
Angel melihat sekeliling, kepalanya terasa berat seperti habis terkena benturan. Ia bangkit berdiri dan melihat sekeliling, rumah yang tampak tak asing baginya. Dan tiba-tiba saja, terdengar suara tembakan juga teriakan pilu dari seseorang yang bisa dipastikan bahwa itu adalah suara dari korban penembakan.
Angel tak dapat melihat jelas apa yang terjadi, semuanya terlihat buram. Dan tiba-tiba saja tubuhnya terpental ke belakang, nafasnya terasa sesak. Seseorang mendekatinya, Angel menutup matanya. Setelah merasa keadaan aman perlahan ia membuka mata, ia memperhatikan sekeliling ternyata ia masih berada dikamar penginapan.
“Lagi-lagi aku bermimpi.”
Angel memegangi kepalanya, ia mengambil smartphone miliknya untuk sekedar melihat jam. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, ia pergi ke kamar mandi dan memandangi wajahnya dicermin.
“Astaga, aku lupa. Saat ini aku sedang menyamar, aku tidak bisa mencuci wajah sekarang.”
Angel mengetuk dinding kamar motel untuk membangunkan Ricard dan Arnold. Ricard menguap dan membuka sebelah matanya untuk melihat ke arah jam digital di langkan tempat tidurnya. Baru pukul tujuh. Dia balas memukul dinding,
"Demi Tuhan! Ya! Aku bangun!"
teriaknya.
Dia mendengar tawa teredam Louis dari kamar sebelah. Arnold ikut terbangun karena suara teriakan Ricard, ia malah memarahi Ricard.
“Ada apa? Haruskah kau berteriak di pagi hari?”
Ting ..
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arnold.
‘Bangunlah, dan bersiap. Jangan cuci wajah kalian, sikat gigi saja sudah cukup. Dan jangan lupa memakai lensa kontak yang kemarin.’
“Rose menginstruksikan agar jangan merusak riasan wajah kita, dan kita harus segera berangkat."
Sebelumnya mereka semua memutuskan mereka butuh istirahat yang cukup sebelum melanjutkan perjalanan ke Boston. Mereka semua kelelahan, jauh lebih letih dari yang mereka sadari. Setelah mati-matian bertahan hidup dari kejaran para penghianat, dan beberapa orang asing yang mengincar Angel.
Kelelahan akhirnya menyelimuti
mereka semua.
__ADS_1
Ting...
Sebuah pesan dari Angel kembali masuk.
"Rose bilang kita akan sarapan lalu berangkat."
Perut Ricard masih mengerang. Pizza daging tiga lapis semalam masih membebani perutnya. Dia bertanya-tanya apakah dia bisa makan sesuatu saat ini
Mereka bertemu di luar tempat parkir di sebelah Van. Arnold terlihat luar biasa pucat
"Astaga, ada apa denganmu?" tanya Angel
"Aku tidak bisa tidur semalaman, muntah-muntah.” Wajahnya nyaris kelabu, ditambah goresan make-up yang menyerupai kerutan untuk pertama kalinya membuat penampilan Arnold terlihat buruk.
"Makanannya tidak seburuk itu, kok!" Sela Louis.
Memang sebelum tidur, mereka mampir terlebih dahulu ke bar yang berada tepat di sebelah penginapan. Di sana ternyata menjual banyak makanan dan minuman yang enak, sedikit berbeda dari bar pada umumnya.
Dia menggeleng, sorot matanya terlihat lesu. "Bukan, ini salahku. Bodohnya aku, Makanannya terlalu berbumbu dan dagingnya belum matang sempurna. Aku terbiasa makan daging dengan tingkat kematangan yang pas.”
"Tidak bisa makan makanan mentah?”
Arnold memesan daging panggang campuran semalam. Melahapnya sambil menikmati tekstur dan cita rasa kemewahan makanan tersebut, tanpa memperhatikan tingkat kematangannya lebih dahulu.
Ricard juga jelas tidak tidur nyenyak, kantung mata tampak nyata di bawah matanya yang terlihat kian cekung karena efek riasan wajah. Angel menatap para pria dalam rombongan mereka dengan campuran rasa kasihan dan menghina.
