
Malam semakin larut, Angel merasa gelisah. Ia mendapat firasat buruk, tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Angel mengotak Atik lemari, mencari sesuatu untuk ia kenakan. Angel melihat sebuah lingerie merah cerah yang begitu indah, ia ingin mencobanya. Setelah menarik nafas panjang Angel mengambil lingerie tersebut, ia mengenakannya dibalik mantel coklat yang tebal. Angel sengaja menggunakan dua lapis mantel, sekedar untuk berjaga-jaga. Angel berdiri ditepi jendela, menatapi setiap salju yang mulai mencair. Tak lama lagi musim dingin akan berlalu, menyisakan tempat untuk musim semi dimana bunga-bunga indah bermekaran. Angel menyadari kebodohannya, ia melewatkan banyak kesenangan hanya demi ambisi yang tidak seberapa. Ia merasa khawatir, kenangan akan Arnold kembali melintas. Lamunan Angel sangat jauh menerawang, sehingga ia tidak menyadari ketukan seseorang dari balik pintu.
“Ah, sebentar.”
Angel berjalan menuju pintu dan segera membukanya, ia memandangi Smith yang berdiri dengan tatapan mengerikan.
“Apa yang kau lakukan nona, sehingga kau tidak mendengarku.”
“Maafkan aku tuan Smith.”
“Tidak masalah sayangku.”
Smith melangkah masuk, Angel segera menutup pintu sambil menggerutu didalam hati.
'Dimana James, harusnya dia datang sebelum Smith. Pria itu memang tidak dapat dipercaya.’
“Ada apa sayangku, apa ada yang menganggu pikiranmu?.”
__ADS_1
“Ah, tidak.”
Smith merasa aneh melihat Angel, gadis itu terlihat gugup. Smith berjalan mendekati Angel dan membelai pipi serta daun telinganya, membuat Angel mengeluarkan suara lembut yang terdengar seperti desahan.
“Sejak kapan kau jadi begitu sensitif sayangku.” Smith berbisik seraya meniup lembut telinga Angel, yang membuat Angel merasakan sensasi aneh.
Angel biasanya meronta jika diperlakukan demikian, tapi kali ini dia hanya pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut Smith. Smith kian merasa penasaran setiap kali Angel mengeluarkan suara desahan, dan ia mulai terbawa suasana. Smith mulai mendaratkan bibirnya ke bibir Angel, tangan kanannya merangkul pinggul Angel dan tangan kirinya memegangi kepala Angel. Angel hampir kehabisan nafas, Smith melepaskan bibir Angel. Setelah mengatur nafas mereka kembali melanjutkannya, Smith tak menyangka Angel akan membalas ciumannya dan pinggul Angel yang semula tegang mulai melunak, menandakan bahwa ia siap untuk naik ke level yang lebih panas. Smith mendorong Angel hingga terjatuh di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka, saat Smith membuka mantel yang menutupi tubuh Angel ia terkejut. Angel memakai lingerie yang ia berikan, Angel terbaring dengan mantel separuh terbuka. Pose yang ia tunjukan begitu menantang, membuat jiwa binatang Smith bangkit seolah menjawab ajakan dari Angel.
Smith mulai membuka mantel, melepaskan sepatu serta ikat pinggang dan kembali menjatuhkan diri ke atas tubuh Angel. Smith menelusuri setiap lekuk leher dan bagian sensitif Angel lainnya, sementara Angel melepaskan satu persatu kancing kemeja Smith. Mereka belum memulai permainan tetapi nafas Angel mulai tidak karuan, membuat Smith kian bergairah. Tanpa pikir panjang ia melepaskan kemeja dan celananya, menyisakan celana pendek abu-abu. Tubuh Smith terlihat gagah, dengan keringat mengalir disekitar dada. Angel menatap tubuh Smith dengan teliti, ia mulai melirik ke lengan kiri Smith. Smith menghiraukan tatapan Angel, ia terlalu jauh terbawa suasana. Saat mereka berciuman untuk kesekian kalinya Angel memutar posisi, kali ini dia berada diatas tubuh Smith. Ia menyentuh lembut setiap lekukan otot smith, perlahan ia mengangkat tubuhnya dan berdiri tegak. Smith semula merasa kebingungan, namun melihat Angel yang hendak membuka mantel ia hanya menunggu. Angel tersenyum lebar dan...
