B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Empat puluh Tujuh


__ADS_3

Didalam gereja Candy dan Ricard mengatur strategi agar bisa keluar dari sana dengan aman, saat mereka tengah merenung tiba-tiba smartphone Ricard berbunyi beberapa jemaat yang datang sedikit terganggu jadi Ricard keluar dari sana dan berdiri dibelakang tembok.


“Apa?, Sialan........ Baik aku akan segera kesana, tapi aku butuh sesuatu disini bisa kau kirimkan orang untuk mengantarkan peralatan makeup lengkap dan beberapa pakaian ganti, oh ya jangan lupa dengan kartu identitas baru untuk dua orang satu pria dan wanita....., Tidak ikuti saja, jangan lupa menelepon jika semuanya sudah siap......., Baiklah akan kukirim lokasinya jaga dirimu baik-baik Lou.”


Ricard mematikan telepon dan kembali masuk kedalam, kali ini ia bisa lolos dari maut berkat bantuan Louis tapi saat ini ada hal buruk yang terjadi di California yang mengharuskan ia untuk pulang.


“Ada apa?.” Tanya Candy begitu Ricard duduk.


“Ada hal buruk terjadi di California, aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan pelarian kita.” Bisik Ricard.


“Apa aku akan ikut kesana?.”


“Terserah padamu, tapi aku butuh bantuanmu.”


“Apa?.”


“Aku sudah menyiapkan penyamaran untuk kita, kau harus meriasku seperti kemarin.”


“Baiklah, tapi mengenai pergi ke California aku tidak bisa ikut. Orang-orang ku akan mencari, lagi pula aku harus menemukan Rose sebelum terlambat.”


Ricard dan Candy kembali diam, mereka menunggu seseorang datang dan membantu mereka. Ricard berusaha untuk tetap tenang, tapi semakin ia mencoba semakin ia khawatir hal buruk terus terjadi selama Angel menghilang dan sekarang yang lebih buruk terjadi saat Ricard berusaha mencari Angel. Detik demi detik terasa sangat berat, lantunan lagu-lagu pujian membuat suasana hati Ricard kian buruk. Entah mengapa Candy merasakan hal yang sama, seakan suara kematian menggema dengan jelas disekeliling mereka.


Tanpa terasa sudah setengah jam lamanya mereka menunggu, hingga seorang suster tiba-tiba mendekati mereka. “Tuan tampak gusar ada air suci yang harus anda minum, mari ikut.”


“Oh tidak suster, aku hanya...”


“Ini air mawar, dan anda pasti menyukai warna hitamnya.”


Sebuah kode diucapkan sang suster terdengar biasa saja, namun Ricard dapat menangkap maknanya dengan baik.


'Ini air MAWAR, dan anda pasti menyukai warna HITAM-nya.’


Dengan menangkap kata mawar hitam yang merupakan lambang dari organisasi BLOOD, meski secara tidak langsung tapi suster itu hendak mengatakan bahwa ia merupakan anggota Blood yang bertugas mengantarkan peralatan dan membantu mereka kabur. Ricard menarik Candy dan mengikuti arahan suster tersebut, mereka pergi menuju tempat tersembunyi di gereja dan mempersiapkan diri disana.


Sementara itu, Arnold mengendarai mobil seperti orang mabuk padahal jarak yang mereka tempuh tidaklah jauh. Watson memberi aba-aba bahwa Arnold harus menghentikan mobil dipinggir jalan, dan menunjuk ke sebuah gerbang tinggi.


“Disana, itu markas penyiksaan Death knell.”


“Apa?.” Harris kaget bukan main begitu melihat tempat tersebut, pasalnya disanalah mereka menculik kembali Angel.


“Kenapa Ekspresi mu begitu?.” Tanya Watson.


“Umm.., anu...” Harris terlihat gugup.


“Kami baru saja menerobos kesana tempo hari, tempatnya sangat sunyi.” Sela Arnold


“Mustahil, penjagaan mereka sangatlah ketat.” Bantah Watson


“Well, kita masuk. Harris bersiaplah untuk membobol lagi.”


Harris kembali membobol rumah tersebut untuk kedua kalinya, ia meretas semua sistem dan membuka gerbang. Arnold mengendarai mobil masuk kedalam, seperti yang dikatakan Arnold tempat tersebut sangat sunyi.


