
Arnold sudah mulai mempertanyakan kebijaksanaan dari keputusannya dalam membawa Angel ke persembunyian keluarga. Dilihat dari sisi mana pun, tindakannya adalah bodoh. Namun, ia tidak sanggup menghentikan diri, dikuasai oleh naluri-naluri yang jauh lebih tua dari akal sehat manusia. Macan kumbang di dalam dirinya menginginkan Angel dalam teritorinya sendiri Saat menemukan Angel dengan kondisi mengenaskan di London, ke mana ia ditarik oleh perasaan dan emosi yang tidak ia pahami, ia mengira pada akhirnya ia akan mulai melihat Angel yang sesungguhnya. Tapi kalau ia memercayai cara Angel bersandiwara, Angel yang sesungguhnya hanya ada di benaknya.
Apa sedari awal ia keliru tentang Angel?
Arnold membawa Angel menyusuri jalan setapak tersembunyi yang terbentang di bawah persembunyiannya, kebanyakan orang tidak mewaspadai bahaya yang datang dari atas.
"Seberapa tinggi kau bisa memanjat.”
Angel menengadahkan kepalanya “Rumah pohon."
“Aku bercanda, ada tangga tersembunyi juga lift. Ayo ikut aku.”
"Letak rumah ini jauh sekali dari kantormu."
"Kau lupa Aku punya apartemen di kota yang kugunakan kalau waktu mendesak. Ayo."
Sebuah lift yang tersembunyi di batang pohon mulai terbuka, Angel takjub dengan kecanggihan teknologi rumah pohon milik Arnold. Begitu pintu lift terbuka mereka langsung disambut oleh ruangan yang cukup luas.
Ruang tamunya besar dan terbuka, dengan benar jendela yang menghadap ke hutan. Mengingat fakta bahwa sarang Arnold pasti terlindung dengan baik, Angel menebak kalau jendela-jendelanya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mengkilap saat terkena cahaya matahari. Tanaman rambat menjalar di permukaannya, hampir membawa suasana hutan kedalam rumahnya
Dari kelembapan di udara dan beberapa tanaman air yang ia kenali, Arnold menebak kalau mereka berada di dekat sungai, mungkin dekat dengan salah satu rawa yang langka.
Mengalihkan pandangan dari jendela, Angel mengamati ruang tamu Arnold. Cahaya yang dipancarkan oleh kedua lampu sensor gerak di lantai tampak lembut, Satu-satu sumber cahaya yang lain adalah lampu daya merah kecil di konsol komunikasi yang tergantung di dinding yang paling dekat dengan pintu. Melihat dekat, Sascha menyadari kalau benda itu juga berfungsi sebagai pesawat penerima untuk program-program hiburan, meskipun firasatnya berkata bahwa Lucas menyukai jenis hiburan yang jauh lebih berbau fisik... jauh lebih pribadi.
“Morrel kau kah itu?.” Suara lembut terdengar dari arah dapur, Seorang wanita berambut pirang keluar menghampiri.
“Rose, kaukah itu?. Ya Tuhan kau tampak kurus.” Wanita itu adalah Jessica kakak perempuan Arnold, ia memeluk erat tubuh Angel dan tanpa sadar menyenggol lengan kirinya.
Aghhh..
Jessi kaget dan langsung melepaskan pelukannya. “Kau terluka?.”
“Ya, lengan kiri gadis itu luka. Jadi berhati-hatilah.” Jelas Arnold. “Kemana perginya anak-anak?.”
__ADS_1
“Mereka sedang bermain dikamar.” Jessi menarik Angel menuju dapur “Kemari sayang, duduklah.”
Angel mengikuti perintah Jessi tanpa bergeming, sepiring kue kering rasa coklat tersusun rapi diatas piring.
“Makanlah, Arnold memberitahu kau akan kemari. Jadi kubuatkan kue cokelat kesukaanmu, dan ini Coklat hangatnya.” Jessi menyajikan semuanya diatas meja makan, Angel semula malu namun ia mulai mengunyah satu persatu kue cokelat tersebut.
“Siapa dia?.” Alice keluar dari kamar mandi terkejut melihat Angel tengah duduk dan menyantap kue kering yang baru saja mereka buat.
“Perkenalkan dia Rose, temanku dan Rose perkenalkan ini Alice kakak ipar ku.” Arnold memperkenalkan mereka berdua, Angel bangkit dan bersalaman sebentar kemudian kembali duduk.
Angel mengamati dapur Arnold, Dapur Arnold berukuran sedang dan kompak, dilengkapi dengan sebuah unit memasak sekaligus memanaskan yang sederhana dan peralatan lain yang lumayan lengkap jumlahnya. Sebuah lemari pendingin yang dikamuflase secara cerdik, hingga tidak terlalu banyak memakan ruang. Tanpa sadar sudah Angel menghabiskan setengah dari kue yang ada, Arnold hanya duduk dan memandangi dari kursi yang berada di samping Angel.
“Sepertinya hampir waktunya makan siang, apa menu kita hari ini?.” Ujar Arnold kepada Jessica.
“Kau duduk saja, oh ya bisa tolong panggilkan anak-anak. Sebentar lagi makanannya siap.”
