
Lambeth, Britania raya.
Apartemen view parliament.
“ Dia menginap satu lantai dari kamar kita, dan malam nanti badai salju akan datang, itu sebabnya aku memilih untuk menginap disini. Tentu saja untuk mempermudah urusan kita, dengan begini kita tidak perlu repot-repot keluar gedung.” Ujar Smith sambil menyulut rokok.
“ Bukankah berbahaya jika kita berada disini, maksudku kamera pengawas ada dimana-mana.” Tukas James.
“ Tenang saja, biar aku yang mengurus hal itu. Yang perlu kau lakukan hanyalah memantau keadaan sekitar, dan Aqila yang akan membunuh pria itu. Kurasa sebentar lagi aku akan kekamarnya, dia pasti kedinginan.” Smith menghembuskan asap rokok ke udara, senyum nakal tersungging di bibirnya.
Sementara itu Angel tertidur lelap di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Smith, udara semakin dingin membuat Angel terbangun. Ia menaikkan suhu kamarnya, sambil berjalan ke dapur sekedar untuk mencari minuman hangat. Ia melihat tirai jendela kamarnya yang terbuka, Angel berjalan menuju jendela sebelum menutup tirai ia melihat jalanan yang mulai tertutup salju tebal, dan salju yang turun terus menerus. Angel terkesima dengan pemandangan tersebut, salju putih yang terlihat indah namun cukup menyeramkan bila turun bersamaan dengan angin kencang. Angel mendengus, ia menutup tirai dan berbelok. Ia dikejutkan dengan pemandangan pria tanpa baju terbaring diatas ranjangnya, membuatnya merasa canggung.
“ Tuan Smith, apa yang kau lakukan disini.”
Smith tersenyum menggoda, ia duduk di pinggiran ranjang.
“ Masih tersisa waktu tiga jam untuk kita bersenang-senang sayang, apa kau tidak ingin memanfaatkan suasana ini.”
Wajah Angel merona. “Bukankah pintunya sudah ku kunci, bagaimana kau bisa masuk?. Dan sebaiknya segera pakai bajumu tuan, kau tidak ingin terkena flu bukan.”
“ Kau tahu, suhu dikamarmu ini sangat hangat bahkan terlalu panas buatku. Bisakah kau turunkan suhunya sedikit.”
“Jika kau ingin suhu dingin lebih baik kau tidur di kamarmu sendiri.” Angel mulai menunjukkan amarahnya, dia sangat jijik melihat pria dihadapannya.
“ Tidak sayangku, aku lebih suka disini.” Smith mengambil iPad disamping tempat tidur, dan menurunkan suhunya. Angel bergidik, suhu yang terlalu dingin untuknya.
Smith berjalan mendekati Angel, ia menyentuh dengan lembut leher Angel membuat Angel merasa geli. Nafasnya yang mulai berat dihembuskan ke telinga Angel, Angel tak berkutik entah kenapa ia menyukai hal itu. Angel memejamkan mata, Smith masih terus membelai rambut Angel. Bayangan Arnold kembali melintas dipikirkan Angel, membuat Angel tersentak dan tersadar dari sensasi menegangkan yang diberikan Smith.
“Lepaskan aku.” Angel meronta dan mendorong tubuh Smith dengan kuat.
Smith merasakan tenaga Angel yang mendorong dadanya, ia memegangi dada sambil sesekali terbatuk.
“Tenagamu luar biasa nona, apa kau tidak menikmati sentuhan ku.”
__ADS_1
“Jangan pernah menyentuhku lagi jika kau masih ingin selamat, bukankah sudah kukatakan dengan jelas bahwa aku disini bukan untuk memuaskan nafsu bejatmu tuan. Aku kemari sebab ayah, aku hanya ingin mengetahui siapa yang membunuhnya.” Angel berusaha untuk tetap tenang dan bersikap sedingin mungkin, Smith menyadari kemampuan luar biasa gadis dihadapannya.