“Hati-hati dengan jebakan, bisa saja mereka tengah bersembunyi.” Watson berusaha mengingatkan.


“Tenang saja, aku tidak akan mati konyol.” Ujar Arnold.


Namun yang dikatakan oleh Watson benar, begitu mereka turun beberapa orang berusaha menembak mereka.


“Berhenti disana penyusup.”


“Hei, beginikah cara kalian memperlakukan tamu, apa kalian tidak punya sopan santun?.” Ujar Watson.

__ADS_1


“Uh, tuan dokter. Apa yang anda lakukan disini?.” Ujar salah satu dari mereka.


Arnold berusaha untuk tidak terkejut, ia paham betul popularitas Watson dikalangan penjahat kelas kakap. Harris dan Angel melihat dari dalam mobil, beruntung kaca mobilnya gelap sehingga mereka tidak terlihat dari luar.


“Perkenalkan ini asisten baruku.” Watson membiarkan Arnold bersalaman dengan salah satu dari mereka. “Aku diperintahkan tuan Smith untuk memeriksa seseorang bernama James.”


“Namaku James, apa maksudnya aku?.” Ujar pria tersebut.


“Entahlah, Smith bilang aku harus memberikan racun yang mengandung halusinogen agar James menderita sebelum mati.” Watson menatap lekat mata pria itu.


“Sepertinya bukan aku, jika James itu yang kalian maksud mari kita pergi kesebelah sini.”


Arnold menatap Watson, Watson berjalan lebih dulu dan Arnold berjalan mengikuti dengan membawakan koper milik Watson.


“Sejauh ini baik-baik saja.” Ujar Harris dari dalam mobil, Angel hanya diam dan mengangguk.


Ting....


Pintu otomatis terbuka, memperlihatkan sebuah tempat yang mirip dengan penjara. Aroma amis darah dan bau busuk bangkai mulai tercium, tampak seseorang terkulai dengan wajah hancur dan darah menggenang di bawahnya.


“Sebelah sini.”


Mereka terus mengikuti arahan pria yang mengaku sebagai James, Arnold berjalan mengekor dengan beberapa pria bersenjata berdiri dibelakangnya. Merekapun sampai disebuah sel, seorang pria tertunduk lemas tak berdaya dengan darah mengalir dari tubuhnya. Beberapa kulitnya terkoyak dan luka sayatan menganga lebar, Arnold bisa membayangkan rasa sakit yang diderita oleh pria tersebut.


“Bawa kemari kopernya.” Perintah Watson, Arnold hanya melamun membuat Watson bangkit dan melayangkan tangan kanannya.


Plak....


“Jika kau tidak bisa diandalkan, sebaiknya pulang saja, Enyahlah.” Arnold kaget bukan main begitu mendapat perlakuan buruk dari Watson, dan ia benar-benar memilih untuk pergi.


Salah satu dari pria bersenjata diperintahkan oleh James untuk mengantar Arnold keluar, sepanjang koridor pria itu terus tertawa seraya mengejek Arnold dengan kata-kata sampah sehingga ia mengendurkan kewaspadaan.


Bukkkk.,


Bukk...,


Satu tendangan dikemaluan


Dukk....


Satu pukulan fatal dibagian kepala menggunakan senapan.


Semua gerakan dilakukan dengan cepat oleh Arnold, membuat korban tewas seketika.


“Cih,, jangan pernah menertawakan ku bodoh!!.” Arnold menyelempangkan senapan yang ia curi.


Arnold kembali berjalan melewati koridor menuju tempat James teman Angel menderita.


“Hey, apa yang kau suntikan itu benar-benar mematikan.” Tanya pria yang mengaku sebagai James.


“Kau ingin mencoba sedikit?.” Pernyataan Watson yang membuat pria itu seketika bungkam.


Dorrr...


Dorrr...


Dorrr


Arnold menembaki semua orang menyisakan James palsu dan Watson.


“Hey, apa yang kau.....”

__ADS_1


Dorrr....


“Masih ingin menamparku Watson.” Arnold mengarahkan pistol ke dahi Watson.


