
“Bunuh saja.”
Abel tersenyum, ia menatap lekat lekat wajah Angel. Tetap wajah datar tanpa ekspresi, tanpa rasa bersalah.
“Bukankah sudah kukatakan, mereka sama sekali tidak berarti. Jadi, bunuh saja.” Angel kembali mengatakannya dengan dingin dan tanpa perasaan.
Kejadian tersebut membuat beberapa pengunjung mall panik, tentu saja kini mereka menjadi pusat perhatian, ada beberapa yang bersembunyi dan ada pula yang merekam menggunakan kamera ponsel mereka.
Angel memperhatikan sekeliling tanpa menggerakkan bola matanya, hanya mendengarkan suara dan pantulan dari kaca etalase toko.
Bermodalkan pistol seorang petugas keamanan mencoba melepaskan Louis dengan cara berjalan mengendap-endap, ia berusaha untuk menyerang Faith dari belakang. Namun Abel melihat bayangan tersebut dari tatapan mata Angel.
Dorr....
Sebuah peluru mendarat tepat di dada petugas tersebut, melihat kesempatan yang ada Louis dan Angel menyerang musuh di hadapan mereka secara bersamaan.
Angel menendang tangan Abel yang membuat pistolnya terjatuh, ia juga memukul wajah Abel dan menendang tepat di perutnya yang membuat Abel jatuh tersungkur dan pingsan.
Louis menggigit lengan Faith yang membuatnya kesakitan, menendangnya tepat di antara kedua paha yang membuat Faith menjatuhkan pistolnya. Secepat kilat Louis menyambar pistol tersebut dan berlari dengan mengajak serta Ricard.
Angel menarik tangan Arnold keluar dari kedai kopi, melewati meja dan kursi-kursi tinggi untuk bertemu dengan yang lainnya di tengah area bermain anak-anak, yang diberi nama "Zona Tertawa”.
‘Ada anak-anak di sini.’ Batin Angel begitu melihat beberapa anak kecil yang sedang berada di pelukan orang tua mereka.
“Kita tidak bisa melawan, kita harus lari.” Perintah Angel.
“Lewat mana?”
Mall tersebut sangat luas, mereka berusaha lari sejauh mungkin. Banyak pula pengunjung yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, itu bisa dilihat dari mereka yang tetap berjalan santai meski Angel dan lainnya sedang lari Tunggang langgang.
"Kita hanya membuang-buang waktu,"
Angel berbalik untuk melihat arah lain. Aula itu masih memanjang hampir lima puluh meter lagi lalu berakhir di tempat makan berbentuk bundar, dengan meja dan kursi-kursi plastik yang dikelilingi selusin kedai makanan cepat saji. Sebuah lift dan dua eskalator bisa membawa mereka naik menuju balkon yang bisa melihat ke area utama dan toko-toko di lantai atas. Tapi sejauh yang bisa dilihat Angel, satu-satunya jalan keluar dari mal adalah kembali ke arah Faith dan Abel yang mulai mengejar, yaitu pintu kaca putar yang berada di depan, Atau ia bisa mencari pintu darurat terdekat.
"Bagaimana kalau di sana?" Ricard menunjuk ke arah sebuah toko besar dua lantai, atas dan bawah: sebuah toko mainan anak-anak prasekolah bernama Kids station Bagian dalam toko itu begitu terang penuh warna-warni. Di depan toko, seorang anak muda berwajah masam sedang mengenakan sebuah kostum, maskot toko itu, seekor kucing kuning dengan ekor berbentuk petir yang Angel rasa jelas-jelas adalah Pikachu.
"Ya! Ke sana! Ke sana!" Dia menyambar tangan Arnold dan memimpin jalan. Yang lain mengikuti.
Angel merangsek melewati seorang anak yang berbalik untuk melihat mereka lewat, mata birunya mendadak membelalak saat melihat Ricard.
“Dad.”
Mungkin dia berpikir Ricard adalah ayahnya. Dia tertawa riang dan menjulurkan tangannya untuk memeluk kedua kaki Ricard.
__ADS_1
"Mundur!" gelegar suara Arnold. Anak itu terjatuh ke belakang saking kagetnya, mendarat dan memantul di popoknya. Dia mendongak menetap mereka dengan kebingungan tanpa berkata apa-apa, menyaksikan kumpulan aneh orang dewasa ini meninggalkan area bermain sebelum akhirnya memutuskan untuk menangis.
Tampak seorang wanita berjalan dan memeluk anaknya, dan ia menatap Ricard sesaat dengan mulut ternganga.
Angel memimpin mereka ke dalam toko Kids station!. Karena hari masih cukup pagi, hanya para staf yang ada di dalam: remaja-remaja tembem dengan seragam toko berwarna merah muda menyala dengan tanda pengenal dari plastik.
Itu adalah tempat yang tepat untuk bersembunyi, dipenuhi rak-rak berisi omong kosong plastik, mainan berbulu besar, etalase putar yang memajang CD-ROM buku cerita dan lagu-lagu anak-anak favorit.