'Percuma juga jika aku memaksa, dia bisa saja membunuhku tadi.’ Batin Smith.
“Ternyata Blood mendidikmu dengan baik, tapi sayang sekali kau melewatkan kenikmatan tak berujung yang akan kuberikan.” Smith masih berusaha merayu, membuat Angel semakin kesal.
“Jam berapa kita akan beraksi?.” Angel berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Jam satu malam, disaat semua orang sedang tertidur.” Smith berjalan menuju ranjang, sekedar untuk duduk dan menarik nafas.
“Mana senjataku?.”
“Kau tidak perlu membawa pistol murahan itu, aku sudah menyiapkan yang lebih baik. “ Smith membuka laci meja yang berada disamping tempat tidur, merogoh kedalam dan mengambil sebuah pistol berwarna silver dengan beberapa garis emas yang indah.
“ Sangan elegan bukan, pistol ini memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi. Dengan bahan polymer yang dapat mengurangi hentakan, memuat lima belas peluru 10 milimeter yang masing-masingnya mampu dilontarkan hingga kecepatan 1600 kaki perdetik, selain itu pistol ini juga dilengkapi peredam suara Ditambah beratnya yang sangat ringan sangat cocok untuk pekerjaan kita kali ini.”
Angel mengamati Pistol tersebut dengan seksama, ia mengambilnya dari tangan Smith mencoba menodongkannya kearah Smith.
“ Ada di mobil, kau tahu kita tidak boleh membuang-buang peluru. Pergunakanlah dengan baik.” Smith berbaring terlentang di atas ranjang.
“Masih tersisa dua jam dua puluh menit, sebaiknya aku bersantai dulu.”
Angel merasa geram dengan sifat Smith yang kekanakan, sebetulnya ia masih ingin beristirahat. Mengingat malam ini ia akan beraksi, tubuhnya sudah lemah dan harus diisi tenaga.
“ Apa aku bisa memesan makanan, sepertinya perutku terasa lapar.”
“Wah.., ternyata gadis pembunuh juga butuh makan ya. Kupikir kau tidak perlu makan apapun, baiklah kalau begitu kita pesan pizza saja. Kau mau rasa apa.”
“ Sejujurnya aku belum pernah makan pizza, tidak ada kandungan gizi didalamnya selain kalori dan lemak.”
“Astaga, kau benar-benar unik bung. Jadi selama ini apa saja yang kau makan?.”
“ Buah, Sayur, Daging dan gandum. Hanya itu, aku juga tidak diperbolehkan minum alkohol, minuman yang mengandung kafein, atau minuman kaleng yang mengandung soda serta pemanis buatan. Jadi aku hanya minum air putih, teh dan susu segar.” Angel mendikte dengan plot datar, membuat Smith hampir tertawa.
__ADS_1
“Hidupmu sungguh menyedihkan bung, untuk malam ini kita makan pizza dengan toping keju dan daging asap saja. Apa kau makan daging ****?.”
“Tidak.”
“Baiklah berarti kita makan daging sapi saja.”
Smith memesan Pizza dan beberapa minuman soda, ia menatap Angel yang duduk manis di sofa sambil menonton televisi. Angel tahu bahwa ia sedang diperhatikan, ia merasa canggung dan malu. Pria dihadapannya terlihat sangat muda dan tampan, mungkin usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Jantung Angel mulai berdebar, saat mata mereka bertemu. Ia segera mungkin mengalihkan pandangan ke televisi, Smith tersenyum melihat tingkah aneh Angel. Dia merasa gadis ini sangat unik, dan sepertinya ia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bercinta. Ingin rasanya ia yang menjadi guru, sayangnya Smith tidak ingin memaksa lebih jauh lagi.
Dua puluh lima menit berjalan dengan penuh keheningan, hingga suara ketukan pintu mulai terdengar. Smith yang memejamkan mata, langsung meloncat dari tempat tidur tanpa memakai baju. Seorang petugas pengantar pizza mengantarkan pesanan mereka, Arnold membayar pizza dan memberikan tip kepada petugas tersebut.