Watson tercengang, kemudian seisi ruangan dipenuhi oleh gelak tawa.


“Kau menyakitiku nak, cepat bantu aku. Kita harus menutup luka-luka ini, dia terlalu banyak kehabisan darah.” Watson dengan cepat menutupi luka pada tubuh James menggunakan perban.


“Bagaimana cara kita membawanya?.”


“Kau gendong dia, aku habisi yang lain.” Ujar Arnold mantap.


Mereka kembali menyusuri koridor, naik kepermukaan dan bersembunyi. Arnold memperhatikan situasi, ia menyelinap lebih dulu dan menembak dari jarak jauh menggunakan senapan.


Dorrr..


Dor...


“Watson cepat.” Arnold memberi aba-aba.


Mobil terparkir cukup jauh, Watson sedikit kerepotan karena mengendong sambil membawa koper. Lagi dan lagi Arnold menembak setiap orang yang ia temui, Watson kembali mengikuti arahan. Mereka tiba dimobil dengan cepat Watson membuka pintu belakang dan memasukannya ke dalam.


“Taruh ia ditengah.”


Watson dengan cepat duduk dikursi depan saat Arnold hendak membuka pintu seseorang menembaknya beruntung pelurunya meleset.


Arnold terkepung, ia dihujani dengan tembakan sebisa mungkin ia menghindar dan menembaki balik. Arnold adalah seorang sniper jitu, jadi tak satupun pelurunya meleset. Setelah mengenai sasaran Arnold masuk kedalam mobil, banyak pria bersenjata yang keluar dan menghadang mereka dipintu keluar. Arnold tersenyum sinis, ia menabrak apapun yang menghalangi mereka.


“Harris buka gerbangnya.”


“Tidak bisa, seseorang sedang membukanya dari luar.”


“Sial!!.” Arnold membanting setir, ia mengemudi seperti orang gila.


Tak lama berselang pintu gerbang terbuka, sebuah mobil Mercedez Benz hendak masuk. Arnold tak ingin membuang waktu, ia langsung tancap gas dan menyenggol bagian kiri mobil tersebut. Mobil tersebut ringsek, banyak orang tewas sementara Arnold dan yang lainnya pergi tanpa hambatan.


dilain tempat, disebuah ruangan khusus untuk para petinggi organisasi BLOOD.


drrrtttt


sebuah panggilan masuk.


"Ya halo, Apa...?..., hanya karena satu orang hampir semuanya tewas apa kalian masih Waras?....., Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi untuk kedua kali, kalian bodoh...... cepat temukan mereka, dan jika memang terpaksa biarkan para bedebah itu mati."


telepon dimatikan.


"Cih, tidak ada satupun dari mereka yang berguna.. bodoh!!!."


prankk...


semua benda yang ada diatas meja jatuh berhamburan ke lantai, tak lama berselang pintu terbuka dan seorang wanita berparas cantik masuk.


"Tuan Nelson ada apa?."


"Hanya masalah kecil, ini urusan keluarga. oh iya Louis apa ada kabar dari tuan Blood, aku sangat merindukan pria itu."


"Tidak ada, bagaimana dengan tuan Arnold apa ia baik-baik saja?."


"Saat ini ia masih berobat, kabar terakhir yang aku dengar penyakitnya bertambah parah seiring waktu. Aku tidak yakin apakah ia masih bisa sembuh." Nelson mengalihkan pandangannya kesamping.


"Oh ya ngomong-ngomong." Sambung Nelson. "Kemana Ricard, sudah lewat dua pekan ia menghilang. Apa kau tau kemana ia pergi?."

__ADS_1


"Entahlah aku tidak yakin, terakhir ia bilang ingin mengurus pemakaman Agen kami yang tewas di Rusia. Setelah itu aku kehilangan kontak, padahal saat ini banyak hal buruk yang merusak masa depan organisasi BLOOD. Dan aku ingin kau tahu, betapa bahagianya kami bisa bekerja sama dengan orang-orang baik seperti anda tuan terima kasih."


"Oh tidak perlu, justru akulah yang harusnya berterima kasih." senyuman tersirat di bibir Nelson, dan Louis membalasnya dengan senyuman penuh arti.


__ADS_2