
Boston, Massachusetts, Amerika serikat.
Sebuah rumah minimalis bergaya Inggris modern, dengan cat putih dan pagar kayu berwarna hijau. Terdapat kursi goyang tepat di teras rumah, dan sebuah meja kecil di sampingnya, juga beberapa peralatan kebun yang kelihatannya baru selesai digunakan.
Angel menatap ke rumah tersebut, ingatannya seolah beralih pada masa lalunya. Entah apa itu, yang jelas ada hubungannya dengan kursi goyang berbahan rotan tersebut. Angel melangkah masuk dan mengetuk pintu perlahan.
“Permisi, apa ada orang dirumah?”
“Siapa disana?” terdengar suara teriakan dari dalam rumah. “Sebentar!!”
Angel bisa mendengar suara langkah kaki menuruni tangga dan berjalan menuju arah pintu.
Klek...
“Ada yang bisa dibantu?”
Seorang gadis mengenakan kaos hitam pendek, dan celana jeans panjang. Dengan rambut lurus berwarna pirang, kulit putih pucat. Ia juga mengenakan riasan mata berwarna hitam pekat, begitupun dengan lipstiknya. Sekilas ia sangat mirip dengan sosok penyanyi idola remaja Avril Lavigne.
“Halo?? Kau ingin apa?”
Angel yang sedari tadi melamun memandangi gadis yang berdiri dihadapannya tersentak kaget.
“Apa ibumu ada dirumah?”
“Apa kau seorang sales?” bukannya menjawab gadis itu malah bertanya balik. “Ibuku tidak ada dirumah, di pergi ke tempat saudaranya”
Bohong.
Angel bisa menyimpulkan dalam sekejap. “Kau berusaha menipuku? Ibumu mungkin baru saja selesai berkebun, dilihat dari peralatannya yang masih basah karena habis dicuci.”
Gadis itu melirik ke peralatan kebun ibunya yang memang habis dibersihkan.
“Jika aku menyimpulkan dari penampilanmu, tidak mungkin kau yang melakukan pekerjaan kotor itu.”
“Baiklah, baik.” Gadis itu memanyunkan bibirnya. “Ibuuu..ada yang mencarimu!!!”
“Silakan masuk.” Dengan enggan gadis itu mengantarkan Angel masuk kedalam dan kemudian meninggalkannya sendirian.
Lima menit kemudian muncul seorang wanita paruh baya, berumur sekitar empat puluhan dengan kulit pucat dan rambut pirang sebahu. Ia tampak habis mencuci tangannya, itu bisa dilihat dari kain yang ia pegang.
“Ada yang bisa kubantu? Tapi, sebelum kau menjelaskan banyak hal aku tegaskan dulu bahwa aku tidak akan membeli satu produk pun yang kau jual. Terserah apapun itu.”
“Sayangnya aku kemari bukan mau menjual produk, tapi ingin bertanya apa benar ini rumah Tuan Martin Luther?”
“Yah, dia suamiku. Apa ada yang bisa kubantu?”
“Aku ingin menemuinya.”
“Apa kau?” Mata wanita tersebut tampak berkaca-kaca, seolah menahan kepedihan yang mendalam dan Angel dapat menyimpulkan bahwa akan terjadi sebuah kesalahpahaman.
“Nyonya ini tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Kau pasti kemari karena warisan itu bukan?”
Angel bernafas lega, ternyata wanita tersebut telah mengetahui hal itu.
“Aku senang jika kau sudah mengetahui hal ini, aku hanya ingin bertemu Tuan Martin. Apa dia ada dirumah?”
__ADS_1
“Ayahmu telah meninggal berbulan-bulan yang lalu. Namun, di luar dugaanku ia ternyata sudah menulis sebuah surat wasiat. Ia telah mengakui semuanya, bahwa ia memiliki istri lain selain diriku. Sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan, dan dia juga meminta agar aku memberikan warisan kepada putri dari istri keduanya.” Wanita tersebut mulai menangis tersedu-sedu, ia sangat mencintai suaminya dan itu terlihat sangat jelas.
“Tapi, ke mana saja kau selama ini. Harusnya kau datang di pemakaman ayahmu, kau ini anak macam apa.”
“Maaf nyonya, ternyata anda memang salah paham. Aku kemari bukan untuk warisan semacam itu, ini soal—“
“Ibu, ada apa?” Gadis yang tadi menyambut kedatangan Angel datang membawa nampan berisi minuman, ia menaruhnya di meja sebelum beralih untuk memeluk ibunya yang menangis tersedu-sedu. “Apa kau?”
‘Astaga drama macam apa ini' batin Angel.
“Ini bukan soal itu, kalian salah paham. Aku kemari karena suamimu. Maksudku, almarhum suamimu adalah pengacara ayahku Robert. Dia meninggalkan surat wasiat tersebut kepada suamimu.”
“Oh..” wanita tersebut berhenti menangis. “Ternyata kau anak dari kolega suamiku. Tapi, suamiku sudah—“
“Aku paham, hanya saja aku sangat membutuhkan surat itu karena nyawa kami sekarang dalam bahaya.”
