
Setelah dua puluh menit berkeliling Ricard memarkirkan mobilnya, dan menyuruh yang lainnya turun untuk membeli perlengkapan menyamar mereka.
“Ricard kau bergurau? Ini toko perlengkapan rumah, mereka tidak menjual pakaian.” Louis menatap heran
“lho??, bukannya mereka menjual segalanya??”
“Dasar pria, apa kau tidak pernah pergi membeli keperluan sehari-hari?”
“Itu bukan tugasku.”
Louis, dan Angel menggelengkan kepala sementara Arnold tertawa geli.
Aku tak menyangka, kau ternyata idiot.” Ejek Louis yang kemudian kembali masuk ke mobil, Angel mengiringi Louis dan ikut duduk di belakang.
Arnold berjalan menuju kursi pengemudi, dan mengambil alih mobil.
“Hey, aku yang menyetir.” Ricard berkata dengan nada sinis
“Kau tidak mengetahui jalanan dengan baik, bahkan kau tampaknya tidak pernah berkendara jauh. Sementara aku mengetahui banyak hal, bahkan aku mengetahui seluk-beluk Amerika dengan sangat baik. Dan kota ini, aku sangat memahaminya.”
“Okay, kau menang terserah padamu.”
Ricard berjalan pergi dan duduk di samping Arnold, sejujurnya ia sedikit tersinggung karena semua yang dikatakan oleh Arnold benar adanya. Ia terlalu lama duduk di depan komputer, dan tidak pernah bepergian jauh itulah alasan satu-satunya kafe yang ia tahu di san Fransisco adalah Jane cafe.
Seperti yang dikatakan Arnold, dia memahami daerah itu dengan sangat baik. Bahkan tak sampai dua puluh menit mereka telah tiba di sebuah jalanan yang di penuhi dengan deretan berbagai toko menjual pakaian pria maupun wanita, tak hanya itu disana juga terdapat toko kosmetik dan sepatu membuat Louis berdecak kagum.
“Lihat, dia memang memahami daerah ini dengan sangat baik. Tidak sepertimu Ricard.”
“Apa kau bilang? Tarik kembali ucapanmu, dia hanya beruntung.”
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan, dan cepat beli pakaian yang sesuai. Aku akan mencari perlengkapan make-up untuk mendandani kalian.” Angel tetap menunjukkan sikap dinginnya dan berjalan memasuki toko kosmetik.
“Tunggu, apa kau tahu cara menyamar dengan baik?, Bukannya mau merendahkan akan tetapi Aku bahkan tak pernah melihat kau berdandan.” Ujar Arnold.
“Aku sering memperhatikan Selena, aku yakin aku juga bisa melakukannya.”
“Baiklah kalau begitu kita berbagi tugas, Ricard dan Louis mencari pakaian sementara aku dan Rose mencari peralatan lainnya.” Arnold berjalan congkak seperti seorang bos, membuat Ricard geram melihat tingkahnya yang sok.
__ADS_1
“Siapa dia? Beraninya memberi kita perintah.”
“Sudahlah Ricard, kita harus bergegas.”
Mereka pun berpencar dan melakukan tugas masing-masing. Angel memerhatikan setiap detail dari produk kosmetik yang ada, mulai dari bahan-bahan, daya tahan, serta kegunaannya. Ia memilah dengan serius setiap barang yang ada di toko tersebut.
“Sial, sepertinya dompetku tertinggal di mobil William.”
“Santai Rose, ada aku disini.” Arnold mengeluarkan dompet dan mengambil sebuah kartu ATM.
Setelah membayar mereka pergi keluar menuju mobil, ternyata Ricard dan Louis sudah menunggu di dalam mobil. Setelah merasa semuanya beres, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Dilain tempat.
Markas besar BLOOD.
“Tuan, saya mendapatkan informasi penggunaan kartu ATM salah satu buronan kita, saat ini lokasi Mereka berada di Sacramento.” Ujar Salah seorang anggota DarkRiver yang tengah fokus dengan komputer dihadapannya, ia memperbesar dan memperkecil layar dengan lincah, tangannya mengotak-atik keyboard seolah tengah bermain piano
“Terus lacak, pastikan bahwa ia sendiri yang menggunakannya dan segera kirimkan beberapa anggota kita untuk mencari keberadaan mereka.”
