
“Pukul berapa sekarang?”
“Sepuluh.”
Ricard mengerutkan dahi, banyak hal yang melintas di benaknya. Dia tak menyangka ternyata selama ini ayahnya telah membohongi dirinya, hampir semua hal yang di katakan ayahnya berupa karangan yang disusun sedemikian rupa sehingga tampak nyata adanya.
“Jadi, Angel baru bergabung di organisasi kita dan Tuan Blood berbohong mengenai kehidupan Angel.” Louis mengatakan hal tersebut dengan spontan membuat dahi Ricard kian mengkerut.
“Ah, maafkan aku Richard aku tak bermaksud..”
“Tidak masalah, itu adalah fakta.”
Richard melempar kertas berisi catatan tentang Angel, salah satu kertasnya berisi mengenai data pribadi Angel lengkap dengan tanggal bergabungnya Angel ke organisasi Blood. Dan kertas lainnya berisi catatan mengenai pembunuhan Robert yang ternyata merupakan ketua organisasi mafia terkuat di Inggris bahkan Eropa, yang juga merupakan ayah angkat Angel.
“Tapi, semuanya masih kurang jelas.”
“Tidak Lou, semuanya sekarang sudah jelas. Angel diincar karena ia satu-satunya keluarga yang dimiliki Robert, yang berarti jika Robert tewas maka semua harta kekayaan dan kedudukan Robert jatuh ke tangan Angel.”
“Waw, jadi Angel adalah ketua SnowDancer yang baru?”
“Ya.”
“Tapi, bukankah saat ini Robert masih hidup. Buktinya tidak pernah ada berita mengenai kematiannya, baik itu secara lisan maupun tertulis, bahkan SnowDancer masih beroperasi seperti biasa. Dokumen itu bisa jadi palsu.”
“Jika dokumen ini palsu, untuk apa ayahku menyembunyikannya?”
Louis terdiam dan berpikir, ia merasa gerah jadi memutuskan untuk melepaskan jaketnya, saat Louis hendak menggantungkan jaket ia merasakan ada sebuah buku di saku kanannya. Kini ia baru teringat mengenai buku catatan kecil yang diambilnya dari dalam brankas, sebuah buku bersampul coklat yang sudah tua dan usang.
“Apa itu Lou?”
“Aku juga menemukan ini waktu mencari berkas itu.”
Saat Ricard membuka buku tersebut sebuah foto menyembul keluar dari salah satu halaman buku, foto tiga orang pria berbadan kekar dan gagah sambil memegang cangkir berisi minuman yang diangkat ke atas. Ricard langsung mengenali salah satu wajah dari tiga orang tersebut.
“Tuan Blood.” Ujar Louis
Ricard membalik foto dan mendapati tulisan inisial nama-nama orang yang berada di dalam foto.
__ADS_1
‘TRJ, Satu untuk semua dan semua untuk satu.’
“Persis seperti three Musketeers hanya saja mereka terlihat lebih modern.” Ketus Louis.
“T adalah inisial dari nama ayahku, R adalah inisial dari Robert, tapi siapa Mr J ini?”
“Jika ini ayahmu, ini Robert berarti inilah Mr J.” Louis menunjuk satu persatu orang yang berada di dalam foto. “Apakah kita pernah melihatnya? Dia tak tampak asing bagiku.”
“Entahlah Lou.” Ricard membuka buku tersebut dan mulai membaca satu persatu halaman dengan sangat teliti, berharap ayahnya meninggalkan petunjuk.
Ricard meresapi setiap barisnya, kini semuanya telah jelas. Buku tersebut ternyata berisi catatan penting, mirip diary tapi lebih singkat dan sangat kompleks. Mr. Blood mencatat semuanya dengan detail, dalam bahasa yang ringan.
“Mr. J adalah Jonathan, dan dia adalah seorang penghianat. Mafia berdarah dingin yang tega membunuh temannya, kematian Mr. Robert telah di rencanakannya dengan matang, dia juga mengincar ayahku. tujuannya adalah agar seluruh kekuatan ada di pihaknya, ia ingin menguasai dunia mafia.”
“Apakah ada bukti?”
“Tidak, hanya persepsi ayahku.”
“Lalu, apa hubungannya dengan Angel?”
“Ricard, sekarang aku ingat. Jonathan adalah nama ketua dari organisasi, ah tunggu sebentar. Apa ya?..., Organisasi.”
