B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Enam puluh Lima


__ADS_3

Di Rumah sakit pasca penculikan William, tempat William di rawat.


“Kirim dua orang terbaikku, aku yakin mereka pasti bisa menangkap mereka.” Nelson menatap tajam ke arah William yang terbaring lemas di atas ranjang.


William menelan ludah, ia tak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang. Nelson mengambil bunga yang dibawakan oleh salah satu anak buahnya, dan menyerahkannya ke William dengan tatapan merendahkan.


“Kau menyedihkan bung, kuharap kau masih bisa melihat mentari esok hari.”


Nelson menaruh buket bunga ke atas meja, dan memberikan kode kepada salah satu anggotanya. Terlihat pria tersebut menyiapkan sebuah suntikan, dan langsung menyuntikkannya ke selang infus William. William berusaha berteriak dan meronta, namun kondisinya sekarang tidak dapat membuatnya melakukan hal demikian. Dan dalam hitungan detik, William tak bergerak. Bahkan alat detak jantung yang dipasang terlihat bahwa sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan, seketika alarm berbunyi


Nelson bergegas meninggalkan ruangan tersebut bersama anggotanya, dan beberapa perawat berlari menuju kamar tempat William dirawat. Tentu saja, hal ini sudah di rencanakan oleh Nelson sebelumnya. Nelson pun pergi sambil tersenyum penuh kemenangan.


Dilain tempat dimalam yang sama dengan Angel yang menginap di motel, sepasang pembunuh keji yang sangat terkenal dengan kemampuan melebihi Angel tampak sedang mengendarai mobil mereka dengan kecepatan tinggi.


“Baik, kami sedang dalam perjalanan.”


“Ada apa Faith?”


“Tugas, dengan bayaran tinggi.”


Abel mengangguk, Abel dan Faith adalah pasangan pembunuh yang terkenal karena sifat dingin mereka. Saking kejamnya, bahkan mereka sanggup membunuh bayi yang baru lahir.


Abel adalah seorang wanita berdarah campuran Amerika dan Prancis, berumur sekitar tiga puluhan dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter, wajah tirus dan rambut pirang serta memiliki tubuh yang sangat proporsional. Dan Faith adalah pria campuran Afrika-Amerika berbadan kekar dengan kulit hitam eksotis, berumur sekitar empat puluh tahunan dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, berwajah bulat dengan mata besar dan senyum mengerikan, terdapat tato pada bagian lengan kirinya dan bekas goresan pisau pada bagian wajah kanan.


“Sial mobilnya mogok, Tidak ada bengkel di sekitar sini. Lagi pula hari sudah larut.”


Faith dan Abel memutuskan untuk keluar dari mobil. Faith berdiri di sebelah Abel, keduanya sedang mengamati situasi. Dua orang polisi berdiri siaga siap untuk menghalang, Mereka menatap tamak ke arah mobil patroli yang diparkir South 6ch Screet di lalu lintas mana pun yang tidak-darurat yang mencoba melewati kerucut jalan untuk menyeberangi jembatan. Bukan berarti ada yang mencoba menyeberang.


Kedua unit pendukung itu bersitatap.


Sempurna.


Tidak ada pilihan lain.


Abel memimpin jalan ke arah polisi yang paling dekat. Polisi itu menyadari langkah berisik Abel yang mendekatinya. “Nyonya, Anda harus mundur!"


Abel melangkah mendekati si polisi. "Kenapa?"

__ADS_1


"Kami menjaga jalan-akses ini menuju ke seberang sungai untuk kendaraan darurat" Dia mengibaskan tangannya pada Abel. "Tolong mundur sekarang, nyonya. Akan ada lebih banyak mobil pemadam kebakaran dan


kendaraan berat yang lewat "Tolong berikan kunci mobil mu padaku."


Polisi itu mengabaikannya. "Mundur saja dari jalan, Tuan dan nyonya."


Abel mengulurkan tangannya dan menyambar salah satu jari di polisi, memelintir keras-keras dengan kibasan pergelangan tangannya. "Tolong berikan kunci mobil mu padaku."


"Hei Aw! Hei” Tangan satunya-jelas bukan yang dia gunakan untuk menembak-meraba-raba pinggang gemuknya untuk mencari penutup kulit sarung pistolnya. "Aku akan mematahkan jarimu," ujar Abel sopan. "Ini adalah peringatan. Tolong patuh untuk menghindari ketidaknyamanan lebih lanjut.”