Dorrrrr....
“Apa-apaan ini, arghhhh..”
Smith merasakan sakit luar biasa, dan darah terus mengalir. Ia mencoba menghentikan darah yang mengalir menggunakan tangan kanannya.
“Seharusnya aku sudah tahu, kau.... Kau lah yang membunuh ayahku. Tato itu, aku masih mengingatnya dengan baik.”
__ADS_1
Smith tersenyum licik.
“Heh.., ternyata kau sudah mampu mengingat semuanya. Kau benar Aqila, aku menjebakmu. Atau boleh kupanggil BlackRose, kau pintar sayang. Tapi tak cukup pintar untuk menandingiku.”
Smith melompat kearah Angel seperti seekor macan, Angel kaget bukan main kini ia terpojok. Angel mencari celah untuk melepaskan diri dari Smith, ia memukul luka dilengan kiri Smith membuat Smith menjerit. Dengan cepat ia menggapai knop pintu, beruntung ia tidak menguncinya. Di dalam lift segerombolan pria keluar dan mengejar Angel menyusuri lorong, karena panik Angel berlari menuju pintu darurat dan menuruni anak tangga dengan cepat.
‘Sialan.’
Tiga orang telah menunggunya ditangga bawah, dan tiga lainnya mengikutinya menuruni anak tangga. Angel membuka pintu darurat dan keluar dari sana, ia berlari menuju lift terdekat. Beruntung tidak ada seorangpun disana, dengan cepat Angel menekan tombol. Lift mulai berjalan turun akan tetapi Angel merasa aneh, dia melirik kearah kamera pengawas. Angel baru ingat bahwa Smith dapat melihatnya dari sana, Angel mulai mundur. Ia berusaha menghindar dengan berdiri tepat dibawah kamera agar tidak ada yang melihat keberadaannya, kali ini lift berhenti tepat dilantai dasar. Dengan cepat Angel berlari keluar, beberapa petugas berdiri dipintu keluar membuat Angel kebingungan. Angel pun menarik nafas dalam-dalam.
“It’s show time.” Gumam Angel.
Angel melihat troli petugas kebersihan, ia bergegas menaikinya dan mendorongnya menuju pintu depan. Para penjaga yang kaget langsung menghindar, seketika Angel melompat turun ketika troli tersebut menabrak pintu depan. Menyadari kesempatan yang ada, Angel berlari ia menendang salah satu petugas. Naas, seorang petugas lainnya menarik mantel yang dikenakan Angel dengan sigap ia melepaskan mantel tersebut dan lari menjauh dari apartemen. Angel tak mengenali jalanan London dengan baik, ia hanya terus berlari berbelok melewati lorong hanya dengan menggunakan lingerie sambil sesekali menoleh kebelakang. Ketika sampai disebuah gang buntu Angel dengan cepat mencari tempat untuk bersembunyi, ia memanjat pagar dan masuk ke perkarangan rumah orang.
Angel menelungkup, memeluk lututnya. Tubuhnya gemetaran karena udara dingin, ia merasa kian lemah hingga tak memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Kaki Angel terasa membeku, ia melihat kearah pintu belakang rumah. Cahaya lampu terlihat remang-remang, Angel merangkak perlahan dan mencoba untuk mengetuk pintu berharap bahwa pemilik rumah dengan senang hati mau menolongnya.
“Permisi..., Apa ada orang didalam. Kumohon tolong aku.”
__ADS_1
Angel berteriak beberapa kali, tak kunjung ada jawaban. Ia kembali menekuk lutut dan memeluknya erat, bibir Angel mulai membiru. Angel melirik pintu ia melihat bayangan seseorang berjalan, dengan sisa tenaga yang ia miliki Angel kembali mengetuk pintu.
“Kumohon, siapa saja. Tolong aku.”