B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Lima puluh sembilan


__ADS_3

Ms. Betty telah menyiapkan sarapan terbaiknya, ia membuatkan Louis dan Ricard panekuk dengan toping buah berry segar. Louis menuruni anak tangga dengan perlahan sambil menahan rasa sakit pada bagian betisnya, hampir semalaman ia terjaga karena rasa sakit pasca kecelakaan yang ia alami. Bahkan lengannya yang lecet pun tak sempat ia obati, rasa lelah dan letih membuat ia hampir melupakan kecelakaan yang dialaminya semalam.


Kini matanya tampak berkantung dengan wajah pucat dan rambut yang kurang tertata, bahkan ia sendiri tak menyadarinya hingga Ms. Betty menegurnya.


“Ya tuhan, apa yang terjadi padamu?”


“Tidak apa-apa hanya sedikit cidera.”


“Apa kau sudah mengobatinya? Coba kulihat, ah sepertinya belum. Tunggu sebentar.”


Ms. Betty pergi ke ruangan lain guna mengambil perlengkapan P3K, tak lama berselang terdengar langkah kaki Ricard menuruni anak tangga menuju dapur. Ms. Betty ternyata cukup unik, dia memasang televisi kecil di dapurnya yang sedang tersetel ke siaran berita.


Seorang pembawa acara dengan setelan jas rapi mulai berceloteh, volume suara televisi tersebut memang sangat kecil membuat Ricard dan Louis kesulitan menyimak berita yang sedang disiarkan.


“Maaf menunggu lama.” Mrs. Betty berjalan perlahan mendekati Louis sambil menenteng kotak P3K.


“Ini mungkin akan terasa sedikit perih.” Mrs. Betty mengoleskan obat ke setiap luka yang terdapat di lengan Louis.


Mrs. Betty sangat ramah dan hangat, entah ini memang perangainya atau hanya karena Louis dan Ricard yang membayar lebih untuk satu malam di sebuah penginapan ilegal.


Ricard memakan panekuk nya sambil melihat TV ia sedikit terkejut ketika saluran berita menayangkan mobil yang dikendarai Louis semalam rusak berat, Ricard pun menoleh ke arah Louis dengan tatapan menyelidik.


“Madam, bisakah kau besarkan volumenya.”


“Apa katamu?”


“Madam, Tolong besarkan volume tv-nya.”


“Oh, maafkan aku.” Mrs. Betty tersenyum kikuk. “Aku sengaja mengecilkan volumenya, kau tahu pendengaran ku kurang baik. Jika volumenya terlalu besar, aku akan kesulitan mendengar sekitar.”


Mrs. Betty mengambil remote dan memberikannya kepada Ricard.


“Ini tuan.”


Ricard membesarkan volumenya, kini suara reporter yang meliput terdengar sangat jelas. Sebuah rekaman video amatir yang Diiringi suara sirine mobil polisi dan ambulance, dengan latar malam jelas sekali bahwa video tersebut diambil tepat setelah kecelakaan terjadi. Kini scene beralih , seorang pria yang bisa disebut sebagai seorang saksi mata menjelaskan kejadian dengan gaya yang congkak seolah ia yang paling tahu. Ia mengatakan bahwa ada seorang wanita mabuk yang mengendarai mobil secara ugal-ugalan kehilangan kendali dan menabrak mobil yang berada tepat di depannya, ia melihat dengan jelas wanita Tersebut keluar dari mobil yang sudah ringsek. Namun saat ia hendak menolong, wanita tersebut malah lari. Ia beranggapan bahwa wanita tersebut takut masuk penjara, jadi ia melarikan diri.


Reporter menyudahi liputan dan Ricard mengecilkan kembali volumenya, tampak amarah di balik sorot mata Ricard yang dingin. Louis menangkap hal itu dengan baik, setelah selesai mengoleskan obat Mrs. Betty mempersilahkan Louis makan.


“Terima kasih.” Ucap Louis sambil tersenyum


Mrs. Betty membiarkan tamunya sarapan sementara ia mencuci peralatan dapurnya yang kotor, Louis dan Ricard makan dalam kondisi hening tanpa suara.


“Semoga saja Angel tidak menonton berita hari ini.” Batin Louis


Sementara itu di ruangan serba putih dengan dua tempat tidur, yang sangat mirip dengan ruangan ICU. Dengan peralatan lengkap di setiap ranjang, mulai dari alat infus, pengukur detak jantung, tabung oksigen, bahkan alat pacu jantung, juga beberapa peralatan diruang ICU pada umumnya. Dua insan terbaring lemas, tak sadarkan diri.


Dalam tidurnya Angel mendapatkan penglihatan aneh yang bisa dikatakan bahwa itu adalah memorinya yang telah lama tersimpan, semua kenangan tragis maupun bahagia melintas dengan sangat cepat membuat Angel gelisah. Tubuhnya bergetar hebat, dan beberapa kali tampak seperti orang kerasukan, ia seperti hendak melakukan perlawanan membuat selang infusnya terlepas.


William yang melihat hal tersebut lantas berteriak memanggil Jane, teriakan William cukup kencang membuat Arnold ikut terbangun. William mengguncangkan tubuh Angel beberapa kali agar ia sadar, namun hasilnya nihil. Panik, William kembali mengguncang tubuh Angel.

__ADS_1


“Tidakkkkkkkkk.....”


Sebuah teriakan keras dan Angel pun terbangun bertepatan dengan kedatangan Jane yang terburu-buru.


Hoshh...hosh....hosh...


