
Jalanan begitu aman dan damai meski terjadi sedikit kepadatan di titik tertentu, Louis yang mulanya mengendarai dengan santai tiba-tiba memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dengan sengaja mendahului mobil yang mengikutinya.
Louis menabrakkan sisi kiri mobilnya ke arah mobil lain membuat mobil yang ia tabrak kehilangan keseimbangan dan menabrak mobil lain di depannya, rupanya dari arah belakang ada mobil Chevrolet berwarna silver yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak bagian belakang mobil Louis. Tabrakan beruntun tak terelakkan, suara dentuman dan deru mobil terdengar memekakkan telinga, di tambah suara decitan dari ban mobil yang di rem paksa guna menghindari kecelakaan.
Terdapat kurang lebih sepuluh mobil yang terlibat, dua mobil dengan kondisi terbalik, satu naik ke trotoar, empat rusak parah dan sisanya hanya rusak pada bagian depan atau samping mobil. Dan mobil yang di kendarai Louis masuk dalam kategori rusak parah, orang-orang mulai berkerumun melihat apa yang terjadi. Ada yang tampak sibuk menelepon pihak berwajib, ada pula yang mengabadikannya dengan kamera handphone.
Darah berceceran di jalan, Louis yang hampir pingsan membuka pintu mobil yang ringsek, dengan susah payah ia keluar dari mobil. Ia tak ingin membuang waktu, tanpa melihat akibat dari perbuatan nekatnya ia berlari setengah terhuyung menyelinap masuk ke dalam gang. Seorang yang peduli padanya hendak menolong dan membawanya menuju ambulans tapi Louis menolak, ia berdiri tegak dan dengan sikap dingin ia berlari meninggalkan tempat tersebut.
Jalanan yang semula aman dan damai menjadi macet parah, mobil yang mengikuti Louis terjebak di antara mobil lainnya membuat mereka kehilangan jejak Louis. Satu dari mereka yang mengemudikan mobil menunjukkan raut wajah kesal, sedang yang lainnya sibuk menelepon guna melaporkan apa yang terjadi. Namun di tengah situasi tersebut mereka malah berdebat.
“Jangan menelepon tuan, kau tahu kita bisa dalam masalah.”
“Tapi kita harus melaporkan hal ini.”
“Tidak!! Aku bilang tidak, kita akan melaporkannya nanti jika kita sudah menemukan jejak wanita itu.”
“Terserah padamu, jika hal buruk terjadi itu bukan salahku.”
Sementara itu, Louis yang sudah merasa aman memilih untuk naik taksi. Kini ia bisa merasakan sakit yang luar biasa pada bagian kakinya, ia baru menyadari bahwa kakinya terluka akibat terjepit badan mobil.
“Mau kemana nyonya?”
“Bawa aku menuju hotel holiday, nanti aku yang akan menunjukkan jalannya.”
“Baiklah.”
Ricard berjalan kaki menyusuri setiap blok sambil berhitung, ia memakai pakaian hitam putih khas pelayan hotel. Ricard sebenarnya risih dengan penampilannya saat ini, ia melihat dua orang pemuda yang sedang mengobrol di trotoar jadi ia memutuskan untuk menawar jaket dan topi yang mereka pakai.
“Hey bung, aku menyukai jaketmu boleh aku membelinya?”
“Apa? Kau bisa membelinya di toko pakaian, jaket model seperti ini banyak di jual di sana.” Ujar pemuda berkulit hitam manis tersebut.
“Ini, seratus dolar untuk jaket dan topimu.” Ricard mengeluarkan uang seratus dolar dari dalam dompetnya
Melihat jumlah uang yang Richard tawarkan pemuda tersebut setuju, dengan senang hati ia memberikan jaket dan topinya. Seperti yang dijanjikan, Ricard memberikan seratus dolar harga yang sebenarnya terlalu tinggi untuk sebuah jaket kulit sintetis lusuh dan topi baseball tua.
Ricard memakai jaket dan topi, ia meninggalkan dua pemuda tersebut dan melanjutkan perjalanan. Ricard melirik jam, sudah hampir dua puluh lima menit ia menunggu Louis. Mereka sepakat untuk tidak saling menelpon karena akan menimbulkan resiko terlacak, Ricard bersandar di tiang lampu jalan sambil melirik ke arah kanan dan kiri membuatnya terlihat seperti pencopet yang tengah mencari mangsa.
Tettttt..
Suara klakson mobil mengejutkan Ricard, kaca jendela belakang terbuka. Tampak Louis memberinya kode agar segera masuk ke dalam taksi.
__ADS_1
“Sekarang jalan.” Louis memberi aba-aba kepada sopir taksi untuk kembali meneruskan perjalanan.
Ricard tak sengaja melihat luka-luka pada bagian tangan Louis dengan baju yang tampak lusuh.
“Apa ini? Kau terluka? Ceritakan padaku apa yang terjadi?”
“Nanti saja ku ceritakan, sekarang ada baiknya kita mencari tempat untuk beristirahat.”
Ricard diam dan hanya memandangi Louis dengan tatapan khawatir, tapi Louis ada benarnya juga sekarang sudah hampir larut sebagai manusia pada umumnya tentu saja mereka butuh istirahat.
“Pak sopir apa kau tahu lokasi hotel atau penginapan yang murah, dan kalau bisa tempatnya yang tersembunyi.”