“Deathknell.”
“Ya itu, ketua organisasi Deathknell bernama Jonathan. Tapi bukankah ia sudah tewas bertahun-tahun yang lalu, bahkan seingatku tahun kematiannya jauh sebelum kematian Robert. Bahkan beredar kabar bahwa organisasi tersebut telah dibubarkan, dan beberapa anggotanya menjadi penjahat biasa karena tidak ada organisasi mafia yang bersedia menerima mereka sebagai anggota.”
“Kau benar, apa mungkin ada seseorang dari organisasi tersebut yang merasa sakit hati dan berupaya membangun kembali organisasi Deathknell.”
“Bisa jadi, siapa pun orangnya pastilah ia memata-matai SnowDancer dengan tujuan merebut kekuasaan. Dan ia juga mengetahui rahasia kematian Robert juga anak angkatnya Aqila yang tidak lain adalah Angel kita.”
“Itu artinya, Angel dalam bahaya.”
“Bukan hanya Angel, Blood juga dalam bahaya. Bisa jadi anggota Deathknell sudah masuk ke organisasi Blood tanpa kita sadari, dan DarkRiver adalah perantaranya.”
“Organisasi kita sudah benar-benar berantakan, tanpa sadar kita sudah jatuh ke tangan DarkRiver.”
“Kau benar, satu-satunya cara untuk menyelamatkan organisasi Blood adalah mendapatkan bantuan dari organisasi terkuat di Eropa yaitu SnowDancer.”
__ADS_1
“Caranya?”
“Ayolah Lou, mengapa kau tampak seperti orang bodoh. Tentu saja dengan mengembalikan Angel ke posisi yang seharusnya, dengan begitu ia pasti mau menolong kita.”
“Tapi, bukankah tuan Blood telah membohonginya. Bisa saja ia sakit hati dan malah berbalik menyerang kita.”
“Tidak, jangan berpikir negatif dulu. Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan Angel dan membawanya ke Boston.”
“Boston? Mengapa harus kesana?”
“Pengacara Robert bersembunyi di sana, ia menyimpan semua dokumen yang memperkuat kedudukan Angel, ini.” Ricard melemparkan kartu nama yang juga terselip di buku catatan tersebut.
“Tuan Martin Luther, kedengarannya menarik. SnowDancer ternyata sangat luar biasa.”
“Baiklah tuan Ricard, sebaiknya kita istirahat dulu malam ini. Kau tahu, aku sudah sangat lelah.”
Hanya tersedia satu ranjang di ruangan tersebut membuat Louis dan Ricard mau tak mau harus berbagi tempat tidur, Louis mengambil posisi menghadap ke dinding dengan Ricard tepat di sebelahnya.
“Selamat malam”
Kini Louis sudah dalam posisi nyaman, ia sudah mulai terlelap. Namun Ricard tetap dalam posisi siaga, sesekali ia mengintip dari balik jendela untuk memastikan kondisi mereka sudah aman. Suasana malam hari ditempat itu benar-benar sunyi dan tenang, Ricard yang mulai terbuai dengan semilir angin dari AC yang sudah usang perlahan memejamkan mata dan tertidur.
Di sebuah ruang kosong Ricard menatap sekeliling, tidak ada seorang pun di sana hanya ada dirinya dan sesosok bayangan yang menyerangnya. Ricard tak dapat mengelak, berkali-kali ia dipukuli dan di tendang. Ricard ingin melawan namun tubuhnya yang begitu lemah membuatnya hanya bisa menahan rasa sakit, kini ia terpental hingga tubuhnya menghempas ke tembok dan bayangan tersebut mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaket ia mengarahkan pistol tersebut ke dahi Ricard, darah menetes dari setiap tubuh Ricard yang terluka dan..
Dorrrr....
“Ricard...,Ricard... Bangunlah.”
Nafas Ricard terengah-engah, setengah sadar ia memegangi kepalanya.
“Hosh.., ternyata sebuah mimpi.”
“Cepat bersiaplah, kita harus segera pergi menemui Angel.” Louis menyisir rambut dan menguncirnya
Ricard yang terlihat syok memandangi Louis dengan tatapan aneh, kini ia bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Louis yang sudah siap berkali-kali menelepon Angel namun tak kunjung di angkat.
“Ke mana perginya gadis itu, lihat saja kalau ketemu nanti.”
__ADS_1