Penginapan sudah buka dan beberapa truk terparkir di bar, di samping tempat parkir dari batu kerikil, para pengemudinya sudah berada dalam, makan panekuk dan wafel untuk sarapan. Lebih jauh di jalan besar itu ada mal besar bernama Plasa North Haven. Dilihat dari seberang tempat parkir yang luas, sepertinya mal itu sudah buka, setidaknya tempat makannya mungkin sudah.
Ternyata penginapan tersebut masih berada di wilayah yang bisa dibilang cukup strategis, mungkin karena mereka datang pada malam hari dengan kondisi yang kurang baik membuat mereka tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitar.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita coba cari sesuatu yang sedikit lebih sehat di sana, kalau kalian merasa tidak enak badan."
"Biar ku periksa dompetku sebentar." Louis membuka pintu samping Van untuk Ricard dan dia masuk ke dalam.
__ADS_1
“Ah, syukurlah ternyata terjatuh di mobil.” Ujar Ricard dengan wajah gembira.
“Lalu jika kita semua makan di sana siapa yang akan berjaga di sini?” Angel menatap ke semua orang.
“Untuk apa?” Tanya Louis
“Louis benar, kita sudah menyamar jadi tidak perlu khawatir.” Arnold menyentuh pundak Angel.
“Apa kalian yakin? Kau tahu, meskipun sudah menyamar bukan berarti kita bisa bebas berkeliaran.”
“Tenang saja, aku akan mengaktifkan kamera cctv mobil dan menyambungkannya ke smartphone milikku. Dan aku juga akan memasang alarm jikalau ada yang sengaja memeriksa mobil kita.” Ricard yang masih berada di dalam mobil, mulai beraksi. Ia menggunakan keahliannya dalam bidang teknologi, dan hanya bermodalkan laptop ia berhasil membuat cctv mobil tersebut memiliki akses melalui smartphone.
“Seharusnya kita memakai mobil yang jauh lebih canggih, bukannya malah memakai Van model lama dan jelek seperti ini.” Keluh Louis.
“Sudahlah, sekarang mobil ini sama canggihnya dengan RV milikku. Setidaknya bagiku.” Ricard tersenyum bangga.
Malnya tidak ramai. Beberapa orang di dalam mal berjalan di lantai yang baru dipel, sebagian besar adalah mereka yang bekerja di sana. Jelas tidak ada satu orang pun yang merasa ingin berbelanja hari ini. Versi jazz lagu andalan Stevie Wonder mengalun di atrium bundar yang terang dan meriah dan sepasang satpam yang sangat gemuk berbagi lelucon dengan seorang petugas kebersihan dan membuat satu atau dua kepala menoleh karena gelak tawa mereka yang menggema.
"Di atas situ," Louis menunjuk ke arah balkon dengan pemandangan ke atrium. "Red Bean Coffee. Tempat itu kelihatannya sudah buka. Kita bisa memesan panini atau mungkin kita bisa memesan roti isi panggang atau apalah."
Kini semua mata menuju ke arah yang ditunjukkan Louis.
“Kelihatannya tidak buruk, semoga saja mereka menjual makanan matang agar teman kita yang satu ini tidak muntah lagi.” Ejek Ricard.
Arnold mengabaikan ejekan Ricard, dan hanya membalasnya dengan senyum
'Tunggu saja pembalasanku.’
Yah, kurang lebih seperti itu.
Angel tidak mengatakan apapun, bahkan saat ini pikirannya nyaris kosong. Entah mengapa tiba-tiba saja, ia teringat mimpi yang ia alami semalam. Sebuah mimpi buruk yang berulang-ulang dengan kejadian sama persis, dan ketika Angel bangun semuanya akan hilang. Seolah mimpi itu tidak pernah terjadi.
“Ayo.”
__ADS_1
Louis menarik tangan Angel, membuat Angel sedikit terkejut. Louis sangat bahagia, itu karena ia sudah lama tidak berkunjung dan berbelanja di mall. Pekerjaan yang ia jalani tidak memberikan waktu untuknya bersenang-senang, bahkan jika ia salah dalam bertindak justru nyawalah taruhannya. Hal yang sama dengan yang di alami Angel hanya saja, Angel memang kurang menyukai keramaian. Sehingga baginya, mall, bar, cafe, atau semacamnya adalah tempat yang paling buruk di muka bumi.