Sopir melirik ke spion, dia tersenyum. Kini Louis baru memperhatikan penampilan sang sopir taksi yang terlihat sangat menyeramkan, lebih mirip seorang preman ketimbang sopir taksi. Kini Louis dapat menyimpulkan bahwa ia bukanlah sopir biasa.
“Aku tahu tempat tersembunyi, harganya lumayan terjangkau dengan fasilitas bar dua puluh empat jam.”
“Tidak aku tidak terlalu suka bar, bisakah yang biasa saja. Sunyi dan tenang itulah yang kami butuhkan” Ujar Louis
“Well, berapa uang yang kalian punya?”
“Tidak banyak, hanya sekitar seratus dolar.”
“Aku tahu sebuah rumah tua di sekitar sini, pemiliknya pun sudah tua. Kini ia menyewakan rumah lantai atasnya kepada para pelancong dengan harga miring dengan fasilitas sarapan gratis, jika kalian mau kalian bisa menyewanya.”
“Baiklah, antar kami kesana.”
“Dengan senang hati nona.”
Louis bisa melihat sang sopir yang menyeringai dari spion, Louis merasa ada hal aneh namun ia tak punya pilihan. Jika mereka menginap di hotel mewah, maka akan lebih mudah bagi organisasi blood menemukan mereka. Tidak, mereka harus mencari penginapan biasa dengan lokasi yang tersembunyi dan jarang dikunjungi orang lain.
Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh menit, sang sopir menghentikan mobilnya dan mempersilahkan para penumpangnya turun. Louis memandangi bangunan tua yang lebih mirip rumah hantu tersebut, terlihat cat nya yang mulai memudar dan beberapa bagian tembok retak. Pagarnya pun sudah tua dan berkarat, terdengar suara decitan yang memekakkan telinga ketika pintu pagar dibuka. Pencahayaannya pun kurang memadai, di beranda depan hanya di terangi dengan sebuah lampu pijar kuning yang berkedip-kedip.
Kringggg.....
Sang sopir menekan bel, Suara reyot terdengar cukup kencang ketika pintu tersebut terbuka. Seorang wanita tua dengan kulit yang sudah berkeriput tersenyum sambil memandang sang sopir taksi.
“Fred, kaulah itu? Mengapa kau berkunjung malam-malam begini?”
“Ada tamu yang ingin menginap nyonya.”
“Oh, kalau begitu masuklah.”
__ADS_1
Kondisi rumah tersebut ternyata lebih baik bila dilihat dari dalam, catnya masih cukup bagus dengan sofa berjejer diruang tengah. Tempatnya juga cukup terawat dan bersih, pemandangan yang sangat berbanding terbalik bila mengingat kondisi rumah tersebut dari luar.
“Perkenalkan ini Ms Lancester tapi biasa disapa Ms Bety.”
“Halo namaku Jessica dan ini Andrew suamiku.”
“Oh kalian sepasang suami-istri rupanya, ayo kita naik ke lantai atas. Aku yakin kalian akan menyukai tempat ini.”
Ma Bety hendak mengajak para tamunya naik ke lantai atas namun sang sopir langsung mengalihkan pembicaraan
“Mohon maaf Nyonya Bety, masih ada pekerjaan yang menungguku.”
“Oh, Fred baiklah. Terima kasih sudah mengantar para tamu kemari.”
“Ah, sebentar.” Louis menghentikan langkah sang sopir ketika hendak keluar rumah. “Aku belum membayar ongkos taksi.” Louis mengeluarkan segulung uang dolar berjumlah kurang lebih tujuh puluh dolar.
Sang sopir mengambil tanpa menghitung jumlahnya, ia langsung pamit undur diri. Ms. Betty mengunci pintu depan dan mengantar Ricard dan Louis ke ruang atas, Ms. Betty sangat ramah ia menjelaskan setiap detail rumah dan kondisi kamar sewa mereka. Ia juga memberi tahu menu sarapan apa yang akan mereka dapatkan, Louis memandangi kamar tersebut.
‘Tidak buruk.’ Batin Louis
Ms. Bety masih berceloteh ria, membuat Ricard risih dan memotong perkataannya secara spontan.
“Mohon maaf nyonya, kalau boleh bisakah kau membiarkan kami beristirahat.” Ms. Betty terdiam sambil memandangi Ricard. “Ini untuk biaya sewanya.”
Ricard mengeluarkan uang dua ratus dollar dari dalam dompet dan memberikannya kepada Ms. Betty.
“Tuan, ini terlalu banyak. Biaya sewanya tak lebih dari lima puluh dolar permalam.”
“Tidak apa, sebagai gantinya biarkan kami istirahat dan masakan sarapan yang enak untuk kami.”
Ms. Betty tersenyum dan berjalan keluar kamar sambil mengucapkan selamat malam.
“Selamat malam tuan dan nyonya Andrew.”
Setelah memastikan wanita tua tersebut pergi, Ricard melepaskan jaket dan topinya, dan melemparkannya ke lantai.
“Baiklah, gangguan telah pergi apa yang akan kita lakukan sekarang.” Ujarnya sambil melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
“Menurutmu?”
“Kita periksa isi map nya.” Ricard langsung duduk dan memasang tatapan serius.
__ADS_1