Faith sudah terbiasa dengan tingkah laku Abel, jadi ia hanya diam sambil menyalakan rokok dan memperhatikan rekannya tersebut. Ia ingin mengatakan bahwa ide yang buruk mencuri mobil dari polisi, namun Abel pastinya tidak mau mendengarkan.


Si polisi membuka penutup sarung dan menggenggam pegangan pistolnya. Dia menarik pistolnya dan mengarahkan nya ke wajah Abel


“Lepaskan! Sekarang! lepaskan dan tiarap ke tanah!"


Abel menyambar pistol itu dari tangannya setenang katak melaso yang menangkap nyamuk dengan lidahnya.


“Ya Tuhan.” Rahang si polisi menganga lebar-lebar.


“Aku butuh kunci mobilmu" ujar Abel tenang. "Tolong berikan."


“Jatuhkan senjatamu sekarang atau kau akan ditembak!” salak polisi itu. Pistolnya diarakan pada Abel sambil melangkah pelan-pelan ke arahnya


Suaranya nyaring.


Melengking.


Bergetar ketakutan.


Abel mengayunkan pistol di tangannya dengan cepat. Satu mikro detik untuk membidik lalu terdengar suara tiga tembakan berturut-turut. Tembakan pertama membunuh polisi yang mendekat, dua yang lain tidak penting. Faith bergegas menghampiri tubuh tiarap si polisi untuk menggeledah saku dan kantong sabuknya.


“Kumohon! Jangan tembak!" pinta polisi satunya, tangan dan jarinya masih terpelintir di kepalan tangan Abel.


“Apa kau memiliki kunci mobilnya?"


“Ada di dalam mobil.” Dia meringis kesakitan. "Kuncinya ada di dalam mobil” Abel memberikan kode pada Faith dan dia berganti arah ke mobil patroli.

__ADS_1


"Kau tidak akan mengatakan intervensi ini pada siapa pun," kata Abel.


"Hah?" Lalu polisi itu paham dan mengangguk-angguk liar. "Tidak.”


“Oke Tentu .. aku . aku tidak akan mengatakan hal ini. Aku janji."


"Janjimu tidak dibutuhkan," ujar Abel. Lalu dengan tenang dia menembak mati si polisi kedua.


Dia menyadari pejalan kaki di sekitarnya sedang memperhatikan dirinya. Terpaku saking terkejutnya. Akan menghabiskan terlalu banyak waktu yang berharga untuk mengejar dan membunuh mereka semua. Dia merumuskan begitu banyak saksi mata merupakan kontaminasi tambahan yang disayangkan, tapi bukan sesuatu yang bisa dicegah. Mobil patroli meraung menyala saat Faith duduk di kursi pengemudi. Sirenenya berkoak sedetik sebelum dimatikan.


Abel berjalan mendekati mobil dan ikut masuk kedalamnya.


“Jalan.”


Suasana hening, Abel memperhatikan jalanan.


“Siapa target kita?” Tanya Abel.


“Empat orang, tiga harus mati dan satu dalam keadaan hidup. Datanya sudah dikirim via email, kau bisa mengeceknya sekarang.”


Abel mengambil laptop dan membuka Email yang dimaksud Faith, ia membaca setiap data dengan teliti. Ia tersenyum puas begitu mengetahui bahwa sasarannya kali ini adalah BlackRose sang musuh bebuyutan.


Yah, bisa dikatakan Rose adalah ancaman bagi pekerjaan mereka. Ia masih muda namun memiliki kemampuan luar biasa, melebihi usianya. Bahkan Abel sangat terkejut begitu mengetahui bahwa umurnya baru sekitar dua puluhan, ia mengscroll data dengan hati-hati.


“Kita mampir ke Sacramento.”


Faith terkejut mendengar pernyataan Abel.


“Kenapa?”


“Data terakhir menunjukkan mereka pergi ke Sacramento, aku hanya ingin memastikan apa benar tujuan mereka ke Nevada atau justru mereka punya tujuan lain.”


“Info yang kita dapat cukup akurat, anak buah Arnold yang telah memberi tahu keberadaan mereka.”


“Itu hal yang membuatku tidak yakin, kita ke Sacramento.”


Faith sangat patuh pada Abel, karena Abel adalah bos nya. Jadi, Abel lah yang memiliki kuasa atas segalanya.

__ADS_1


__ADS_2