Arnold menurut dan memanggil anak-anak, Jessica dan Alice menyajikan telur orak-arik dan kentang rebus yang disiram dengan saus keju untuk anak-anak serta Ayam parmigiana makanan khas Italia yaitu ayam yang disajikan dengan digoreng menggunakan saus, keju dan disajikan bersamaan dengan spageti untuk orang dewasa. Empat orang anak duduk bersebelahan dengan rapi, meski terkadang mereka saling mengganggu satu sama lain membuat Jessi harus berteriak memisahkan mereka.
Makan siang telah usai, Jessica dan Alice membereskan meja makan sementara anak-anak kembali bermain. Angel membantu menaruh piring kotor ke wastafel, ia melihat sesuatu dibawah meja ternyata tanpa sadar Arnold menjatuhkan secarik kertas. Angel memungutnya ia berjalan menuju ruang tamu, rupanya Arnold tak menutup pintu kamar sehingga Angel bisa mengintip dan mendengarkan pembicaraan Arnold.
“Sial.., bagaimana bisa ia tertangkap......, aku masih belum bisa melupakan kematian Mathew dan sekarang Mike dalam bahaya apa yang salah denganmu Nelson......., Blood akan kuhancurkan organisasi busuk itu..........., Lakukan yang terbaik dan kabari aku jika ada informasi baru.”
“Apa yang kami lakukan padamu?, Jelaskan padaku.” Angel membuat Arnold kaget bukan main.
“Bukan urusanmu.”
“Pembunuhan itu bisa kau ceritakan kepadaku.” Angel berjalan memasuki ruangan kamar .
“Sudah kubilang bukan urusanmu.”
“Kau menyebut organisasiku, artinya itu urusanku.”
Arnold merasa bahwa berdebat bukanlah hal yang baik jadi ia meminta Angel untuk duduk. “Duduklah.”
__ADS_1
Didekat jendela terdapat sebuah bantal duduk besar separuhnya disandarkan ke dinding, separuhnya lagi terentang di lantai, mengubahnya menjadi seperti sofa. Panjangnya lebih dari cukup untuk dijadikan tempat bersantai oleh pria setinggi Arnold. Tiga "sofa" yang lebih kecil disandarkan di dinding-dinding lainnya.
Arnold menyuguhkan sekaleng soda kepada Angel, Mereka duduk tanpa berkata apa-apa sampai Angel menghabiskan sodanya dan menoleh kepada Arnold.
“Beri tahu aku tentang pembunuhan-pembunuhan itu.”
Kengerian meredakan panas tubuh Arnold. Menyingkirkan kalengnya sendiri yang sudah kosong, Arnold menyandarkan kepala ke Sandaran bantal duduk. "Kami sudah menemukan tujuh korban selama tiga tahun terakhir ini. Matthew yang kedelapan. Dan Mike akan jadi yang kesembilan kalau kami tidak menemukannya tepat pada waktunya.”
“Sebanyak itu?" Angel membisikkan pertanyaan tersebut.
“Ya. Tapi firasatku berkata bahwa kami belum menemukan semua pembunuhan yang dia lakukan... pria itu terlalu lihai dalam hal ini."
"Apa kau yakin pelakunya pria?"
Arnold mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga terasa sakit. "Ya."
"Mengapa kalian tidak berusaha lebih keras untuk mencarinya?"
"Matthew dibunuh enam bulan yang lalu. Saat itu, kami belum tahu ini pembunuhan berantai dan, mengingat bukti jelas yang menyatakan keterlibatan Blood, kami pikir Polisi akan segera menutup kasusnya. Kami tidak mempermasalahkan yurisdiksi mereka... kami ingin menumpahkan darah, tapi kami tidak mau berperang dengan Blood. Kami bersedia mengalah kepada tuntutan Polisi. Itu hampir menghancurkan hati kami, tapi kami tetap melakukannya demi masa depan yang lebih baik akan tetapi......”
Kata-kata Arnold terhenti, amarah mulai menguasainya, ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
“Akan tetapi, Mike.... Ia diculik, dan bukti kembali mengarah kepada Blood.”
“Aku yakin bukan organisasi Blood pelakunya, ada orang lain yang ingin memecah belah kita.”
“Mungkin, tapi lambang yang mereka tinggalkan adalah barang bukti yang nyata. Itu adalah lambang kebesaran Kalian bukan.”
“Mawar hitam dan lonceng, bukanlah lambang kami. Setahuku, mawar hitam hanyalah sebuah kode yang sering kami gunakan saat beraksi dan lonceng, kami tidak pernah menggunakannya. Lagi pula bentuk mawar hitamnya sangat berbeda, apa kau ingat tatoku. Mawar hitam kami memiliki daun berbentuk kelopak disisi kiri dan kanan, sedangkan ini hanya mawar hitam yang melilit lonceng tanpa daun.”
Arnold terdiam beberapa saat, ia memang berharap bukan Blood pelakunya. Suasana menjadi hening, Angel membuka Smartphone nya dan melihat pesan yang tersimpan dan tak pernah ia buka.
“Ya tuhan.”
__ADS_1