan Louis yang baru saja meninggalkan Jane kafe merasa ada yang tidak beres. Mereka merasa ada mobil yang terus membuntuti mereka dari belakang, Ricard pun memutar haluannya ia bertolak dari jalan raya menuju jalan perumahan yang lebih sepi dengan tujuan agar mengetahui siapa yang mengikuti mereka. Hingga mereka tiba di sebuah gang dan memarkirkan mobilnya di sana.


“Apa semuanya sudah aman?.” Louis mulai khawatir.


“Kurasa begitu, boleh kukatakan kejujurannya.” Ujar Ricard.


“Ada apa?.”


“Aku merasa bingung dengan apa yang terjadi. maksudku datanya, Alasan mereka mencuri data dan membunuh semua anggota terbaik kita.”


“Mungkin ada yang menaruh dendam pada organisasi kita.” Louis menyampaikan kesimpulannya.

__ADS_1


“aku tahu yang kita lakukan adalah salah, tapi para korban jauh lebih bersalah. Mereka adalah ketua mafia yang sudah banyak menghabisi nyawa orang tak bersalah hanya demi uang, dan beberapa dari mereka juga adalah para petinggi yang korup dan tak tersentuh hukum, di mana saat itulah kita datang sebagai hakim mereka.” Jelas Ricard.


“Yah, jika kau pikir demikian. Mungkin ada anggota keluarga atau kelompok mereka yang tidak terima.”


“Ayahku sangat menghawatirkan Angel, lebih dari pada ia menghawatirkan aku. Entah mengapa aku merasa bahwa ialah sumber masalah kita.”


“Maksudmu?.” Louis menatap Ricard dengan penuh tanda tanya.


“sebelum meninggal ayahku berpesan, agar aku menyalin semua file yang ada di laptopnya dan menghilangkan file aslinya.”


“Ah, laptop itu. Aku membawanya, saat kau bilang Tuan Blood berada dirumah sakit aku langsung teringat pesannya yang memintaku untuk selalu membawa laptopnya jika dia sedang tak berada di markas.”


“Kau membawanya?.” Ricard refleks langsung memeluk Louis.


“Kau memang yang terbaik, kemarikan kita periksa file apa yang ingin dimusnahkan ayahku.”


“Tunggu Ricard, kita harus ketempat yang aman bisa saja para penguntit itu sedang mengawasi kita.”


“Kau benar Lou.”


Ricard menyalakan mesin, terdengar suara deru mesin yang mulai menyala tanpa menunggu lagi Ricard langsung menginjak gas dan pergi mencari tempat yang aman.


Sementara itu, di apartemen Angel lebih tepatnya markas Blood.


“Hey, apa kau tidak punya wiski?.” Arnold mengambil soda dari dalam kulkas.


“Tuan Arnold, berhenti bertingkah seperti anak kecil dan tutup mulutmu.”


Angel kembali fokus dan berhasil mendapatkan user yang mengakses data Blood.


“Ini dia, aku mendapatkan usernya. Tapi aku merasa ada yang tidak beres.”


“Apa itu?.”


“Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh?, Ini adalah kode user yang digunakan hacker untuk mengakses data.”


“Lalu, apa yang aneh?.”


“User ini sama persis dengan milik Ricard, seolah ia sendiri yang mengaksesnya. Hanya saja, Ricard tak pernah mengakses data pribadi Blood melalui komputer ataupun laptop di luar gedung., Aku sudah melacaknya melalui satelit.” Angel menekan tombol enter, seketika muncul gambar map yang menunjukkan titik di mana komputer tersebut berasal.


“Ternyata diakses dari gedung DarkRiver?.” Angel tercengang sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sontak ia menoleh ke arah Arnold dan menodongkan pistol yang ia ambil dari dalam laci.


“Dasar penghianat.”


Arnold mengangkat kedua tangannya, dan berusaha mendekati Angel.


“Santai Rose, ini tidak seperti yang kau pikirkan.”


“Lalu apa?, Jangan berbohong Arnold morell.” Angel menatap lekat wajah Arnold, ia menangkap kebohongan terpancar dari sorot matanya.


Ya, Arnold memang sudah tahu bahwa Nelson lah yang mencuri data. Tapi, ia tidak mengetahui siapa yang membunuh semua anggota Blood.


“Aku bisa menjelaskan.” Arnold berjalan mendekat.


Dorrr....


Prankkkkk...

__ADS_1


Sebuah peluru melesat, membuat vas yang berada di samping kiri Arnold pecah beruntung tak melukainya sedikit pun. Arnold menghela nafas, ia sedikit bingung dengan kondisi yang sekarang terjadi, namun tiba-tiba.


