
Mobil yang membawa Angel berhenti didepan pagar, Harris bergegas turun dari taksi berjalan mengendap-endap dan bersembunyi dibalik pepohonan. Begitu pintu pagar terbuka terlihat sebuah rumah megah bergaya Victoria tertutup oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi, rumah yang elegan namun terlihat seram. Mobil masuk ke dalam dan pagar menutup rapat secara otomatis, Harris tak sempat menerobos masuk jadi ia hanya tertegun berdiri didepan pagar.
“Hallo, tuan aku berada di lokasi. Tempatnya sangat tertutup, dan penjagaannya juga sangat ketat......, Baiklah akan kukirim lokasinya.”
Harris mematikan ponsel, saat ia hendak mengirim alamat menggunakan smartphone ia mendengar suara deru mobil kian mendekat, panik. Harris langsung melompat kedalam semak-semak, suara mesin mobil tak terdengar. Namun ia mendengar dua orang yang tengah bercakap-cakap, suara seorang pria dan wanita, karena penasaran Harris mengintip.
“Kau yakin ini lokasinya?.”
“Benar, GPS nya terhenti di sini.”
‘Astaga.’ Batin Harris begitu melihat orang-orang yang datang.
Ternyata mereka adalah Candy dan Ricard, yang tengah mengikuti GPS yang terpasang pada tubuh Angel. Mereka terlihat kebingungan melihat tembok yang berdiri kokoh, keamanannya sangat bagus, dengan banyak kamera pengawas dan pagar otomatis.
“Ada ide lain?.” Candy mengatakannya dengan nada mengejek.
“Sial!!!, Apa yang bisa dilakukan. Mustahil rasanya menembus tembok ini tanpa ketahuan, Bodoh!!!.” Ricard menarik rambutnya sendiri sambil berputar seperti orang bodoh, dia memang ahli dalam bidang teknologi dan strategi. Tapi ia tak pernah turun langsung kelapangan, ini adalah kali pertama baginya.
“Sebaiknya kita pulang dulu, kita atur rencana sebaik mungkin.” Candy yang merasa tak tega berusaha untuk menenangkan, Candy sadar ia juga tak punya kemampuan apapun sebagai seorang anggota mafia selain menyamar.
“Kita ke mobil.” Ricard bergegas masuk, menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Harris yang melihat pemandangan tersebut dari balik semak-semak merasa aneh, mereka berdua berasal dari organisasi yang memiliki pengaruh yang besar dalam dunia mafia. Tapi mengapa mereka terlihat begitu kebingungan, bukankah seharusnya mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk menerobos masuk tanpa diketahui dan bukannya malah berdiri tepat di bawah kamera pengawas.
Drrrttt...,
Ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat masuk.
‘Mana lokasinya, cepat kirim Sekarang!!!!!.’
“Ya tuhan, aku hampir lupa.” Dengan cepat Harris membalas pesan tersebut, dan mengirim lokasinya kepada Arnold.
Didalam rumah tersebut Angel dibaringkan di sebuah ranjang besar, didalam kamar yang cukup besar.
“Jangan sampai ia terluka, turunkan perlahan.”
Beberapa orang pria mulai melepaskan tangannya dari tubuh Angel, wajah Angel terlihat lebih pucat dari sebelumnya membuat salah seorang dari mereka panik.
“Wajahnya hampir membiru, mana tabung oksigennya. Cepat pasang, jangan lupa infus dan peralatan lain.”
Semua orang yang berada disana bergerak cepat mengikuti instruksi, dan perlahan wajah Angel kembali seperti sedia kala.
“Kerja bagus Andreas, kau memang dapat diandalkan.”
“Tuan Smith, senang bisa membantu. Perkenalkan ini Dokter Thompson, dia dokter terbaik di London.”
Mereka pun bersalaman, Smith tersenyum ramah. Setelah selesai berjabat tangan Smith memulai percakapan.
“Apa yang terjadi pada nya?.”
__ADS_1
“Gejala alergi dingin yang cukup parah, dia sudah koma selama tiga hari. Namun setelah kuperiksa kondisinya sudah mulai stabil, dan ia bisa bangun mungkin dua sampai tiga hari lagi. Disaat itu, pastikan agar tubuhnya tetap hangat.” Penjelasan yang singkat namun melegakan bagi Smith.
“Kerja bagus, sekarang biarkan kami berdua. Aku ingin menyapanya.”
Mendengar perintah Smith, semuanya langsung pergi menyisakan ia dan Angel. Smith berjalan mendekat, ia menyentuh setiap kabel yang terpasang pada tubuh Angel yang kemudian mendaratkan tangannya di sela-sela jemari Angel.
