
Arnold membawa nampan ke meja dan duduk di seberang Angel. Angel tidak terlihat begitu sehat pagi ini. Mungkin karena beberapa malam kurang tidur dan terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Atau, mungkin itu karena penerangan lampu di dalam kedai kopi ini. Dia terlihat lebih sehat di kawasan Tahoe: matahari di wajahnya dan angin segar meniup rambutnya yang tak terikat rapi. Lebih sehat dan lebih bahagia di sana.
"Kopi, manis dengan banyak susu, persis seperti yang kau sukai."
“Aku lebih suka cappucino.”
“Bukankah itu sama saja.”
“Tentu saja berbeda jauh, dari takarannya cappuccino memiliki lebih sedikit busa ketimbang latte.”
“Bagiku sama saja.” Arnold duduk
"Terima kasih, Tuan Arnold."
Angel menyambar latte-nya dan melihat keluar, ke seberang mal. Ada arena bermain anak-anak dan sebuah pohon palem palsu di balik minimarket tempat Louis dan Ricard sedang berbelanja makanan.
Arnold menyesap kopinya, mencoba panas minumannya dengan bibir. “Kurasa akan lebih aman kalau kau pergi ke tempat lain. Tempat mana saja selain Amerika."
"Tapi ke mana?"
"Ke mana saja."
"Kenapa?"
Arnold berlama-lama sebelum menjawab. "Aku hanya merasa itu lebih aman.”
Angel menghembuskan nafas, dan kembali menyesap kopinya.
“Terkadang aku juga merasa tidak cocok menjadi warga negara Amerika, bahkan aksenku berbeda dari yang lainnya.”
“Bahkan kau tidak cocok disebut sebagai orang Inggris.”
Angel menatap Arnold dan menaruh cangkirnya perlahan. “Mungkin kau benar, lalu aku lebih cocok jadi warga negara mana?”
“Entahlah, mungkin kau berasal dari planet yang berbeda.” Arnold menyesap kopinya. “Mars mungkin?”
Angel tersenyum simpul, sementara Arnold tersenyum lebar. Tidak, Ia justru sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Angel yang kebingungan.
“Kuharap dugaanmu tepat.”
“Menurutku saat ini kau mirip gadis Asia, India tepatnya.” Arnold menatap Angel, kini ia melihat kilatan cahaya Dimata Angel. “Kau, matamu benar-benar menakjubkan. Sangat bersih dan cerah, warna hitamnya berpadu dengan baik. Layaknya Seperti dua tetes kopi.”
“Apa kau baru saja memujiku?” Angel mulai menggoda Arnold tentu saja dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Ayolah, seharusnya kau tersenyum bila seorang pria memuji penampilanmu.”
“Apa kau seorang pria?”
Arnold tersedak kopi, ia sedikit kesal mendengar pernyataan Angel. Hanya saja, ia tak ingin memperpanjang obrolan tersebut jadi ia mencari topik lain.
“Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan di Boston?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa maksudmu? Kau pasti tahu sesuatu, ayolah cepat beritahu aku.”
“Untuk saat ini, tujuan tidaklah penting.” Angel menyadari kekeliruannya, namun ia tidak ingin menunjukkan kesalahannya di depan Arnold.
Arnold bisa melihat Angel ragu-ragu. Ada sesuatu yang ingin di katakannya dan Angel bergerak-gerak gelisah hal yang tak pernah ia lihat dari Angel sebelumnya.
“Rose?”
"Mungkin lebih baik kau tidak tahu, karena hal ini bisa mengancam nyawa seseorang.”
“Kau tidak percaya padaku?”
Arnold menatapnya. Angel mengatakannya dengan cara yang ganjil. seolah itu dimaksudkan untuk memiliki arti jauh lebih dalam dari sekadar yang terdengar. "Angel? Apa yang terjadi? Apa yang kau ketahui? Apa yang tidak kau katakan padaku?"
“Mustahil, apa mereka mengenalimu?”
Belum sempat Ricard menjawab, Angel bisa mendengar suara tembakan dan teriakan pengunjung yang panik dari ujung telepon. Kini mata Angel terbelalak, ia melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya menatap ke sana kemari seperti halnya seekor hyena yang sedang mencari mangsa.
Namun hal yang tak terduga terjadi, mata mereka bertemu. Dan Angel bisa melihat orang itu tersenyum licik.
“Sial!!”