Nafas Angel tersengal, darah segar mengalir dari bekas jarum infusnya yang patah. Dengan cepat Jane mencabut sisa jarum dan membalut tangan Angel menggunakan perban, Arnold yang bangun karena kaget mulai merasakan efek yang tidak mengenakkan kepalanya terasa sakit, berkali-kali ia mengerjap kan mata.


“Kau baik-baik saja?” Tanya William.


Sementara Jane sibuk mengecek kondisi Angel, ia memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Angel. Beruntung semuanya dalam kondisi baik.


“Ku rasa ia hanya mengalami mimpi buruk.” Ujar Jane, yang kini beralih memeriksa kondisi William.


“Apa Kepalamu sakit?” Tanya Jane , Arnold mengangguk. “Tenanglah itu hanya efek terkejut, kondisimu juga sangat baik”


“Well, karena semuanya sudah sehat mari kita sarapan. Aku sudah membuat spaghetti yang enak untuk kalian.” William bangkit sambil membantu Angel berdiri.


“Sudah pagi? Pukul berapa sekarang?” Tanya Arnold


“Delapan.” Jawab William sambil berjalan keluar menuju dapur.


Kini kepala Arnold sudah terasa lebih baik, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


“Hey bung, dimana kamar mandinya?”


Arnold berjalan keluar rumah, udara desa yang sejuk dan segar membuat ia sedikit bersemangat. Ia berjalan menuju kandang sapi, ia kaget bukan main melihat kondisi kamar mandi yang berantakan.


“Astaga, yang benar saja.” Keluh Arnold yang mau tidak mau harus memakainya.


Tokk...tok..tok..


Arnold yang sedang membasuh muka kaget dengan suara ketukan dari luar kamar mandi, sebuah tangan perlahan menjulur masuk dari balik lubang yang terdapat di dinding kamar mandi.


“Ini, kau pasti butuh sikat gigi.”


“William, apa yang kau lakukan?”


“Apa kau takut?”


“Tentu saja tidak.” Dan Arnold berbohong, sejujurnya ia sedikit gemetar.


Tokk...tokk...tok....


Kini sebuah handuk terlempar masuk dari atas kamar mandi yang memang tidak memiliki atap.


“Kau pasti membutuhkannya juga.”


“Pergi sana!! jangan ganggu aku.”

__ADS_1


Kini semua orang telah duduk di kursi masing-masing, di atas meja terdapat sarapan berupa spaghetti bolognese dan beberapa cangkir berisi air putih. Rupanya tuan Dough tidak ikut sarapan di dapur, ia memilih untuk duduk diruang tengah sembari menonton siaran berita pagi. Ia menyetel suara tv dengan cukup kencang, membuat orang-orang yang berada di dapur ikut menyimak berita yang sedang ia tonton.


“Di duga mabuk, seorang wanita menyebabkan kecelakaan beruntun beruntungnya tidak ada korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Namun hingga saat ini, sang sopir wanita telah melarikan diri dan tidak diketahui identitasnya. Mari kita simak berita selengkapnya.”


“Sayang, bisa tolong kecilkan suara tv-nya.” Nyonya Dough yang mulai jengkel dengan kelakuan suaminya berdengus kesal.


Mereka makan tanpa mengobrol, hanya di temani suara berisik dari tv yang di tonton oleh tuan Dough.


“Mobil Cadillac Escalade berwarna merah asal dengan plat polisi 6TRJ244 menjadi penyebab utama kecelakaan pada malam tadi...”


Angel tersedak, ia hafal betul mobil favorit milik Louis. Kini ia mencoba mengingat nomor plat kendaraan Louis dan benar saja, nomor tersebut sama dengan yang di siarkan di televisi. Angel bangkit dan berjalan menuju ruang tengah guna memastikan kondisi mobil tersebut, Angel syok. Kondisi mobil rusak parah pada bagian depan, kini terlintas bayangan betapa bahagianya Louis saat pertama kali mengemudikan mobil tersebut.


Kini tampak seorang saksi mata mulai menjelaskan apa yang terjadi, ia menunjuk ke arah mana wanita pengemudi mobil tersebut lari.


“Louis masih hidup.” Batin Angel


“Will, apa kau melihat smartphone milikku?”


“Yah, aku menyimpannya di laci.”


“Dimana?”


“Laci sebelah kiri di ruangan perawatan.”


Angel bergegas menuju ruangan tempat ia dirawat, ia membuka laci dan langsung menyambar smartphone nya. Semua orang di dapur saling memandang, mereka merasa heran dengan tingkah laku Angel. Ricard menyusulnya guna mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Ada apa?”


“Louis dalam bahaya.” Angel membuka smartphone dan memeriksa pesan yang masuk.


“Lihat, ia mencoba menelepon ku beberapa kali.”


Tut.....Tut......Tut....


“Angel kau kah itu? Syukurlah.” Suara Louis terdengar seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan kondisi anaknya.


“Lou kau baik baik saja?.., aku sedang di rumah paman William di daerah Santa Rosa. Boston? Kenapa?..., Baiklah Jaga dirimu.”


Angel mematikan ponsel kini ia beralih ke Arnold.


“Kita akan bertemu Louis dan Ricard di Sacramento, mereka sedang dalam perjalanan menuju Boston.”


“Apa? Untuk apa kita menyusul mereka?”


“Bukankah kita ingin masalah ini cepat selesai?”


“Baiklah, setelah sarapan.”


“Baik.”

__ADS_1


__ADS_2