"Kita berpencar! Mereka tidak akan menemukan kita di sini” masih memegangi tangan Arnold. Dia tidak akan melepaskannya Dia tidak ingin kehilangan Arnold lagi.
"Berpencar lagi?." Tanya Ricard
“Lou, berikan senjata yang tadi kau ambil.”
Louis terkejut ia baru sadar kalau dirinya juga memegang sebuah pistol dan langsung memberikannya kepada Angel.
“kita akan bertemu lagi.”
“Di mana?” tanya Ricard
"Bagaimana kalau Kedai makan dekat motel?" ujar Louis
"Tidak!!! Bukan di dekat motel, atau dimobil. Mungkin ada orang lain yang menunggu kita di sana.”
"Ide bagus, cari jalan ke kedai makan!" Angel berbalik untuk melihat melewati maskot Pikachu yang berdiri di aula. Dia bisa melihat sosok khas pasangan pembunuh itu. Sekarang lebih dekat.
"Pergi!" desisnya. "Kita terlalu mudah dikenali. Berpencar!" Louis dan Ricard pergi mencari pintu darurat.
“Di sana, kita harus pergi ke sana.” Bisik Ricard, sambil menunjuk ke pintu darurat yang berada di seberang toko.
“Kita harus memutar.”
Angel menarik Arnold bersamanya, dengan cepat meliuk-liuk melewati diorama luar biasa yang dibuat dari Balok balok Lego raksasa ke dalam labirin lorong yang dipenuhi perlengkapan bayi dan baju-baju bayi yang imut dan berumbai-rumbai.
“Rose, bisakah...."
"Diam, Arnold! Aku akan menjagamu." Angel berjongkok rendah, mendorong gantungan-gantungan baju ke samping untuk mengintip. Arnold tersenyum lebar melihat tingkah Angel, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk jatuh cinta.
“Tapi aku bisa berjalan sendiri, aku tidak setua itu.”
Angel tersadar, ia baru ingat kalau ia masih menggenggam erat tangan Arnold.
“Maaf.” Angel melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Di seberang toko dia bisa melihat bagian kepala Ricard selama sesaat, lalu hilang di balik sederetan boneka beruang Sweet super besar. Dia menoleh lagi ke pintu masuk toko, berharap melihat kedua orang itu sudah lewat dan tidak menemukan mereka. Tidak ada apa-apa. Mungkin mereka sudah lewat.
"Angel.."
“Arnold, shhh....aku mencoba melihat.”
"Permisi? Miss?"
Angel berbalik untuk melihat seorang staf sedang memandangnya. Seorang gadis berkemeja merah muda, dengan anting di hidung dan mata merah akibat begadang sampai pagi-semalam, menatap letih ke arahnya. Wajah yang jelas mengindikasikan ini masih terlalu pagi dari hari buruknya untuk menghadapi kebodohan pelanggan seperti ini.
"Maaf, Anda tidak diperkenankan bersembunyi di antara pakaian seperti itu."
Angel berdiri tegak.
"Aku.., itu...Umm. Tukar tambah, aku sedang mencari pakaian tukar tambah untuk anakku.”
'Akting yang buruk.’ Batin Arnold.
"Saya rasa sebaiknya Anda keluar dari toko, Ma'am."
Angel tetap berada di tempatnya, matanya terpaku ke bagian depan toko. "Beri kami waktu sebentar di sini.. kami hanya perlu .. untuk...”
"Anda harus pergi. Miss. Anda jelas tidak berbelanja. Anda mengganggu ketertiban umum.”
“Kami hanya berada di sini sebentar bisa tidak? Ini tidak akan membunuhmu!"
Gadis itu tidak menyukainya. "Saya pinta Anda dengan baik-baik untuk pergi. Jika Anda tidak melakukannya, saya akan memanggil manajer. Saya akan memanggil keamanan mal."
Angel tak tahan lagi kini ia menodongkan pistol ke arah gadis itu.
“Sudah kubilang beri waktu untuk kami sebentar saja.”
Saat itulah Angel melihat mereka. Kedua pembunuh itu berdiri di depan toko, dua pasang mata melihat sekeliling toko mainan seperti lampu sorot penjara.
Si maskot , Pikachu raksasa yang tidak masuk akal. menghampiri mereka dengan ceria, mungkin dengan lelahnya menyanyikan slogan bodoh toko itu: Teman yang Bermain Bersama adalah Teman Selamanya!!
Abel terlihat risih, Angel mendapati dirinya berpikir Abel akan menerjang dengan tinju dan menghantam tenggorokan Pikachu. Pemuda itu menghilang dari pandangan.
"Hah?" kata gadis berkemeja merah muda itu pada dirinya sendiri.
"Apa dia baru saja meninju Billy... ?"
Pandangan Faith menyapu, berkeliling dan melihat Angel tepat saat Angel baru akan menunduk menghilang dari pandangan. Dengan cepat ia mengangkat lengannya, dan mengarahkan pistolnya ke arah Angel.
__ADS_1
Lalu baku tembak pun dimulai.