Ricard berlari menyeberangi area bermain anak-anak, menendang bola. bola plastik warna-warni yang keluar dari kolam bola kecil. Dari kejauhan ia bisa melihat Angel yang sedang berdiri mematung sambil memegang ponsel.
Ricard mengganti arah larinya ke tempat Angel . Di belakangnya, Louis tergopoh-gopoh keluar dari minimarket. menyeberangi ruang tengah dan merangsek melewati meja dan kursi tinggi di kedai kopi, yang ditata di luar di bawah sebuah payung pan *** dari rumput tiruan seolah ini seharusnya adalah kedai kopi yang ada di tepi pantai di sebuah pulau tropis. Kursi-kursi tinggi itu jungkir balik dan payung pantainya bergoyang-goyang dan jatuh. Ricard akhirnya berhenti, menabrak partisi setinggi pinggang dari kayu yang pura-puranya terbakar matahari, kehabisan napas.
Sayangnya ia tidak menyadari bahwa ada orang lainnya yang berdiri berhadapan dengan Angel, barulah saat mendongak ia melihat seorang wanita dengan menggunakan setelan jeans dan jaket kulit sedang menatap tajam ke arah Angel. Angel memberikan kode agar Ricard dan Louis segera pergi dari sana, perlahan Ricard dan Louis berjalan mundur dan berbelok arah.
“Siapa yang kau lihat?” Abel berbicara dengan tegas.
“Bukan urusanmu.” Sikap dingin hanya itu satu-satunya hal yang efektif untuk saat ini.
“Kudengar organisasimu sudah hancur, dan sekarang kau menjadi buronan karena berkhianat.” Abel tersenyum licik. “Sungguh ironi.”
__ADS_1
“Apa maumu?”
“Kau masih tidak mengenaliku? Jangan konyol, ngomong-ngomong penyamaran yang bagus hanya saja kau melewatkan satu hal. Smartphone milikmu kau seharusnya membuangnya.” Abel kini mulai mengacungkan pistolnya.
“Abel, matamu sungguh jeli.”
“Atau, kau yang kurang teliti.”
Di waktu yang bersamaan, Ricard dan Louis kini telah di hadang oleh Faith. Faith tersenyum puas sambil mengacungkan pistolnya, tidak ada tempat untuk mereka berlari bahkan jika mereka mundur justru mereka juga akan berhadapan dengan Abel. Situasi yang benar-benar tidak menguntungkan bagi mereka berdua.
“Kau tidak akan bisa lari lagi pak tua.” Faith menyeringai.
“Siapa yang kau panggil pak tua.” Ricard tersinggung mendengar ucapan Faith.
Dor....
Satu tembakan hampir mengenai tubuh Ricard, beruntung ia masih memiliki gerak refleks yang bagus. Sehingga peluru tersebut hanya menggores lengannya saja, darah segar menetes perlahan dan Ricard mulai mengerang kesakitan.
“Hey, ayolah kita bisa membicarakan ini baik-baik.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Mendengar suara tembakan Abel tersenyum tanpa menoleh kebelakang, ia merasa sedang berada diposisi yang menguntungkan. Meski kalah jumlah, namun Angel saat ini tidak memiliki senjata.
“Sepertinya temanmu ada yang terluka, menyerahlah maka kami akan membebaskan teman-temanmu.”
“Mereka sama sekali tidak berarti bagiku.”
“Kau unik, Faith.” Abel memberi perintah, Faith memahami perintah Abel. Ia melihat Louis dan langsung menilai bahwa kakinya sedang dalam kondisi yang kurang baik, itu akan sangat menguntungkan jika menjadikannya sebagai sandera.
“Hey lepaskan!!!”
Ricard hanya bisa diam sambil memegangi luka di lengannya, kemampuan bela dirinya sangat buruk. Sedangkan Louis saat ini sedang cidera membuatnya sedikit kesulitan ketika Faith memegangi tubuhnya sambil mengarahkan pistol ke dahinya.
“Apa kau akan mengatakan hal yang sama?”
“Bunuh saja.”
Perkataan spontan Angel membuat Arnold dan Ricard kaget bukan main.
“Hey, dia temanmu apa kau sudah gila?”
Abel tersenyum, ia menatap lekat lekat wajah Angel. Tetap wajah datar tanpa ekspresi, tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
“Bukankah sudah kukatakan, mereka sama sekali tidak berarti. Jadi, bunuh saja.”