“Baik tuan.”
“Tuan, maaf terlambat.”
“Jacob, senang melihatmu. Apa kau dapat informasi terbaru mengenai Arnold?”
“Untuk saat ini tidak tuan.” Jacob terlihat pucat dan takut saat menghadap Nelson
“Apa dia menceritakan di mana dan ke mana ia akan pergi?”
“Tidak tuan.”
“Bagaimana bisa? Kau adalah anak buah kepercayaannya, bagaimana mungkin dia tidak memberitahu.” Nelson memukul meja membuat Jacob gemetar.
“Jacob dengarkan aku, alasan adikmu masih hidup adalah karena belas kasih dariku. Jika begitu caramu membalas Budi, maka aku pastikan kau dan adikmu akan berakhir di pemakaman.”
Jacob menelan ludah, tidak ada pilihan lain selain memberikan informasi. Sejujurnya, Jacob sangat membenci Nelson. Mulanya Jacob menganggap Nelson malaikat karena telah bersedia menolong adiknya, namun ternyata Jacob salah justru Nelson adalah iblis yang paling jahat di muka bumi.
__ADS_1
“Kemarin dia menelepon William, aku sempat menguping pembicaraan mereka . Arnold meminta William untuk segera menjemputnya, hanya saja aku tidak mendengar apapun lagi setelah itu.”
Nelson tersenyum puas mendengar pernyataan dari Jacob, terlihat jelas bahwa Nelson akan mencari William dan memaksa William untuk menceritakan ke mana tujuan Arnold. Jacob merasa tidak enak karena telah melibatkan William dalam masalah, di dalam hati Jacob terus berdoa berharap agar William tidak ditemukan.
‘Ya tuhan, semoga William tidak terlibat masalah apapun.’ Batin Jacob
“Jacob.” Suara Nelson menyadarkan lamunan Jacob.
“Telepon William, ajak ia untuk menemuimu. Setelah itu, serahkan padaku.”
“Apa?”
“Kau keberatan? Kau hanya perlu menelepon William dan membuat janji, sisanya biar aku yang urus.”
“Ti...ti..tidak tuan.”
“Anak pintar” Nelson menepuk lembut pundak Jacob sambil bersikap ramah, terlihat jelas bahwa Jacob tidak menyukainya.
Di tengah kebimbangan, Jacob memutar otak. Ia tidak ingin William terkena masalah, akan tetapi nyawa adiknya sedang dalam bahaya. Ia menyesali perkataannya, seharusnya ia tidak menyebut nama William.
Kabut gelap menyelimuti pikiran Jacob, dengan berat hati ia membuka ponsel mencari daftar nama William dan mengadakan janji untuk bertemu.
“Will, Tuan Arnold memintaku untuk menemuimu malam ini.., aku belum menemukan lokasi yang tepat jadi akan kuhubungi lagi dalam lima menit.”
Jacob menarik nafas panjang, dan mulai menyusun rencana. Kini ia sedang mencari cafe yang tepat, tempat yang sepi pengunjung pastinya.
“Will, maafkan aku.” Batin Jacob
setelah menemukan kafe yang tepat, Jacob kembali menelepon William.
"Wil, temui aku di Jane kafe sekarang... Tidak ada perubahan rencana."
dilain tempat William memacu mobil dengan kecepatan sedang, ia mengemudi santai sambil mendengarkan musik jazz klasik favoritnya. di tengah perjalanan ia hampir di cegat oleh sekumpulan orang tak di kenal, membuatnya panik dan langsung memutar arah.
"Sialan, siapa mereka."
dengan kecepatan penuh William berbelok melewati jalan lain, namun dari arah belakang ternyata ia sedang diikuti oleh sebuah mobil Mercedez abu-abu. Sambil memaki-maki William terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ia mengemudi secara zig-zag, sambil terus melirik spion.
__ADS_1
"Halo, Jack maafkan aku. Sepertinya aku akan datang sedikit terlambat, ada sedikit masalah disini."