Angel berakting seolah ia adalah gadis lemah tak berdaya.
“Apa ibumu sedang sakit?”
“Aku bahkan tidak punya ibu.”
Wanita dan gadis tersebut saling menatap, kemudian berpaling ke arah Angel. Tatapan yang seolah berkata, malang sekali dirimu nak atau aku bersyukur masih memiliki seorang ibu.
“Aku tidak yakin mengenai ini, tapi mungkin aku bisa memeriksa ruang kerja milik almarhum suamiku. Mungkin, dia menyimpan surat itu di suatu tempat.”
“Boleh aku ikut?”
“Tentu.”
“Maaf, aku sudah lama tidak membereskan ruangan ini. Aku akan mengambil sapu dan kain pel, kau boleh mulai duluan.”
Namun, saat Angel hendak melangkah masuk seseorang menepuk pundaknya perlahan.
“Aku turut berduka, aku mengerti perasaanmu sekarang. Maaf atas perlakuanku tadi.” Kini gadis itu menjulurkan tangannya. “Namaku Gracelina temanku biasa memanggilku Grace, kalau boleh tahu siapa namamu?”
“Aqila.” Hanya nama itu yang saat ini cocok dengan penampilannya yang mirip orang Asia, lagi pula nama itulah yang kini tertera di wasiat Robert.
Mereka kini mulai mencari, mulai dari rak buku juga laci yang berada di dalam ruangan.
“Kau tahu, Namamu sedikit aneh untuk orang Amerika.” Tanya Grace memecah keheningan.
“Ya, ibuku orang Asia. Kurasa ibuku yang memberikannya.” Angel menjawab sambil tetap mencari, kini ia sudah selesai di rak buku, dan melihat kearah di meja kerja almarhum tuan Martin.
Grace sibuk menyusun buku-buku yang terjatuh saat Angel mencari surat tersebut. “Apa warisannya banyak?”
Bukan hanya banyak, warisan tersebut bahkan jauh lebih berharga dari yang diperkirakan.
“Ya, kurang lebih begitu.” Angel berjalan perlahan menuju meja kerja tuan Martin.
Ia menemukan sebuah kotak kecil yang terkunci rapat. ‘Kira-kira apa isinya?’
Rasa penasaran Angel membuatnya kurang fokus dan mengabaikan Grace, ia menyimpan kotak tersebut ke dalam jaketnya. Saat hendak meninggalkan meja tersebut ia melihat sebuah foto dengan tiga orang, satu wanita, satu pria dan satu anak kecil berumur sekitar empat tahun.
“Hey, apa kau tidak mendengarku?”
“Foto ini?”
__ADS_1
Grace mendekat dan mengambil foto tersebut. “Astaga, tak kusangka ayah masih menyimpannya. Ini adalah fotoku dan kedua orang tuaku, saat itu umurku masih empat tahun.”
Sekilas bayangan dari ingatan masa lalu membuat Angel tertunduk lemas.
“Ayah dan ibuku sangat menyayangiku, tahun ini ada kamp khusus hari ayah disekolah, jika saja ayahku masih hidup.” Grace terlihat merenung “Tapi, setidaknya aku beruntung masih memiliki seorang ibu sedangkan kau—“
Grace melirik ke wajah Angel, Angel terlihat syok dengan mata Angel berkaca-kaca. Wajah Angel juga merah padam, Grace merasa bahwa mungkin ia salah dalam penyampaian atau semacamnya.
“Ah, maafkan aku. Aku tak bermaksud—“
“Tidak masalah, aku permisi. Terima kasih atas bantuannya.”
Angel berlari menuruni anak tangga, Ibu Grace mendengar langkah Angel yang terburu-buru dan menegurnya.
“Hati-hati, kau bisa terjatuh. Apa kau sudah menemukannya?”
Ibu Grace bisa melihat Angel yang berlinang air mata, Angel berusaha agar tetap terlihat biasa saja.
“Aku pamit dulu, ada urusan mendadak. Terima kasih atas bantuannya.”
“Hey—“
Angel secepat mungkin berlari keluar dari rumah tersebut, dan menghapus air matanya.
Sementara itu, Arnold dan yang lainnya yang sedari tadi menunggu di dalam mobil dikejutkan dengan munculnya Angel yang berlari keluar dari tikungan menuju mobil.
Plukkk..
Bukk....
“Jalan.”
Semua terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Angel.
“Hey, santai apa yang terjadi?”
“Jalannn!!!”
Arnold menginjak pedal gas dan mengemudi seperti orang gila, asap putih keluar dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal.
“Apa yang terjadi? Apa mereka tahu kita berada di sini?” Tanya Ricard penasaran.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Martin sudah tewas, dan akulah pembunuhnya.”
“Apa?” semua tersentak kaget mendengar pernyataan Angel.
“Kau bercanda?” Ujar Louis.
“Yah, kalian tidak salah dengar. Martin Luther telah tewas berbulan-bulan yang lalu, dan akulah yang membunuh pria itu.”
Arnold berbelok arah dan menghentikan mobilnya disalah satu gang sempit, membuat mobilnya tersentak dan hampir terbalik.
“Kau!!!”
__ADS_1