“Aloha, Pizzanya sudah datang.” Arnold menaruh dua kotak pizza dan sepuluh kaleng minuman soda diatas lantai.
“Kau tahu Aqila, Pizza akan terasa lebih enak jika kau makan selagi panas. Terlebih jika kau memakannya sambil duduk dilantai, ditemani film kartun, Video game dan beberapa kaleng soda.”
Angel merasa sedikit bingung, ia pun turun dari sofa dan mengikuti Smith untuk duduk dilantai. Smith menarik sepotong Pizza, membuat lelehan keju mozzarella terlihat seperti permen karet ketika ditarik. Angel merasa sedikit jijik melihat pemandangan tersebut, karena yang terbayang olehnya adalah lendir yang keluar dari hidung ketika sedang flu.
“Ayolah, rasanya lezat. Kau tahu, jangan pernah menilai buku dari sampulnya.” Ujar Smith sambil mengunyah potongan Pizza.
Angel mengambil sepotong Pizza, ia menariknya perlahan sambil menutup mata. Ia memegang Pizza dengan keduan tangan, dan memasukkan ujung lancipnya kedalam mulut. Setelah mengunyahnya perlahan-lahan Angel merasakan sensasi aneh, rasa keju mozzarella yang segar dan lembut, dipadu dengan daging sapi asap, paperoni, saus tomat dan roti yang renyah. Perpaduan yang sangat pas, meninggalkan kesan lengket dan rasa yang nikmat. Angel kembali mengigit potongan Pizza hingga habis tak bersisa, sekarang tenggorokannya terasa kering. Smith membuka kaleng soda, dan memberikannya kepada Angel. Angel berusaha waspada, ia takut hal buruk kembali terjadi jika ia meminum air tersebut.
“Ayolah sayang, sekaleng soda tidak akan membunuhmu.” Smith meyakinkan Angel yang ragu-ragu.
Angek meminum soda untuk pertama kalinya, rasa khas yang menggigit namun menyegarkan membuat Angel kembali meminumnya. Smith menatap gadis didepannya dengan sebuah senyum simpul, ia merasa takjub dengan kepolosan Angel. Namun merasa geli ketika Angel mengambil potongan Pizza, dan meminta sekaleng soda tambahan. Bekas saus menempel di sudut pipi Angel, Smith menghapusnya lembut. Angel menatap mata Smith, Smith merasa kaget melihat tatapan mata gadis didepannya. Mata hitam yang indah, memancarkan sinar kengerian yang luar biasa. Namun dibalik itu semua Angel hanyalah seorang Remaja yang beranjak dewasa, seorang remaja yang kesepian.
‘Ternyata selama ini gadis ini ketakutan dan sendirian, ia membutuhkan seorang pengawal yang mampu menjaga hatinya agar tetap hangat.’ Batin Smith.
Angel berdeham, membuat Smith merasa gugup. Dengan cepat ia mengalihkan perhatian.
“ Makanlah cepat, setelah itu kau boleh istirahat. Aku akan membangunkanmu ketika waktunya tiba.”
‘Ternyata pria ini penuh kasih sayang, ia hanya membutuhkan seseorang untuk menampung setiap kasih sayang yang ia punya, namun mata itu juga penuh dengan dendam dan kesedihan entah apa yang dilakukan Blood dimasa lampau. Pastilah hal itu yang membuatnya seperti sekarang.’ Batin Angel.
Angel melahap habis satu kotak Pizza sendirian, dan meminum setidaknya lima kaleng soda. Ia mulai merasakan kantuk, dan memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Sementara Smith hanya memandangi tubuh Angel yang tertidur pulas, tak ada keinginan untuk menyetubuhi gadis itu. Ia hanya menarik selimut, memastikan gadis itu benar-benar terlelap. Kemudian mengecup lembut keningnya, dan ia kembali duduk dilantai sambil menonton televisi
__ADS_1