“Tak kusangka, ternyata kau gadis lemah. Tapi kau pandai menutupi kelemahanmu, bukan gadis sembarangan. Andai kau tidak lari, mungkin kau masih bisa bercumbu denganku saat ini.” Smith mengecup bibir Angel dengan lembut, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Angel sendiri.
Diluar rumah Harris masih mencari celah untuk menyusup, namun tembok itu seolah tak memiliki kelemahan. Ia sudah memutarinya beberapa kali, dan hasilnya nihil. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu instruksi dari Arnold, kini ia hanya duduk menyelinap sambil memantau sekitar.
Dilain tempat tak jauh dari lokasi tempat Angel diculik, Ricard menjatuhkan kepalanya keatas setir mobil. Berulang kali ia mengacak-acak rambutnya yang semakin kacau, Candy hanya diam tertegun tanpa suara. Hal yang baru ia sadari adalah, mengapa ia memutuskan untuk terjun ke gelapnya dunia mafia. Padahal sebelumnya ia bisa saja menjadi seorang penata rias profesional, atau paling tidak membuka sebuah salon kecantikan.
“Aku menyesal.” Dua kata terlontar dari mulutnya.
“Apa maksudmu, jelas ini bukan kesalahanmu.” Ricard menoleh dan mengeluarkan kata-kata untuk menghibur Candy, yang lebih terdengar seperti kebenaran.
“Ah, maaf.” Candy menunduk, ia menyadari lamunannya justru membuat ia tanpa sadar mengeluarkan kata-kata. “Jadi, apa rencananya?.”
“Kita menyelinap, kita harus memantau situasi dengan baik. Perhatikan setiap mobil, atau kendaraan apapun yang masuk melewati pagar itu. Dan bila perlu kita akan menyamar.”
“Jika kau bilang menyamar, itu sudah menjadi keahlianku sejak kecil.” Ujar Candy dengan penuh percaya diri.
“Baguslah, aku juga akan meminta bantuan. Semoga saja rencana kita berhasil.”
Ricard menjelaskan rencananya dengan sangat rinci, berserta resiko yang akan mereka hadapi. Candy mendengarkan dengan seksama, dan ikut mengatur penyamaran apa saja yang bisa mereka gunakan. Setelah sepakat, mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke apartemen mengingat bahwa hari sudah hampir malam, dan mereka hampir melewatkan makan malam. Juga untuk menyiapkan peralatan.
Harris masih tertegun, kedatangan nyamuk membuat ia merasa terganggu. Beberapa kali ia memukul nyamuk, yang pada akhirnya justru menyakiti tubuhnya sendiri. Kini masalah lain datang, perutnya mulai keroncongan. Memang sejak siang ia belum makan, karena terbatasnya jumlah uang yang ia punya membuat ia harus berhemat. Hampir tiga jam, tidak ada tanda-tanda bahwa akan ada yang lewat, sementara malam sudah menyambut. Namun Harris masih gigih, ia tetap bertahan. Demi uang tentunya.
‘Ah, ada mobil yang datang.’
Sebuah mobil Porsche Panamera turbo datang berkunjung, ia berhenti sejenak didepan pintu pagar. Harris mencoba mendekat, seseorang dari dalam mobil menekan kode dari tombol yang tersembunyi dibalik kotak pos. Harris memicingkan mata berharap dapat melihat kode tersebut, sayangnya jarak yang cukup jauh membuat pandangannya kabur.
‘'Ah, sayangnya aku tidak membawa laptop. Arrrrgh, bodohnya aku.’ Batin Harris.
Pintu gerbang terbuka, dan mobil tersebut masuk kedalam. Harris sadar bahwa ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik semak-semak, jadi dia keluar dari sana dan berjalan kaki mencari cafe terdekat guna mengisi ulang energi. Setelah berjalan cukup jauh akhirnya ia menemukan sebuah kedai kecil tak jauh dari lokasi penyekapan Angel.
Harris sengaja memilih tempat duduk didekat jendela agar tetap bisa memantau keadaan sekitar, ia telah memesan menu makan malam, perutnya yang terus meronta menurunkan daya konsentrasi. Berulang kali ia mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah, setelah hampir dua puluh menit lamanya akhirnya pesanannya datang. Harris membuka mulut perlahan, Baru saja ia hendak menyuapkan spaghetti kemulut teleponnya berbunyi, membuat Harris sedikit menggerutu.
“Halo, aku sedang makan malam.........., Ayolah tuan aku belum makan sejak pagi..........., Kau pasti melihatnya. Letaknya tak jauh dari rumah target.” Harris mematikan telepon dan bergumam sendiri sambil mengunyah spaghetti.
“Dasar, tidak tahu orang kelaparan apa. Salah sendiri kenapa dia lama sekali.”