Brusshhhhhhh...


“Uhukk..uhukk... Sial, gas karbon .”


Angel yang semula memegang pistol tanpa sadar menjatuhkannya ke lantai, dengan sigap ia menutup hidung dan mulutnya. Ia bergegas berjalan menuju pintu dan berusaha membukanya namun hasilnya nihil, kini ia berjalan merunduk menuju jendela. Arnold terkejut dengan apa yang terjadi ia berusaha membantu Angel membuka jendela, ia menembaki kaca namun hasilnya nihil.


“Kaca anti peluru, bagus sekali nona.”


Angel dan Arnold terus berusaha memecahkan jendela, butuh usaha ekstra hanya untuk sekedar memecahkan kaca karena ketebalannya yang mencapai 20mm. Angel mulai kehabisan oksigen begitu pun Arnold, di detik terakhir ia mulai teringat jalan tersembunyi yang langsung mengarah ke tempat pembuangan sampah.


“Sebelah sini.”


Angel berjalan terhuyung-huyung menuju dapur, ia mulai berusaha menggeser kulkas yang tersandar pada dinding.


“Cepat, bantu aku.”


Arnold membantunya, dengan tenaga yang tersisa mereka berhasil mendorongnya. Tampak sebuah pintu kecil di sana, Angel membuka pintu dan mengajak Arnold meluncur melalui pipa tersebut.


“Cepat, waktu kita tidak banyak.”


Angel meluncur lebih dulu, disusul oleh Arnold. Mereka melesat dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya mendarat tepat di atas tumpukan sampah yang berada di belakang gedung tersebut.


“Huh, itu nyaris sekali bukan begitu Rose.” Arnold melihat sekeliling, tidak tampak tanda-tanda keberadaan Angel.


Ia melompat turun dari tempat sampah, dan berlari melewati gang kecil untuk mencari Angel. Nafasnya tersengal sengal, bukan hanya karena lelah berlari tapi juga karena gas karbon dioksida yang mereka hirup. Dari kejauhan ia bisa melihat Angel berlari dengan terhuyung-huyung, dan ambruk tepat di samping tiang pembatas jalan. Arnold berlari sekuat tenaga guna menyusul Angel.


“Rose.”


Arnold menyentuh bahu Angel, tampak beberapa orang berlari dari kejauhan. Karena panik, ia langsung menggendong Angel membawanya masuk ke sebuah gang sempit dan berlindung dibalik tembok. Arnold memeluk erat tubuh Angel, sambil melihat keadaan sekitar.


Tampak beberapa pria bertubuh kekar berada di sekitar tempat ia berdiri.


“Ke mana perginya mereka, cepat cari mereka tidak mungkin pergi jauh dari sini.”


Angel yang mulai siuman hendak mengeluarkan suara, namun mulutnya langsung dibekap oleh Arnold. Angel sempat meronta, begitu melihat beberapa pria yang mencari mereka ia langsung mengerti dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


“Ayo berpencar.” Ujar salah satu dari lima pria yang mencari mereka.


Merasa keadaan sudah mulai aman, Arnold melepaskan tangannya dari mulut Angel.


“Sekarang sudah aman, Rose. Dengarkan aku percayalah aku tidak terlibat dalam pembunuhan itu, aku Bisa menjelaskan semuanya.”


“Omong kosong, berhenti berpura-pura atau aku akan membunuhmu.” Angel menghempaskan tangan Arnold dari pundaknya.


“Beri aku waktu, akan kujelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, kita harus pergi dari tempat ini.”


Angel tak bergeming, nafasnya mulai terasa sesak. Sisa karbon dioksida masih berada di paru-parunya, Arnold mengeluarkan ponselnya dan menelepon salah seorang yang bisa ia percayai.


“Halo Will, bisakah kau menjemput kami........, Kami berada di belakang markas Blood jemput kami segera di perempatan jalan dekat gedung kosong dua blok dari markas Blood, usahakan agar tidak mencolok......... , Baik ku tunggu.“


Arnold mematikan ponsel dan beralih menatap Angel.


“William akan menjemput kita, kita harus bergegas ku rasa kita bisa menyelinap lewat gang sempit ini.”


Angel hanya diam, dan mereka bersama berjalan menyusuri gang tersebut.

__ADS_1


Dilain tempat, William yang mendapat telepon langsung bergegas dan memacu kendaraannya secepat mungkin menuju tempat yang sudah mereka janjikan.


__ADS_2