Harris menyelesaikan makan dengan cepat, hingga ia hampir tersedak. Setelah selesai dan membayar tagihan Harris sedikit berlari menuju titik pertemuannya dengan Arnold.
“Lama sekali.” Ujar Arnold dengan dingin.
“Maaf.”
“Sekarang bantu aku, kita akan menerobos masuk.”
__ADS_1
“Caranya?, Jujur saja tempat itu sangat tertutup. Tapi jika aku berhasil mengakses keamanannya mungkin besok kita bisa menjemput nona muda.”
“Tidak, malam ini. Lakukan segera.”
“Apa?.” Harris terbelalak, ia memang hacker handal tapi dengan kemampuan yang masih belum meyakinkan. Ia takut membuat kesalahan yang justru mengancam nyawa mereka.
“Lakukan malam ini. Apa kau tidak mendengarkan?.”. Arnold mulai sedikit marah.
“Besok, atau nanti pukul dua pagi. Itu jam yang paling pas untuk menyelinap. Mohon maaf atas kelancanganku tuan, apakah anda membawa laptop?. Aku membutuhkannya saat ini.”
“Huh, kau ini detektif payah. Tidak menyiapkan semuanya dengan baik, lain kali persiapkan dulu dirimu baru turun kejalan.”
Harris menunduk, ia menyadari kesalahannya selama ini. Memang ia tipe orang yang ceroboh dan tidak menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, itu sebabnya ia tidak kunjung mendapat pekerjaan.
“Jangan terlihat seperti anjing, angkat kepalamu. Laptop ku ada didalam mobil.”
Harris mengangkat kepala, ia tersenyum tipis. Mereka masuk kedalam mobil, Harris mulai berkutat dengan laptop mencari cara untuk membobol keamanan rumah tempat Angel disekap. Butuh waktu cukup lama untuk mereka mengakses semuanya, ketika sampai dipintu pagar Harris mulai beraksi. Ia memasukan kode acak melalui laptop yang disambungkan menggunakan kabel, ketika ia menekan tombol enter pintu langsung terbuka otomatis.
“Kerja bagus.” Ujar Smith sambil mengendarai mobil masuk kedalam rumah dan memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk.
“Tetaplah disini, awasi keamanannya. Biar aku yang mengurus sisanya.”
“Baik tuan.” Harris mengangguk sebelum akhirnya kembali fokus menatap layar laptop.
“It’s show time.” Senyum mengerikan muncul dari balik bibir Arnold.
Sejujurnya, Harris tidak pernah mengetahui apa rencana Arnold. Ia hanya menuruti perintah tuannya, meski ia tahu resikonya besar bila melakukan semuanya sekarang.
Tingtong .......
Tingtong.....
Arnold menekan bel beberapa kali, tampak seperti tak ada kehidupan disana. Padahal menurut Harris, keamanan disini sangatlah tinggi. Banyak pengawal yang berjaga-jaga, tapi ketika mereka masuk mereka hanya mendapati rumah dalam keadaan kosong. Arnold menarik pegangan pintu, ternyata tidak terkunci.
“Harris, apa kau bisa melihat kamera pengawas. Apa yang terjadi?, Mengapa tidak ada siapapun disini.” Arnold berbicara melalui earphone bluetooth yang terpasang di telinganya.
“Sebentar, mustahil mereka semua tengah berkelahi di lantai atas. Sepertinya ada yang mendahului kedatangan kita.” Tutur Harris.
“Sial.”
Arnold menerobos masuk dengan hati-hati, memang ia sudah didahului. Akan tetapi, itu akan menjadi peluang yang bagus. Sementara mereka sibuk saling membunuh, Arnold bisa langsung masuk dan mencari keberadaan Angel dengan lebih leluasa. Arnold berjingkrak menaiki tangga, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia melihat beberapa pria terkapar dengan luka serius di anak tangga, darah segar mengalir dan tercecer dimana-mana. Arnold membuka satu persatu kamar dengan hati-hati, beberapa pintu terkunci dan yang lainnya hanya menyisakan kamar kosong. Terdengar suara tembakan dan erangan, membuat Arnold mundur beberapa langkah. Arnold membuka pintu lainnya dengan hati-hati, dan mendapati Angel sedang terbaring lemah tanpa penjagaan.
“Gadis yang malang.” Gumam Arnold.
“Harris, kau masih disana?. Bagaimana kondisi diluar, apa semuanya aman?.”
“Ya, tuan. Keadaan masih cukup aman, sebaiknya kau bergegas. Mereka hampir selesai.” Harris menjawab dari mobil.
“Bagus.”
__ADS_1
Arnold bergerak cepat, ia melepaskan selang dan infus secara perlahan. Dan menggendong Angel membawanya keluar dari kamar tersebut.